Ibnu Hajar Al-Asqalani

Mutiara Berserak di Pintu Allah
la bukan hanya dikenal sebagai salah seorang sufi dan ahli fikih yang masyhur. Tapi juga penyair dengan puisi Ketuhanan yang indah

Sampai saat ini, para santri di Indosesia sangat akrab dengan sebuah kitab fikih yang masyhur, Bulughl Maram. Pengarang kitab ini ialah seorang uiama dan sufi yang terkenal, Ibnu Hajar Al-Asqalani. Tapi, sesungguhnya ia lebih dikenal sebagai ahli fikih ketimbang sufi atau ahli tasawuf. Sampai kini, pendapat-pendapatnya dalam ilmu fikih masih menjadi bahan telaah dan referensi para ulama, terutama ketika mereka menetapkan sebuah fatwa.


Meski kurang dikenal sebagai sufi, pandangan-pandangan sufistiknya terungkap dalam kumpulan puisinya, Al-Munabihat 'ala al Isti'dadli Yaum al-Ma'ad.


la lahir di Kairo pada 12 Syakban 773 M atau 8 Februari 137 M. Nama lengkapnya Syihabuddin Abu Fadl Ahmad bin Nuruddin Ali bin Muhammad bin Hajar Al-As qalani. Tak jelas bagaimana asal-usul keluarganya. Adapun julukan Al-Asqalani merupakan bagian dari tradisi muslim saat itu. Ayahnya, Nuruddin Ali (wafat 777 Hijriah/1375 Masehi), dikenal sebagai ulama termasyhur yang menjabat mufti di Mesir. Adapun ibunya, Tujjar, berasal dari keluarga pedagang kaya.
Namun, masa kecil Ibnu Hajar penuh dengan pengalaman sedih. Semenjak berusia empa ttahun, ibunya meningal dunia. Maka ia pun diasuh Zakiuddin Abu Bakar Al-Karrubi, seorang saudagar kaya. Di bawah bimbingan Zakiuddin, Ibnu Hajar mendapat pelajaran agama dan bimbingan spiritual, sehingga pada umur sembilan tahun ia sudah hafal Al-Quran. Belakangan, ia berguru kepada beberapa ulama masyhur, seperti Syekh Jalaluddin al-Buqini (ilmu nahu); Syekh Ibnu al-Muan al-Fairuzabadi dan Syekh Muhibuddin bin Hisyam (Ilmu saraf) At-Takhuni (qiraah); Syekh Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Qattam (sejarah).

Ibnu Hajar memang murid yang rajin dan cerdas. Dengan tekun, ia mencatai secara terperinci pelajaran sejarah, nama para gurunya, dan kitab-kitab yang dibacanya. Kitab-kitab yang dibacanya, antara lain, Al-Mu'jam al-Mufahras, Al-Maqasid al Aliyat fi Fihris al-Marwiyat (indeks hadis), Al-Majma al-Mua'sas (pelengkap katalog ayat Al-Quran).

Merasa belum cukup dengan itu, ia kemudian mengembara untuk menim-ba ilmu. la antara lain berkunjung ke pusat-pusat ilmu seperti Hejaz dan Yaman, lalu Suriah dan Palestina. Dalam perjalanan ini, ia berjumpa dengan guru utamanya dalam ilmu hadis, Syekh Zainuddin al-lraqi. la juga mengaji kepada ulama ilmu hadis dan fikih, Syekh Izzuddin bin Jama'ah. Dari kedua gurunya yang masyhur itu, ia memperoleh ijazah untuk mengeluarkan fatwa.
Setelah puas berguru kepada sejumlah ulama besar, ia pun mengamalkan ilmunya sebagai pendidik. la pernah menjadi guru madrasah, dosen, hakim, mufti, khatib dan pustakawan. la mengajar ilmu hadis, tafsir, tikin. Kuhah-kuliahnya di Madrasah Syai-khumyah dan Mankutimuriyah, Kairo, seialu mendapat sambutan hangat dari para mahasiswa.

