Showing posts with label Kh. maimoen zubair. Show all posts
Showing posts with label Kh. maimoen zubair. Show all posts

Islam Anti Kekerasan, Sejarah Islam Nusantara, Fungsi Masjid

islam anti kekerasan Agama Islam di nusantara itu berkembang tidak melalui pedang atau dengan suatu peperangan. Akan tetapi, agama Islam tersebar dengan metode yang lain dari pada yang lain. Yaitu, dengan cara mendirikan padepokan atau pondok pesantren.

 

Pesantren pertama kali yang ada di pulau Jawa adalah terletak di Ampel Denta, suatu padepokan yang berada di Surabaya yang diberikan oleh Prabu Brawijaya kepada Sunan Ampel (Raden Rahmat). Dengan padepokan ini, Sunan Ampel mengajarkan Islam kepada putra-putri penduduk pribumi yang berasal dari bermacam-macam etnis dan latar belakang. Ada yang dari latar belakang mantan perampok, seperti Sunan Kalijaga. Ada yang dari paham Kejawen, seperti Sunan Muria. Dan ada yang berasal dari keluarga kerajaan, yaitu Sultan Fatah, Raden Hasan dan Raden Husein, dan lain-lain dari beberapa penduduk pribumi.

 

Semua santri-santri yang dari aneka etnis ini bersatu padu hidup dalam satu tempat. Mereka belajar dan menuntut ilmu kepada Raden Rahmat yang merupakan keponakan putri Campa, salah satu selir dari Raja Brawijaya.

 

Untuk mengembangkan persebaran agama Islam di nusantara, para Wali Songo yang diketuai oleh Sunan Ampel merintis sebuah masjib agung yang terletak di kota Demak, masjid Bintoro. Masjid ini merupakan perpaduan antara budaya Arab dan Jawa, sebab serambinya masjid ini diambil dari serambi yang ada di kerajaan Majapahit. Dari dua perpaduan yang antik ini banyak orang yang mengkeramatkan masjid Bintoro.

 

Keanehan masjid ini juga terletak pada sakanya. Mulanya oleh arsitekturnya (kanjeng Sunan Kalijaga), sakanya ini ada tiga (tiga ini merupakan lambang Iman, Islam dan Ihsan), kemudian setelah ditimbang-timbang oleh kanjeng Sunan Kalijaga, saka tiga ini kurang pas. Akhirnya, kanjeng Sunan Kalijaga menambahkan satu saka lagi yang akhirnya jumlahnya menjadi empat. Saka terakhir ini tidak seperti yang tiga. Tapi, saka terakhir ini terbuat dari tatal (serpih-serpih kayu yg ditarah (diketam). Dari jumlah empat yang digagas oleh Sunan Kalijaga ini mempunyai sebuah arti bahwa orang Islam yang ingin selamat dunia dan akhirat harus menjalankan empat perkara.Yaitu, Syari’at, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

 

Masjid merupakan kunci syiarnya agama Islam. Hal ini sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw di awal dekade Hijriyah. Masjid yang pertama beliau bangun adalah masjid Quba. Kemudian di tengah perjalan hijrahnya, beliau membangun masjid lagi, yaitu masjid Jumat. Dan terakhirnya ketika Nabi Muhammad Saw sampai ke Madinah, beliau berhenti di mana unta yang dikendarai akan berhenti. Di situ beliau bertempat tinggal dan membangun masjid Nabawi. Dari uraian sejarah tadi menunjukan betapa pentingnya sebuah masjid sebagai pusat penyebaran agama Islam. Agama Islam di Sarang, tempat di mana kita menimba ilmu juga tidak bisa lepas dari peran penting masjid seperti fungsinya yang terdahulu. Masjid pertama kali di Sarang bertempat di Belitung yang didirikan oleh orang yang sakti mandraguna yang merupakan leluhur dari ulama-ulama Sarang. Kapan masjid Sarang itu berdiri tidak ada orang yang mencatat. Namun, di masjid itu banyak sekali terdapat keanehan sebagaimana yang disaksikan oleh Syaikhina Maimoen Zubair. Masjid ini tidak memakai paku. Usuk dan rengnya hanya ditumpukan pada sebuah lubang untuk pengerat.

 

Keanehan masjid Belitung juga dilambangkan pada sebuah ikan Lele yang berwarna Putih yang terletak di kolam yang tidak jauh dari masjid tersebut. Dahulu ketika bangunannya tidak memakai paku, Lele Putih itu masih sering menampakkan diri. Namun, setelah masjid tersebut sudah direnovasi sebagaimana masjid-masjid yang lain, ikan Lele tadi sudah tidak nampak lagi. Subhanallah. Sungguh kejadian ini pernah dialami oleh Syaikhina Maimoen Zubair sendiri.

 

Nenek moyang Syaikhina Maimoen Zubair zaman dahulu sering Jumatan di masjid Belitung. Beliau berasal dari Madura, beliau adalah Kiai Usmant bin Kiai Ya’qub bin Kiai Ma’ruf bin Kiai Shamad bin Kiai Abdurrafiq bin Kiai Abdul Mufid. Setelah masjid Agung Bintoro jadi, masjid itu tidak langsung diresmikan. Tapi, menunggu pembuatan Serambi yang diambil dari kerajaan Majapahit yang sering digunakan untuk pasebanan pembesar keraton.

 

Ketika kerajaan Majapahit tumbang, kemudian digantikan dengan kerajaan Demak dan karajaan yang berada di kota Solo, yaitu kerajaan Pajang. Kerajaan Demak dipimpin oleh Sultan Fatah, putra Brawijaya dari selirnya. Sedangkan kerajaan Pajang dipimpin oleh putra Brawijaya dari permaisurinya. Raden Fatah sejak dari kecil sudah menganut agama Islam, sebab ibunya beragama Islam. Di dalam Islam jika ada anak lahir dari ibu yang Islam dan ayah yang tidak Islam, maka anaknya menjadi Islam, karena agama Islam itu tinggi tidak ada yang mengungguli agama Islam.

 

Kedua kerajaan hasil perpecahan Majapahit tadi saling menghargai. Meskipun sebenarnya Pajang ini masih menganut ajaran Hindu yang sangat kental sekali dengan paham kejawennya. Kental dengan yang namanya mitos pantai Selatan. Namun, sedikit demi sedikit Islam tertanam di hati orang Solo, meskipun tidak sekuat dengan Islam yang ada di Demak. Maka dari itu, jangan kasar-kasar kalau mengajarkan agama Islam kepada orang Solo.

 

Sebagai simbol kerukunan kerajaan tersebut, Raja Pajang mengutus dua pemuda yang sudah masuk Islam untuk pergi ke Demak. Namun, belum sampai ke Demak kedua utusan tersebut meninggal di jalan, tepatnya di daerah Cepu, di Sumber Wates. Utusan tadi terkenal dengan sebutan dengan Sunan Janjang. Sunan Janjang ini adalah salah satu Sunan yang gemar akan budaya Wayang dengan lakon Semar dan Gareng.

 

Setelah masjid yang menjadi tanda syiarnya agama Islam, hendaknya umat Islam itu selalu berpegang teguh pada ajaran ulama salaf dengan mengkaji karangan-karangannya yang bertuliskan dengan literatur bahasa Arab tanpa diberi harakat dan makna. Mereka dapat memahami kitab tersebut. Tapi, sayangnya di zaman sekarang, kebudayaan dengan kedua metode tersebut kian hari tambah berkurang. Banyak orang yang memahami ajaran Islam lewat terjemahan. Mereka menjadi kiai tetapi tidak bisa membaca kitab gundul. Sungguh aneh kenyataan ini. Syarat untuk tafaqquh fiddin itu harus bisa berbahasa Arab, sebab Al-Quran dan al-Hadist itu berbahasa Arab.

 

Inilah rahasia Allah. Allah tidak bisa dipaksa. Allah berkehendak untuk melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. ”Saya menginginkan kamu juga menginginkan tapi Allah melakukan apa yang diinginkan-Nya.” Tapi, jangan kamu hina mereka yang mempelajari agama Islam dengan lewat terjemahan. Biarlah mereka melakukan jalannya sendiri. Yang terpenting kamu sekalian melakukan jalan yang sesuai dengan ajaran yang ditempuh ulama salaf.

Berkaitan dengan permasalahan di atas, dahulu Syaikhina Maimoen Zubair pernah showan kepada salah satu kiai yang mempunyai keramat. Beliau adalah Kiai Rahmat. Di perjalan itu beliau ditemani dengan temannya. Namun, teman Syaikhina Maimoen tadi tidak sadarkan diri di tengah perjalannya. Tiba-tiba ada seseorang yang datang entah dari mana asalnya. Orang tersebut berpesan kepada Syaikhina Maimoen untuk mempertahankan tulisan yang ditulis dengan huruf alif, ba’, tak (huruf Hijaiyah). Kelak akan ada zaman, di mana seseorang belajar agama Islam tidak lagi menggunakan tulisan tersebut.

Setelah doa orang tersebut diamini oleh Syaikhina Maimoen, tiba-tiba orang tersebut hilang entah ke mana. Subhanallah. Marilah kita mewarisi jejak-jejak ulama salaf dengan cara mempelajari Islam yang sesuai dengan jejak ulama salaf tersebut. Yaitu, dengan cara memakai kitab yang berliteratur Arab. Tapi, kalau ada yang memakai terjemahan jangan diganggu-ganggu. Biarkanlah mereka menempuh jalan yang diyakininya.

Salah satu karya peninggalan ulama salaf adalah kitab Fathal Qarib dan Fathal Muin. Hal ini sesuai dengan apa yang dialami oleh Mbah Ghazali bin Lanah ketika manjalankan ibadah haji. Yaitu, ketika hendak menunaikan ibadah haji, beliau tidak menemui hari untuk wuquh di Arafah. Akhirnya, beliau terpaksa menginap di Arab guna untuk menyempurnakan ibadah hajinya di tahun mendatang.

 

Di sela-sela Mbah Ghazali menunggu datangnya musim haji lagi, beliau menyempatkan diri untuk mengaji kitab Fathal Muin karya Syaikh Zainudin al-Malibari dan tafsir Al-Jalailain karya Imam Jalalain kepada ulama setempat.

 

Sarang, 7 Desember 2011

Catatan: Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair pada saat pembacaan sanad Fathal Qorib dan Fathal Muin serta Mahalli di acara Muwada’ah PP. Al-Anwar pada 9 Juli 2011.

Read More >>

Isinya Al-Quran ada tujuh pembahasan, Kesinambungan Ulama

Sungguh ada kebahagiaan yang sangat mendalam jika masih ada umat Islam yang berpegang  teguh pada ajaran ahlusunnah waljamaah. Yaitu, golongan yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw dan yang mengikuti kelompok sahabat Rasulullah Saw yang mengembalikan suatu perkara kepada asalnya. Yaitu, Al-Quran dan al-Hadis. Sequran-ilmu-pengetahuanbab, keduanya ini saling berkaitan.

 

Sebaik-baiknya zaman adalah zamannya Rasulullah Saw, terus zaman setelahnya dan setelahnya. Masa kenabian itu berjumlah 23 tahun. 13 tahun Rasulullah Saw berada di Makkah dan 10 tahun berada di Madinah. Di kedua tempat mulia ini merupakan masa pokok keislaman. Banyak sahabat hafal Al-Quran yang mana Al-Quran di waktu itu belum ditulis. Al-Quran hanya di hati dan bibir.

