Organisasi ISMAH LP Muhadloroh

ISMAH (Ikatan Santri Muhadloroh) merupakan sebuah organisasi interen santri muhadloroh, atau bisa dibilang ini OSIS nya Muhadloroh. Sebagai sebuah organisasi yang masih dibilang muda (baru 10 tahun) ISMAH memiliki sejarah yang panjang hingga bisa menjadi sebagaimana sekarang ini. Sejarah ISMAH dimulai pada tahun 2001 atas prakarsa koordinator Muhadloroh Ust. M. Naf'an dan dibantu oleh Ustadz-ustadz yang lain. Ide dibentuknya ISMAH ini terinspirasi dari perkembangan Muhadloroh yang sangat pesat, sehingga para staff pengajar Muhadloroh merasa kerepotan untuk menanganinya, sehingga sebagai solusi atas masalah tersebut adalah dengan dibentuknya organisasi dari siswa yang nantinya membantu tugas staf Muhadloroh yang diwujudkan dalam ISMAH. 

Draff awal ISMAH adalah untuk membantu kelancran kegiatan muhadloroh semisal menjaga jam belajar dan menjaga musyawarah pada tingkat SP dan I Muhadloroh, mengadakan mauqufah ISMAH, mengadakan mauqufah tiap-tiap tingkatan, mengadakan mading dll. Namun dalam hal ini program yang diutamakan adalah program yang berhubungan dengan kema'arifan yakni membantu menjaga siswa SP dan tingkat I Muhadloroh pada waktu jam belajar dan musyawarah. 

Sebagaimana organisasi yang lain ISMAH pun memiliki struktur kepengurusan yang mempunyai tugas masing-masing, yang terdiri dari Pembina ISMAH yang diambilkan dari dewan Asatidz dan anggota dari santri Muhadloroh. Adapun anggota dari ISMAH sendiri diambil dari santri tingkat V yang dianggap mempunyai kemampuan untuk mengemban amanat tersebut. Selain itu anggota ISMAH juga diambilkan dari tingkat IV. Hal ini bertujuan untuk melakukan regenerasi agar tongkat estafet organisai ISMAH bisa terus berlanjut. 

Perubahan adalah hal tidak bisa dihindari, hal ini juga terjadi dalam perjalanan ISMAH yang mana sejak awal didirikan pada tahun 2001 M sampai sekarang ISMAH selalu mengalami perubahan baik dalam segi structural maupun fungsional. Tercatat terdapat dua perubahan yang cukup mencolok yang merubah arah dari ISMAH menuju organisasi yang solid dan dipandang dilingkungan Sarang dan sekitarnya. Perubahan pertama terjadi pada periode ke tiga pada tahun 2003, yang kala itu tampuk pimpinan dipegang oleh Didik Santoso dan Pembina kala itu dipegang oleh sosok ustadz yang tahan banting dan penuh dengan ide yang berasal dari kota Cirebon yakni Ust. Muthohhar Asy'ari. Perubahan yang mendasar adalah dalam hal fungsional ISMAH yang mana dulu tugas ISMAH hanya sekedar membantu kelancaran program-program Muhadloroh yang berhubungan dengan kema'arifan, berubah menjadi sebuah organisasi formal yang berada dibawah naungan Muhadloroh dan juga adanya penambahan program kerja tambahan yang bertujuan untuk memajukan ISMAH dan juga Muhadloroh. 

Perubahan kedua yang terjadi di ISMAH menurut sumber yang kami peroleh terjadi pada masa pemerintahan santri yang bernama Abdullah seorang yang penuh semangat dibawah seorang pembinan ISMAH yang kala itu di jabat oleh seorang Ustadz muda yang penuh talenta yakni Ust. Zainal Amin. Kolaborasi keduanya mengahasilkan perubahan yang signifikan ditubuh ISMAH yang mencakup bidang management serta program-program yang ada. Pada masa ini ISMAH akhirnya memiliki computer dan kesekretariatan sendiri, yang mana dulunya kesekretariatan ISMAH dompleng pada kantor Muhadloroh, pada masa ini ISMAH akhirnya mempunyai kesekretariatan yang mandiri. Walaupun tidak layak disebut kantor karena hanya berukuran 1,5X2 m dan juga letaknya dibawah tangga dilantai GSG lt. II, namun itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai tempat koordinasi ISMAH dalam merancang dan menjalankan programnya. 

Pada tahun ke 6 yang kala itu pimpinan ISMAH dipegan oleh M. Indy Nayyiron, kantor ISMAH yang semula di GSG lt. II dipindahkan ke GSG lt. III sebelah utara. Bagian utara GSG lt. III ini disulap menjadi sebuah kantor yang representative dan memenuhi standar untuk dijadikan sebagai kesekretariatan bagi organisasi ISMAH, sehingga kegiatan ISMAH dapat beralangsung dengan lancar. Namun hal ini juga tidak belangsung lama, akhirnya pada periode ke 10 ini yang dipegang oleh A. Ghufron kantor kembali dipindahkan. Kali ini kantor ISMAH dipindah ke GSG lt. IV sebelah utara yang dulunya diperuntukkan untuk lab computer, karena program tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya akhirnya ruangan tersebut kosong tak berpenghuni. Adapun kantor ISMAH yang ada di GSG lt. III sekarang ini dijadikan sebagai Maktabah Muhadloroh. 

Seiring dengan perkembangan teknologi, ISMAH pun tidak mau kalah sehingga dikatakan gaptek, karena teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaannya. ISMAH pun memanfaatkan hal tersebut walaupun masih kadar minimal. Hal ini bisa dibuktikan dengan nongolnya proyektor pada acara-acara resmi ISMAH terutama dalam mauqufah, sehingga semua ta'bir yang masuk dapat ditampilkan dilayar tanpa menghapus ta'bir yang sudah ada akibat papan tulis yang sudah penuh dan hal ini tentunya membantu katib agar tidak kerepotan ketika ada perang ta'bir. 

Demikianlah sejarah singkat ISMAH yang sekarang sedang menapak usia 11 tahun. Ibarat manusia sekarang ini ISMAH masih anak-anak yang butuh bimbingan dari orang tua, agar nantinya dapat menjadi organisasi yang dapat dibanggakan oleh orang tuanya (Muhadloroh). 

Daftar Ketua ISMAH mulai periode 2000 s/d 2011

No
Nama
Periode
1.       
Hasib Dawam
2000-2001
2.       
Bustanul Ulum
2001-2002
3.       
Didik Susanto
2002-2003
4.       
Ag. Haris Fithon
2003-2004*
5.       
Imron Al-Hasani
2003-2004
6.       
Fathul Aziz
2004-2005
7.       
Abdullah
2005-2006
8.       
M. Indy Nayyiron
2006-2007
9.       
M. Nahrowi
2007-2008
10.   
M. Nuruddin
2008-2009
11.   
A. Ghufron
2009-2010
12.   
A. Arwani
2010-2001
*Ket : Ditengah-tengah kepemimpinannya, beliau menikah sehingga digantikan Imron Al-Hasani
Read More >>

LP Muhadloroh PP al Anwar

Muhadloroh PP Al-Anwar Sarang Rembang

Muhadloroh merupakan lembaga pengajaran ilmu-ilmu keislaman yang dimiliki oleh PP. Al Anwar yang berdiri pada tahun 1984 M. Sejarah berdirinya Muhadloroh ini dilatar belakangi oleh melubernya jumlah santri yang tidak bersekolah (MGS), yang mana kebanyakan dari santri tersebut merupakan jebolan dari pesantren lain. Karena faktor usia, ekonomi atau mungkin karena faktor yang lain, mereka lebih memilih untuk cukup mengaji dan beristifadah kepada Syaikhina Maimoen Zubair dan para masyayekh di lingkungan Sarang lainnya. Dengan berbagai alasan dan atas usulan para santri yang menginginkan agar dibentuk sebuah majlis pengajian, maka sebagai implementasi dari usulan para santri tersebut dan atas izin dari syaikhina Maimoen Zubair dibentuklah majlis ta'lim yang menjadi cikal bakal Muhadloroh. Adapun penanganan majlis ini diserahkan oleh syaikhina Maimoen Zubair kepada salah satu santri senior kala itu yaitu ustadz Romadlon. Selanjutnya oleh beliau majlis ta'lim tersebut diberi nama Muhadloroh, dan beliau juga merupakan ustadz pertama yang mengajar di majlis ta'lim tersebut yang kala itu santrinya baru berjumlah 15 orang. Adapun materi pelajaran yang diberikan masih sebatas ilmu alat saja, yakni dengan menggunakan kitab Ibnu Aqil, itupun hanya satu jam pelajaran saja, mulai dari jam 10.00 sampai jam 11.00 siang. 