Salah satu karirnya yang penting ialah ketika ia menjabat kepala bidang pendidikan dan administrasi selama 35 tahun di Perguruan Barnaysiyyah, Kairo dari tahun 141 sampai 1445 M. Selanjutnya ia pindah mengajar di Darul Hadits Al Kamaliah, masih di kota kairo.
Pada 1423 M ia menjabat wakil Agung sementara rekanya syekh Jalaluddin Al Baqilani sebagai Hakim Agung, akan tetapi beberapa bulan kemudian, ia dilengserkan gara-gara kebijakannya yang dinilai bersebrangan dengan politik pemerintahan Mesir sebagai mufti, dan jabatan ini dapat ia pertahankan selama 20 tahun.
Sebagai ulama, ibnu hajar termasuk produktif menulis kitab, terutama dalam ilmu hadits. Kitabnya yang termasyur berjudul Fat Al Bahri bi Syarkh al Bukhari (1429M), telaahd an komentar mengenai kitab shahih al Bukhari. Kitab itu tidak hanya beredar di mesir, tapi juga di parsi dan asia tengah. Kitab kitab karangn lainya yaitu Al Isabah fi Tamyiz al Sahabah, Tanzib at Tahzib, Lisan al Mizan, Anba al Gumr dan Bulughur Mahram in Adilat al Ahkam. Dalam kitab kitab tersebut ia menggunakan gagasannya tentang ilmu fikih, hadits dan lainnya.
Selain itu semua, Ibnu Hajar ternyata adalah juga seorang penyair. Puisinya terkumpul dalam kitab Al Munabihat ‘ala al Isti’dad li Yaum al-Ma'ad. Banyak mutiara hadis dan uangkapan para ulama terkenal yang ia sunting dalam sejumlah puisi.
Berikut, sebait puisi sebagai kata pengantar kumpulan puisinya, Menuju Pintu Allah, Mutiara Berserak.
Bismillahirrahmanirrahim
Selaksa puji bagi Allah Sang Esa
di setiap waktu dan masa
Kesejahteraan abad bagi Rasul-Nya
Muhammad, Sang Mustafa
Dari kisi-kisi hati
ingin kusampaikan lewat karya ini
Bekal kewaspadaan
untuk meniti perjalanan panjang
lewat untaian mutiara
yang terajut dua-dua
tiga-tiga, empat-empat
dan seterusnya
hingga untaian sepuluh mutiara kata
Semoga berguna
Read More >>

KH. ABDUL GHOFUR MAIMOEN

       Gus Ghofur, demikian Putra kelima KH. Maimoen Zubair dari istri kedua, Ibu Nyai HJ Masthi'ah, biasa dipanggil. Pemilik nama lengkap Abdul Ghofur ini dikenal bandel semasa kecilnya. Tidak seperti kakak-kakaknya, Ghofur kecil terhitung sering bermain seperti layaknya anak-anak di kampung nelayan. Namun, sebagai putra Ulama, sifat-sifat kesalehan yang ditanamkan orang tuanya, membuat ia berbeda dari anak kampung sebayanya.

Pendidikan dasar hingga menengah dituntaskannya di Madrasah Ghazaliyah Syafi'iyyah Sarang Rembang. Semasa belajar di Ghozaliyah, putra Mbah Moen yang sudah dikenal cerdas dan kritis sejak belia ini banyak meraih prestasi.

Usai menyelesaikan pendidikan di MGS tahun 1992, Pada 1993 beliau melanjutkan studinya di Al-Azhar University Cairo. Ini merupakan hal baru dalam tradisi pendidikan putra-putri Mbah Moen. Di Cairo kecerdasannya kembali menorehkan prestai mengkilap. Selama empat tahun menyelesaikan program S1 Usuhuludin jurusan Tafsir di Al-Azhar. Keberhasilan itu tidak lepas dari ketekunan dan kesabaran beliau selama belajar di Cairo.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, pada 2002 gelar Magister berhasil diraihnya. Dikatakan melelahkan karena untuk mencapi gelar itu Gus Ghofur harus menulis tesis setebal 700 halaman dan harus mencantumkan banyak maraji'. Padahal tradisi menulis baru ia tekuni sejak tahun keempatnya di Cairo.Gus Ghofur mengakhiri masa lajangnya pada tahun 2003. Gadis yang beruntung dipersuntingnya adalah Nadia, putri KH.Jirijis bin Ali Ma'shum Karpyak Yogyakarta. Dari perkawinannya beliau telah dikaruniai seorang putra bernama Nabil.
 