 

Setelah Rasulullah Saw wafat, kekuasaan Islam pindah kepada masa Khulafaur Rasyidin. Islam di masa ini terus berkembang. Sehingga, banyak sesuatu yang belum ada di zaman nabi telah diadakan oleh para sahabat. Pembuatan Baitul Mal (zaman Abu Bakar), penyatuan salat Tarawih (masa sahabat Umar bin Kattab) dan pembukuan mushaf Al-Quran (zaman Usman bin Affan). Pembaharuan ini dijalankan karena memang karena adanya suatu kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Ini bukanlah bid'ah sebagaimana yang dianggap oleh orang-orang awam, bahwa segala bid'ah itu menyesatkan.

 

Pada masa Abu Bakar, Al-Quran itu dikembangkan menjadi sebuah tulisan, yang kemudian disempurnakan oleh khalifah yang ketiga, Usmant bin Affan. Pada zaman sahabat ini, Al-Quran masih berbentuk tiga kategori, Al-Quran yang masih di hati sanubari, Al-Quran yang berupa bacaan, dan Al-Quran yang sudah berbentuk tulisan. Namun, di sini yang paling banyak dikerjakan dan diamalkan oleh sahabat adalah Al-Quran yang di hati. Sehingga, membuat masanya sahabat adalah masa yang baik setelah zaman Rasulullah Saw.

Sedikit sekali pada zaman sahabat orang yang hafal Al-Quran secara utuh. Yang hafal secara awal sampai akhir cuma enam orang. Kebanyakan dari mereka hanya hafal surat-suratan. Namun, perlu diketahui, bahwa hafal Al-Quran itu tidak harus hafal semuanya. Sebab, Al-Quran itu pembahasan sering diulang-ulang dengan gaya bahasa yang berbeda. Isinya Al-Quran ada tujuh pembahasan,

    1. Mentauhidkan Allah,
    2. Memberi kabar gembira,
    3. Memberi kabar ancaman,
    4. Perintah untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,
    5. Nasehat- nasehat,
    6. Cerita-cerita,
    7. Petunjuk.

Pada zaman 100 H ke atas, masa Islam pindah dari zaman sahabat menuju zaman Tabi’in. Di era ini kemajuan Islam terus berkembang terutama dalam segi masalah ilmu pengetahuannya. Ide-ide cemerlang terus berdatangan. Hingga pada masa Umar bin Abdul Aziz timbullah suatu gagasan yang berlian. Yaitu, tentang pembukuan hadist Nabawi. Dalam hal ini Umar memberi rekomendasi khusus kepada Imam az-Zuhri untuk menjadi pelopornya.

 

Tahun 200 H ke atas. tongkat kekuasaan Islam berpindah lagi. Dari zaman Tabi’in menuju zaman Tabi’it Tabi’in. Di asar ini perkembang Islam bertambah lagi. Yang asalnya cuma ada pembukuan Al-Quran dan al-Hadist ditambah lagi. Sekarang timbul iman-imam Madzhab yang menyusun kitab Fikih sedemikian rapinya.

Masa 300 H ke atas. Masa ini merupakan di mana pemikiran akal semakin berkembang. Semuanya harus dirasionalkan. Hingga muncul kaum Mu’tazilah yang selalu mengedepankan dari pada dalil Naqli. Maka dari permasalahan ini, oleh Imam Asy'ariyah dan Maturidayah mengawinkan antara Nash dan Akal hingga muncul dalil yang namanya dalil Naqli dan Aqli.

 

Era 400 H ke atas. Sanah ini adalah salah satu masa yang dipelopori oleh Imam Abu Bakar al-Bakilani. Di masa ini pembukuan kitab Fikih terus disempurnakan. Muncul madrasah Nizhamiyah yang mengeluarkan pemikir-pemikir Islam yang handal. Namun selain itu, muncul pula fitnah besar yang berupa adanya kaum Syiah Qororiroh yang sangat kejam. Kaum ini menjadi baksil atas kemajuan Islam. Mereka mencuri Hajar Aswad yang berada di Makkah dan membantu orang-orang kafir untuk menguasai Baitul Maqdis dari tangan umat Islam.

 

Tahun 500 H ke atas. Ketika umat Islam sebelum tahun ini terkena guncangan fitnah yang besar, maka Allah meredakan fitnah tersebut lewat Imam Al-Ghazali, salah satu pengajar di madrasah An-Nizhamiyah yang mempunyai salah satu murid yang terkenal "rawe-rawe rantas malang-malang putung." Shalahuddin al-Ayyubi namanya. Kelak di tangannya kejayaan Islam kembali lagi. Beliau berhasil merebut Madjidil Aqsha dari tangan-tangan orang kafir, dan mengembalikan Hajar Aswad yang asalnya dicuri oleh orang syi’ah ke tempat asalnya. Di masanya juga, muncul pensyiaran tentang acara Mauludiyah yang merupakan acara sebagai bukti kecintaan seseorang terhadap Rasulullah Saw. Dan tidak kalah hebohnya, setelah Imam Al-Ghazali, telah muncul Imam Nawawi dan Imam Rafii yang mana keduanya ini telah berhasil mengemas kitab karangan Imam al-Ghazali.

 

Tahun 600 H ke atas. Islam kembali diguncangkan oleh fitnah yang besar lagi. Pelakunya lagi-lagi adalah orang Syi’ah yang membantu orang-orang Mongol untuk menjatuhkan kerajaan Arab, Abbasiyyah. Di saat penaklukan Semenanjung Arab ini, banyak Ulama, seperti Imam Ibnu Daqiqil 'Id yang lari dari Bagdad menuju Syam. Namun, atas izin Allah, ada pembesar Mongol yang masuk Islam, Timur Leng. Dia yang menyebarkan Islam untuk rakyat Mongol.

 

Tahun 800 H ke atas. Lahir seorang ulama besar. Imam Al-Bulqini namanya. Kemudian setelahnya, muncul pula ulama yang agung. dialah yang menghasilkan beberapa ilmu pengetahuan Islam. Ulama itu tidak lain adalah Imam As-Suyuti.

 

1000 H ke atas. Kitab-kitab Islam telah mengalami perkembangan lagi. Sebab, di masa ini muncul kitab Hasyiyah yang dipelopori oleh sebagian ulama. Di antaranya adalah Imam Zam-Zami dan kawan-kawannya. Kitab Hasyiyah merupakan suatu kebutuhan untuk menjabarkan dan memperluas ilmu-ilmu yang ada pada kitab matan dan syarah. Dengan adanya kitab hasyiyah dapat memperjelas sesuatu yang ada di kitab Matan dan Syarah.

1100 H ke atas. Perkembangan ilmu pengetahuan Islam maju lagi. Yaitu, munculnya kitab al-Barjanji yang mensyiarkan tentang rasa cinta kepada Rasulullah Saw. Janganlah kalian melupakan kitab asal ini meskipun sudah ada kitab-kitab yang memuji terhadap Rasulullah Saw yang lain yang dikarang oleh ulama selain imam al-Barjanji.

 

1200 H ke atas. Lahir ulama yang berMadzhab Hanafi, akan tetapi dirinya juga cinta Madzhab Syafii. Beliau tidak lain adalah Sayyid Murtadlo. Ulama ini yang telah mensyarahi kitab Ihya karangan Imam Al-Ghazali yang merupakan pegangan Madzhab Syafii. Percampuran yang menyebabkan peralihan ini juga terjadi kepada keturunan Syaikh Baker al-Jugjawi yang kebanyakan keturunannya menjadi Muhammadiyah yang menganut organisasi Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan itu sendiri menjadi Muhammadiyah karena pengaruh dari gurunya. Syaikh As-Syukati namanya. Dia itu berpaham Muhammadiyah.

 

Karena sejarah yang bercampur ini, Syaikhina Maimoen tidak berani membenci orang-orang Muhammadiyah sebab banyak keturunan gurunya yang menjadi pengikut Muhammadiyah. Namun, Syaikhina Maimoen juga tidak mau mengikuti Muhammadiyah. Beliau tetap pada Nahdlatul Ulama. Sekarang banyak orang yang NU ngakunya, tapi tidak memenuhi ajaran ahlusunnah waljamaah. Orang yang seperti ini lebih baik orang-orang yang berpaham Muhammdiyah.

1300 H ke atas. Islam mencapai perkembangan dalam ilmu pengetahuan lagi lewat ulamanya yang handal. Beliau tidak lain adalah Sayyid Zaini Dahlan. Sosok yang alim yang tersegani di Makkah dan luar Makkah. Beliau banyak mengarang kitab yang kini tersebar di belahan dunia.

1400 H ke atas. Telah lahir pemikiran yang menjadi panutan umat Nabi Muhammad Saw. Namanya sesuai dengan nama Rasulullah Saw. Sosok itu tidak lain adalah Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki. Beliau dikabarkan menjadi mujaddid yang menempati abad ini. Banyak ulama yang terdidik hasil dari tangannya, seperti halnya ulama yang ada di kota Sarang. Banyak masyayeh yang pergi belajar ke Makkah menuju Ribath yang diasuh Sayyid Muhammad. Adapun Syaikhina Maimoen itu sendiri adalah orang yang hidup pada masa 1300 H dan 1400 H. Yang terpenting bagi kita semua adalah mengikuti ajaran ahlusunnah waljamaah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu Qadim (dahulu) bukan hadis sebagaimana yang dikemukakan oleh orang Mu’tazilah.

 

Keistimewaan Al-Quran itu bersinar pada diri Rasulullah Saw. Duhulu pada zaman sahabat jika ada orang yang memandang Rasululah Saw, maka mereka bisa menjadi alim sebab keberkahan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Dan sumber utama kealiman itu juga berasal dari Nabi Muhammad Saw yang ilmunya tidak dapat dibayangkan karena saking banyaknya.

 

Ajaran Islam yang dibawa oleh Rasululah Saw pada awal dekade sangatlah asing dan kelak akan kembali asing lagi. Selain asing juga aneh. Mengapa? Karena ketika Islam itu besar, disebabkan oleh Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Akan tetapi, orang yang pertama kali masuk Islam bukan dari kalangan mereka. Tetapi yang pertama kali masuk Islam adalah Abu Bakar. Islam juga besarnya di daerah pedesaan, yaitu Yastrib bukan di Makkah. Aneh lagi, meskipun Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk Islam, tapi ketika kita membaca shalawat itu diperuntukan kepada Rasulullah Saw dan keluarganya bukan untuk Abu Bakar.

 

Sarang, 20 Juli 2010

Catatan: Artikel ini disarikan dari caramah Syaikhina Maimoen Zubair pada saat pembacaan sanad kitab Fathul Qarib dan Fathul Muin 2010.

Read More >>

Alam Mulki dan Alam Malakut serta Tips Menuju Kesejahteraan di Dunia dan Akhirat.

 kesejahteraan yang akan diperoleh di dunia dan akhirat Alam di jagad raya ini dibagi menjadi dua bagian. Yaitu, alam Mulki dan alam Malakut. Alam mulki yaitu alam yang bisa dilihat oleh manusia dengan kasyaf mata. Sehingga, dalam permasalahan ini orang yang beragama Islam atau pun orang kafir itu bisa menembus dan menjamahnya. Allah berfirman :

 

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (107

 

"Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong." (QS. Al-Baqarah : 107)

 

Mengenai tentang bentuk alam Mulki, bahasannya sangat luas. Tidak hanya terkhusus dengan alam dunia, tetapi keluar dari planet tercinta ini. Di bumi dan langit merupakan alam Mulki yang dinikmati mata selagi masih bisa berfungsi. Dan kebanyakan orang-orang yang menemukan konsep tentang ilmu alam Mulki adalah orang yang bukan Islam. Seperti ilmu Falaq, kebanyakan orang yang ahli di dalamnya adalah orang kafir, seperti bangsa Inggris yang pintar terhadap bidang astronomi sejak awal dekade. Sehingga, dalam permasalahan ini dahulu Mbah Zubair Dahlan mempunyai sebuah keinginan untuk mengaji dan pintar dalam ilmu Falaq. Tapi, sayangnnya ilmu ini tidak ilmiah.

