Peradaban Arab Dalam Al Qur'an

al-quran-2 Dalam studi-studi al quran, (sesuai pengamatan subyektif saya) kita sering terjebak dalam lingkaran episteme-episteme Ilahiyyat. Misalkan, ketika kita memulai studi ini, kita langsung dihadapkan pada devinisi al-Quran yang "entah kenapa" sering mengajak penelaahnya untuk melangkah pada dimensi Ilahiyyat ini. Saya, sebagai contoh, sejak kecil sudah dikasih pelajaran Tafsir (setidak-tidaknya Jalalain), tapi "entah kenapa" saya tidak begitu terusik untuk menanyakan, misalnya, pada ardhiyyah budaya bagaimanakah al-Quran itu diturunkan? (dua baris kata dalam tanda petik bisa kita diskusikan bersama).

Memang dimensi Ilahiyyat ini adalah suatu keniscayaan, namun persoalannya jadi lain ketika akibatnya, dimensi kemanusiaan al-Quran terlupakan, atau setidak-tidaknya amat ketinggalan. Ini lain tentunya dengan metodologi yang dibangun oleh para orientalis untuk studi-studi al-Quran, di mana dimensi kemanusiaan dalam studi-studi mereka seringkali mendapatkan porsi yang cukup. Karen Armstrong misalnya, ketika menyinggung soal i'jazul Quran, ia tidak dipusingkan dengan nilai sastra-nya yang begitu tinggi, juga tidak oleh berapa jumlah kalimatnya yang berlawanan, ia hanya mencukupkan bahwa al-Quran dalam beberapa abad, sejak diturunkannya hingga sekarang tetap mampu menjadi sumber inspirasi kaum Muslimin.

Ironisnya, kesadaran akan orisinilitas metodologi ini justru dimotori oleh mereka yang sering kita sebut sebagai sekuler dalam arti yang negatif. Kenapa ironis? Karena hal demikian ini akhirnya memposisikan kita (Islamiyyun) hanya sebagai mudafi' (re-aktif) dan bukan muhajim (pro-aktif). Makanya, dalam literasi Universitas kebanggaan kita, kita benar-benar di"kenyangkan" dengan sub judul "difa' 'an al shubuhat", tapi sangat jarang kita dikenalkan dengan objek studi itu sendiri secara komprehensif.

***

Disebutkan dalam Surat 12:02, 20:113, 39:28, 41:03, 42:07 dan 43:03, "Quraanan 'arobiyyaa", dua baris kata yang belum banyak tersentuh dengan baik secara analitis. Dua kalimat ini bukan saja berarti al Quran yang berbahasa Arab, tapi lebih dari itu, ia juga berarti al Quran yang dalam setiap penggunaan kalimatnya menyimpan tata-cara kehidupan bangsa Arab.

Kalau hendak membuat gambaran yang mudah, bisa dimisalkan demikian: al-bait, dalam artinya yang umum, adalah sebuah bangunan sedemikian rupa hingga layak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Tapi coba kalimat tsb kita ucapkan didepan orang Mesir dan orang Indonesia, maka nanti yang akan terbayang oleh orang Mesir adalah sebuah bangunan yang membumbung tinggi. Sementara yang terbayang dalam benak orang Indonesia adalah sebuah bangunan yang ada gentengnya .. halamannya .. dst. Barangkali memang benar bahwa setiap kalimat pasti menyimpan nilai-nilai kebudayaan, yang luas dan sempitnya tergantung esensi kalimat itu sendiri dalam kebudayaan yang bersangkutan.

Demikian ini, jika ditelaah lebih lanjut, akan memunculkan beberapa tada'iyyat (asosiasi). Pertama: al Quran harus difahami sesuai dengan budaya arab waktu itu. Kedua: karenanya, penelusuran terhadap fase Makky dan fase Madani dalam setiap pemahaman al Quran teramat urgen. Dan ketiga, menelaah kembali hubungan antara al waqi' dan an nazil, atau antara wahyu Tuhan dan -- apa yang dalam bahasa undang-undang modern diistilahkan-- al a'mal attahdhiriyyah lil qonun.

***

Pertama: al-Qur an harus difahami sesuai dengan budaya Arab waktu itu.

Telah diterangkan dalam al-Quran, bahwa al quran diwahyukan oleh nabi dengan bahasa yang jelas, yang mampu di fahami oleh kaumnya. Firman Allah dalam 12:01: "Alif, laam, raa . Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata", dan dalam?  16:103: sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Kalau kedua ayat tersebut kita dukung dengan ayat 4 (empat) surat Ibrahim: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan?  terang kepada mereka", maka barangkali kita bisa sepakat bahwa standar kebenaran yang kita pakai dalam memahami al Quran adalah standar kebenaran waktu diturunkanya al Quran.

Selain alasan ini, ada alasan lain yang sangat penting, kenapa kita harus memakai standar 'ashrul wahyi'. Pertama: kalau kita memakai standar era pasca-wahyu, maka ini berarti membiarkan kaum muslimin era-wahyu dalam kesalahannya memahami al Quran. Kedua: Kefahaman-kefahaman era wahyu yang lebih dekat kepada tauqify tidak pernah menjadi mutlak (absolut), karena dimungkinkan salah.

Untuk menjelaskan keterangan dimuka, akan saya kemukakan dua contoh. Pertama menyangkut al-ro'du dan al-barqu yang telah disinggung Bpk. Quraisy minggu lalu. Kalau memang benar, bahwa al-ro'du dan al-barqu adalah suara dan percikan api dari cemetinya malaikat, adakah malaikat itu difahami oleh kaum Muslimin ashrul wahyi sebagai hukum alam? Kalau tidak, dan kemudian difahami oleh Mohammad Abduh sebagai hukum alam, apakah ini tidak berarti membiarkan mereka dalam kesalahannya.

Kedua: "iqro" dalam surat al-'alaq, apakah ia dari kata "qara a" yang mempunyai arti mengumpulkan (jama'a) atau dari "qara a" yang mempunyai arti mengulang-ulang (raddada).?  Dalam hal ini, Nasr hamid cenderung mengikuti kemungkinan yang kedua, yakni hanya sekedar mengulang-ulang tanpa harus ada teks-nya. Menurutnya, ini sesuai dengan budaya Arab waktu itu yang tidak mengenal baca tulis. Selain ini, dalihnya, ada ayat yang mendukung pendapat ini: "inna 'alaynaa jam'ahuu wa qur anah-u, faidzaa qara naahu-u fattabi' quraanah-u", dimana kalimat "qur anah-u" di athofkan pada kalimat "jam'ah-u", padahal athof dalam gramatika Arab berimplikasi "mughoyarah" (perbedaan arti antara ma'tuf dan ma'tuf 'alaih). Apalagi jika kita menengok bagian kedua ayat tersebut (faidzaa qara nahuu fattabi' qur anah-u) yang jelas mendukung pengartian demikian ini. Kedua: Penelusuran Fase Makky dan Madany teramat urgen dalam memahami al-Quran.

W. Robertson Smith ketika menyoal agama-agama samawi menyatakan, bahwa agama-agama samawi ini harus memeperhitungkan serta menyikapi dengan cermat setiap kepercayaan dan tradisi agama-agama sebelumnya, baik menerima atau menolaknya. Karena bagaimanapun agama-agama tsb. tidak mungkin dibangun di atas landasan yang hampa image keagamaan, seakan-akan memulai hal yang baru.

Lebih lanjut ia menegaskan, setiap konstruksi akidah yang baru, tidak akan mendapatkan pengikut kecuali dengan cara mengetuk fitrah serta perasaan-perasaan agamis. Dan untuk mencapai ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan cara mempertimbangkan tipe-tipe keagamaan tradisional yang ada.?  Maka, kata Robertson, untuk memahami setiap konstruksi keagamaan agama samawi dengan sebaik baiknya, serta menelusuri perjalanan sejarahnya, kita harus memahami terlebih dahulu agama-agama tradisional sebelumnya.