Seiring perjalanan waktu santri yang berminat untuk masuk Muhadloroh pun semakin banyak, maka Muhadloroh pun akhirnya dibagi menjadi beberapa tingkat yaitu dari tingkat satu sampai tingkat empat. Selanjutnya untuk menanggulangi jumlah santri yang membludak dan minimnya tenaga pengajar, atas intruksi dari pengurus Muhadloroh direkrutlah sejumlah santri senior yang dianggap mempunyai potensi untuk membantu kelancaran dari Muhadlorh, baik itu dari Mutakhorijin Muhadloroh sendiri maupun dari mutakhorijin MGS, diantaranya ustadz Husnan (Sedan), ustadz Mukhlish (Pekalongan) dan ustadz A. Asnawi (Kudus). 

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Muhadloroh mampu melahirkan kader-kader yang mumpuni dalam ilmu agama, dan ini merupakan sebuah bukti bahwa Muhadloroh mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dari segi kwalitas maupun kwantitasnya. Yang dulunya hanya hanya terdiri dari empat tingkatan kini menjadi enam tingkatan ditambah tingkat untuk persiapan (SP) bagi santri yang ilmu agamanya masih minim. Bahkan sekarang Muhadloroh sudah mempunyai gedung sendiri dengan tinggi lima lantai dan dinamakan gedung serba guna (GSG) yang oleh kebanyakan santri lebih sering disebut MAK. 

Walaupun Muhadloroh merupakan lembaga pendidikan yang bisa dibilang lembaga dlorurot namun tidak berarti dalam pengajarannya asal-asalan. Walaupun tidak mengikuti kurikulum formal namun Muhadloroh ini mempunyai system kurikulum sendiri yang sudah disusun dengan rapi, sehingga dalam pengajarannya dapat efektif dan mengena pada sasaran, karena pada dasarnya yang mengajar di Muhadloroh merupakan alumni atau mutakhorijin dari Muhadloroh sendiri misalnya Ust. M. Naf'an dan juga dari alumni MGS semisal Ust. M. Sa'udi dan juga diasuh oleh para masyayeh antara lain KH. Maimoen Zubair, KH. Abdullah Ubab MZ, KH. M. Najih MZ, KH. Majid Kamil MZ, KH. Aufal Marom, KH. Abdur Ro'uf MZ, KH. Muhammad Wafi MZ, KH. Taj Yasin MZ, KH. Alim dll. 

Untuk mengasah intelektualitas dan pemahaman santri atas apa yang telah dipelajari di Muhadloroh, serta melatih kepekaan santri terhadap masalah-masalah yang banyak terjadi dimasyarakat, maka digelarlah sebuah forum musyawarah yang diadakan masing-masing tingkatan yang diadakan setiap tiga bulan sekali. Adapun yang dibahas disesuaikan dengan tingkatan masing-masing. Disamping itu juga ada mauqufah ISMAH yang juga diadakan tiga bulan sekali yang diperuntukkan untuk semua tingkatan yang diikuti oleh delegasi masing-masing tingkatan.

Read More >>

KH. SYU'AIB BIN ABDURROZAQ

KH Syu'aib

Kakek –dari ibu- KH. Zubair dan menantu KH. Ghozali (pendiri PP Sarang pertama kali) ini lahir pada tahun 1263 H. 

Semula beliau belajar pada KH. Ghozali Sarang kemudian ketika beliau berumur 20 tahun, beliau pergi ke Kajen Pati untuk mulazamah kepada K. Murtadlo, seorang ulama' sufi yang terkenal denan ilmu ketuhanannya. Dari guru ini beliau belajar ilmu Tauhid, Fiqh dan ilmu-ilmu ketuhanan lain. Lebih-lebih talqinyddzikri dan titian jalan menuju kewalian. Disamping itu beliau juga belajar al Qur'an secara talaqi. 

Setelah sekian lama di Kajen dan beliau telah berhasil menjadi seorang yang ahli didalam ilmu ketuhanan hingga melampaui teman-temannya, beliau kembali ke Sarang dan muncullah beliau sebagai seorang yang zuhud, sampai-sampai beliau mengatakan: "saya mentholak dunia dengan tiga thokan". Hal ini ketika umur beliau menginjak umur 60 tahun. 

Beliau seorang yang sangat mencintai para ulama' danorang-orang shlih sehingga ketika umur beliau sudah lanjut, beliau mengajak para masyayekh Sarang untuk tetap istifadah disamping mengajar para santri. Oleh karena itu, maka beliau memohon kepada KH. Murtadlo Sarang untuk membaca kitab Ihya' Ulumuddin lil Ghozaly dan bersama-sama para masyayekh Sarang beliau mengaji hingga KH. Murtadlo wafat. 

Pada bulan Sya'ban 1358 H, beliau wafat dan meninggalkan putra-putri yang menjadi penerus perjuangan beliau.

Read More >>

KH. ZUBAIR DAHLAN

KH ZUBAIR DAHLAN

Adalah putra kedua dari Kyai Dahlan yang dihalhirkan di Sarang tahun 1323 H. bertepatan dengan mukimnya KH. Ahmad bin Syu'aib (paman dan mertua beliau) di Makkah semasa muda guna tholabul ilmi. 

Diawah bimbingan orang tua dan kakeknya serta masyayikh Sarang kala itu, beliau tumbuh menjadi anak yang sangat cerdas. Terbukti sejak usia 6 tahun cucu KH. Syuiab ini sudah bisa membaca al Qur'an dengan tajwid, sehigga belaiu sangat disayangi oleh kakek dan kerabat-kerabatnya. 

Ketika berusia 17 tahun besama dengankakek dan neneknya beliau berangkat ke Makkah guna menimba ilmu kepada ulama-ulama' disana bersama dengan pamannya yaitu KH. Imam Kholil. Diantara masyayikh beliau adalah syeikh Baqir al Jogjawi, syeikh Sa'id al Yamany dan putranya yaitu syeikh Hasan al Yamany yang menjuluki beliau dengan Zubair al Kufy, karena ketika beliau disuruh mengi'rob lafadh: مررت بزيد وضرب زيد عمرا beliau menjawab: مررت فعل ماض مبنى على السكون والتاء ضمير مبني على الضم فاعله ....الخ maka beliau ditegur oleh guru beliau: أنت من أهل الكوفة والكوفي لايوفى: دع عليه الكوفيون فإنهم اهتموا بدماء البعوضة وأهملوا دم الحسين . 

Setelah bermukim di Makkah selama tiga tahun,bersama pamannya (K.H Imam Kholil) beliau kembali ke sarang, dan kemudian melanjutkan study kepada syaikh Faqi bin Abdul jabber maskumambang. Dari gurunya ini beliau belajar tafsir, Jam'ul Jawami', syarah Ummul barohin, dan mendapatkan kitab sanad yang berjudul "kifayatul mustafid", karangan syeikh mahfudz teremas. 

Pada tahun 1371 H ayahanda KH. Maimoen Zubair ini berangkat lagi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Waktu yang sangat singkat ini, beliau gunakan untuk belajar kepada ulama' ulama' disana, diantaranya yaitu sayyid Alawi al Maliky dan syeikh Yasin al Fadany yang memberikan ijazah pada beliau dengan ijazah yang tammah. 