 

Bumi yang kita tempati ini merupakan bagian dari alam Mulki yang diciptakan untuk makhluk Allah yang namanya manusia (Nabi Adam dan keturunannya). Nabi Adam dijadikan Allah sebagai khalifah untuk memakmurkan dunia dengan aturan-aturan yang diatur oleh Allah. Allah berfirman :

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30

 

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah : 30).

 

Karena bumi adalah tempat makhluk Allah yang mulia (Nabi Adam dan keturunannya), maka proses dalam penciptaannya juga lama apabila dibandingkan dengan langit yang letaknya berada di atasnya. Hari Ahad, Senin, Selasa, dan Rabu digunakan untuk menciptakan bumi, sedangkan Kamis dan Jumat itu digunakan oleh Allah untuk mencipkan langit. Adapun hari Sabtu Allah libur. Sehingga dari permasalahan ini banyak digunakan teladan untuk orang-orang yang ahli dalam ilmu Perdukunan untuk tidak menyuwuk sebab takut ngobos (tidak berhasil jampe-jampenya).

 

Keistimewaan bumi tidak hanya itu saja. Tetapi masih ada yang lainnya. Bahkan itu lebih menarik, yaitu kelak bumi yang kita gunakan untuk beribadah kepada Allah Swt, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, akan kita bawa ke surga untuk ditempati lagi. Sedangkan langit akan dilipat dan digulung Allah. Allah berfirman :

 

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (67

 

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az-Zumar : 67).

 

Setelah pembahasan alam Mulki, Syaikhina Maimoen juga membahas tentang alam Malakut yang tidak kalah pentingnya dengan pembahasan alam Mulki. Alam Malakut berbeda dengan alam Mulki yang bisa dinikmati orang-orang Islam dan orang-orang kafir. Dia lebih terkhusus untuk orang-orang Islam, khususnya mereka yang selalu taat kepada Allah seperti para nabi, auliya' dan orang-orang saleh. Mereka hidup hanya mencari rida Allah. Tentang alam Malakut Allah berfirman :

 

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (75

 

"Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yaqin." (QS. Al-An'am : 75).

 

Seseorang itu akan memperoleh kebaikan kalau dia mau mengetahui alam Mulki dan alam Malakut. Contoh alam Malakut yang tidak bisa dilihat oleh mata adalah Malaikat, Jin dan Setan. Di bawah ini ada contoh-contoh alam Malakut yang diceritakan dalam Al-Quran dan yang pernah dialami oleh seseorang yang dipilih Allah.

 

a. Ibunda Maryam binti Imran, ibu yang melahirkan Nabi Isa As yang semasa hidupnya pernah diasuh oleh Nabi Zakaria. Ketika Nabi Zakaria menaruhnya di sebelah kiri pengimaman masjid, waktu itu Nabi Zakaria ingin mengirim makanan kepada Maryam, tapi malah Nabi Zakaria keheranan dengan apa yang terjadi dengan Maryam. Sebab, Nabi Zakaria melihat sudah ada makanan di samping Maryam. Makanan itu didatangkan Allah dari surga. Allah berfirman :

 

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ 37

 

"Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (QS. Ali-Imran : 37).

 

b. Alam Malakut yang terdapat pada Nabi Ibrahim As adalah terjadi pada suatu peristiwa besar tentang pembakaran dirinya atas perintah raja Namrud. Ketika api sudah berkobar dan Nabi Ibrahim sudah dimasukkan ke dalamnya. Dengan izin Allah api itu tidak dapat membakarnya. Justru di dalam api itu Nabi Ibrahim mendapatkan kenikmatan dari Allah yang berupa selain dirinya tidak dapat dibakar dengan api, Nabi Ibrahim juga bisa leyeh-leyeh duduk di atas kursi goyang dengan memakan makanan yang diberikan oleh Allah. Allah berfirman:

 

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69

 

"Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim",(QS. Al-Anbiya’: 69).

 

c. Setelah mengajar di Madrasah Nizamiyah, Imam Al-Ghazali menjadi orang yang mashur dan kaya. Namun, suatu ketika beliau meninggalkan kenikmatan dunia itu dan berkeinginan untuk menjalankan alam Malakut. Akhirnya, beliau bertekad menjalankan suatu perjalanan yang sangat panjang sepanjang 5000 kilo meter dengan tidak membawa bekal kecuali hanya tawakal kepada Allah Swt. Dengan tawakalnya, Imam Al-Ghazali bisa sampai ke tempat tujuan atas izin-Nya.

 

d. Al-Quran yang dijadikan pedoman hidup umat Islam juga ada alam malakutnya. Yaitu, di dalamnya terdapat keistimewaan yang tidak dapat didapat pada kitab selain Al-Quran. Kepahaman yang mendalam hanya dapat diperoleh oleh orang-orang yang beragama Islam. Selain itu, meskipun Al-Quran itu berbahasa Arab, tapi orang yang paham dan alim dalam bahasa Arab bukan orang Arab asli tapi orang Ajam (Imam Sibaweh).

 

Perlu diketahui bahwa alam Malakut itu tidak terkhusus pada sesuatu yang ada di luar bumi dan yang tidak nampak, namun pembahasannya luas. Kadang ada yang di bumi dan di luar bumi. Namun, yang penting adalah alam Malakut itu hanya diketahui dan dirasakan oleh orang Islam, terutama hamba-hamba Allah yang menjadi pilihan-Nya.

 

Ketika kita sudah mengetahui apa itu alam Mulki dan alam Malakut, maka kita akan beranjak menuju konsep-konsep Islam yang menawarkan sebuah kesejahteraan bagi umatnya yang mau menjalankan ajarannya. Kesejateraannya yaitu berupa kesejahteraan yang akan diperoleh di dunia dan akhirat.

 

Islam sangat menawarkan kesejahteraan bagi pengikutnya. Namun, sayangnya banyak yang tidak mengetahui tentang hal itu. Atau juga memang ia sengaja lari dari konsep tadi, sehingga memilih suatu kehidupan yang enak yang bersifat sementara dengan meninggalkan kehidupan yang bersifat abadi. Tapi, kenyataannya kebanyakan dari mereka sensara di kehidupan dunia ini. Padahal orang Islam itu harus enak dunia dan akhiratnya. Kesensaraan itu disebabkan karena tindakannya sendiri. Kebanyakan dari mereka tidak mau menolong agama Allah, baik disengaja atau pun tidak. Padahal barang siapa yang menolong agama Allah, maka dia akan ditolong Allah. Sehingga, akibatnya berdampak pada diri mereka sendiri. Contoh kecilnya adalah orang Indonesia yang dijajah Belanda selama 350 tahun. Selama dalam kekuasaan penjajah, kesensaraan terjadi di mana-mana. Kadang mereka makan nasi selama 5 bulan dan makan jagung selama 7 bulan. Semua ini terjadi karena di waktu itu bangsa Indonesia yang menolong agama Allah sangatlah sedikit sekali.

 

Konsep Islam sungguh sangat luar biasa. Seandainya umat Islam mau menjalankan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, niscaya kesejahteraan akan dirasakan oleh semua lapisan. Contoh kecilnya tentang takaran makan yang diatur oleh Islam. Seorang muslim perindividu itu harus makan perhari bagi orang yang miskin 1 Mud (6 on seperempat). Orang berekonomi sedang makannya 1 Mud setengah. Dan orang yang kaya takaran makannya 2 Mud. Sehingga, kalau ditotal semuanya, bagi seorang yang sedang harus menghabiskan 28 kilo. Mengapa di sini harus 28 kilo? Karena jumlah hari dalam satu bulan menurut penanggalan Islam itu ada 28 hari. Sedangkan untuk hari yang ke 29, bulannya itu tidak nampak. Seandainya kurang dari 28 kilo, maka orang tadi itu belum dikatakan merasakan kesejahteraan yang ditawarkan Islam.

 

Penuturan tadi baru tentang nasinya. Belum menuju lauk-pauknya. Apabila dia sudah normal nasinya, hendaknya memilih lauk-pauk yang enak-enak. Allah befirman:

 

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (35

 

"Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah: 35).

 

Namun sayangnya, meskipun ada rumus-rumus yang mengantarkan manusia agar hidup yang enak di dunia dan akhirat, akan tetapi ada sebagian dari mereka yang masih tirakat (puasa Dalail). Dengan puasa ini, mereka menginginkan akan adanya kenikmatan dunia pada masa setelah puasa. Tapi, mereka masih saja melarat. Sebenarnya tirakat puasa itu kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah, khususnya para nabi dan waliyullah. Puasamya hanya untuk Allah. Hatinya tidak pernah lepas dari mengingat Allah. Seandainya mereka melupakan Allah dengan waktu yang sangat singkat, niscaya mereka sudah dianggap dosa besar. Dan kebanyakan orang-orang yang menjalakan tirakat sekarang itu niatnya tidak seperti ini, makanya mereka tetap melarat dan miskin.

 

Apabila ada orang yang bernazar ziarah ke makam Wali Songo dengan berjalan kaki padahal tempat antara dia dan tempat yang dinazarinya itu sangat jauh bila dijangkau dengan berjalan kaki, sungguh orang yang bernadzar tadi tidak wajib menjalankan nazarnya dengan berjalan kaki. Sebab, berjalan kaki itu pekerjaan hewan, seperti Kerbau dan Sapi bukan pekerjaan manusia. Dan manusia itu bukanlah Sapi atau Kerbau. Tapi, manusia itu adalah makhluk Allah yang dimuliakan. Dia harus mempunyai alat tranportasi yang dapat mengantarkannya ketika dia hendak pergi ke suatu tempat yang diinginkan, bukan dengan jalan kaki. Ingatlah bahwa Islam itu mulia dan pengikutnya juga harus mulia. Allah berfirman:

 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا 70

 

"Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan." (QS. Al-Isra : 70).

 

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ (8

 

"Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (QS. Al-Munafiqun: 8).

 

Sarang. 1 Desember 2010 M

Catatan : Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair pada saat acara KBIH Sarang tanggal 17 Oktober 1998 M.

Read More >>

Kebaikan Langit dan Bumi, Ayat Kauniyyah dan Qur’aniyyah

حم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِلْمُؤْمِنِينَ (3) وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَابَّةٍ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (4) وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (5

 

""Haa Miim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini. Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal." (QS. Al-Jatsiyah 1-5)

 

langit-dan-bumi Lafadz حم yang mengetahui maknanya hanya Allah. Kemudian dilanjutkan dengan kata تنزيل yang memberi isyarat bahwa Al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur oleh Allah yang Al-Azizi dan Al-Hakim yang berarti Allah yang Maha Menang dan Maha Bijaksana. Mengapa Allah maha menang? Karena Allah yang menciptakan segala sesuatu, baik itu perkara yang ada kebaikannya ataupun perkara yang ada keburukannya. Di dalam sesuatu yang diciptakan Allah itu pasti ada faidahnya, baik yang sudah diketahui manusia ataupun tidak. Semua hal itu menunjukan sifat kebijaksanaan Allah.