Mengacu pada premis-premis diatas, berarti dalam memahami kandungan al-Quran serta perjalanan sejarahnya, kita harus memahami watak sosial Arab, terutama Arab Makkah dan Madinah dan juga perjalanan sejarah Islam pada dua tempat tsb.

Memang, untuk memahaminya dengan baik, diperlukan penelitian yang intens. Dan ini tentu membutuhkan waktu serta keuletan yang super.

Ketiga: Menelaah Kembali Antara al waqi' dan An nazil.

Ada dua pembahasan yang?  nampak paradoks ketika meneliti hubungan antara wahyu dan al waqi' yang menjadi ardhiyyah diturunkannya. Pertama: apakah yang diambil sebagai pertimbangan, umumullafdzi atau khususus sabab. Kedua: Keharusan mempertimbangkan al A'mal attahdhiriyyah (asbabun nuzul) dalam setiap keputusan-keputusan wahyu.

Menurut penelitian Azzurqoni, ulama' sepakat untuk mempertimbangkan umumul lafdzi dalam arti yang "luas". Karena, menurutnya, pendapat yang hanya mempertimbangkan khususus sabab dalam arti yang sempit sangat?  irasional. Ini berarti pemusatan pandangan terdadap wahyu. Sementara kalau kita menilik pada bagian yang kedua justru kita dituntut untuk selalu menatap kebawah dalam setiap keputusan wahyu.

Menurut hemat saya, dua cara pandang ini dapat kita satukan dalam satu kesatuan yang sangat positif: cara pandang pertama mengenai tabiat hukum yang sering kita katakan kaku: 'hitam atau putih'. Sementara cara pandang kedua adalah merupakan filsafat hukum yang bisa menjadikannya lentur.

Read More >>

Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyyah, Nabi Dzilly

Sekilas Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah aliran yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Akbarnya. Ghulam lahir di Punjab,ahmadiyah India, pada tahun 1835, dan mengaku diri mendapatkan wahyu sebagai nabi pada tahun 1876, saat usianya 41 tahun. Ahmadiyah sendiri didirikan tahun 1889, tiga belas tahun kemudian. Ini menyangkut karir pewahyuan.

Pada awal-awal pewahyuan, ia masih ragu. Bahkan ia tidak berani menamakan diri sebagai nabi, hanyamuhaddats, atau orang yang diajak bicara oleh Allah SWT. Ia juga tidak berani mengaku diri sebagai Al-Masih. Atau ketika dia mengaku diri nabi, ia menganggap itu sebagai nabi majazan wa isti’aratan, atau nabi dalam arti metaforis.

Dan tampaknya pada tahun 1889, ia telah mantap dengan wahyunya, dan karena itu ia lalu mendirikan Jemaat Ahmadiyah, walau sebetulnya kemantapan yang tegas baru terjadi pada kira-kira tahun 1901, dua tahun setelah berdirinya Jemaat Ahamdiyah.

Problem Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

Tampak sekali bahwa Mirza Ghulam Ahmad hidup dalam lingkungan sufistik yang kental, sehingga ia tidak merasa asing dengan pertemuan langsung antara manusia dengan Tuhannya. Akan tetapi seperti sufi-sufi lainnya, ia beranggapan bahwa karir kenabian telah berakhir. Pertemuan antara manusia dengan Allah hanya bisa melalui “ilham�. Dalam wahyu-wahyu pertamanya, walaupun sudah ada penyebutan “ya nabiy�, atau bahkan “ya rasuul�, dia lebih memilih untuk memahami wahyunya itu dalam bentuknya yang metaforis.

Akan tetapi seiring dengan karir pewahyuannya yang semakin meningkat secara kualitatif maupun kuantitaif, dia mulai mengubah pandangannya: keistimewaan berdialog dengan Allah yang ia peroleh bukan semata ilham kewalian, akan tetapi adalah wahyu kenabian.

Dalam Al-Khazain Arruhaniyah, dia menegaskan: Almuhaddats, atau seseoarang yang diajak bicara Allah, adalah nabi juga dalam salah satu artinya. Walaupun tidak mencapai kenabian yang sempurna, ia tetaplah seorang nabi parsial, karena ia mendapatkan kehormatan berdialog dengan Tuhan, dan mendapat kesempatan penampakan hal-hal yang gaib.?

Atas dasar inilah, akidah Ahmadiyah dibangun. Sebuah akidah, yang menurut pengikutnya, merupakan revolusi atas konsep pewahyuan lama.

Sampai di sini, akidah Ahmadiyah tidak memiliki problem krusial. Dalam sebuah hadits ditegaskan, pertemuan dengan Tuhan adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang tidak sempurna, seperti riwayat Anas RA dari Rasulullah SAW: “Kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada nabi dan rasul setelah diriku.� Kata Anas: “Ucapan Baginda Rasul ini terasa berat bagi kami.� Lalu Nabi mengatakan: “Akan tetapi “al-mubasysyiraat.� Kami menanyakan: “Apa itu almubasysyiraat?� Kata Rasul: “Mimpi-mimpi baik seorang muslim, itu adalah bagian dari kenabian�.

Jika pengakuan Mirza Ghulam Ahmad benar, maka itu adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang tidak sempurna. Menurut pengakuan Mirza, ia memang benar-benar berdialog dengan Allah SWT, dan hal itu ia peroleh melalui perantara “Nur Muhammady�. Dan dari Nur Muhammady ini, kemudian lahir istilah “naby dzilly�, atau nabi dibawah bayangan Nur Muhammady. Nur Muhammady sendiri adalah konsep sufy yang dikenalkan oleh Al-hallaj dan Ibn �Araby, dan dipercaya luas di kalangan sufy. Ibn �Araby juga mengaku hal yang sama, ia dalam mi’rajnya, mendapatkan wahyu, melalui perjalanan spiritualnya di bawah naungan Nur Muhammady.

Problem MGA (Mirza Ghulam Ahmad) menjadi serius, ketika pengakuannya ia sertai dengan “tahaddy�, atau tantangan. Kenabian dan kerasulan adalah konsep internal dan eksternal sekaligus, sementara konsep kewalian, atau yang diistilahkan oleh MGA dengan kenabian parsial, atau kenabian dzilly, adalah internal belaka. Dalam pandangan para Sufy, kewalian yang sempurna adalah bagii mereka yang mampu menyimpan rahasia ketuhanan. Al-Hallaj, ketika sadar dari “jadzabnya�, benar-benar menyesal karena telah mengumbar “rahasia ketuhanan�.

Maksud dari eksternal adalah bahwa kenabian harus dideklarasikan dan menuntut pengakuan khalayak. Dan untuk itu, kenabian membutuhkan dua hal. Pertama tahaddy, atau tantangan atas sebuah mukjizat. Kedua seorang Nabi harus ma’sum saat menyuarakan wahyu. Tanpa kedua hal ini, kenabian menjadi tak bermakna. Dan kenabian seperti ini implikasinya sangat berat. Sangat tepat sekali Baginda Rasul mengakhirinya saja.

Karena jika tantangan sudah diumumkan, dan kemaksuman telah menyertainya, maka apa yang ia suarakan adalah kebenaran belaka. Persis disinilah keruwetan kenabian itu. Permasalahannya bukan lagi kebenaran kandungan wahyu itu sendiri, tapi juga menyangkut persoalan pembawanya, yakni nabi itu sendiri. Umat nabi bukan lagi harus percaya kepada kebenaran kandungan wahyu, tapi juga harus percaya kenabian pembawanya.