Bukti keseriusan beliau dalam menggeluti bidang tafsir adalah pencapaian gelar doktoral yang diraih pada tahun 2010. Setelah menyelesaikan study Doktoralnya Beliaupun kembali ke Tanah Air  dan langsung aktif mengajar di LP.Muhadloroh dan mengajar fan Tarikh kitab Fiqhus Shiroh karya Syekh DR. M. Said Romdlon Al-Buthy.
Read More >>

Organisasi ISMAH LP Muhadloroh

ISMAH (Ikatan Santri Muhadloroh) merupakan sebuah organisasi interen santri muhadloroh, atau bisa dibilang ini OSIS nya Muhadloroh. Sebagai sebuah organisasi yang masih dibilang muda (baru 10 tahun) ISMAH memiliki sejarah yang panjang hingga bisa menjadi sebagaimana sekarang ini. Sejarah ISMAH dimulai pada tahun 2001 atas prakarsa koordinator Muhadloroh Ust. M. Naf'an dan dibantu oleh Ustadz-ustadz yang lain. Ide dibentuknya ISMAH ini terinspirasi dari perkembangan Muhadloroh yang sangat pesat, sehingga para staff pengajar Muhadloroh merasa kerepotan untuk menanganinya, sehingga sebagai solusi atas masalah tersebut adalah dengan dibentuknya organisasi dari siswa yang nantinya membantu tugas staf Muhadloroh yang diwujudkan dalam ISMAH. 

Draff awal ISMAH adalah untuk membantu kelancran kegiatan muhadloroh semisal menjaga jam belajar dan menjaga musyawarah pada tingkat SP dan I Muhadloroh, mengadakan mauqufah ISMAH, mengadakan mauqufah tiap-tiap tingkatan, mengadakan mading dll. Namun dalam hal ini program yang diutamakan adalah program yang berhubungan dengan kema'arifan yakni membantu menjaga siswa SP dan tingkat I Muhadloroh pada waktu jam belajar dan musyawarah. 

Sebagaimana organisasi yang lain ISMAH pun memiliki struktur kepengurusan yang mempunyai tugas masing-masing, yang terdiri dari Pembina ISMAH yang diambilkan dari dewan Asatidz dan anggota dari santri Muhadloroh. Adapun anggota dari ISMAH sendiri diambil dari santri tingkat V yang dianggap mempunyai kemampuan untuk mengemban amanat tersebut. Selain itu anggota ISMAH juga diambilkan dari tingkat IV. Hal ini bertujuan untuk melakukan regenerasi agar tongkat estafet organisai ISMAH bisa terus berlanjut. 

Perubahan adalah hal tidak bisa dihindari, hal ini juga terjadi dalam perjalanan ISMAH yang mana sejak awal didirikan pada tahun 2001 M sampai sekarang ISMAH selalu mengalami perubahan baik dalam segi structural maupun fungsional. Tercatat terdapat dua perubahan yang cukup mencolok yang merubah arah dari ISMAH menuju organisasi yang solid dan dipandang dilingkungan Sarang dan sekitarnya. Perubahan pertama terjadi pada periode ke tiga pada tahun 2003, yang kala itu tampuk pimpinan dipegang oleh Didik Santoso dan Pembina kala itu dipegang oleh sosok ustadz yang tahan banting dan penuh dengan ide yang berasal dari kota Cirebon yakni Ust. Muthohhar Asy'ari. Perubahan yang mendasar adalah dalam hal fungsional ISMAH yang mana dulu tugas ISMAH hanya sekedar membantu kelancaran program-program Muhadloroh yang berhubungan dengan kema'arifan, berubah menjadi sebuah organisasi formal yang berada dibawah naungan Muhadloroh dan juga adanya penambahan program kerja tambahan yang bertujuan untuk memajukan ISMAH dan juga Muhadloroh. 