 

Di dalam surat ini, Allah mendahulukan kata langit dengan mengakhirkan kata bumi karena adanya suatu hal. Yaitu, karena langit berada di atas dan bumi berada di bawah, meskipun dalam penciptaannya bumi lebih lama bila dibandingkan dengan langit. Masa empat hari empat malam untuk bumi, dan dua hari dua malam untuk langit. Dari angka empat ini telah menjadikan sesuatu pokok atas suatu perkara :

  1. Lafal basmallah terdiri dari empat kata; بِسْمِ (1) اللَّهِ (2) الرَّحْمَنِ (3) الرَّحِيمِ (4)
  2. Lafal tahlil juga terdiri dari empat kata; لا (1) أله (2) الا (3) الله (4)
  3. Angka empat digunakan untuk simbol Palang Merah yang terdiri dari empat sisi, kanan-kiri dan atas-bawah. Palang Merah ini merupakan suatu organisasi kemanusiaan dengan memakai simbol darah.
  4. Angka empat memberi gambaran akan keselamatan dunia dan akhirat jika seseorang mau melakukan empat perkara. Yaitu, syariat, tarekat, hakikat dan makrifat.
  5. Di dalam kesehatan angka empat juga ikut andil. Yaitu, dalam perkara empat sehat lima sempurna.
  6. Dan yang terakhir, seorang yang beriman hendaknya mengerjakan salat sunnah empat macam. Yaitu, salat Rawatib, Duha, Lail dan Witir.

Setelah menerangkan tentang langit, Syaikhina Maimoen menerangkan tentang langit yang berlapis tujuh yang apabila ditambah bumi, jumlahnya menjadi delapan. Hal ini memberi gambaran bahwa pintu surga itu ada delapan yang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman. Langit merupakan makhluk Allah yang baik. Karena di hari-hari yang tertentu dia digunakan untuk lewat bagi amal-amal baik manusia. Hingga suatu ketika, apabila amal saleh tadi tidak lewat karena pemiliknya meninggal dunia, langit berduka dan menangis. Allah berfirman:

 

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ (29

 

"Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh." (QS. Ad-Dukhan : 29).

 

Tapi, meskipun langit itu baik, ada sesuatu yang lebih baik darinya lagi, yaitu bumi. Hal disebabkan karena bumi itu digunakan untuk sembahyang menyembah kepada Allah. Selain itu, bumi juga merupakan tempat tinggal para nabi khususnya Nabi Muhammad Saw. Sehingga, karena keunggulan yang dimiliki bumi tadi, langit menjadi iri hati. Langit mengajukan permohonan kepada Allah Swt agar berkenan menaikan Rasulullah Saw ke langit. Maka dengan izin Allah, permintaan langit dikabulkan dengan memi'rajkan Rasulullah Saw ke langit. Langit menjadi bergembira atas kunjungan .

Langit itu sendiri masih termasuk perkara dunia. Hal itu dibuktikan bahwa orang-orang pertama yang menemukan tentang Ilmu Astronomi adalah orang kafir. Selain Astronomi ada juga ilmu Falaq yang ada kaitannya dengan Galaxy, penemunya juga kebanyakan orang kafir. Sehingga, Nabi Muhammad Saw sendiri tidak terlalu suka dengan ilmu Falaq. Maka dari itu, janganlah kamu sombong dengan ilmu Falaq jika kamu termasuk orang-orang pandai di bidangnnya.

 

Langit dan bumi kelak akan hancur. Khususnya bumi yang mengandung perkara dunia. Hingga suatu saat bumi yang kita tempati ini apabila sudah tidak berurusan dengan dunia, dia akan dipindahkan Allah ke surga. Bumi akan dipersembahkan untuk orang-orang mukmin yang ahli surga. Karena alasan yang sedemikian rupa, maka janganlah kamu cinta dan terlena dengan dunia. Akan tetapi, jadilah kamu semua orang yang mempunyai dunia tanpa harus mencintai dunia. Sebab, kunci dunia itu diberikan oleh Allah kepada para nabi yang kemudian tongkat estafetnya diteruskan oleh para ulama. Rasulullah Saw bersabda:

 

اعطيت مفاتيح الغيب والارض

 

"Telah diberikan kepadaku beberapa kunci alam ghaib dan bumi." (Al-Hadist).

 

Tapi ironisnya, kebanyakan sekarang rakus terhadap dunia padahal dunia tidak ada di tangannya. Dan satu hal yang menjadi catatan, kebanyakan ulama satu sama yang lain di dalam hatinya ada unek-unek dan penyakit hati yang kelak akan dihilangkan oleh Allah ketika mereka masuk ke surga.

 

Apabila seorang mukmin melihat-lihat sesuatu yang ada di langit dan di bumi, maka iman mereka akan bertambah karena hal itu termasuk ayat kauniyyah. Tapi, sayogjanya cukuplah bagi seorang mukmin untuk mempertebal keimanannya dengan memakai ayat Quraniyyah. Sebab, sudah dikisahkan bahwa Sang Singa Padang Pasir yang berhati keras bisa menjadi luluh dan gemetar ketita mendengar ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh Fatimah binti Khattab. Dengan seketika Umar bin Khattab berikrar atas keislamannya di hadapan Rasulullah Saw.

 

Pada ayat keempat, Syaikhina menjelaskan bahwa di dalam diri manusia itu ada ayat-ayat Allah bagi orang yang mau berfkir. Selain itu, ada ayat Allah yang terdapat pada burung-burung yang rizkinya sudah mendapat jaminan oleh Allah. Pagi-pagi burung-burung pergi dengan perut yang kempis, kemudian kembali di waktu sore dengan perut yang penuh. Rasulullah Saw bersabda :

 

عن عُمَر - رضي الله عنه ، قَالَ : سمعتُ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم ( لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاًوَتَرُوحُ بِطَاناً ) رواه الترمذي.

 

"Dari Ibnu umar Ra berkata; aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Jikalau engkau bertawakal kepada Allah sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberi rizki sebagaimana Allah memberi rizki kepada burung yang di waktu pagi perutnya dalam keadaan kempis dan kembali di waktu sore dengan perut yang penuh." (HR. Thirmidzi).

 

Semua keagungan di atas tadi terjadi karena disebabkan keagungan Al-Quran. Maka dari itu, seseorang tidak akan bisa beriman secara sempurna apabila tidak melalui ayat Kauniyyah dan ayat Qur'aniyah meskipun dalam realita sekarang, ayat-ayat Allah kian hari kian habis hukumnya. Hingga kelak akan ada suatu zaman di mana Islam hanya tinggal namanya dan Al-Quran hanya tinggal tulisannya.

 

Sarang, 27 April 2010

Catatan: Artikel ini disarikan dari pengajian Tafsir Syaikhina Maimun Zubair di hari Ahad dengan materi QS. Al-Jatsiyah 1-5.

Read More >>

Kekuatan Gunung, Besi, Api, Air, Angin serta Kekuatan Sedekah & Dzikir

gunung air udara Allah Swt menciptakan bumi dan langit selama enam hari. Empat hari (Ahad, Senin, Selasa, Rabu) untuk menciptakan bumi sedangkan dua hari (Kamis dan Jumat) untuk menciptakan langit. Adapun hari Sabtu Allah istirahat/libur. Karena kata Sabtu itu bermakna Qatha'a yang berarti putus/libur. Karena itu, hal ini digunakan sebagai ibrah jika ada seseorang telah selesai menggarap pembangunan, biasanya kalau ingin meresmikan bangunannya tadi ditandai dengan ceremony (upacara) pemotongan Pita.

 

Di dalam bumi, Allah menciptakan sebuah gunung-gunung sebagai pengkokoh bumi. Gunung itu sendiri diciptakan pada hari Selasa. Oleh sebab itu, Ulama banyak yang meliburkan pengajiannya pada hari tersebut. Sebab, gunung itu bagaikan ulama yang merupakan benteng pengkokoh untuk tegaknya syariat Islam. Jika gunung-gunung habis, maka dunia akan menjadi hancur. Begitu juga jika ulama-ulama habis, maka hancurlah agama Islam. Dan ulama itu kebanyakan wafat pada hari Selasa. Hal ini sebagaimana terjadi pada kebanyakan ulama yang ada di daerah Sarang.

 

Meskipun gunung adalah sosok yang memiliki sebuah kekuatan, namun sesungguhnya ada kekuatan yang melebihinya. Allah menyembunyikan kekuatan itu di dalam perut gunung. Kekuatan itu tiada lain adalah besi. Adanya besi dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim As. Kemudian dilanjutkan pada zaman Nabi Musa As, Yusa As, Nabi Daud As. Allah berfirman dalam Surat Al Hadid:

 

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (الحديد : 25

 

"Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." )QS. Al-Hadid : 25).

 

Gunung dan besi merupakan sesuatu yang mengandung kekuatan yang melebihi satu sama lainnya. Dari kekuatan yang tersimpan dari keduanya ini masih saja dikalahkan dengan ciptakan Allah yang namanya api. Besi bisa meleleh kalau dibakar dengan api. Begitu juga senapan Senjata Api lebih menang dari pada senjata pedang dan keris. Makanya bangsa Indonesia kalah terus dalam melawan penjajah, sebab api dihadapkan dengan besi.

Kekuatan api bisa mengalahkan besi yang kuat. Namun, sesungguhnya api itu masih lemah bila dibandingkan dengan air. Api bisa terpadamkan bila terkena air. Namun, yang dimaksud air di sini bukanlah air yang bermakna sempit. Tapi, air yang bermakna luas. Yaitu, sesuatu yang mengandung zat cair seperti bahan Kimia yang ada pada Bom Atom. Makanya Jepang hancur lebur, kalah dengan kekuatan Amerika dan sekutunya yang menggunakan kekuatan air.

 

Kekuatan air yang begitu dahsyatnya bisa menghacurkan sebuah kawasan yang berada di Jepang (Nagasaki dan Hirosima). Maha Agung Allah Swt atas ciptaan-Nya yang agung ini (air). Kalau kita mau berfikir lagi, sesungguhnya masih ada yang lebih kuat bila dibandingkan dengan air. Air bisa kuwalahan berhadapan dengan kekuatan tersebut. Kekuatan itu tidak lain adalah angin atau udara. Kita bisa menghindar dari air lewat melompat atau berada di suatu tempat yang ada di atas air. Berbeda dengan udara, kita tidak dapat menghindar dari yang namanya udara. Di mana pun kita berada, di situ jua udara ada di sekitar kita.

 

Satu kekuatan dengan kekuatan yang lainnya mempunyai kelebihan sendiri-sendiri. Ada yang menang dan ada yang kalah. Air mengalahkan api. Tapi, air dikalahkan angin. Dan sesungguhnya di atas kekuatan yang dipimpin oleh angin adalah sedekah. Baik dengan uang atau dengan yang lainnya.

 

Kita mengetahui bahwa negara Islam merupakan negara yang kaya, seperti halnya negara Arab. Di sana banyak sekali sumber kekayaan alam yang jika diolah akan menghasilkan banyak uang. Mengapa Negara Arab kalau dibandingkan dengan negara Yahudi masih kalah kekuasaannya? Hal tersebut dikarenakan negara Islam masih kurang sedekahnya bila dibandingkan negara lainnya.

 

Uang yang digunakan sedekah masih belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan zikir. Berzikir mempunyai banyak arti. Ada berzikir kepada Allah dan ada juga berzikir dengan ilmu yang ada dalam ayat suci Al-Quran.

 

Berzikir mampu menimbulkan kekuatan yang sangat besar apabila seseorang dapat menanamkan Al-Quran dalam hatinya. Bukan hanya dibaca, didengarkan atau ditulis saja. Al-Quran yang berada di hati itulah yang dijalankan dan dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Al-Quran menjadi sumber dari segala sumber untuk prilaku keseharian baginda Nabi Muhammad Saw. Setelah Rasulullah Saw wafat, tongkat estafet Al-Quran diwarisi oleh para ulama yang menaruhnya di dalam hatinya. Terlebih oleh sahabat Abu Bakar Ra, Umar Ra, Usmant Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra serta salafus shalihin.