Dalam pandangan umat Islam secara umum, tidak ada lagi konsep kemaksuman setelah Nabi Muhammad, seberapapun tinggi derajat seseorang, dan sehebat apapun ia mampu berdialog dengan Tuhan. Biarpun pengakuan MGA benar, tetaplah dia tidak maksum -dan karena itu boleh dikritisi-, dan tidak ada konskwensi apapun dengan tidak mempercainya. Ibn Taymiyah, yang sangat kritis terhadapa Ibn �Araby, tidak kurang sedikitpun ketakwaaannya, apalagi keIslamannya, biarpun yang benar misalnya Ibn �Araby. Kenabian parsial setelah Nabi Muhammad adalah internal.

MGA dengan memposisikan diri sebagai nabi dengan tahaddynya, ia telah menjadi “diktator� kebenaran. Kandungan wahyunya menjadi kebenaran mutlak, dan tidak boleh dikritik. Penafsirannya terhadap penyaliban Nabi Isa misalnya, mejadi satu-satunya penafsiran yang benar. Bahkan implikasinya lebih luas lagi, mereka yang di luar Ahmady, karena tidak percaya kenabian MGA, adalah kafir, yang tidak sah menjadi imam salat bagi Ahmady. Mereka yang jelas-jelas tidak iman kepada kenabian MGA jika mati tidak boleh disalati jenazahnya.

Di sinilah perbedaan antara sufisme Ahlussunnah wal Jamaah dari sufisme yang dikembangkan oleh MGA. Jelas sekali, MGA telah menyimpang dari paham-paham sufistik Ahlussunnah Wal-Jamaah, walau untuk mengatakan dia telah keluar sama sekali dari Islam kurang tepat. Dia tetap Muslim, tetapi konsep ke-Islamannya menjadi radikal, tidak jauh beda dari para fundamentalis-fundamentalis lainnya, yang ingin menguasai kebenaran penafsiran Islam.

Dia memang telah mengkafirkan kelompok non-Ahmady, termasuk para sufy Ahlussunnah wal Jamaah, tapi tidak seyogjanya kita ikut membalas sikap itu. “Walaa yajrimannakum syanaanu qawnin �alaa anlaa ta’diluu, I’diluu huwa aqrabu littaqwa.�

Masuknya Ahmadiyah ke Indonesia

Tidak tahu persis, kapan awal mula Ahmadiyah masuk ke Indonesia. Akan tetapi ia mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1924 ketika dua pendakwah Ahmadiyah Lahore datang ke Jogja. Pada kesempatan ini mereka berdua diundang oleh Minhadjurrahman Djojosoegito, sekretaris Muhammadiyah, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-13. Di kemudian hari, ia ketahuan telah masuk dalam Ahmadiyah Lahore, lalu dikeluarkan dari Muhammadiyah. Pada tahun 1930, ia mendirikan secara resmi Gerakan Islam Ahmadiyah (GIA), dan duduk sebagai pucuk pimpinan.

Ahmadiyah Lahore sendiri lahir setelah kematian khalifah Al-Masih yang pertama, Almulawi Nuruddin, pada 13 Maret 1914. Menurut kelompok ini, MGA tidak membutuhkan khalifah perorangan. Cukup Anjuman -lembaga yang didirikan oleh MGA mula-mula untuk mengawasi keuangan dan maqbarah Bahishti di Qadiyan yang diperuntukkan bagi para pejuang Ahmdiyah- sebagai estafet penerus kepemimpinan dakwah.

Ketika Khalifah kedua, Basyiruddin Mahmud Ahmad, terpilih, mereka, dipimpin oleh Mulawi Muhammad Aly, tidak setuju. Lalu mereka keluar dari Qadiyian, pindah ke Lahore, dan mendirikan Anjuman tandingan. Sejak saat itulah kedua kelompok ini terputus, dan masing-masing saling mengklaim paling benar. Bahkan ortodoksi Qadiyan lazim menyebut Lahore sebagai kelompok sempalan yang sesat.

Ada sejumlah revisi versi Lahore terhadap tradisi keimanan Qadiyan. Selain doktrin khilafah yang menjadi pemicu perpecahan, adalah doktrin kenabian MGA. Bagi Lahore, kenabian telah berakhir, walau pewahyuan itu sendiri tidak pernah berhenti. Menurut mereka, jika kenabian masih ada, Sayidina Ali tentulah sudah menjadi nabi. Karena dalam sebuah hadits, kedudukan Sayidina Ali sama dengan kedudukan Nabi Harun bagi Nabi Musa. Akan tetapi kenabian telah berakhir, dan Sayidina Ali tidak pernah menyandang kenabian.

Dari konsep kenabian yang hampir mirip dengan konsep Ahlusunnah ini, pewahyuan MGA ditarik lagi ke dalam konsep yang semi internal. Mereka yang tidak percaya terhadap wahyu MGA tidak kafir. Mereka sah menjadi imam bagi non-Ahmadi. Jenazahnya juga harus disalati. Selama tidak mengkafirkan Ahmadi, maka mereka adalah sesaudara.

Kehadiran mereka di Jogja walau menimbulkan riak, akan tetapi tidak sampai kepada gelombang yang besar. Buku-buku terbitan Ahmadiyah Lahore bahkan banyak dinikmati oleh mendiang Bung Karno, dan HOS Tjokroaminoto, karena kerasionalannya. Juga sejumlah mahasiswanya bergabung dengan HMI.

Adapun Ahmadiyah Qadiyan, kehadirannya ke Indonesia murni misi messiah, sebagai penerus Imam Mahdi MGA. Adalah Maulana Rahmat Ali orang pertama yang datang ke Indonesia melalui Aceh pada tahun 1925. Ia datang ke Sumatra atas rekomendasi tiga pelajar Thawalib di Qadiyan. Tiga pelajar ini awa;mua merencanakan melanjutkan studi ke Mesir, akan tetapi guru-gurunya di Thawalib, Padang, menyarankannya untuk pergi ke India. Di India mereka mula-mula mengenal Ahmadiyah Lahore, yang kemudian mengantarkannya kepada ortodoksi Ahmadiyah di Qadian.

Ketiga pelajar inilah sejatinya yang melapangkan jalan bagi masuknya Ahmadiyah dengan agak mulus ke Indonesia. Mereka banyak berkorespondensi kepada keluarganya tentang datangnya Imam Mahdi, dan mengharap agak masyarakat di sana kelak menyambut dengan hangat utusan Imam Mahdi. Dan benar, ketika Maulana Rahmat Ali dating ke Tapaktuan, Aceh, ia disambut hangat oleh masyarakat.

Ia mulai berdakwah di Aceh, lalu meluaskan dakwahnya ke Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan daerah sekitar. Dan pada tahun 1931 ia pergi ke Jakarta.

Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia bukan tanpa resistensi. Pada tahun 1926 Haji Rasul mendebat Ahmad Baiq, pendakwah Ahmadiyah Lahore. Dan pada tahun 1929 Muktamar Muhammadiyah resmi melarang Ahmadiyah diajarkan di lingkukan Muhammadiyah. Bahkan Muhammadiyah telah resmi mengkafirkan mereka yang percaya adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Di Padang, perdebatan-perdebatan Ahmadiyah-Sunny marak sejak menit-menit awal pendakwahan Ahmadiyah. Dan ketika Rahmat Ali datang ke Jakarta, Ahmad Hassan, pimpinan PERSIS, rajin mendebat Ahmadiyah, hingga terjadi dialog, atau debat terbuka, dengan menyedot banyak pengunjung.