Beliau mempunyai beberapa karangan diantaranya: Kitabul manasik fil hajji, al Qowa'id al Lu'luiyyah nadhom risalah as Samarqondiyyah, nadhom Rumuzul Fuqoha' dan beberapa sya'ir tentang adab dan hisab. 

Selama kiprah beliau pondok pesantren Sarang yang semula hanya satu berkembang menjadi dua, yaitu MIS dan MUS, dan dari ulama' yang menyukai dluafa' serta orang-orang miskin ini lahirlah ulama'-ulama' besar, diantaranya KH. Mushlih Mranggen, KH. Sahal Mahfudz Kajen dll. 

Dan akhirnya orang alim yang agung ini berpulang kerahmatullah pada malam selasa 15 Romadlon 1389 H. Beliau termasuk ulama' Sarang yang hidup dan wafat dalam keadaan faqir.

Read More >>

SAYYID ALAWY BIN ABBAS AL MALIKY

Beliau adalah ayahanda sayyid Muhammad al Maliky dan salah seorang guru KH. Maimoen Zubair yang lahir di Makkah pada tahun 1327 H. beliau tumbuh dibawah asuhan orang tuanya dan kemudian belajar pada pamannya, yaitu sayyid Hasan al Maliky di Darus Sayyidah Khodijah al Kubro (sekarang jadi madrasatul Huffadz) disini beliau hafal al Qur'an dalam usia sepuluh tahun. 

Kemudian oleh orang tuanya, beliau dimasukkan ke madrasah al Falah di bawah asuhan ulama'-ulama' besar masjid al Harom, diantara syeikh Umar Hamdan, syeikh Muhammad al Aroby, syeikh Abdullah Hamduh, syeikh Ahmad Nadzirin dan lain-lain. Beliau lulus dari madrasah pada tahun 1346. 

Adalah sayyid Abbas, seorang ayah yang selallu membei support, motivasi dan perhatian yang besar atas study putranya yang sangat diharapkan untuk menjadi orang besar dan ulama' agung. Beliau mengatakan " prestise seseorang adalah ilmu dan bermanfaatnya dia bagi orang lain". Maka masuklah sayyid Alawi pada barisan pelajar-pelajar di masjid al Harom. Dan akhirnya pada tahun 1348 H. tercapailah obsesi sang ayah dengan diangkatnya beliau menjadi guru di Madrasah al Falah dan masjid al Harom. 

Disamping mengajar oleh sang ayah beliau dimohoon untuk membuka pengajian untuk khalayak umum. Dan ternyata itu sangat diminati oleh masyarakat, sehingga yang hadir lebih dari seribu orang. 

Dari beliau muncullah ulama'-ulama' besar yang tersebar diberbagai penjuru dunia, lebih-lebih di Indonesia yang pada waktu itu masih dibawah cengkraman kolonial Belanda. 

Dalam mengajar ulama' yang mempunyai himmah yang luar biasa ini menggunakan metode yang unik yan gbelum pernah digunakan oleh ulama' –ulama' sebelumnya, yaitu menggunakan papan tulis untuk menguraikan pelajaran dan dengan memberi latihan-latihan pada murid-muridnya. Dna dengan pengajian untuk umum beliau bagaikan sebuah lentera, menunjukkan dan menerangi jalan serta melembutkan hati yang keras. Sehingga, sering kali terdengar beliau menangis, membaca tahlil, tahmid dan ta'awwudz ditengah-tengah ceramah beliau. 

Beliau meninggalkan beberapa karangan diantaranya: Faidul Khobir Hasyiah Nuhjatu at taisir (pelajaran tinggkat V MHD). Ibanatul Ahkam syarh Bulughul Marom (pelajaran tingkat V MHD).

Read More >>

SYEIKH MUHAMMAD YASIN BIN ISA AL FADANY

Syeikh Yasin

Beliau adalah seorang ulama' besar yang merupakan salah satu guru KH. Maimoen Zubair yang lahir di Makkah pada 27 Sya'ban 1337 H, menurut satu riwayat pada 1335 H> 

Sejak kecil beliau belajar pada orang tuanya lalu dilanjutkan pada pamannya yaitu syeikh Mahmud al Fadany. Pada tahun 1346 H, beliau masuk ke madrasah ash Sholatiah dan lulus pada 1356 H. setelah itu melanjutkan ke madrasah Darul Ulum disamping juga mengajar di Masjid al Harom. 

Seorang ulama' yang dijuluki "musniduddunya" -karena hampir semua ulama' besar disegala penjuru dunia mendapat ijazah dan sanad dari beliau- ini mempunyai guru yang sangat banyak hingga mencapai 700, baik laki-laki maupun perempuan. Diantara guru beliau adalah syeikh Umar Harridan al Mahrusy (seorang muhaddits yang juga merupakan salah satu guru dari sayyid 'Alawi), Sayyid Muhsin al Musawy (pengarang Nahju at taisir syarah dari nadzom ilmu Tafsir pelajaran tingkat V MHD), sayyid Alawi al Maliky (pengarang kitab Ibanatul Ahkam syarh Bulughul Marom dan Faid al Khobir Hasyiah Nahju at Taisir keduanya pelajaran tingkat IV dan V MHD). Syeikh Hasan Masysyath (pengarang syarh Baiquni pelajaran tingkat V MHD), syeikh Sa'id al Yamany dan putranya syeikh Hasan Yamany keduanya juga merupakan guru dari KH. Zubair Dahlan. Bertendensi pada hadits: 
Syeikh Yasin

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة 

Beliau berpandangan bahwa belajar dan mengajar kaum wanita hukumnya wajib, maka dari itu, setelah sekian lama beliau cita-citakan, akhirnya beliau mendirikan madrasah Ibtida'iyah lil Banat dan kemudian pada bulan Robi'uttsani 1337 H beliau mendirikan ma'had lil Mua'llimat sebagai kelanjutannya. 

Sebagai bukti kealiman beliau, beliau meninggalkan banyak sekali karangan yang diantaran : Hasyiyah Nuhjah at taisir (pelajaran tinggkat V MHD), al Fawaidul Janiyah (pelajaran tingkat IV MHD), Husnus Shiyaghoh (pelajaran tingkat IV MHD). 

Dan akhirnya dunia harus rela kehilangan beliau, dengan wafatnya beliau pada malam jum'at 28 Dzul Hijjah 1410 H, dan di sholati setelah jum'at dan kemudian dimakamkan di Ma'la.

Read More >>

Mendengarkan musik di Blog Cara memasang Musik Live dan eSnips

Bagi anda yang penggemar musik. Memutar lagu melalui HP, Mp3 player ataupun komputer mungkin sudah biasa. Tetapi bagaimana jika memutar musik melalui blog?


Dengan memasang musik player di blog maka tidak hanya anda tetapi pengunjung blog anda juga bisa menikmati lagu kesayangan anda. Sehingga cara ini sangat cocok bagi anda yang blognya berisi tentang musik atau bagi anda yang ingin mempromosikan lagu pribadi.
Ada banyak layanan seperti ini yang tersedia di internet. Dari sekian banyak layanan yang ada. Menurut saya ada 2 musik player yang cukup bagus. Yaitu Musik-live dan eSnips. Mengapa saya merekomendasikan 2 musik player? Karena kedua ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing2. Sehingga silahkan anda tentukan sendiri mana yang lebih bagus.

1. Musik-Live

Kelebihan:
- Lagu sudah tersedia, tinggal pasang
- Banyak model skin yang bisa anda pilih

Kelemahan:
- Tidak bisa upload lagu sendiri


2. eSnips

Kelebihan:
- Bisa upload lagu dari komputer
- Tersedia lagu yang bisa anda putar

Kelemahan:
- Hanya 2 model skin yang bisa dipilih
- Tampilannya kurang menarik

Nah itulah kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Silahkan anda tentukan mana yang lebih cocok dengan kebutuhan anda. Agar lebih jelas anda bisa lihat demonya disini.