 

Orang yang hatinya sudah tertanam dengan Al-Quran bisa mengetahui struktur kalimah dalam Al-Quran dengan baik dan benar. Tidak terpengaruh oleh waqaf (tanda berhenti) yang telah ada. Jika susunan kalimah tidak tam (sempurna) jangan berhenti membacanya (dalam arti langsung melanjutkan ayat setelahnya). Hal inilah yang diajarkan oleh Syaikhina Maimoen Zubair dari guru beliau, Syaikh Abdullah bin Nuh ketika masih berada di Makkah. Syaikh Abdullah bin Nuh ini adalah ulama asal Malaysia yang bermukim di Makkah.

 

Sarang, 11 September 2011

Catatan : Artikel ini diolah dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair pada acara Akhirus Sanah Muhadloroh (1431/1432 H).

Read More >>

Kemuliaan rumah “Rumahku ini adalah rumah yang lemah, seperti sarang laba-laba. Tapi, setelah dikunjungi Habib (Habib Salim As-Syathiri), rumahku menjadi rumah yang perkasa, paling megah, bersinar dan bercahaya pada hari ini, melebihi dari hari-hari yang sebelumnya. Sebab beliau membawa kemuliaan ilmu dan nasab,” Ujar Syaikhina Maimoen ketika dikunjungi Habib Salim As-Syathiri.

 

Kemuliaan rumah itu bukan disebabkan oleh bagus dan mahalnya perabotannya, serta bukan pula karena hebatnya arsitekturnya. Tapi, bagusnya rumah itu, disebabkan oleh mulianya penghuninya. Kalau rumah itu dihuni oleh orang-orang yang dicintai Allah, yaitu mereka yang punya ilmu, para auliya’ dan ulama, niscaya rumah itu akan menjadi mulia meskipun dengan bentuk yang sederhana. Hal inilah yang diajarkan oleh para salafus shaleh untuk berprasangka baik kepada hamba Allah. Khususnya berbaik sangka terhadap orang-orang yang alim.

 

Ada sebuah cerita yang berkaitan dengan permasalahan di atas. Duhulu kala pada zaman khalifah Al-Ma’mun pernah dikisahkan bahwa khalifah Al-Ma’mun bertanya kepada anaknya, “Wahai putraku istana mana yang paling indah?” Lalu sang anak menjawab,” Istana yang paling indah adalah istana yang jika Engkau berada di dalamnya.” Selain itu ada juga cerita, duhulu ada seoarang khalifah yang bertanya kepada putranya, “Wahai anakku, lihatlah cincin ayah, mana yang lebih bagus, cincinnya atau batu akiknya?” Maka sang anak menjawab, ”Yang paling bagus adalah yang memakainya.”

Memuliakan dan menghormati ulama merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa. Hal itu termasuk mengagungkan syiar-syiar Allah. Karena Ulama merupakan syiar Allah. Allah berfirman:

 

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ (32)

 

"Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." ( QS. Al-Hajj : 32)

Pesantren Al-Anwar itu mempunyai hubungan ruh yang erat dengan keturunan Rasulullah Saw dan para ulama. Sehingga, banyak ulama dan habaib yang berkunjung di pesantren ini dengan memberikan pandangan khusus bila dibanding dengan yang lainnya. Maka tidak mengherankan, jika banyak santri dari Sarang yang pergi menimba ilmu ke negeri ulama Timur Tengah khususnya Tarim, Hadrahmaut.

 

Mengapa di sini Hadrahmaut yang menjadi sorotan utama meskipun ada kota induk Islam, yaitu Makkah dan Madinah? Karena Hadrahmaut merupakan negeri para wali dan para ulama. Tidak ada wali yang agung dari Indonesia kecuali dia mempunyai intisab keturunan atau intisab ilmu dari Hadrahmaut, khususnya kota Tarim. Misalnya Wali Songo yang mempunyai hubungan khusus dengan Hadrahmaut. Sehingga, mereka menjadi ulama yang mempunyai banyak barakah.

 

Hadrahmaut merupakan kota Islam yang mempunyai keistimewaan lebih dari pada yang lainnya. Sebab, sudah diceritakan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam at-Tabrani bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda, “Hadrahmaut itu menumbuhkan para wali sebagaimana tanah menumbuhkan rumput.” Apabila ada satu wali yang meninggal, maka akan tumbuh seribu wali sebagai gantinya. Sehingga, dari prediket ini, Hadrahmaut menjadi pusat para wali di samping menjadi pusat ilmu. Selain itu, ada juga kisah yang memperkuat bahwa Hadrahmaut itu merupakan kota auliya. Telah dikisahkan oleh Habib Salim bin Jindan dengan sanad yang bersambung kepada kepada Rasulullah Saw. Suatu ketika ada seseorang yang datang kepada Rasulullah Saw.

 

“Dari mana engkau wahai Fulan?” tanya Rasulullah Saw.

 

“Aku datang dari negeri Hadrahmaut,” jawab Fulan.

 

“Apakah kamu tahu di sana ada daerah yang namanya Tarim?”

 

“Iya, ya Rasulullah.”

 

“Ketahuilah, di sana kelak akan muncul para auliya yang mereka itu termasuk dalam firman Allah:

 

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (37

 

Sarang, 22 Juni 2007.

Catatan: Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair dan Habib Salim As-Syathiri saat ada kunjungan Habib Salim As-Syathiri yang kedua.

Read More >>

Berbakti Kepada Orant Tua dan Nur Muhammad

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (15

 

keluarga “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf : 15)

 

Manusia dilahirkan ke dunia itu melalui beberapa tahap. Mulai dari suatu bentuk yang sangat rendah (sperma) hingga ke bentuk yang lebih komplek dan sempurna. Sehingga, dengan dua tahapan ini, manusia pantas untuk menyandang amanat sebagai khalifah di muka bumi ini dengan cara menjalankan aturan-aturan yang telah diatur oleh Allah dan Rasul-Nya yang tertera di dalam kitab suci Al –Quran dan Al-Hadist.

 

Prosesi kelahiran manusia itu membutuhkan pengorbanan yang sangat extra. Terutama pengorbanan yang ditanggung oleh seorang Ibu. Mulai dari benih yang masuk ke dalam rahim sampai berkembang menjadi tahapan yang klimak. Yaitu, suatu peristiwa di mana seorang ibu berjuang mati-matian untuk mengeluarkan jabang bayi yang berada di dalam rahimnya yang telah berusia kurang lebih sembilan bulan. Meskipun sebelumnya ada pengorbanan, namun tidak seberapa berat. Yaitu, di saat kandungan masih di dalam perut sang ibu yang selalu menendang-nendang hingga sang ibu merasa kesakitan atas tendangan tadi.

 

Setelah jabang bayi lahir, perjuangan sang ibu tidak berhenti sampai di sini. Perjuangan masih panjang. Mulai dari menyusui, merawat, dan hingga tiba saatnya untuk menyapihnya. Yaitu, ketika sudah berumur dua tahun. Maka dari jerih payah ini, seorang anak wajib untuk birrul walidain terhadap orang tuanya, terutama ibu. Pengorbanan seorang ibu berlipat ganda dalam memperjuangkan anaknya bila dibandingkan dengan ayah.

 

Kelahiran yang paling agung di jagat raya ini adalah kelahiran yang terjadi pada Rasulullah Saw. Peristiwa kelahiran Rasulullah Saw tidak pernah terjadi pada manusia yang selainnya, meskipun dia itu adalah orang yang agung. Benih cahaya yang berpindah-pindah mulai dari Nabi Adam hingga ke tubuh Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib yang dipancarkan ke dalam rahim Ibunda Aminah selalu memancarkan keagungan dan keberkahan.

Cahaya itu selalu membawa berkah kepada orang yang pernah disinggahinya. Keberkahan itu bisa kita lihat pada Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim adalah Nabi yang membawa "Nur Rasulullah Saw" yang kemudian diwariskan kepada Nabi Ismail. Adanya Nabi Ismail ini membawa berkah kepada Nabi Ishaq karena keluar dari sumber yang sama. Yaitu, cahaya dari Nabi Ibrahim. Maka dari keberkahan ini, Nabi Ishaq diangkat oleh Allah menjadi nabi karena keberkahan Rasulullah Saw. Selain Nabi Ishaq, ada juga Madyan. Meskipun Madyan ini bukan nabi, akan tetapi karena keberkahan yang ada pada Rasulullah Saw yang pernah singgah di dalam jasad Nabi Ibrahim yang merupakan ayahnya, maka keturunan Madyan ini ada yang menjadi nabi. Yaitu, Nabi Syuaib.

 

Cahaya Rasulullah Saw yang dibawa oleh Sayyid Abdullah itu disalurkah ke dalam rahim Sayyidah Aminah pada tanggal 10 Rajab. Di saat itu, dunia sangat bergembira dengan akan datangnya Nabi Akhir Zaman. Angin sepoi-sepoi berhembus dengan kedamaian, binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan juga tidak mau ketinngalan memberikan apresiasi kegembiraan akan datangnya Nabi Akhir Zaman ini. Maka dari itu, wahai sekalian manusia, jika kamu adalah orang yang cinta kepada Nabi Muhammad Saw, tunjukan rasa cintamu dengan berpuasa di bulan Rajab ini. Sebab, makhluk selain kamu itu bersyukur dengan caranya masing-masing. Tapi, perlu diingat, jangan memperingati bulan Rajab adalah bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw, karena hal itu adalah bid’ah yang sasar. Jadi, intinya bulan Rajab itu mulia karena keberkahan yang dibawa oleh Rasulullah Saw yang di waktu itu berada di dalam kandungan.

 

Menginjak bulan Sya`ban, umur kandungan Ibunda Aminah sudah berusia dua bulan, meskipun jumlah harinya belum genap dua bulan kalau dihitung dengan bulan. Soalnya hitungan Islam (kalender Rembulan) untuk masalah ini berbeda dengan yang lain. Maka atas kemuliaan ini, Allah menyuruh umat Islam untuk berpuasa di bulan Sya`ban ini. Puasa itu dilakukan pada tanggal 15 (Nisfu Sya`ban), atau boleh juga tanggal 13,14,15 / 14,15,16.

 

Kemuliaan demi kemuliaan selalu dibawa oleh Rasulullah Saw meskipun wujudnya belum dilahirkan. Ketika di bulan Syawwal usia Nabi Muhammad Saw di dalam kandungan ibunya sudah mencapai 4 bulan. Untuk memuliakan Rasulullah Saw, maka Allah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di bulan Syawwal selama 6 hari. Yaitu, mulai tanggal 2 sampai 7 Syawwal. Kalau tidak bisa seperti ini, maka bisa di pindah puasa Senin dan Kamis hingga menjadi genap menjadi enam hari.

 

Setelah bulan Syawwal berlalu, berganti menjadi Dzulqa`dah, suatu bulan di mana seluruh umat manusia dari perjuru dunia berbondong-bondong untuk menyiapkan diri untuk menjalankan ibadah haji menuju kota Makkah. Karena di saat ini, Nabi Muhammad Saw masih di dalam kandungan, maka bagi para calon jamaah haji disunnahkan untuk berpuasa.