Persoalan Ahmadiyah kemudian menjadi terlupakan karena Indonesia secara umum disibukkan oleh perang kemerdekaan, perang revolusi, dan pemberontakan PKI. Ahmadiyah benar-benar terlupakan, dan baru muncul kembali pada tahun 1980-an ketika Indonesia relative tenang. Saat itu, entah siapa yang kembali mengangkat isu Ahmadiyah, hingga MUI mengeluarkan fatwa sesatnya Ahmadiyah yang terkenal itu.

Sikap NU Terhadap Ahmadiyah

Ada fakta menarik bahwa pendiri Ahmadiyah di Indonesia adalah Djojosoegito yang secara biologis memiliki hubungan darah dengan Kyia Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Tetapi ini hanyalah kebetulan belaka yang tidak memiliki arti penting secara ideologis. Kebetulan Kiyai Hasyim adalah seorang raden, keturunan Hamengkubuwono II. Djojosoegito juga raden dari keturunan yang sama.

Bukan hanya NU dan Ahmadiyah saja, yang pendirinya memiliki garis keturunan yang sama. Semua organisasi keislaman di Indonesia kalau ditilik dari para pendiri utamanya, tidak keluar dari garis keturunan Solo-Jogja. Dan semua dari lingkungan keraton.

Justru hubungan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dengan Hasyim Asyari, pendiri NU, memiliki kedekatan ideologis. Keduanya sama-sama belajar di Mekkah. Keduanya murid Al-Khatib Al-Minangkabawy, seorang ulama bumi pertiwi yang berkarir di Saudi, hingga menjadi imam Masjidil Haram madzhab Syafi’iy. Khathib Minangkabaw adalah seorang tradisionalis, tapi sekaligus pengagum Muhammad Abduh, pembaharu paling berpengaruh saat itu. Ahmad Dahlan tampaknya lebih meresapi titisan Muhammad Abduh dalam diri Al-Khatib, sementara Hasyim Asyari lebih meresapi tradisinya. Tapi jelas keduanya memiliki guru yang sama, dan ini berpengaruh kepada sikap tolerans keduanya.

Di kalangan Nahdliyin sendiri terjadi pro dan kontra dalam mensikapi Ahmadiyah. Tetapi semua itu tidak ada kaitannya dengan kesamaan garis keturunan secara biologis maupun ideologis. Pro dan kontra lebih disebabkan karena keberagaman isi di balik kepala . Sejak tahun 1984, Gus Dur memimpin NU dan berlangsung selama tiga periode, masa kepemimpinan yang cukup lama. Sejak saat itu, Gus Dur rajin menggarap para pelajar progresif NU, atau bahkan liberal. Sekarang ini, anak didik Gus Dur sudah merasuk kemana-mana. Bahkan pemimpin sejumlah pesantrenmambu-mambu Gusdurian.

Tapi secara resmi PBNU dan juga PWNU Jatim, basis utama NU, menganggap sesat Ahmadiyah. Yang perlu diketahui juga, dalam bahtul masail PBNU terakhir, yang menyesatkan Ahmadiyah, pimpinan sidangnya adalah Kiyai Ma’ruf Amin, Dr. Said Aqiel Sijar, dan Pak Masdar Masudi. Kiyai Makruf mewakili kelompok kiyai faqih yang lurus, yang sering juga menjadi juru bicara MUI. Sementara Said Aqil dan Masdar adalah dua kiyai yang sebetulnya lebih dekat kepada Gus Dur. Toh keputusannya tetap menganggap Ahmadiyah sesat, dan menyerahkan sepenuhnya permasalahan ini kepada pemerintah.

Ini artinya, dalam tubuh NU hampir terjadi kesepakatan soal ketidakcocokan diametral antara faham NU dengan Ahmadiyah. Tapi permasalahan utama adalah soal cara menyikapi Ahmadiyah dalam kehidupan berbangsa. Di sinilah kelompok Gus Durian bersikap tegas: tegakkan Pancasila. Kalau Gus Dur sendiri jangan ditanya soal akidah, karena akidanya susah ditebak. He he .. Jangankan di luar NU, di tubuh NU sendiri banyak yang dibuat bingung oleh sikap-sikapnya.

Dilingkungan NU Mesir sendiri, terjadi perdebatan yang panjang soal ini, dalam dua kali Bahtsul Masail. Dan keputusan terakhir, tetap menganggap Ahmadiyah menyimpang dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang diikuti oleh Nahdliyin, dan Muslim Indonesia secara luas. Tapi ketika pada pembahasan apakah mereka sampai keluar dari Islam, di sini tidak ada kata sepakat. Mungkin memang harus demikian. Biarkan macem-macem isinya.

SKB Tiga Menteri, Sebuah Keputusan Strategis

Secara pribadi saya tidak berani melarang seseorang menafsirkan agama sesuai keyakinan masing-masing. Tapi memang tak perlulah menyebarkannya kepada orang yang berbeda keyakinan secara frontal, seperti Qadiyan dan Islam Indonesia secara umum. Saya ingin membandingkan misalnya Syiah di Saudi Arabiya dan Sunni di Iran. Populasi Syiah di Arab Saudi mencapai 20 persen, sesuai laporan The Arabic Network for Human Right. Akan tetapi terjadi diskriminasi cukup besar atas hak-hak beribadah, dan hak-hak sipil mereka. Begitu pula sebaliknya Sunni di Iran. Menurut laporan Irania Sunni Leage, populasi mereka di Iran mencapa sepertiga penduduk secara keseluruhan, atau sekitar 15 sampai 20 juta. Namun begitu, di Taheran, ibu kota Iran, satu masjid pun mereka tak punya. Padahal gereja Kristen, Sinagog Yahudi, rumah ibadah Majusi dan Hindupun boleh berdiri.

Jadi harus ada kesadaran pada masing-masing, bahwa keyakinan yang dianut, ternyata bagi orang lain bisa menyakitkan. Klaim Jemaat Ahmadiyah yang mengkafirkan non-Ahmadi bagi banyak kalangan tentu menyakitkan. Posisi pemerintah yang melarang pengajaran Ahmadiyah ke non-Ahmadi saya kira bisa dibenarkan.

Harus diketahu, SKB tiga menteri secara definitif menunjuk kepada Jemaat Islam Ahmadiyah (JIA) atau Ahmadiyah Qadian, yang berpusat di Parung, Bogor, bukan Gerakan Islam Ahmadiyah (GIA) atau Ahmadiyah Lahore, yang berpusat di Jogja.

Cukuplah dilarang penyebarannya. Saya melihat, bahwa aliran-aliran yang dilarang, justru akan semakin militan, karena tidak mempunyai kesempatan untuk berbenah, dan sibuk memuja diri. Yang diperlukan adalah kritik terus menerus kepada Ahmadiyah Qadian, agar membuka pintu kebenaran bagi yang lain. Sikapnya yang tidak mau mensalati jenazah non-Ahmadi misalnya, adalah bentuk doktrin yang tak perlu diteruskan. Di sini, Ahmadiyah Lahore sudah bergerak ke sana. Beri kesempatan kepada masing-masing sekte, untuk melakukan kritik dan dikritik.

Kembali kepada umat. Jangan terlalu sibuk dengan rebutan politik. Instropeksi, dan berbenah diri. Saya melihat para pemimpin kita sibuk pada wilayah politik, tapi umat kurang diperhatikan. Ketika umat kita tiba-tiba direbut orang lain, kita menyalahkan yang lain.

Read More >>

Spanyol Yang Islami

spanyol Kemajuan Islam di Eropa tak terpisahkan dengan Andalusia. Bahkan pada suatu era, sinar islam yang membanggakan muncul dari ufuk barat Eropa ini. Lewat istana Alhamra dan masjid Córdoba, dunia masih bisa mengenang jejak kemegahannya.