Ok kalau sudah berikut adalah langkah-langkah pemasangannya:

A. Musik-Livet.Net

1. Kunjungi http://musik-live.net/ lalu klik Skin Mp3 Player
2. Pilih tampilan player yang anda inginkan. Untuk melihat tampilannya klik Preview Skin
3. Copy kodenya lalu buka blogger. Klik menu Layout -> Page Elements
4. Pastekan ke menu HTML/ Javascript
5. Selesai.

Diatas adalah cara memasang musik player dengan lagu yang telah disediakan. Jika anda ingin memilih sendiri lagunya. Berikut caranya:

1. Pada halaman Musik-Live, cari lagu favorit anda dengan kotak pencari.
2. Lalu klik Play & Embed code untuk menampilkan kodenya
3. Copy kodenya lalu paste ke menu HTML/ Javascript blogger anda. Selesai

Catatan:
Cara ini hanya bisa untuk memutar 1 lagu saja. Jika anda ingin memutar banyak lagu maka gunakan eSnips.


B. eSnips

1. Kunjugi http://www.esnips.com/. Untuk bisa memanfaatkan fasilitasnya anda harus signup terlebih dahulu. Jika sudah, sign-in ke akunnya.

2. Klik Upload Files lalu klik Select Files

3. Pilih lagu yang mau anda putar lalu pilih folder dimana anda mau memyimpan lagunya. Pastikan folder yang anda pilih adalah bersifat Public. Karena kalau Private anda tidak bisa menambahkan lagunya kedalam playlist.

4. Jika sudah klik Upload Now

5. Tunggu hingga proses upload selesai.

6. Jika sudah klik menu Folder. Pilih folder dimana anda menyimpan menyimpan lagunya

7. Pilih lagu-lagu yang ingin anda pasang dengan cara klik Add to quicklist
esnips add to quicklist
8. Jika sudah, scroll ke bagian atas halaman lalu klik Create playlist widgets

esnips create playlist
9. Pilih skin yang anda inginkan. Lalu copy kodenya yang ada pada kotak.

esnips widget

10. Buka blogger. Paste kodenya pada menu HTML/ Javascript lalu klik Save

11. Selesai. Silahkan lihat hasilnya.

Jika ukurannya tidak pas anda bisa mengatur ukurannya dengan mengedit nilai width-nya pada kodenya masing-masing. Selamat mencoba..
Read More >>

Kejawen VS Tariqot - Kekebalan tubuh

Habib Lutfi Pekalongan
Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- (Buleten Al Kisah)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Di Indonesia banyak sekali aliran yang bercorak kebatinan. Di antaranya tarekat dan aliran kebatinan Kejawen. Keduanya memang memiliki kesamaan, tapi di sisi lain juga berseberangan dalam banyak hal. Aliran Kejawen mengajarkan, salah satunya, tapa pendhem. Pelakunya ditanam layaknya orang meninggal. Mereka yang berhasil, konon bisa menjadi sakti, mengetahui peristiwa di tempat yang jauh, bisa menebak isi hati orang, dan Iain-Iain. Sebaliknya, aliran tarekat tidak mengajarkan kesaktian. Tarekat mengarahkan pengikutnya agar hatinya bersih, sabar, dan mencari kerelaan Tuhan semata. Jadi, meng¬ajarkan dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar, sehingga orang itu menjadi beriman dan bertaqwa kepada Allah SWI
Pertanyaan saya, pertama, seandainya ke-dua aliran tersebut dipersandingkan, apakah Kejawen yang lebih unggul daripada tarekat, atau sebaliknya? Kedua, seandainya ada pengikut aliran ta¬rekat minta agar bisa sakti, bagaimana solusi-nya? Apakah harus bergabung dengan aliran Kejawen? Apakah Kejawen itu bisa dianggap ilmu hitam? Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Bagi pengikut tarekat, karamah (yang bagi orang lain bisa saja dianggap kesaktian - Red.) bukanlah tujuan. Karamah itu, bagi para kekasih Allah, tanpa diminta pun, Allah Taala akan memberinya. Itu bukan merupakan kebanggaan. Sekali lagi, itu bukan tuju¬an bagi para waliyullah. Kalau mereka diberi kelebihan yang luar biasa sebagainana di-anugerahkan kepada Syaikh Abdul Oadir Jailani, misalnya, itu semata-mata karena kekuasaan Allah. Bahkan mereka sebenarnya malu kepada Allah SWT apabila diberi ke¬lebihan yang luar biasa.

Kalau seseorang sudah dekat dan semakin dekat dengan Allah SWT, mungkin-kah ada ilmu yang bisa mengalahkan orang yang dekat kepada Sang Pencipta? Kami tidak bermak-sud mengatakan bahwa ilmu yang dipelajari dan di-amalkan dalam aliran Kejawen itu lebih rendah, tidak sama sekali. Tapi, sekali lagi, apakah orang yang sudah dekat benar kepada Allah SWT bisa dikalahkan?

Namun, ingat, orang yang tidak mempan ditembak atau dibacok itu belum tentu orang yang selalu melakukan pendekatan kepada Allah. Sebab, itu terkadang bisa menimbulkan kesombongan dan berakibat menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Terkecuali orang-orang yang makrifatnya tinggi. Dia akan lebih memahami makna dan rahasia kebesaran ayat-ayat Allah. Jadi semua itu tergantung pada manusianya.

Tidak semua ilmu Kejawen itu beraliran hitam. Perlu diketahui, ilmu Kejawen dirintis oleh tokoh-tokoh ulama pada zaman Wall Sembilan dulu dan para ulama sesudahnya. Mereka itu mencari jalan untuk menerjemah-kan kitab-kitab fiqih dan kitab-kitab tasawuf, khususnya ke dalam bahasa Jawa. Maka kitab itu disebut kitab Kejawen, karena per alihan bahasa dari bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, baik yang Kawi maupun krama inggil. Misalnya,, kitab karya Kial Saleh Darat Semarang. Kitab Majmu' dan kitab Munjiyat, misalnya, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sehingga sering disa-ahsangkai, disebut kitab Kejawen.

Penerjemahan kitab-kitab itu bermaksud memberi jembatan (pada waktu itu) bagi penganut agama pada waktu itu (zaman Wali Sembilan atau sesu¬dahnya) untuk memudah-kan memahami agama yang baru, yaitu Islam, dari agama sebelumnya. Para au/iya itu memberikan warna tersendiri dalam dunia ta¬sawuf, dan dari situlah muncul Kejawen. Misalkan orang bertapa, dalam Islam bertapa ini kemudian diganti de¬ngan khalwat, menyendiri. Dalam khalwatnya mereka selalu menjaga wudhu, dan tidak boleh melepaskan dzikir kepada Allah SWT.

Memang ada ilmu Keja¬wen yang bertujuan semata-mata mencari kesaktian,termasuk untuk pengobatan dan sebagainya. Ada pula ilmu Kejawen yang tumbuh terlepas dari ajaran Islam. Nah, dari sinilah kita harus pandai-pandai memilah da¬lam masalah ini.

Seperti contoh tapa pendhem, itu tidak ada di dalam Islam. Begitu juga dalam tarekat. Dalam Islam sudah ada aturan untuk puasa atau shiyam, yaitu puasa tidak makan dan minum serta tidak berhubungan suami-istri dari subuh hingga maghrib. Karena itu, kalau ada yang berkata bahwa tapa pen¬dhem dipercayai akan memberikan kesak¬tian, kita sebagai kaum muslim patut berhati-hati. Bisa-bisa itu adalah ulah setan. Jika kita percaya kepada kepercayaan semacam itu, dikhawatirkan kita akan jatuh pada kesyirikan.
Read More >>

Dampak Buruk Tidur Di Pagi Hari

Ayooo rubah kebiasaan Mbangkong alias Bangun siang Kita, Saya kira Kita telah tahu bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan untuk tidur dan bermalas-malasan.

Kepribadian orang-orang sholih terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur yaitu bahwa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas serta membuang-buang waktu. Beliau rahimahullah mengatakan,
“Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan.

Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :
  1. Tidur ketika sangat butuh,
  2. Tidur di awal malam –ini lebih manfaat daripada tidur di akhir malam-,
  3. [3] tidur di pertengahan siang –ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan sore-. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu ‘Ashar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman.
Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).”