 

Setelah Dzulqa`dah adalah bulan Dzulhijjah. Di bulan ini seluruh jamaah haji berkumpul di tanah suci Makkah untuk menjalankan ritual haji. Karena di bulan ini Rasulullah Saw masih di dalam kandungan, berumur 6 bulan, maka untuk kali ini bagi yang sudah menjalankan ibadah haji tidak disunnahkan untuk berpuasa Tarwiyah dan Arafah. Bagi yang menjalankan ibadah haji cukup bagi mereka adalah menjalankan sikap dermawan. Meskipun hajinya sudah Ifrad, yakni hendaknya mereka tetap berkorban (menyembelih binatang qurban) sebagai wujud rasa syukur akan lahirnya Nabi Muhammad Saw. Sebab, di bulan ini usia kandungan Sayyidah Aminah sudah menunjukan detik-detik kelahiran. Karena usia kandungan, minimal itu usianya adalah 6 bulan. Bagi umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji hendaknya mereka jangan mau ketinggalan dengan mereka yang sedang berhaji. Hendaknya mereka memuliakan bulan ini dengan berpuasa di tanggal 8 dan 9.

 

Ketika umur kandungan sudah genap 9 bulan, tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal, di waktu Fajar Shadiq Nabi Muhammad Saw dilahirkan ke dunia. Shallahu ‘ala Muhammad. Wahai sekalian manusia, bergembiralah dengan kemuliaan ini dengan memperingati hari lahirnya sebagai peristiwa yang agung ini dengan membaca shalawat dan puji-pujian baginya. Karena dengan adanya keberkahan Rasulullah Saw, maka berkah dapat meluber kepada bulannya. Sebab, bulan Maulud itu mulia karena adanya Rasulullah Saw. Karena kalau ditinjau dari segi bulannya, bulan Rabiul Awwal bukanlah bulan yang dimuliakan oleh Allah. Tapi, karena adanya Rasulullah Saw bulan Rabiul Awwal menjadi bulan yang mulia.

 

Pertumbuhan selalu berkembang pada diri manusia, mulai dari balita, kanak-kanak, remaja, pemuda dan terakhir menginjak usia tua. Yaitu, di saat manusia umurnya genap 40 tahun, Maka sebagai balas jasanya kepada orang tuanya, hendaknya sang anak berdoa, "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."

 

Ayat ini (QS. Al-Ahqaf : 15), diturunkan untuk sahabat Abu Bakar. Karena di waktu itu, usianya Abu Bakar sudah menginjak 40 tahun. Di samping itu, bukti yang menunjukan adalah, bahwa semua keluarga Abu Bakar itu masuk Islam, meskipun islamnya tidak seawal Abu Bakar. Abu Bakar adalah orang yang dekat dengan Rasulullah Saw lewat jasanya Khadijah Al-Kubra.

 

Karena pentingnya Abu Bakar di sisi Rasulullah Saw, maka Abu Bakar tidak bisa dilepaskan dengan keluarga Rasulullah Saw. Sebagai buktinya, Abu Bakar itu punya anak yang terakhir, namanya Muhammad yang diasuh oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib bersama-sama dengan mengasuh Hasan dan Husein. Muhammad bin Abu Bakar ini kemudian hari dinikahkan oleh Ali bin Abi Thalib bersama-sama dengan Hasan dan Husein.

Dari semua keterangtan ini, Syaikhina Maimoen Zubair mengajak kepada kita semua agar tidak mengutamakan anak laki-laki dengan mengesampingkan anak perempuan. Sebab, yang melanjutkan keturunan Rarulullah itu adalah perempuan. Yaitu, Sayyidah Fatimah dan Sayyidah Umamah. Keduanya ini adalah istri dari sahabat Ali bin Abi Thalib. Mengapa Perempuan?. Sebab yang melanjutkan keturunan Rasulullah Saw adalah Perempuan.

 

Sarang, 5 Juni 2010

Catatan: Artikel ini disarikan dari pengajian Tafsir Syaikhina Maimoen Zubair di hari Ahad dengan materi QS. Al-Ahqaf : 15.

Read More >>

Nabi Ibrohim Mendapat Berkah Cahaya Rasulullah

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (17) أُولَئِكَ الَّذِينَ حَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ (18) وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (19

 

"Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, muhammad apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka". Mereka Itulah orang-orang yang Telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang Telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." (QS. Al-Ahqaf : 17-19).

 

Ayat ini ada kaitannya dengan ayat sebelumnya yang membahas tentang berbuat kebajikan kepada kedua orang tua. Taat kepada orang tua merupakan kuwajiban bagi seorang anak meskipun orang tuanya adalah orang yang jelek dan tidak menyembah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan akhlak yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim As yang di waktu itu hidup di lingkungan orang yang menyembah berhala. Karena bapaknya Nabi Ibrahim As (Azar) adalah juru kunci dari berhala-berhala kerajaan. Tapi, dengan ilmu dan iman, Nabi Ibrahim tetap menghormatinya. Beliau tidak menyakiti bapaknya walaupun cuma sedikit.

Nabi Ibrahim adalah nabi pilihan Allah. Di dalam dirinya ada cahaya Nabi Muhammad Saw yang terpancar, yang selalu membawa berkah terhadap orang yang disinggahinya. Nabi Ibrahim As terkenal dengan sebutan bapaknya orang mukmin. Hal ini disebabkan karena anak-anak Nabi Ibrahim itu menjadi pilihan Allah untuk mengemban wahyu-Nya, meskipun ada yang tidak secara langsung, seperti Madyan. Tapi, ada keturunan darinya yang menjadi nabi, yaitu Nabi Syuaib. Allah berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ (33

 

"Sesungguhnya Allah Telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)." (QS. Ali-Imran : 33)

 

Keluarga Nabi Ibrahim selalu mendapat pandangan khusus di sisi Allah, karena semuanya menjadi orang yang dekat dengan Allah. Mereka terpencar-pencar dan terpisah ke berbagai tempat. Nabi Ismail ditugaskan di Masjidil Haram. Nabi Ishaq ditugaskan di Masjidil Aqsho. Adapun Madyan ditugaskan di suatu tempat, yang mana di dalamnya ada pengrajin Tongkat, hingga kelak tongkat tersebut diwarisi oleh Nabi Musa dari Nabi Syuaib.

 

Semua keagungan yang diperoleh oleh Nabi Ibrahim, mulai dari tidak hangus dibakar dengan api sampai anak-anak yang menjadi keturunannya menjadi pilihan Allah, itu semua disebabkan karena keberkahan cahaya yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Namun, kita sebagai umatnya tidak akan menunai keberkahan tersebut sebagaimana yang masih diperoleh pada zaman sahabat yang menjadi alim-alim. Kita tidak akan menjadi alim kecuali dengan cara memahami ayat-ayat suci Al-Quran. Status alim tersebut tidak akan didapat kecuali harus mengaji dengan orang-orang yang alim juga.

 

Seberapa cahaya itu bisa masuk ke jiwa raga seseorang, hal itu digantungkan pada seberapa pahamkah orang tadi terhadap ayat-ayat suci Al-Quran. Karena memahami Al-Quran itu menjadi syarat pokok untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Menghafal Al-Quran tidak harus semuanya. Tapi cukup bagi orang mukmin untuk hafal satu surat yang diiringi dengan pemahaman yang mendalam. Hal itu bagaikan hafal satu Al-Quran. Sebab, ayat Al-Quran itu sering diulang-ulang pembahasannya yang berjumlah tujuh macam. Jika ada seorang anak yang tidak memperdulikan nasehat orang tua tentang dibangkitkannya manusia dari alam kubur, maka anak tadi menjadi kufur. Sebab, dia telah melakukan dosa besar yang merupakan pangkal kekufuran.

 

Orang-orang kafir apabila melakukan perbuatan dosa, dia menganggap bahwa dosa-dosa yang telah ia lakukan tadi merupakan kebaikan. Sebab, Allah telah menghiasi diri mereka dengan mencintai dunia dan ingin selalu menuruti hawa nafsunya. Berbeda dengan orang yang mukmin, yang menganggap bahwa kebaikan itu adalah kebaikan dan keburukan adalah keburukan. Allah berfirman:

 

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (212

 

"Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. Al-Baqarah: 212).

 

Apabila kita sudah tidak bisa menahan untuk melakukan dosa, hendaknya kita berniat tidak tahan menahannya. Hendaknya ikutilah perbuatan buruk dengan menjalankan perkara baik agar perkara tadi menjadi seimbang.

 

Pokok iman seseorang adalah iman pada Hari Akhir. Karena di situ ada jalan bagi orang mukmin untuk masuk surga. Di dalam surga ada sebuah kenikmatan yang banyak sekali bila dibandingkan dengan kenikmatan yang ada di dunia. Kenikmatan di dunia yang ada cuma satu nikmat.

 

Di surga, orang mukmin akan menjadi seorang presiden atau raja. Karena kedudukan di surga merupakan kenikmatan yang agung. Hal ini sesuai dengan pandangan orang-orang yang hidup di dunia, bahwa kedudukan atau pangkat merupakan suatu perkara yang enak. Tapi, seorang presiden yang menguasai negeri akhirat itu pangkatnya berbeda-beda. Jika di dunia pangkat seorang presiden harus ditempuh dengan Ijazah, maka, pangkat presiden di negeri akhirat itu ijazahnya diatur syariat Islam. Yaitu, seberapa tinggi derajatmu di sisi Allah.

 

Tentunya mencari derajat yang tinggi di sisi Allah itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, membutuhkan perjuangan yang berat. Di antaranya adalah alim. Sebab, orang yang mengetahui hak-hak Allah adalah orang yang alim. Sehinnga, dia dapat menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya untuk mencari rida-Nya.

 

Selain keahlian orang alim itu dapat mengetahui hak-hak Allah, dia juga adalah sosok yang selalu menebarkan kasih sayang terhadap sesama manusia. Tapi, bagi yang tidak alim, janganlah bersedih hati, cukup bagi kalian untuk mencintai dan mendekati orang yang alim. Insya Allah kita akan dapat memperoleh barakahnya. Sehinnga, kelak Allah akan mengizinkan kita untuk masuk surga bersama-sama dengan orang alim yang kita cinta dan kita dekati ketika masih hidup di dunia.

 

Ulama yang alim itu pangkatnya berbeda dengan nabi. Mengapa? Karena kalau ada seorang nabi sudah meninggal dan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka kedudukannya tidak akan diwarisi oleh anak perempuannya.. Tapi, kalau ada seoarang ulama yang meninggal, dan dia cuma punya anak perempuan, maka tugas keulamaannya masih bisa dilangsungkan olehnya. Yakni, ulama tadi mengambil menantu yang alim. Janganlah tergiur dengan harta di saat memilih menantu. Cukup pilih menantu yang alim, karena orang alim itu adalah ulama yang menjadi pewaris para nabi.

 

Pada ayat yang terakhir dalam pembahasan ini, Syaikhina Maimoen menjelaskan bahwa derajat orang mukmin kelak di surga itu ada tujuh, dan derajat orang kafir juga ada tujuh. Bagi mereka yang mendapat derajat yang tinggi di surga dialah orang-orang yang tidak mengingat apapun selain Allah. Maka orang-orang yang seperti ini rizkinya akan ditanggung oleh Allah. "Seberapa tinggi derajat orang di surga itu tergantung seberapa banyak dia mengingat Allah."

 

Orang kalau sudah berada dalam derajat kebaikan, maka dia akan selalu dikerumuni dan dijaga Malaikat. Kalau dia sudah dijaga Malaikat, Setannya akan pergi. Dan kalau orang itu ingin derajat kebaikannya itu terus naik, hendaknya dia mempunyai amal sisik melik, yaitu amal yang membuat Allah rida kepadanya.