Orang kini mengenang Andalusia sebagai Spanyol, Negara berpenduduk mayoritas katolik. Ada sejarah pahit di sana seputar pergantian penguasa yang berujung pada upaya pemura dan umat Islam besar-besaran. Namun umat islam Spanyol berupaya untuk bangkit kembali sejak terpuruk di abad ke-15.

RETAK DARI DALAM.

Sejarah Andalusia dalam peta perkembangan islam berawal dari permintaan Julian kepada Musa bin Nusair. Julian adalah gubernur Ceuta dari Andalusia dan Musa adalah raja muda dari Afrika. Julian meminta bantuan kepada Musa untuk menyelamatkan negerinya yang dilanda kekacauan hebat.

Musapun memerintahkan panglimanya yang pemberani, Thariq bin Ziyad untuk mengunjungi Andalusia. Pada tahun 711M, Tariq dengan 12000 pasukannya mendarat di Gibraltar. Ternyata sekelompok prajuritnya berubah pikiran untuk kembali ke Afrika. Diceritakan Thariq membakar semua kapal sampai menjadi abu lalu menantang meraka,"Yang maju akan mendapat kemenangan atau mati sahid, tetapi yang lari menjadi mangsa ikan hiu di laut tengah yang ganas."

Akhirnya pada tanggal 19 Juli 711 M, Tariq bersama-sama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Kristen di muara sungai Barbate. Kemudian, Thariq membagi pasukannya ke dalam empat wilayah penting yaitu : Toledo, Coordoba, Malaga, Grenada. Inilah benih kekuasaan Islam di Spanyol yang berlangsung selama ratusan tahun .

Raja muda Musa bin Nusair berkuasa di Toledo pada tahun 711M-756M dengan pengawasan Bani Umayyah di Damaskus. Daerah-daerah lain pun dipimpin oleh penguasa muslim. Kemudian disusul berdirinya Mulukulth Thawaif mengalami keretakan dari dalam yang di sebabkan hal-hal sepele. Misalnya perebutan wanita, harta dan upeti serta saling menjatuhkan. Andalusia pun goyah Kendati demikian tak terlalu mudah bagi penguasa lain untuk menjatuhkannya .

Pada pertengahan 1491 M, Raja Ferdinan V mulai mengepung Granada. Selama tujuh bulan, mereka menekan Granada hingga akhirnya raja terakhir banti akhmar Abu 'Abdillah menyerah. Berakhirlah kejayaan Andalusia.

Pengalihan kekuasaan adalah biasa dalam perjalanan sejarah, namun yang membesitkan kepahitan adalah peristiwa pemurtadan akbar.

Raja Ferdinand V menetapkan peraturan: penduduk di perbolehkan tinggal di Andalusia dengan syarat memeluk agama katolik. Menolak berati wajib meninggalkan tanah air mereka ternyata separo umat Islam terpaksa menukar Imannya dengan izin menetap di tanah airnya sendiri karena tidak mampu bermigrasi.

PESONA SI MERAH

Istana Alhambra adalah jejak kejayaan islam yang masih bisa dinikmati hingga hari ini. Alhambra berasal dari bahasa Arab, hamra' bentuk jamak dari kata akhmar yang berarti" merah". Dinamakan demikian karena pusat keindahan Andalusia ini didominasi warna merah, ubin batu bata, dinding, perabot dan detail bangunan berwarna merah. Istana ini berfungsi sebagai benteng kota Granada. Ada pula yang berpendapat bahwa Alhambra mengambil salah seorang pendirinya yaitu sultan Muhammad bin Al-Akhmar dari bani Akhmar atau bangsa Moor. Ia adalah keturunan Said bin ubaidah seorang sahabat rosululloh SAW yang berasal dari suku Khozroj di Madinah.

Istana ini berdiri kokoh di bukit La Sabica. Dinding bagian luar dan dalamnya dihiasi kaligrafi yang sulit di cari tandingannya. Dari penataannya terlihat keunikannya peradaban Umat Islam tempo dulu. Misalnya pembagian ruangan berdasarkan fungsi yang di beri nama secara khusus.

Misalnya Hausyus sibb (Taman singa) yang di kelilingi 128 tiang marmer. Ditengahnya terdapat kolam air mancur yang dihiasi 12 patung singa melingkar. Di bagian dalam terdapat ruangan-ruangan indah, Baitul hukkini (ruang pengadilan) seluas 1m x 15 m; Baitul Siraj berbentuk bujur sangkar dengan luas 6,25 m x6,25 m yang di penuhi hiasan-hiasan kaligarafi Arab; Hausy ar-Raihan yang memiliki al-Birkah atau kolam di tengahnya; Baitul ukhtain (Ruangan dua saudara perempuen ) yaitu ruang khusus untuk dua saudara perempuan Sultan Al Akhmar. Selain Istana Alhambra, di Spanyol juga terdapat jejak Islam lainnya yaitu masjid Kordoba yang didirikan oleh Sultan Abu Yusuf Al Muwahhid pada tahun 785 m. Masjid ini makin megah sejak diperbesar tahun 848 dan 961. Sayang sekali pada 1187 penguasa memutuskan untuk mengalih fungsikannya menjadi katedral santa maria de la sede hingga sekarang.

Yang sangat menyedihkan, perpustakaan–perpustakaan Islam ikut dibakar dan dihancurkan. Karya tulis yang sampai kepada kita hanyalah bagian terkecil dari karya-karya pemikir islam di zamannya hingga sekarang sulit dicari tandingannya.

GUDANG ILMUAN

Berkat kedatangan Islam di Adalusia, baik ilmu pengetahuan, kebudayaan, maupun arsitektur gagah berkibar. Di negeri ini lahir tokoh-tokoh berpengaruh yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

Di antaranya adalah cendikiawan Ibnu Thufail (1107-1185) di lahirkan di Asya, Granada. Ia pernah menjabat sebagai menteri bidang politik dan gubernur Sabtah dan Tonjah di Maghribi. Ibnu Thufail adalah guru ilmu filsafat Ibnu Rusyd (averroes) ia menguasai ilmu hukum, pendidikan dan kedokteran. Thufail pernah diangkat sebagai dokter pribadi seorang amirul muwahhidin (raja).

Salah seorang cendikiawan Islam terbesar juga lahir di Andalusia. Dialah Ibnu Rusyd (1126-1198) yang berasal dari Cordoba. Lidah barat menyebutnya Averroes ia seorang ahli hukum, ahli hisab (aritmatika), kedokteran dan ahli filsafat terbesar dalam sejarah Islam beliau dilantik sebagai hakim di Sevilla pada tahun 1169 dan di Cordoba tahun 1171 dan juga diangkat sebagai dokter kepercayaan istana tahun 1182. Karya terbesar yang ditulis olehnya kitab kuliyah fi at-thibb (encyclopydia of medicine) yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan inggris. Karya ini menjadi buku wajib di universita-universitas eropa. Akibat pemikiran kritisnya ia pernah diasingkan ke lucena dan sebagian karyanya dimusnahkan. Doktrin averroeisme mampu mempengaruhi yahudi dan Kristen, baik barat maupun timur. Maka boleh dikatakan bahwa eropa sesunguhnya berhutang kepada Ibnu Rusyd.

Ibnu Arabi (1164-1240) dikenal juga sebagai ibnu suroqoh, Ash-Shaikhul Akbar atau doctor maksimus dilahirkan di Murcia (sebelah tenggara spanyol). Karya-karyanya luar biasa konon beliau menulis lebih dari 500 judul buku saat ini sekiatr 150 karyanya masih bisa diselamatkan dan disimpan di perpustakaan nasional Mesir.

BERGAUNG KEMBALI

Tanggal 10 juli 2003 itu menjadi hari bersejarah bagi muslim di spanyol. Setelah kurang lebih 500 tahun terendam waktu, adzan kembali bergaung indah di cordova. Pasalnya pada hari itu salah satu masjid direstukan. Disusul pembukaan selubung kain merah penutup prasasti batu. Sheikh Sultan bin Muhammad Al Qosimi dari Uni Emirat arab (UEA). Umat islam spanyol menyambut peristiwa itu dengan ucapan Allohu Akbar.