BAHAYA TIDUR PAGI
  1. Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur'an dan As Sunnah.
  2. Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.
  3. Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.
  4. Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya. Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, "Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya." (Miftah Daris Sa'adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.
  5. Menghambat datangnya rizki. Ibnul Qayyim berkata, "Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat." (Zaadul Ma’ad, 4/378)
  6. Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Ma’ad, 4/222)
Read More >>

Al-Quran : Keotentikan dan Kelayaannya untuk di Jadikan Pegangan Hidup

Al Quran Pegangan Hidup
Pendahuluan
AL-QURAN adalah wahyu yang diturunkan dari langit oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril a's. Sejarah penurunannya selama 23 tahun secara berangsur-angsur telah memberi kesan yang sangat besar dalam kehidupan seluruh manusia. Di dalamnya terkandung berbagai ilmu, hikmah dan pengajaran yang tersurat maupun tersirat.
Sebagai umat Islam, kita haruslah berpegang kepada Al-Quran dengan membaca, memahami dan mengamalkan serta menyebarluaskan ajarannya. Bagi mereka yang mencintai dan mendalaminya akan mengambil I'tibar serta pengajaran, lalu menjadikannya sebagai panduan dalam meniti kehidupan dunia menuju akhirat yang kekal abadi.
Namun jika kita menilik lebih jeli lagi tentang apa yang ada dalam Islam dan masyarakat Islam Indonesia, sadarkah kita bahwa aqidah kita sedang dibredel dan dibobol habis-habisan? Banyak tulisan yang mengatasnamakan agama tentang; keraguan Al-Qur'an, bahwa mushaf Al-Quran yang ada di tangan kita saat ini tidak sama dengan al-quran yang di wahyukan tuhan kepada nabi Muhammad. mereka menuding proses pembukuan Al-Quran oleh kholifah abu bakar usman R.A. banyak mengalami kesalahan dan distoras. Masihkah kita tertidur pulas di ranjang kemunafikan zaman? Ataukah kita masih tetap menjadi umat manja yang mau bangkit jika Allah telah menegur? Tersadar atau tidak, agama tinggallah agama, aqidah tinggallah aqidah.
Sebelum membahas banyak hal tentang al-quran yang di jadikan dalil syar'i kami akan mengenalkan dulu apa-apa yang berhubungan dengan Al-Quran sebagai titik awal memasuki kajian lebih dalam mengenai Al-Qur'an.
Ta'rif (definisi ) Al-Quran
Al-Quran secara etimologi adalah masdar dari lafadz قرأ قراءة وقرأنا yang artinya "membaca" Allah berfirman dalam Al-Quran :

إن علينا جمعه وقرأنه ، فاذا قرأنه فاتبع قرأنه (17-18 القيامة)
"Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya"(17-18)

Adapun secara terminology syari'at Al-Quran merupakan kalam Allah yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW berupa lafadz yang berbahasa arab beserta ma'na-ma'nanya, yang fungsinya supaya di jadikan hujjah bagi Rasulullah dalam pengakuannya menjadi rasul, yang sekarang ditulis dalam beberapa mushaf yang diriwayatkan mulai pertama kali hingga sampai pada kita semua dengan cara mutawatir,dan hanya dengan membacanya sudah bisa dibuat taqarrub (beribadah) kepada Allah, yang mendapat jaminan langsung dari Allah atas keotentikannya sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya QS.AL Hijr -(15):9:

( إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ) (سورة الحجر: 9).
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan kamilah yang akan menjaganya'"(3)

Keistemewaan Al-Quran:
Semua sifat-sifat yang telah di sebutkan di atas merupakan keistimewaan-keistemewaan yang paling menonjol yang bisa membedakan Al-Quran dengan yang lain
1. Menjadi kalam Allah baik lafadz nya atau ma'na nya, Al-Quran paketan langsung dari Allah, dan lafadz Al-Quran semuanya berbahasa arab Rasulullah hanya membaca dan menyampaikannya, berpacu dari keterangan ini mengecualikan hadis qudsi(yaitu hadis yang di riwayatkan oleh Rasulullah dari Allah berupa ma'na adapun lafaz nya dari Rasulullah ) dan juga tidak termasuk Al-Quran penafsiran pada satu surat atau ayat denga bahasa arab dengan kata-kata muradif (sinonim) yang sudah bisa menunjukkan ma'na dari surat atau ayat tersebut.
2. termasuk keistemawaannya lagi adalah Al-Quran di riwayatkan secara tawatur sehingga kemungkinan permalsuan akan semakin mengecil dan lebih rumit, karena istilah tawatur biasa digunakan pada pengumpulan informasi dari berbagi sumber dan perbandingan di mana jika sebagian besar menyetujui suatu bacaan, maka hal yang demikian memberi keyakinan akan keaslian bacaan itu sendiri, ". .dari keterangan ini kita bisa memahami bahwa bacaan yang tidak mutawatir (qiroah syadzah) tidak bisa dikatan Al-Quran dan juga tidak bisa dihukumi sebagaimana Al-Quran
3. Dibuat hujjahnya Al-Quran didalam pengakuan Rasulullah menjadi nabi, jadi Al-Quran menjadi bukti pamungkas yang tak terkalahkan, karena Al-Quran muncul dikalangan syu'aro'-syu'aro'(ahli sastra arab) dan di bawakan oleh orang yang ummi (Rasulullah) dengan tanpa ada yang bisa menandinginya.
4. I'jaz artinya memperlihatkan kebenaran Nabi didalam pengakuan-Nya menjadi Rasul dengan melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan yang berlaku. Adapun bahasa I'jaz ini bisa diwujudkan ketika ada tiga perkara: al-tahaddi (bertanding dengan menantang terlebih dahulu), ada perkara yang menyebabkan (perkara yang menuntut untuk) bertanding, dan tidak adanya sesuatu (alasan) yang bisa dibuat untuk menolak pertandingan tersebut. Dan Ketiga-tiganya ini sudah terdapat pada Al-Quran, tahaddi misalnya, Rasulullah berkata pada ahlu makkah : Saya ini utusan Allah, bukti kalau Aku ini benar-benar diuts oleh Allah itu Al-Quran yang Aku baca ini, ketika mereka mengingkari atas kebenarannya kemudian Rasulullah berkata pada mereka : kalau kalian meragukan perkataan-Ku maka datangkanlah satu surat yang bisa menyamai Al-Quran yang telah Aku baca ini, Allah berfirman:
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (البقرة23)
" Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar ".
Untuk syarat yang kedua, dengan datangnya Rasulullah membawa agama yang menganggap batal agama mereka ini sudah bisa menjadikan sebab untuk bertanding, untuk yang terakhir sudah sangat jelas bahwa Al-Quran diturunkan dikalangan syu'aro' (ahli bahasa dan sastra arab) yang menyebabkan tidak adanya alasan bagi mereka untuk tidak melawan. Adapun kalau tidak melawan berarti memang mereka tidak bisa melawan.
Sudut pandang ke I'jazan Al-Quran

Ke I'jazan Al-Quran bisa kita tilik dari sebagian sudut (sisi), yang pertama dari segi tatanan bahasa, arti yang dikandungnya, dan hukum-hukum didalamnya.
Yang pertama, Al-Quran kurang lebih ayatnya berjumlah enam ribu, jelasnya (6226) semuanya di ibaratkan dengan ibarat yang berbeda-beda dan gaya bahasa yang berbeda juga sasarannya berbeda. Terkadang membahas I'tiqod, terkadang syariah, dan terkadang akhlaq, serta tidak ditemukan di antara ibarat satu dengan yang lain ibarat yang lebih baligh, bahkan semuanya dalum satu tingkatan (drajat tertinggi). Dan yang terakhir, walaupun Allah mengibaratkan dengan ibarat yang berbeda-beda akan tetapi tidak ada ayat yang bertentangan dari satu ayat dengan yang lainnya(tujuannya sama) oleh karenanya Allah berfirman:
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا [سورة النساء: 82]