 

Apabila ada seseorang yang mendapat murka Allah di saat dia menjalankan suatu pekerjaan buruk, maka dia akan mati dalam kondisi Kafir. Apabila ada seseorang ketika menjalankan perbuatan baik itu bertepatan dengan ridanya Allah, maka dia akan mati dalam kondisi mukmin. Contoh kecilnya, duhulu pada zaman Nabi Musa ada Tukang Sihir Firaun, di saat disuruh untuk mengadu sihirnya dengan Nabi Musa, mereka mempunyai sopan santun. Yaitu, ketika mereka hendak beradu sihir, mereka memperkenankan kepada Nabi Musa untuk dahulu memulai, atau mereka yang mulai terlebih dahulu. Di saat mengerjakan amal kebaikan ini, Allah meridainya. Sehingga, pada akhirnya mereka beriman kepada Nabi Musa.

 

Selain contoh tadi, ada juga contoh dalam sebuah cerita. Telah dikisahkan bahwa Abu Thalib itu adalah orang yang bukan mukmin. Akan tetapi, dalam sejarahnya dia tidak pernah menentang apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. Sehingga, karena kebaikannya ini ada sebuah cerita yang mengisahkan ketika dia wafat, bahwa neraka yang paling baik adalah neraknya Abu Thalib. Yaitu, ketika dia menginjak neraka otaknya mendidih. Maka dari itu, seberapa berat siksaan orang di neraka itu tergantung pada seberapa banyak ia menentang Allah Swt.

 

Sarang , 27 Juni 2010

Catatan: Artikel ini diambil dari pengajian Tafsir Syaikhina Maimoen Zubair di hari Ahad dengan materi Surat Al-Ahqaf Ayat 17-19.

Read More >>

Mengedepankan Kealiman

KH. MAIMOEN ZUBAIR Dahulu kala, ketika seseorang ingin mendalami ilmu agama, mereka belajar di masjid. Masjid digunakan sebagai media untuk mensyiarkan agama Allah. Banyak orang alim yang keluaran dari masjid, seperti Masjidil Aqsha, Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan masjid-masjid yang didirikan oleh Salafus Shaleh. Ulama-ulama yang mengajar dan mengabdikan ilmunya di masjid itu disebut dengan Muharrar.

 

Karena saking senangnya ingin mempunyai anak yang menjadi Muharrar, Hannah (ibu dari Sayyidah Maryam) bernazar jika jabang bayi yang ia kandung kelak akan lahir laki-laki, maka akan dijadikannya sebagai seorang Muharrar. Namun, Allah berkehendak lain. Ternyata anak yang lahir dari perutnya itu adalah seorang perempuan. Hannah menjadi sedih sebab cita-citanya untuk mempunyai bayi laki-laki menjadi gagal. Karena syarat untuk menjadi seorang Muharrar adalah laki-laki. Bayi itu diberinya nama Maryam. Allah berfirman:

 

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (36

 

“(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (QS. Ali-Imran : 35-36).

 

Untuk mengobati duka lara yang ada dalam hatinya, akhirnya Hannah mempunyai suatu gagasan untuk merealisasikan cita-citanya untuk menjadikan anaknya tadi menjadi seorang Muharrar. Solusinya, salah satu anaknya Hannah diberi nama Harun. Hal ini berdasarkan suatu alasan. Jika ada Nabi Harun, niscaya akan ada Nabi Musa. Sehingga, kedua ulama ini diibaratkan seperti Nabinya Bani Israil. Hal semacam ini juga terjadi kepada ulama-ulama yang menjadi pewaris Nabi Muhammad Saw. Sebab, risalah kenabian sekarang sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya para ulama yang mengikuti dan melestarikan ajaran yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw bersabda:

 

علماءامتي بمنزلة أنبياء بني إسرائيل

 

“Kedudukan ulama dari umatku itu bagaikan kedudukannya Nabi Bani Israil.” (Al-Hadist).

Apabila fungsi masjid masih diberlakukan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para Salafus Shaleh, niscaya ajaran Ahlu Sunnah Waljamaah akan semakin berkembang. Meskipun dalam realitanya kekuasaan negara telah dipegang oleh golongan yang bukan dari kalangan Ahlus Sunnah Waljamaah.

 

Abu Yusuf yang merupakan tokoh Ahlus Sunnah Waljamaah bisa menjadi Qodhi padahal raja yang berkuasa di waktu itu adalah golongan Muktazilah. Begitu juga Syaikh Hasan al-Masyat. Beliau menjadi Qodhi di Makkah meskipun raja yang berkuasa di waktu itu adalah orang Wahabi. Sebenarnya penguasa tersebut ingin mengangkat Qodhi atau Hakim dari golongannya sendiri. Namun, hal itu dirasanya tidak mungkin. Sebab, kebanyakan ulama yang alim di waktu itu adalah dari kalangan Ahlus Sunnah Waljamaah. Orang-orang alim ini adalah kebanyakan jebolan dari masjid.

 

Selagi fungsi masjid masih digunakan untuk bertafaqquh fiddin, niscaya akan lahir ulama-ulama yang alim. Namun, semua itu hanya tinggal sebuah kenangan. Sekarang, masjid sudah diisi dengan Ikatan Remaja Masjid. Yang tentunya, fungsinya sangat jauh bila dibandingkan dengan apa yang telah diajarkan oleh Salafus Shaleh.

 

Pada awal Islam berkembang di Indonesia, para ulama telah mengfungsikan masjid sebagai jalan untuk tafaqquh fiddin. Seperti masjid Demak yang arsitekturnya mirip dengan masjid yang ada di Keling (Gujarat) dan Malibari (India). Hal ini disebabkan karena Islam di Indonesia itu datangnya dari sana. Begitu juga masjid Aceh yang mirip dengan masjid bangunan Arab.

 

Syaikhina Maimoen Zubair sendiri merupakan ulama yang pernah bertafaqquh fiddin di masjid. Mulanya beliau belajar ilmu agama Islam di masjid Sarang. Masjid ini dulunya masih difungsikan untuk bertafaqquh fiddin. Beliau belajar di masjid Sarang kepada ulama-ulama setempat.

 

Ketika belajar di Lirboyo, tepatnya di pesantrennya Mbah Manaf, Syaikhina Maimoen juga bertafaqquh fiddin kepada ulama-ulama yang mengajar di masjid setempat. Pesantren Mbah Manaf ini dahulunya hanya berupa kombongan (sejenis gotaan). Sebab, setiap santri yang ingin belajar kepada Mbah Manaf disuruhnya untuk membuat kombongan sendiri. Jadi, Mbah Manaf ini tidak berambisi untuk mempunyai pesantren. Baliau hanya mengajar dan mensyiarkan agama Allah. Para santrilah yang membuat tempat tinggalnya (kombongan) sendiri yang kemudian menjadi sebuah pesantren.

 

Waktu Syaikhina Maimoen Zubair mondok di Lirboyo, santrinya Mbah Manaf masih sedikit, sekitar sepuluh orang. Hubungan Syaikhina Maimoen dengan Mbah Manaf begitu dekat. Kedekatannya ini salah satunya didukung oleh keberadaan Kiai Khozin yang diambil anak angkat oleh Mbah Manaf. Kiai Khozin ini masih ada kerabat dengan Syaikhina Maimoen. Kiai Khozin diambil anak angkat Mbah Manaf sebab putra Mbah Manaf yang bernama gus Nawawi telah meninggal dunia. Gus Nawawi ini adalah orang yang cerdas. Sehingga, dengan keberadaan Kiai Khozin ini diharapkan dapat menggantikan posisinya gus Nawawi.

Mbah Manaf ini sangat meyayangi Kiai Khozin. Suatu ketika, Mbah Manaf ingin mengajak Kiai Khozin untuk menunaikan ibadah haji. Tujuan keberangkatannya ini dikarenakan Mbah Manaf mempunyai cita-cita ingin meninggal di tanah suci. Namun, cita-cita Mbah Manaf untuk wafat di sana tidak kesampaian. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kiai Khozin justru yang meninggal di tanah suci Makkah. Setelah belajar dari pesantrennya Mbah Manaf, Syaikhina Maimoen melanjutkan belajarnya ke Makkah al-Mukarramah. Di tanah suci ini, beliau juga bertafaqquh fiddin di Masjidil Haram yang di waktu itu masih dipenuhi dengan ulama-ulama Ahlus Sunnah Waljamaah yang mengajar. Padahal raja yang berkuasa adalah dari golongan Wahabi.

 

Sekarang, fungsi masjid sudah berubah, tidak seperti zaman dahulu ketika masjid-masjid masih dipenuhi oleh ulama Ahlus Sunnah Waljamaah yang mengajar. Yang ada hanyalah sebuah kenang-kenangan yang membekas. Meskipun demikian, kita harus tetap menjaga bekas-bekas peninggalan yang telah ditinggalkan oleh ulama Salafus Shaleh sebisa mungkin. Marilah kita melestarikannya meskipun tinggal sedikit.

 

Salah satu peninggalan Salafus Shaleh adalah mengaji. Mengaji untuk mendalami ilmu agama Islam. Mengaji hanya ikhlas karena Allah. Mengaji yang bukan karena ingin pangkat, gelar dan iming-imingan yang lainnya. Nasehat mempertahankan mengaji ini sering sekali diulang-ulang oleh Syaikhina Maimoen ketika berceramah di hadapan santri-santrinya.

 

Ketika kita mendalami ilmu agama dengan ikhlas karena Allah, maka dapat menghasilkan buah berupa kita akan semakin dekat dengan Allah. Zikir yang kita baca akan semakin merasuk ke dalam hati sanubari.

 

Apabila ilmu kita dalam masalah keagamaan itu mendalam, niscaya kita akan menjadi orang yang alim. Karakter alim inilah yang harus diutamakan. Dari orang alim inilah kemudian ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah akan tersebar.

 

Terkadang ada seseorang yang mengesampingkan ke-alim-an dibanding dengan yang lainnya. Dia lebih suka melestarikan pesantrennya padahal anaknya masih belajar menuntut ilmu agama. Dia lebih suka mendirikan pesantren terlebih dahulu untuk anaknya nanti jika sudah pulang dari ngajinya di pesantren. Hal semacam ini berbeda dengan apa yang telah diajarkan oleh Kiai Umar bin Harun dan Kiai Zubair. Kedua ulama ini lebih suka memilih mengajar dari pada mendirikan pesantren.

 

Ulama itu tugasnya ada yang hanya mengajar dan ada mengurus pesantren. Kiai Umar dan Kiai Zubair lebih suka mengutamakan mengajar dan menolong agama Allah dibandingkan dengan mendirikan pesantren. Sehingga, dari keikhlasan mengajarnya ini banyak santri yang mengklaim dirinya mondok di Kiai Umar atau mondok di Kiai Zubair padahal keduanya ini tidak mempunyai pesantren. Para santri lebih suka menisbatkan ilmunya kepada kiai yang alim yang mengajarnya dari pada pesantren yang ia tempati.

 

Keikhlasan dalam bertafaqquh fiddin sudah memulai memudar. Namun, janganlah kita menghina orang yang telah lari dari konsep mendahulukan kealiman. Janganlah kita menghina orang yang suka mendirikan pesantren. Sebab, jalannya Islam di zaman sekarang itu harus dengan memakai media pesantren.

 

Marilah kita ikhlas dalam bertafaqquh fiddin. Dengan bertafaqquh fiddin seseorang akan menjadi alim dalam masalah keagamaan yang bersumber dari Al-Quran. Buahnya, zikir yang kita baca akan semakin bermakna. Lafal Allah yang kita baca akan semakin merasuk ke dalam jiwa.