Kabar gembira lainnya juga terdengar sejak awal tahun 2005 lalu berdasarkan ketetapan departemen agama Negara spanyol, sekolah-sekolah di spanyol secara resmi diperbolehkan memberikan pelajaran Islam bagi para siswanya yang muslim. Rencana pengajaran agama Islam bagi siswa-siswi muslim ini sebenarnya sudah ada sejak satu decade lalu, tapi belum bisa diimplementasikan karena berbagai kendala.

Perkembangan ini, tidak lepas dari peran dari Joserodrigues zapatero menduduki tampuk kepemimpinan di spanyol, komunitas muslim di negeri itu mulai mendapat perhatian dari pemerintah Zapatero yang berasal dari kelompok sosialis sejak berkuasa sudah mencabut sejumlah hak-hak istimewa gereja katholik yang diberikan pada saat partai rakyat di spanyol berkuasa.

Salah satu langkah konkritnya adalah memberikan izin pengajaran agama islam di sekolah-sekolah umum di kota-kota besar di spanyol yang jumlah komunitasnya cukup banyak. Misalnya kota Barcelona, Madrid dan Andalusia (from RELIGI magazine)

Read More >>

Video - video KH. Maimoen Zubair

Berikut ini adalah video-video KH Maimoen Zbair Karang Mangu sarang rembang

Pengasuh pondok Pesantren al anwar

 

Pengajian kh Maimoen zubair

 

KH Maimoen Zubair

 

Mauidloh

 

Mbah Mun

 

Mbah Mun Di Kudus

 

Ceramah Mbah Mun

 

Mauidloh KH Maimoen Zubair

 

Romo KH Maimoen Zubair
Read More >>

Kiai Dahlan Sarang Rembang

Beliau dilahirkan di desa Gondan Sarang tahun 1287 H. Ketika usia beranjak dewasa, beliau menuntut ilmu di Sarang, yaitu dengan belajar ilmu syariat Islam kapada ulama-ulama di Sarang, sehingga beliau mengetahui dasar-dasar agama Islam.

Setelah mengeyam ilmu di Sarang, beliau melakukan pengembaraan lagi untuk menambah wawasan tentang syariat agama Islam. Kota yang dituju beliau adalah kota Blora, tepatnya di pesantren Ngadipura yang diasuh oleh K. Hamzah. Di pesantren ini, beliau menetap beberapa tahun untuk belajar dan berkhidmah kepada K. Hamzah.

Dari pesantren K. Hamzah, beliau melanjutkan pembaraan lagi untuk menambah wawasannya menuju kota Semarang untuk belajar di suatu pesantren yang diasuh oleh K. Shaleh.

Dari pengembaraan beliau yang begitu panjang, akhirnya beliau kembali ke tempat kelahiran lagi, Sarang. Namun, di Sarang beliau tidak berhenti mencari ilmu. Tetapi tetap belajar, mendengarkan korekan ilmu dari ulama-ulma setempat, lebih-lebih kepada K. Umar bin Harun dan K. Murtadha.

K. Dahlan adalah sosok yang terkenal sebagai orang yang mempunyai pengetahuan agama yang dapat dijadikan pegangan, sehingga beliau menjadi sosok yang terkemuka. Beliau mencurahkan hidupnya untuk kemanfaatan dan hal yang benar. Beliau membidangi fan-fan ilmu. Di antara fan-fan yang beliau baca adalah Khulashah Ibnu Malik, Tasriiful Izzi, Minhajul Qowiim, Fatahal Mu’in dan lain-lain.

K. Dahlan membangun bahtera rumah tangga dengan meminang Putri K. Syu’aib, Ibu Nyai. Hasanah. Dari pernikahan ini, beliau dianugrahi Allah swt beberapa anak. Di antaranya yaitu :

  1. K. Zubair Dahlan
  2. Ibu Nyai. Aisyah (istri K. Husain)
  3. Ibu Nyai. Fatimah (istri K. Munawar)

Pada tahun 1325 H, beliau pergi ke tanah haramain untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah di makan baginda Nabi Muhammad saw. Beliau wafat tahun 1343 H dengan umur 56. Semoga Allah swt menempatkan beliau di tempat yang mulia disisi-Nya. Amiin.

catatan: artikel dikutip dari buku Syaikhuna wa Usratuhu

 

Read More >>

Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu Sarang Rembang

Gerbang Pesantren Pondok pesantren Al Anwar merupakan pondok murni yang dirintis oleh Syaikhina KH. Maimoen Zubair, bukan merupakan pondok peninggalan atau warisan. Sepulangnya beliau dari study di Makkah Al Mukarromah, banyak santri yang berdomisili di pesantren Sarang yang berkeinginan untuk belajar kepadanya. Maka, pada tahun 1967 dibangunlah sebuah musholla sederhana yang terletak di muka ndalem beliau sebagai tempat untuk para santri yang mengaji. Di sinilah awal mula cikal bakal PP. Al Anwar.

Melihat besarnya animo dari para santri yang berkeinginan nyantri dan khidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair, maka dengan bangunan seadanya, musholla tersebut dijadikan sebagai pondok. Bangunan sederhana tersebut mereka gunakan untuk menginap sekaligus untuk lebih fokus dalam mengaji dan khidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Oleh mereka sendiri, pondok yang diasuh putra KH. Zubair ini diberi nama POHAMA yang merupakan kependekan dari Pondok Haji Maimoen. Kemudian selang beberapa tahun, untuk mengenang Abah beliau, KH. Zubair Dahlan yang sebelum menunaikan ibadah haji bernama KH. Anwar, POHAMA dirubah namanya menjadi Pondok Al-Anwar.

Perkembangan jumlah santri PP. Al Anwar cukup pesat, sehingga menuntut adanya pembangunan di bidang fisik. Pada tahun 1971, musholla direnovasi dengan menambahkan bangunan di atasnya yang kemudian di sebut dengan Khos Darussalam (DS), juga dibangun sebuah kantor yang berada di sebelah Selatan ndalem Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Seiring dengan bertambahnya santri, maka pembangunan secara fisik pun terus dilakukan. Tercatat pada tahun 1973, telah dibangun Khos Darunna'im (DN), tahun 1975 Khos Nurul Huda (NH), tahun 1980 Khos Al Firdaus, dan masih banyak lagi pembangunan fisik yang lain. Termasuk dibangunnya Gedung Serba Guna (GSG) PP. Al Anwar berlantai lima pada tahun 2004 yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Bapak DR. H. Hamzah Haz. Juga, pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid PP. Al Anwar yang setelah selesai pengerjaannya digunakan sebagai tempat pertemuan (Multaqo) alumni Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki Makkah Al-Mukarromah. Hingga saat ini pembangunan secara fisik terus berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan. Pada tahun 2012, telah selesai pembangunan khos baru dengan nama Darus Sunan Al-Arba’ah (DSA).

Seiring dengan perkembangan PP. Al-Anwar, berawal dari sebidang tanah yang dimiliki Syaikhina KH. Maimoen Zubair dan hasil pembelian tanah milik tetangga, juga termotivasi akan kondisi masyarakat sekitar pada saat itu yang belum rutin mengerjakan shalat 5 waktu serta minimnya kemampuan mereka dalam membaca Al-Qur'an, maka pada tahun 1977, Syaikhina KH. Maimoen Zubair bersama istri beliau, Nyai Hj. Masthi'ah, merintis berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-Anwar dengan membangun Musholla di belakang rumah yang semula berdindingkan anyaman bambo (gedhek).