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.(AN Nisaa' 82)
Yang kedua, kita pandang dari sisi Al-Quran menceritakan kabar-kabar, kejadian-kejadian yang tidak ada yang tahu selain Allah ((المغيببات, Al-Quran menceritakan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan, contoh firman dalam surat Ar-Rum:

قوله تعالى :( الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الأرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الأمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5) )

Alif Laam Miim.[.1] Telah dikalahkan bangsa Rumawi, [2] di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, [3] dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, [4] karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. [5]

وقال الله:( لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا (الفتح 27)

Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat (al-fath 27)
Dari sudut pandang yang lain Al-Quran tidak pernah ketinggalan zaman di dalam kancah ilmiah selalu cocok dengan kenyataan yang terjadi, ketika kita angan-angan ma'na dari ayat-ayatnya akan mendatangkan pandangan baru yang sesuai dengan zamannya. Oleh karenanya Allah memerintahkan kita agar selalu bertafakkur untuk membuktikan kebenaran apa yang di kandung Al-Quran. Seperti ayat :

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآَيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ (سورة يونس101)
"Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (yunus101)

Satu contoh ayat yang memberikan isyaroh pada kejadian yang sesuai dengan keilmuan zaman sekarang :

قوله تعالى :( وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (النمل88))

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (an naml 88)

Ayat ini menunjukkan bahwa bumi ini berputar pada porosnya.

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ (20 [سورة الرحمن: (2019]،

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, .(19) antarakeduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing [.20]

Ayat ini menunujukkan bahwa air yang rasanya asin tidak bisa menyatu dalam satu tempat dengan air yang rasanya tawar.
Sesuatu yang terjadi di dunia ini memang salah satu fungsinya adalah menafsiri (menjelaskan) Al-Quran. Allah berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (سورةفصلت53)
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?"(Al-fushshilat 53)[1]

Kandungan Al-Quran
Al-Quran mengandung berbagai macam unsur hidayah yang menjamin kebahagiaan manusia baik lahir maupun batin baik di dunia mapun di akhirat, jika manusia mampu mengamalkan dengan ikhlas konsisten dan menyeluruh (kaffah) karena materi yang terkandung didalamnya sangat banyak dan beragam dari hubungan manusia dengan Allah, hubungan antara manusia dengan alam semesta. Sebagian ulama' ada yang membaginya menjadi tiga hal yaitu:
1. Pengetahuan tentang Dzat Allah (Dzat yang di sembah) ma'rifatul ma'bud
2. Pengetahuan tentang cara beribadah (ma'rifatu kaifiyatul ibadah)
3. Pengetahuan tentang kehidupan antar manusia

Sebagian ulama' juga ada yang mengatakan bahwa kandungan Al-Quran ada tiga macam yaitu Akidah, syari'ah dan akhlak . Untuk syari'ah juga masih ada dua hal:
1. Tentang ibadah (hubungan hamba pada Tuhannya) seperti sholat, puasa, zakat, haji
2. Tentang muamalat, hubungan yang terjadi pada sesama hamba seperti hukum ke keluargaan, hokum pemerintahan, hukum yang menerangkan hukuman-hukuman suatu jarimah(kejahatan)

Kisah singkat sejarah pengumpulan Al-Quran
Al-Quran adalah nama bagi kitab suci umat islam yang berfungsi sebagai petunjuk hidup (hidayah) bagi seluruh umat manusia diwahyukan oleh allah kepada Nabi Muhammad setelah Beliau berumur 40 tahun, di turunkan kepada beliau secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23tahun. Mushaf Al-Qur'an yang ada di tangan kita sekarang ternyata telah melalui perjalanan panjang yang berliku-liku selama kurun waktu lebih dari 1400 tahun yang silam dan mempunyai latar belakang sejarah yang menarik untuk diketahui. Selain itu pelu selalu diingat bahwa jaminan atas keotentikan Al-Qur'an langsung diberikan oleh Allah SWT yang termaktub dalam firman-Nya QS.Al- Hijr -(15):9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [الحجر : 9 ,15]
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan kamilah yang akan menjaganya"

Pengumpulan Al-Quran, istilah ini mempunyai dua arti: mengumupulkan di dada dalam arti menghafalkannya, kedua menuliskan di benda-benda yang bisa di tulis. Pengumpulan Al-Quran dalam bentuk yang pertama telah berlangsung sangat baik mengingat orang arab pada saat itu masih ummi (tidak bisa membaca dan menulis) andalan mereka satu-satunya dalam mengumpulkan informasi adalah hafalan, betapapun demikian tidak semua sahabat hafal Al-Quran. Sedangkan dalam artian yang kedua di jelaskan pada bagian berikut :
Al-Quran pada zaman Rasulullah SAW.
Memandang wahyu turun kepada Rasulullah SAW ketika beliau berumur 40 tahun yaitu 12 tahun sebelum hijrah ke Madinah, kemudian wahyu terus menerus turun selama kurun waktu 23 tahun berikutnya, dimana Rasulullah SAW setiap kali turun wahyu kepada-Nya selalu membacakannya kepada para sahabat secara langsung dan menyuruh mereka untuk menuliskannya sembari melarang para sahabat untuk menulis hadis-hadis Beliau karena khawatir akan bercampur dengan Al-Qur'an. Rasul SAW bersabda "Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al-Qur'an, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur'an maka hendaklah ia menghapusnya " (Hadis dikeluarkan oleh Muslim dan Ahmad pada Bab Zuhud (hal 1). kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan Beliau seluruh Al-Qur'an sudah tersedia dalam bentuk tulisan.

Al-Quran pada zaman Khalifah Abu Bakar As-Siddiq
Meski Nabi Muhammad telah mencurahkan segala upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam memelihara keutuhan Al-Qur'an, akan tetapi Beliau tidak me­rangkum semua surah ke dalam satu jilid, sebagaimana ditegaskan oleh Zaid bin Tsabit dalam pernyataannya,

قبض النبي صلى الله عليه وسلم ولم يكن القرأن جمع في شيئ .
)"Saat Nabi Muhammad wafat, Al-Qur'an masih belum dirangkum dalam satuan bentuk buku "