 

Lafal Allah yang kita baca itu berbeda dengan yang lainnya. Selain tidak bisa ditasrif, ketika lafal Allah hurufnya kita lepas satu persatu, maka maknanya akan semakin mendalam dan mengena. Ketika lafal (الله) Allah, hamzahnya (ا)kita hilangkan, maka akan menjadi lillah (لله). Lafal lillah ini mempunyai sebuah arti hanya karena Allah. Jika beramal tidak karena Allah, maka amalnya tidak akan diterima dan tidak akan sampai kepada Allah. Ketika huruf lam (ل)yang ada di depannya kata lillah (لله) kita hilangkan, maka lafal Allah akan menjadi lahu (له). Artinya, hanya karena Dia. Lafal lahu ini memakai dhamir yang menunjukan makna Ghaib. Maknanya (لالغيره بل له فقط) la lighairihi bal lahu faqath. Maknanya tidak karena selain Allah, akan tetapi hanya karena Allah. Dhamir (ه) ha’ yang ada pada lafal lahu ini masih bisa diarahkan kepada dhamir Ghaib secara umum atau dhamir Syaen. Namun, setelah dibuang (ل) lamnya lagi, maka hanya boleh dikatakan dhamir Syaen. Sehingga, ketika kita menzikirkan lafal (ه) hu, (ه) hu, (ه) hu itu maknanya hanya kembali kepada Allah. Apabila dhamir ha’ tadi dihilangkan, maka yang ada hanyalah dzikrul qalbi(ذكرالقلب) sebab sudah tidak diucapkan lagi. Lafal Allah ini berbeda dengan lafal (زيد) Zaidun dan (فضل) Fadhal. Kata Zaidun ketika dihilangkan huruf (ز) zaknya, maka akan menjadi (يد) yadun yang mempunyai arti tangan. Padahal sebelumnya bermakna tambah. Begitu juga lafal (فضل) fadhal. Lafal ini asalnya mempnyai arti keutamaan. Namun, jika huruf (ف) fa’nya dihilangkan, maka menjadi (ضل) dhalla yang mempunyai makna sasar (tersesat).

Makna zikir Allah ini tidak akan diketahui oleh seseorang kecuali dia mau mengaji. Mengaji dengan cara mengikuti jejak-jejak ulama salaf. Mengaji dengan tujuan agar tahu tugas utamanya mengapa mereka diciptakan. Yaitu, hanya untuk menyembah kepada Allah. Allah berfirman:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56

 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supayamereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyaat : 56)

 

Jika zikir-zikir tadi dijalankan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw dan para Salafus Shaleh, niscaya hari Kiamat tidak akan kunjung tiba. Hal ini disebabkan semata-mata karena di atas permukaan bumi ini masih banyak hamba Allah yang mau berzikir kepada-Nya. Rasulullah Saw bersabda:

 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض الله الله) اخرجه مسلم

 

Rasulullah Saw bersabda, “Hari kiamat tidak akan ditegakkan di atas permukaan bumi sehingga tidak ada orang yang berzikir, “Allah Allah.” (HR. Muslim).

 

Sarang, 11 Januari 2013.

------------------------
Artikel adalah sari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair dalam acara persiapan Ikhtibar I Muhadhoroh PP. Al-Anwar, tahun ajaran 1434 H.

Read More >>

Mencetak Kader-kader Yang Penuh Dengan Cahaya

pemuda-islam-cartoon "Mutiara semakin kecil bentuknya, maka akan semakin mahal harganya." Itulah ungkapan di tahun kemarin yang di tausiyahkan oleh Syaikh Rojab untuk menanggapi dari pidato Syaikhina Maimoen, "Pondokku ini adalah pondok yang kecil."

 

Di samping itu, Syaikh Rojab juga memuji bahwa di Al-Anwar itu penuh dengan cahaya. Di antaranya adalah "cahaya" yang berhubungan dengan membaca Al-Quran, membaca Shalawat, Salat malam, dan lain-lain yang ada kaitannya dengan syariat Islam.

 

Cahaya Islam tidaklah mudah cara untuk mendapatkannya. Seperti halnya pepatah kuno, "Semudah membalikkan telapak tangan." Tapi, membutuhkan pengorbanan dan keikhlasan dalam mencapainya. Jangan terkecoh dengan konsep Islam itu mudah, sebab kemudahan yang ditawarkan Islam itu harus di sertai dengan "ilmu".

 

Ilmu adalah sumber cahaya. Maka dari itu, kita di sini (dalam tulisan ini) akan menyibak cahaya ilmu yang dibawa oleh Syaikh Rojab yang datang jauh-jauh dari Damaskus, Syiria. Perlu diketahui bahwa cahaya itu mempunyai sebuah sumber penempatan, atau wadah. Yang dimaksud wadah di sini adalah wadah manusia itu sendiri. Karena ilmu itu bercahaya atau tidak itu tergantung "manusia" yang mengolahnya.

 

Untuk menjaga kedinamisan hidup antara sesama manusia dalam membangun rumah tangga agar keturunan terjaga, Islam mensyariatkan agar seorang laki-laki dan perempuan yang sudah sampai waktunya untuk menikah agar segera menikah. Atau juga ketika dia sudah tidak bisa menahan pandangan antara lawan jenis. Maka orang seperti ini disuruh untuk "menikah".Tapi, jangan hanya menikah untuk memenuhi Nafsu Biologis saja. Karena hal ini tidak sesuai dengan konsep Islam. Niatkanlah nikahmu untuk memenuhi sunnah Rasulullah Saw supaya mendapatkan berkah.

 

Pernikahan secara etimologi itu mempunyai arti perkumpulan. Hal ini memberikan gambaran akan pentingnya konsep perkumpulan ini. Yaitu, dengan perkumpulan seorang laki-laki dan perempuan dapat merealisasikan hadist Nabi Muhammad Saw untuk memperbanyak keturunan yang dipoles dengan iman dan taqwa agar kelak Rasulullah Saw merasa bangga dengan umatnya yang banyak serta taat kepada Allah dan Rasul-nya. Selain bermaksud itu, pernikahan juga terjadi pada Al-Quran dan Al-Hadist. Keduanya ini saling membutuhkan untuk "dikumpulkan" supaya terjadi pemahaman yang mengarah. Al-Quran membutuhkan Al-Hadist, dan Al-Hadist membutuhkan Al-Quran.

 

Karena perkembangan zaman yang begitu cepat dan pesat, hukum-hukum Islam juga bertunas cepat. Hal itu juga membutuhkan untuk dikumpulkan menjadi satu. Yaitu, Ijma dan Qiyas ke dalam produk utama (Al-Quran dan Al-Hadist). Sehingga, hukum Ahlussunnah waljamaah jumlahnya menjadi empat. Yaitu, Al-Quran, al-Hadis, Ijma dan Qiyas.

 

Setelah menikah, tugas dari suami istri adalah mencetak kader-kader aktivis agama Islam.Tentunya hal ini tidaklah mudah, sebagaimana pendapat orang-orang yang menikah hanya memenuhi nafsu Biologis.Tumbuhnya generasi yang baik itu dipengaruhi oleh gennya, yakni dari sumber Ovum dan Sperma itu dikeluarkan.Terutama dari cinta dan taatnya orang tua kepada Allah dan Rasul-Nya. Contoh kecil dari perhatian seorang suami terhadap istri dalam masalah agama adalah, jika istri telah memecahkan gelas, sang suami tidak marah.Tapi, bila sang istri meninggalkan salat dengan sengaja, maka sang suami marahnya bukan main. Karena hal ini ada hubungannya dengan tanggung jawab di sisi Allah kelak di akhirat.

 

Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan yang baik, lalu dididik dengan pendidikan syariat Islam dengan baik pula, maka bendera Islam akan naik dengan cahaya yang berkilauan.Tapi, modal utama untuk mendapatkan cahaya adalah ilmu, bukan dunia yang hina ini. Hal ini sebagaimana yang telah dituturkan di atas. Karena mencetak kader-kader yang membawa cahaya itu sangatlah sulit. Sebab, di zaman ini banyak sekali baksil-baksil yang ingin menghancurkan situs-situs Islam.

 

Pemuda yang baik adalah pemuda yang berprilaku dengan prilakunya orang-orang pesantren. Mengapa demikian? Karena kalau kita mau membuka memori sejarah yang ada, bahwa ulama itu adalah penerus dan pemegang tongkat Estafet dari para nabi sebagaimana hadist Nabi Muhammad Saw, "Ulama itu adalah pewaris para nabi." Sebaik-baiknya tempat atau majlis adalah majlisnya Ulama. Pesantren adalah majlis ulama yang kental. Karena tempat-tempat tersebut ada ilmu. Jadi, jangan kawatir jika pemuda-pemudi kita menghabiskan waktunya untuk tinggal di pesantren untuk "ngalap ilmu" kepada para ulama yang mengasuh pesantren.

 

Seorang pemuda jika sudah digodok dengan bumbu-bumbu ilmu syariat yang kental di pesantren, apabila dia menjadi graduated from Islamic school ini, maka dia akan menjadi jelmaan dari konsep-konsep yang tertera di dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Sehingga pada akhirnya, pemuda yang semacam ini akan menjadi icon dan tumpuan untuk rujukan suatu kebaikan yang diperintahkan oleh syariat Islam. Dalam sebuah Hadist ada sebuah keterangan bahwa, "Sesungguhnya makhluk yang dicintai Allah Swt adalah pemuda yang umurnya masih belia, berparas tampan, yang menggunakan ketampanannya dan waktu mudanya untuk Allah, dan mencurahkan dirinya untuk beribadah kepada Allah Swt dan beristiqomah dalam menjalankan kebaikan sampai mati."

 

Pemuda yang kesehariannya selalu mentaati perintah Allah dan menjahui larangan-Nya, maka dia akan menginginkan dirinya untuk dijual kepada Allah. Yakni, Allah yang akan membelinya. Menjual bukan hanya sekedar menjual seperti ibu-ibu yang menjual jualannya di pasaran.Tapi, penjual yang menawarkan dirinya sebagai barang yang mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Ada yang berbentuk dzikrullah, mengerjakan salat, baik wajib maupun yang sunnah, ada yang membaca Al-Quran, Bershalawat dan cinta kepada ulama. Jika pemuda sudah berupa barang yang seperti ini, kemudian dia menjualnya kepada Allah, niscaya Allah akan membelinya dengan harga surga. Insya Allah dia mendapat rida-Nya.

 

Jika pemuda sudah menjual dirinya kepada Allah, dan penjual tadi hanya berlangganan dengan Allah, maka orang tadi akan tetap eksis dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hingga hatinya bersih dan bening. Tidak ada sesuatu yang lain yang dituju kecuali hanya Allah. Hidup untuk Allah dan mati hanya untuk Allah. Maka pemuda yang seperti ini, bersiap-siaplah untuk bertemu Allah dan Rasul-Nya.

Terakhir pesan dari Syaikh Rojab untuk Santri-santri Al -Anwar.

  1. Ihlaslah dalam mencari ilmu
  2. Ikutilah gurumu ini (Syakhina Maimoen Zubair)
  3. Juallah dirimu kepada Allah dengan berdzikrullah dan mencintai gurumu ini (Syakhina Maimoen Zubair)
  4. Jangan menjual dirimu untuk kemaksiatan dan kesenangan dunia
  5. Dunia itu milik Allah, jika kamu memilih Allah, niscaya dunia akan menjadi milikmu.

Sarang, 26 Mei 2010

Catatan: Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair, Syaikh Rojab Dib As-Subki dan Syaikh Mahmud di acara kunjungannya Syaikh Rajab yang kedua.

Read More >>