 
Lambat laun masyarakat menunjukan perubahan, mereka mulai suka pergi ke musholla untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di sana, mulai dari shalat jama'ah hingga Diba'iyyah yang dilakukan setiap malam Jum'ah dan juga banyak anak-anak mereka yang mulai menetap di Musholla. Hingga sekarang (Tahun 2009 red), PP. Putri Al Anwar mengalami perkembangan yang pesat dengan + 500 santri yang menetap dan dengan fasilitas 29 kamar, perpustakaan, 6 auditorium dan masih banyak lagi fasilitas yang lainnya. Perkembangan pesantren yang diasuh tokoh ulama' yang sangat antipati terhadap penggunaan istilah Kitab salaf dengan nama kitab kuning (karena dinilai merupakan suatu penghinaan terhadap kitab salaf) ini sangat signifikan. Grafik menunjukkan pada tahun 2009, jumlah santri Al Anwar mencapai lebih dari 2000 santri, yang tersebar dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, baik Jawa maupun luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, Lampung bahkan sampai Papua. Juga, mereka terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari SD, MI, SLTP, SLTA sampai Sarjana.

Pada tahun 1995, KH. M. Najih Maimoen, putra Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang juga alumni dari pesantren Abuya Sayyid Muhammad Alawy Makkah Al-Mukarromah merintis dibangunnya khos Darusshohihain (DH) di bawah pengawasan Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliky. Juga, didirikan Khos yang khusus sebagai wadah bagi santri-santri putri yang berkeinginan untuk menghafal Al-Qur'an pada tahun 1996 di bawah asuhan Ibu Nyai Hj. Mutamimah Najih Maimoen yang notabene adalah seorang yang Hamilatul Qur'an.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Pesantren Al-Anwar adalah sistem salafiyah, di mana para santri diwajibkan mengikuti pengajian masyayikh atau ustadz, baik dengan pendekatan sistem bandongan (collective learning process) maupun sorogan (individual learning process). Juga, diharuskan bagi santri untuk mengikuti pendidikan Muhadloroh (MHD) atau Madrasah Ghozaliyyah Syafi'iyyah (MGS) sampai tingkat Aliyah dan melanjutkan pada Ma'had Aly yang mana sebelum resmi menjadi Ma'had Aly disebut dengan istilah PPTM (Program Pasca Tamatan Madrasah) dengan jenjang pendidikannya sampai dua tahun.

Kegiatan lain yang harus diikuti santri adalah Mudzakaroh, meliputi mudzakaroh Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Syarah Mahally dll. Mudzakaroh merupakan suatu bentuk pembahasan secara spesifik pada suatu kitab yang dijadikan bahan kajian yang kemudian diimplementasikan pada permasalahan-permasalahan yang ada. Dan juga masih banyak lagi kegiatan yang lain.

Perkembangan PP. Al Anwar terbagi menjadi tiga model. Pertama, PP. Al Anwar I yang dikhususkan bagi santri yang ingin mendalami ilmu-ilmu agama secara murni. Kedua, PP. Al Anwar II sebagai wadah bagi santri-santri yang ingin mempelajari sains dan teknologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama. Ketiga, PP. Al Anwar III sebagai wadah mencetak sarjana-sarjana yang islami. Letaknya pun terpisah, PP. Al-Anwar I terletak di desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Sedangkan PP. Al Anwar II dan PP. Al Anwar III ini terletak di Dusun Gondanrojo, Kalipang, Sarang, Rembang. Letaknya kurang lebih 3 km dari desa Karangmangu ke arah barat.

Menanggapi tuntutan zaman yang sangat menuntut kesiapan dalam segala aspek, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang yang notabenenya sebagai suatu lembaga Non Formal yang secara tegas mempertahankan nilai-nilai Salaf kini juga bersiap-siap menelurkan generasi yang juga dapat dibanggakan dalam bidang formal dengan tetap menjadikan pelajaran Salaf sebagai pondasi pembentukan akhlaq, dengan mendirikan suatu badan lembaga pendidikan formal di bawah naungan LP Ma'arif NU tingkat SD, SLTP danSLTA dengannama MI, MTs dan MA. AL-ANWAR.

Tujuan yang mendasar dari didirikannya MI, MTs dan MA Al Anwar tersebut tidak hanya untuk mempelajari ilmu-ilmu umum saja, tapi juga dikemas rapi dengan memasukkan pelajaran salaf guna memberikan bekal para muridnya untuk memperoleh keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK, sehingga pada akhirnya tujuan akhir kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai.

Pada 15 September 2003, awal sejarah diresmikannya sebuah lembaga formal yang didirikan oleh Syaikhina Maimoen Zubair yang bertujuan untuk dijadikan suatu tempat memperdalam ilmu-ilmu yang berbasis kompetensi sesuai rujukan dari pemerintah yang dalam hal ini dari Departemen Agama (sekerang Kementerian Agama) dan juga mempelajari ilmu-ilmu salaf yang menginduk dari Ponpes Al Anwar Sarang.

Tahun 2006, MTs Al Anwar telah meluluskan sekitar 121 siswa. Untuk saat ini MTs Al Anwar memiliki siswa 346 siswa dari kelas VII sampai dengan kelas IX. Sampai saat ini MTs Al Anwar terus berusaha untuk berbenah diri untuk selalu mensukseskan apa yang dikehendaki Syaikhina dengan selalu pro aktif dalam segala aspek demi tercapainya tujuan tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, pada 21 September 2006 Ponpes AL Anwar juga telah membuka lembaga pendidikan setingkat SLTA dengan nama Madrasah Aliyah Al Anwar yang sampai saat ini masih berjalan pada tahun ketiga, dengan jumlah siswa 243 siswa terbagi menjadi enam kelas, yaitu kelas putra 132 siswa dan 111 siswi. Dan pada tahun 2007 juga telah dibuka lembaga pendidikan setingkat SD dengan nama Madrasah Ibtida'iyah Al Anwar yang sampai saat ini telah berjalan pada tahun kedua dengan jumlah siswa 30 siswa siswi.

Namun meskipun demikian, konsep Salaf yang diusung oleh Program pendidikan berbasis formal ini sangat kental dan memang menjadi satu harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Hal inilah yang membuat Al-Anwar berbeda dengan lembaga pendidikan formal lainnya, yang memang menjadi agenda utama dari didirikannya MI, MTs dan MA Al Anwar serta Sekolah Tinggi Agama Islam Al Anwar (STAI Al-Anwar)

Infrastuktur dan segala hal yang dibutuhkan untuk menunjang hal tersebut diatas kini terus diupayakan oleh pihak Ponpes Al Anwar, baik dalam bentuk bangunan fisik maupun non fisik. Alhamdulillah, bertepatan dengan harlah PP Al Anwar ke-42 telah selesai dirampungkan dan sekaligus diresmikan pembangungan PP Al Anwar 2 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia DR. Ir. Muhammad Nuh DEA yang meliputi 1lokal gedung berlantai 2 untuk pemondokan santri putra dengan kapasitas tampung 300 santri dan satu kediaman KH Abdullah Ubab MZ (putra pertama Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang sekaligus menjadi pengasuh PP AL Anwar 2) dan 1 lokal Gedung untuk fasilitas pemondokan santri putri dengan kapasitas tampung 300 santri yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang proses belajar mengajar secara formal dan menjadi tempat menimba ilmu salaf sebagai fondasi dan bekal para santri. Pengadaan asrama bertujuan untuk menitiktekankan pada efektifitas pendalaman ilmu-ilmu salaf, karena nantinya juga akan diasuh oleh para ustadz di bawah naungan para masyayikh pondok pesantren Al-Anwar Sarang. Diharapkan para santri pada akhirnya betul-betul dapat terkondisikan dan selalu dalam pengawasan, dengan tujuan nantinya para siswa ini mampu terbiasa hidup disiplin, terampil, dan selalu menjadikan akhlaqul karimah sebagai nafas dalam kehidupannya.