Di sini kita perlu memperhatikan penggunaan kata ‘pengumpulan' bukan ‘penulisan'. Berarti memang sebenarnya Kitab Al-Qur'an telah ditulis seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad, hanya saja belum disatukan dan surah-surah yang ada juga masih belum tersusun."Sepeninggal Rasulullah SAW, pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a baru terjadilah Jam'ul Quran yaitu pengumpulan naskah-naskah atau manuskrip Al-Qur'an yang susunan surah-surahnya menurut riwayat masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).
Adapun yang menyebabkan adalah kehawatiran sahabat umar ketika banyak sahabat yang mati shahid pada peperangan yamamah jika hal ini berlangsug maka akan banyak Al-Quran yang hilang dengan meniggalnya para shahabat. Terpacu dari sebab ini (menyelamatkan teks Al-Qur'an) Abu Bakar belum mensosialisasikan mushaf ini kepada kaum muslimin, tapi masih membiarkan kaum muslimin menggunakan mushaf yang ada pada mereka.
Al-Quran pada zaman khalifah Utsman bin ‘Affan
Suatu saat Hudzaifah yang pada waktu itu memimpin pasukan muslim untuk wilayah Syam (sekarang syiria) mendapat misi untuk menaklukkan Armenia, Azerbaijan (dulu termasuk soviet) dan Iraq menghadap Usman dan menyampaikan kepadanya atas realitas yang terjadi dimana terdapat perbedaan bacaan Al-Qur'an yang mengarah kepada perselisihan.Ia berkata : "wahai utsman, cobalah lihat rakyatmu, mereka berselisih gara-gara bacaan Al-Qur'an, jangan sampai mereka terus menerus berselisih sehingga menyerupai kaum yahudi dan nasrani "..Utsman merespon perkataan Hudzaifah Lalu Utsman meminta Hafsah meminjamkan Mushaf yang di pegangnya untuk disalin oleh panitia yang telah dibentuk oleh Utsman yang anggotanya terdiri dari para sahabat diantaranya Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa'id bin al'Ash, Abdurrahman bin al-Haris dan lain-lain. Dan juga Utsman berpesan mereka apabila terjadi perbedaan dalam pelafalan agar mengacu pada Logat bahasa suku Quraisy karena Al-Qur'an diturunkan dengan gaya bahasa mereka .
terdapat banyak lagi laporan tentang masalah ini.
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan perlu senantiasa diingat. Pertama, Al-Quran pada dasarnya bukanlah ‘tulisan' (rasm atau writing) tetapi merupakan ‘bacaan' (qira'ah atau recitation) dalam arti ucapan dan sebutan. Proses pewahyuannya maupun cara penyampaian, pengajaran dan periwayatannya dilakukan melalui lisan dan hafalan, bukan tulisan. Sejak zaman dahulu, yang dimaksud dengan ‘membaca' Al-Quran adalah "membaca dari ingatan (qara'a ‘an zhahri qalbin, atau to recite from memory)." Adapun tulisan berfungsi sebagai penunjang semata. Sebab ayat-ayat Al-Quran dicatat, yakni dituangkan menjadi tulisan diatas tulang, kayu, kertas, daun, dan lain sebagainya - berdasarkan hafalan, bersandarkan apa yang sebelumnya telah tertera dalam ingatan sang qari'muqri'.
Proses transmisi semacam ini, dilakukan dengan isnaad secara mutawaatir dari generasi ke generasi, terbukti berhasil menjamin keutuhan dan keaslian Al-Quran sebagaimana diwahyukan oleh Malaikat Jibrial a.s kepada Nabi sallallaahu ‘alaihi wa-sallam dan diteruskan kepada para Sahabat, demikian hingga hari ini.
Jadi seluruh kekeliruan dan kengawuran orientalis bersumber dari sini. Orientalis, libral, misalnya, berangkat dari sebuah asumsi keliru, menganggap Al-Quran sebagai ‘dokumen tertulis' atau teks, bukan sebagai ‘hafalan yang dibaca' . Dengan asumsi keliru ini mereka lantas mau menerapkan metode-metode filologi yang lazim digunakan dalam penelitian Bibel, seperti historical criticism, source criticism, form criticism, dan textual criticism.
Akibatnya, mereka menganggap Al-Quran sebagai karya sejarah (historical product), sekedar rekaman situasi dan refleksi budaya Arab abad ke-7 dan 8 Masehi. Mereka juga mengatakan bahwa mushaf yang ada sekarang ini tidak lengkap dan berbeda dengan aslinya (yang mereka sendiri tidak tahu pasti), dan karenanya perlu membuat edisi kritis (critical edition), merestorasi teks Al-Quran dan menerbitkan naskah baru berdasarkan manuskrip-manuskrip yang ada.
Jadi Dari semua keterangan-keterangan di atas kita bisa katakan bahwa Al-Quran sangat layak dan sudah tidak diragukan lagi untuk dijadikan sebuah pijakan hukum -hukum syar'i(dalil syar'i) karena Semua nas-nas Al-Quran itu qot'iy dari segi datangnya kepada kita (qot'iy as tsubut) karena di pandang dari sejarah yang ada, mengindikasikan sulitnya terjadi pemalsuan dan kebohongan. Akan tetapi dari arah menunjukkan pada suatu hukum masih dibagi menjadi dua :qot'iy al-dilalah dan dzoniy al-dilalah.
a. qot'iy al-dilalah adalah ayat yang menunjukkan hukum pasti, yang tidak ada celah untuk menta'wil dan tidak ada celah untuk memasukkan pemahaman-pemahaman selain pemahaman yang pertama.contoh firman Allah:

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ [النساء : 12]

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-utangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Ayat ini secara jelas menunjukkan zauj dalam hal ini mendapatkan bagian nisf ketika zaujah tidak mempunyai anak,dan hukum -hukum seterusnya tanpa ada celah pemahaman yang lain.
b. sebaliknya, dzoniy al-dilalah artinya ayat tersebut menunjukan pada suatu hukum akan tetapi masih mungkin untuk di ta'wil dan di arahkan pada ma'na (hukum)yang lain contoh permasalahan lafadz qur' pada ayat:

قوله تعالى :  وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ ( النمل 228 )

Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru(albaqoroh228)

Karena secara bahasa lafal qur' ini digunakan untuk dua ma'na terkadang ma'nanya thuhr terkadang haid adapun nas yang ada ini menunjukkan bahwa orang perempuan yang di tholaq melakukan iddah selama tiga qur' padahal quru' disini masih mungkin di beri makna thuhr dan masih mungkin di beri arti haid tanpa ada kejelasan dari salah satunya.

Kesimpulan
Dengan datangnya Al-Quran secara tawatur maka sudah tidak di ragukan lagi keotentikan Al-Quran dan kelayaannya untuk di jadikan dalil utama dalam pencarian suatu hukum hanya saja nash-nash yang menunjukkan pada suatu hukum terkadang qot'iy al-dilalah dan terkadang dzoniy al-dilalah.
Read More >>

Biografi KH. Zubair Dahlan

Kehidupan Semasa Kecil
K.H. Zubair Dahlan dilahirkan pada tahun 1323H di daerah pesisir pantai, tepatnya, di Desa Karangmangu, Sarang Rembang. Suatu daerah yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau adalah putra ke-2 dari Kyai Dahlan dan Ibu Nyai Hasanah. Pada masa kecilnya, beliau tumbuh dan berkembang keilmuwannya di bawah bimbingan ayahandanya. Dalam permasalahan ta'alum (pendidikan), beliau belajar membaca Al-Qur'an dan ilmu-ilmu dasar agama Islam langsung di bawah pantauan kakek beliau, Kyai Syua'ib yang sudah masyhur dengan ke'alimannya. Sehingga pada umur yang relatif sangat muda (6 tahun), beliau sudah dapat membaca Al-Qur'an dengan baik disertai dengan tajwid-tajwidnya. Sejak kecil beliau terkenal dengan kecerdasannya, serta memiliki himmah yang kuat untuk mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama. Dalam bimbingan kakeknya, beliau dapat mempelajari bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Adapun dalam bidang sastra dan gramatika Arab, beliau dibimbing langsung oleh ayahandanya. Dalam bidang ilmu fiqih beliau menghatamkan kitab Taqrib dari paman beliau, Kyai Ahmad bin Syua'ib. Sedangkan kitab Fathul Wahab beliau mengaji di bawah bimbimgan Kyai Fathur Rohman bin Kyai Ghozali.

Rihlah K.H. Zubair Dahlan dalam Mendalami Ilmu Agama
Kehausan beliau dalam mendalami pengetahuan ilmu agama tidak cukup hanya di daerah kelahiran saja. Bertepatan pada usia ke-17 beliau pergi ke Makkah Al- Mukarromah bersama dengan kakek dan neneknya, Kyai Syua'ib beserta istri. Beliau tinggal di sana selama tiga tahun bersama pamannya, Kyai Imam Kholil. Dalam kesempatan ini, beliau menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para ulama' Al-Harom As-Syarif. Diantaranya, Kyai Baqir Al-Jokjawy (Yogyakarta). Dari Kyai Baqir ini, beliau mendalami ilmu-ilmu Hadis, Tafsir Jalaalain, Sarah Imam Al-Mahally dan lain-lain. Dan dari Syekh Al 'Alamah Hasan Al-Yamany, putra Syekh Sa'id Al-Yamany, beliau mempelajari ilmu gramatika Arab, misalnya, Syarah Matan Al-Jurumiyyah, Syarah Al 'Alamah Kafrawi dan lain sebagainya. Sehingga pada suatu ketika beliau pernah disuruh gurunya untuk mengi'robi suatu lafaldz مررت بزيد ,ضرب زيد عمرا beliau berkata, "Marortu fi'il madli mabni sukun, ta' merupakan dlomir yang mabni dlomah yang statusnya menjadi fa'il dari مرّ . Dari kejadian itulah beliau diberi julukan oleh gurunya dengan julukan "Zubair Al- Kuffy".