Perubahan kedua yang terjadi di ISMAH menurut sumber yang kami peroleh terjadi pada masa pemerintahan santri yang bernama Abdullah seorang yang penuh semangat dibawah seorang pembinan ISMAH yang kala itu di jabat oleh seorang Ustadz muda yang penuh talenta yakni Ust. Zainal Amin. Kolaborasi keduanya mengahasilkan perubahan yang signifikan ditubuh ISMAH yang mencakup bidang management serta program-program yang ada. Pada masa ini ISMAH akhirnya memiliki computer dan kesekretariatan sendiri, yang mana dulunya kesekretariatan ISMAH dompleng pada kantor Muhadloroh, pada masa ini ISMAH akhirnya mempunyai kesekretariatan yang mandiri. Walaupun tidak layak disebut kantor karena hanya berukuran 1,5X2 m dan juga letaknya dibawah tangga dilantai GSG lt. II, namun itu sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebagai tempat koordinasi ISMAH dalam merancang dan menjalankan programnya. 

Pada tahun ke 6 yang kala itu pimpinan ISMAH dipegan oleh M. Indy Nayyiron, kantor ISMAH yang semula di GSG lt. II dipindahkan ke GSG lt. III sebelah utara. Bagian utara GSG lt. III ini disulap menjadi sebuah kantor yang representative dan memenuhi standar untuk dijadikan sebagai kesekretariatan bagi organisasi ISMAH, sehingga kegiatan ISMAH dapat beralangsung dengan lancar. Namun hal ini juga tidak belangsung lama, akhirnya pada periode ke 10 ini yang dipegang oleh A. Ghufron kantor kembali dipindahkan. Kali ini kantor ISMAH dipindah ke GSG lt. IV sebelah utara yang dulunya diperuntukkan untuk lab computer, karena program tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya akhirnya ruangan tersebut kosong tak berpenghuni. Adapun kantor ISMAH yang ada di GSG lt. III sekarang ini dijadikan sebagai Maktabah Muhadloroh. 

Seiring dengan perkembangan teknologi, ISMAH pun tidak mau kalah sehingga dikatakan gaptek, karena teknologi diciptakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan pekerjaannya. ISMAH pun memanfaatkan hal tersebut walaupun masih kadar minimal. Hal ini bisa dibuktikan dengan nongolnya proyektor pada acara-acara resmi ISMAH terutama dalam mauqufah, sehingga semua ta'bir yang masuk dapat ditampilkan dilayar tanpa menghapus ta'bir yang sudah ada akibat papan tulis yang sudah penuh dan hal ini tentunya membantu katib agar tidak kerepotan ketika ada perang ta'bir. 

Demikianlah sejarah singkat ISMAH yang sekarang sedang menapak usia 11 tahun. Ibarat manusia sekarang ini ISMAH masih anak-anak yang butuh bimbingan dari orang tua, agar nantinya dapat menjadi organisasi yang dapat dibanggakan oleh orang tuanya (Muhadloroh). 

Daftar Ketua ISMAH mulai periode 2000 s/d 2011

No
Nama
Periode
1.       
Hasib Dawam
2000-2001
2.       
Bustanul Ulum
2001-2002
3.       
Didik Susanto
2002-2003
4.       
Ag. Haris Fithon
2003-2004*
5.       
Imron Al-Hasani
2003-2004
6.       
Fathul Aziz
2004-2005
7.       
Abdullah
2005-2006
8.       
M. Indy Nayyiron
2006-2007
9.       
M. Nahrowi
2007-2008
10.   
M. Nuruddin
2008-2009
11.   
A. Ghufron
2009-2010
12.   
A. Arwani
2010-2001
*Ket : Ditengah-tengah kepemimpinannya, beliau menikah sehingga digantikan Imron Al-Hasani
Read More >>