Selang beberapa waktu berlalu, beliau kembali ke tanah Jawa bersama sang paman, Kyai Imam Kholil. Namun, pendalaman ilmu agamanya tidak cukup hanya sampai di situ saja. Meskipun sudah belajar di Makkah, beliau masih melanjutkan berguru kepada Syekh Al 'Alamah Kyai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang. Di bawah bimbingan Kyai Faqih, beliau mempelajari berbagai bidang ilmu, diantaranya, kitab Tafsir, Jam'ul Jawami', Syarah Ummul Barahin (bidang aqidah). Pada kesempatan ini, beliau mendapatkan ijazah dari gurunya ini, yang termaktub dalam suatu kumpulan, yang diberi nama "Kifayatul Mustafid". Di sini dicatat sanad-sanad Kyai Zubair dari jalur Syaikh Muhammad Mahfud bin Abdullah At Turmusy.

Pada tahun 1371H, beliau berangkat ke Makkah Al-Mukarromah lagi bersama para jamaah haji dari Indonesia untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Pada waktu ini, beliau bertemu dengan seorang yang 'alim, yang mulia Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliky. Dalam kesempatan ini beliau mengikuti majlisul ilmi yang diasuh Sayyid Alawy, yang bertempat di Babussalam (pintu yang berada di tempat sa'i). Beliau sangat kagum dengan apa yang disampaikan oleh Sayyid Alawy, karena penyampain Sang Sayyid disampaikan dengan bahasa yang fushah (ejaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab) dan ta'bir-ta'bir yang bagus. Dan pada waktu haji itu juga, beliau bertemu dengan seorang yang 'alim dari Indonesia yang telah menetap di Makkah, Syeikh Al 'Alamah Ustadz Yasin Bin Isa Al Fadany. Di sela-sela pertemuan yang singkat itu, beliau di ijazahi oleh Syaikh Yasin seluruh kitab yang telah beliau pelajari (Ijazah Muthlaq).

Kepribadian, Husnul Huluq Dalam Berprilaku
K.H. Zubair merupakan salah satu figur yang patut sebagai teladan kita semua, khususnya para santri. Di antara sekian banyak sifat-sifat beliau, ada beberapa yang menonjol, yaitu ketekunan dalam memperdalam pengetahuan agama, sifat lemah lembut dan mengasihi orang yang lemah dan orang-orang fakir. Selain itu, beliau juga sangat senang dengan santri, berpegang teguh dengan sunah-sunah dan sejarah-sejarah ulama' salafus sholih. Beliau juga sosok yang sangat menjauhi bid'ah-bid'ah yang melenceng dengan ajaran-ajaran syari'at Islam. Walaupun dengan kebencian ini, beliau akan mendapat gunjingan maupun celaan dari orang yang tidak menyukai apa yang dilakukan.

Setelah perjalanan panjang dalam pencarian pengetahuan agama ke berbagai daerah. Bertepatan dengan umur 23 tahun, beliau mulai ikut berpartisipasi mengajar di Pon-pes di daerah kelahirannya (Sarang). Santri-santri di sana sangat antusias ingin belajar kepadanya, dengan bukti pada waktu mengajar, tempat pengajian selalu penuh. Beliau mengaji meliputi kitab-kitab yang kecil, seperti Matan Taqrib, Jurumiyyah, Aqidatul Awam. Dan juga ada kitab-kitab yang besar seperti Jamiul Jawami', Tafsir Baidlowi, beserta kitab-kitab karya Imam Al-Mahalli.

Seluruh umur K.H. Zubair dicurahkan semuanya untuk mengajar ilmu-ilmu agama Islam. Dalam rutinitas tiap bulan Romadlon, beliau mbalah (membaca) Tafsir Jalalain. Prilaku ini merupakan kebiasaan tiap tahun. Menginjak umur yang makin sepuh (60 tahun), beliau lebih banyak membaca kitab-kitab di bidang tasawuf seperti kitab Minhajul 'Abidin, Kitab Hikam, dan Kitab Ihya' Ulumuddin yang menemani dan mengiringinya sampai beliau wafat.
Keluarga K.H. Zubair Dahlan
Pada usia 24 tahun, beliau menikah dengan putri sang paman (dari ibu), Mahmudah binti Kyai Ahmad bin Syua'ib. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai oleh Allah lima putra dan putri. Tapi, semuanya meninggal pada waktu masih kecil, kecuali satu yang masih hidup sampai sekarang, yaitu Syaikh K.H. Maimoen Zubair. Selang berapa tahun kemudian istri beliau meninggal. Tepatnya pada bulan Jumadil Akhir tahun 1358 H. Kemudian beliau menikah lagi dengan Aisyah binti Kyai Abdul Hadi dari keluarga Burna. Pada pernikahan kedua ini, beliau di karuniai lima putri, Halimah, Sai'dah, 'Afifah, Sholihah, Salamah, dan satu putra, yaitu K.H. Ma'ruf Zubair.

Karya-Karya K.H. Zubair Dahlan
Dalam kesibukannya setiap hari, KH. Zubair masih menyempatkan diri untuk mengarang beberapa kitab. Diantaranya, Kitab Manasik Haji, Nadlom Risalah As Samarqondiyah yang diberi nama Al-Qolaid Fi Tahqiqi Ma'na Isti'aroh, dan beberapa Nadloman mengenai Rumus-Rumus Fuqoha'. Beliau juga membuat beberapa Sya'ir mengenai etika, hisab dan lain sebagainya. Misalnya sya'ir dalam hal kesabaran dalam urusan rizqi:
لاَ تَعْجَلَنَّ فَلَيْسَ الرِّزْقُ بِالْعَجَلِ * اَلرِّزْقُ يَأْتِيْ بِلَا رَيْبٍ مَعَ الْأَجَلِ

فَلَوْ صَبَرْتُمْ لَكَانَ الرِّزْقُ يَأْتِيْكُمْ * لَكِنَّهُ خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ
Artinya;
Janganlah kalian tergesa-gesa tentang urusan rizqi, Karena rizki tidak datang dengan tergesa-gesa tanpa keraguan.
Apabila kalian bersabar, niscaya rizqi akan mendatangi kalian. Tetapi manusia diciptakan dengan (bertabiat) tergesa-gesa. 

Pulang Ke Rahmatullah
Seperti keseharian yang dijalankan, yaitu mengajar ilmu-ilmu agama. Sehingga bertepatan dengan bulan Sya'ban, atas permintaan sebagaian santri, beliau meneruskan pembacaan kitab Ihya 'Ulumuddin juz ke-4. Kitab ini Alhamdulillah beliau khatamkan pada permulaan sepuluh hari terakhir pada bulan Sya'ban (21 sya'ban). Kemudian pada bulan Ramadlon, seperti rutinitas tiap bulan Ramadhan sebelumnya, beliau mbalah (membaca) kitab Tafsir Jalalain. Dan ini merupakan kitab terakhir yang dibaca sebelum wafat. Tiba-tiba pada tanggal 10 Romadlon beliau mengalami sakit panas. Sakit ini, makin lama semakin bertambah hingga akhir hayatnya. Ini bertepatan dengan terbenamnya sang surya pada malam Selasa setelah maghrib hari ke-15 bulan Ramadlon tahun 1389H, beliau wafat pada umur yang ke-65, hidup dengan sederhana dan meninggal dalam kesedarhanaan pula
(يعيش فقيرا ويموت فقيرا)
Semoga K.H. Zubair Dahlan mendapat rahmat dari Allah dan di tempatkan di surga Al-firdaus. Amin ya robbal 'alamin.
Read More >>

Biografi KH. Maimoen Zubair

Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.

Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.

Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara' yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa'id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.

Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi'I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.

Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, Beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu'aib.

Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain Sayyid 'Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.

Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk "ngangsu kaweruh" yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Belaiau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama' besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidlowi (mertua beliau), serta KH. Ma'shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma'shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil "jadi orang" karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.

Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi Beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Amin.
Read More >>