Fasilitas yang ada di Al-Anwar III juga tidak kalah pentingnya. Mulai dari sarana prasana tempat kuliah hingga tempat pemondokan santri telah tersedia dengan bangunannya begitu megah. Bangunan di Al-Anwar III ini disebut dengan RUSUNAWA (Rumah Susun Al-Anwar) yang telah diresmikan oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si dan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz pada tahun 2012. Untuk ruang laboratorium Al-Anwar III telah diresmikan oleh DR. Ir. Muhammad Nuh DEA pada tahun 2013. Pesantren Al-Anwar III ini dikhususkan bagi mereka yang ingin melanjutnya pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Pesantren Al-Anwar III ini diasuh oleh Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar As-Syarief Mesir.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren Al Anwar tidaklah merubah karakter salafiyyah yang dimiliki tapi masih gentol untuk mempertahankannya, juga tidak menutup mata terhadap tuntutan zaman yang sarat dengan kemajuan dalam segala bidang utamanya dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan lainnya, namun dalam kaitan tersebut Pondok Pesantren Al-Anwar tetap menjadikan pelajaran-pelajaran salaf sebagai pondasi sehingga merupakan menu wajib yang harus ada dalam semua tingkat pendidikan yang ada.

 

Read More >>

TV ONE

TV One
Read More >>

Indosiar

Indosiar
Read More >>

Aljazeera

Aljazeera
Read More >>

SCTV

SCTV
Read More >>

Manfaat Sholat Tepat Pada Waktunya dan Akibat Bila Meninggalkan Sholat

Setiap peralihan waktu solat sebenarnya menunjukkan perubahan tenaga alam ini yang boleh diukur dan dicerap melalui perubahan warna alam.fenomena perubahan warna alam adalah sesuatu yang tidak asing bagi mereka yang terlibat dalam bidang fotografi,…Bagaimana pula dari kacamata Islam

Waktu Subuh
Sebagai contoh, pada waktu Subuh alam berada dalam spektrum warna biru muda yang bersamaan dengan frekuensi tiroid yang mempengaruhi sistem metabolisma tubuh.
Jadi warna biru muda atau waktu Subuh mempunyai rahsia berkaitan dengan penawar/rezeki dan komunikasi.
Mereka yang kerap tertinggal waktu Subuhnya ataupun terlewat secara berulang-ulang kali, lama kelamaan akan menghadapi masalah komunikasi dan rezeki.
Ini kerana tenaga alam iaitu biru muda tidak dapat diserap oleh tiroid yang mesti berlaku dalam keadaan roh dan jasad bercantum (keserentakan ruang dan masa) - dalam erti kata lain jaga daripada tidur.
Di sini juga dapat kita cungkil akan rahsia diperintahkan solat di awal waktu.
Bermulanya saja azan Subuh, tenaga alam pada waktu itu berada pada tahap optimum.
Tenaga inilah yang akan diserap oleh tubuh melalui konsep resonan pada waktu rukuk dan sujud.
Jadi mereka yang terlewat Subuhnya sebenar sudah mendapat tenaga yang tidak optimum lagi.
Waktu Dzuhor
Warna alam seterusnya berubah ke warna hijau (Isyraq & Dhuha) dan kemudian warna kuning menandakan masuknya waktu Zohor.
Spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi perut dan hati yang berkaitan dengan sistem penghadaman.
Warna kuning ini mempunyai rahsia yang berkaitan dengan keceriaan.
Jadi mereka yang selalu ketinggalan atau terlewat Zuhurnya berulang-ulang kali dalam hidupnya akan menghadapi masalah di perut dan hilang sifat cerianya. Orang yang tengah sakit perut ceria tak?
Waktu Asar
Kemudian warna alam akan berubah kepada warna oren, iaitu masuknya waktu Asar di mana spektrum warna pada waktu ini bersamaan dengan frekuensi prostat, uterus, ovari dan testis yang merangkumi sistem reproduktif.
Rahsia warna oren ialah kreativiti.
Orang yang kerap tertinggal Asar akan hilang daya kreativitinya dan lebih malang lagi kalau di waktu Asar ni jasad dan roh seseorang ini terpisah (tidur la tu).
Dan jangan lupa, tenaga pada waktu Asar ni amat diperlukan oleh organ-organ reproduktif kita.


Waktu Magrib
Menjelang waktu Maghrib, alam berubah ke warna merah dan di waktu ini kita kerap dinasihatkan oleh orang-orang tua agar tidak berada di luar rumah.
Ini kerana spektrum warna pada waktu ini menghampiri frekuensi jin dan iblis (infra-red) dan ini bermakna jin dan iblis pada waktu ini amat bertenaga kerana mereka resonan dengan alam.]
Mereka yang sedang dalam perjalanan juga seelok-eloknya berhenti dahulu pada waktu ini (solat Maghrib dulu la) kerana banyak interferens (pembelauan) berlaku pada waktu ini yang boleh mengelirukan mata kita.
Rahsia waktu Maghrib atau warna merah ialah keyakinan, pada frekuensi otot, saraf dan tulang.
Waktu Isyak
Apabila masuk waktu Isyak, alam berubah ke warna Indigo dan seterusnya memasuki fasa Kegelapan.
Waktu Isyak ini menyimpan rahsia ketenteraman dan kedamaian di mana frekuensinya bersamaan dengan sistem kawalan otak.
Mereka yang kerap ketinggalan Isyaknya akan selalu berada dalam kegelisahan.
Alam sekarang berada dalam Kegelapan dan sebetulnya, inilah waktu tidur dalam Islam.
Tidur pada waktu ini dipanggil tidur delta di mana keseluruhan sistem tubuh berada dalam kerehatan.
Qiamullail
Selepas tengah malam, alam mula bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana ianya bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus.
Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil Qiamullail.
Begitulah secara ringkas perkaitan waktu solat dengan warna alam.
Manusia kini sememangnya telah sedar akan kepentingan tenaga alam ini dan inilah faktor adanya bermacam-macam kaedah meditasi yang dicipta seperti taichi, qi-gong dan sebagainya.
Semuanya dicipta untuk menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh.
Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur kerana telah di’kurniakan’ syariat solat oleh Allah s.w.t tanpa perlu kita memikirkan bagaimana hendak menyerap tenaga alam ini.
Hakikat ini seharusnya menginsafkan kita bahawa Allah s.w.t mewajibkan solat ke atas hamba-Nya atas sifat pengasih dan penyayang-Nya sebagai pencipta kerana Dia tahu hamba-Nya ini amat-amat memerlukan-Nya.
Adalah amat malang sekali bagi kumpulan manusia yang amat cuai dalam menjaga solatnya tapi amat berdisiplin dalam menghadiri kelas taichinya.
Wallahualam.

Read More >>

Para ulama wajib bentengi umat dari liberalisasi dan sekularisasi

KH. Muh. Najih Maimoen : “Para ulama wajib bentengi umat dari liberalisasi dan sekularisasi”


Islam merupakan agama universal, ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia yang berlaku di setiap tempat dan masa. Universalisme Islam terintegrasi dan terkodifikasi dalam akidah, syariah, dan akhlak.
“Antara satu dan yang lainnya terdapat nisbat atau hubungan yang saling berkaitan dan kesem...uanya berfokus dan menuju pada ke-Esaan Allah atau bertauhid. Ajaran tauhid inilah yang menjadi inti, awal, dan akhir dari seluruh ajaran Islam,” jelas KH. Muh. Najih Maimoen. Putra kedua KH. Maimoen Zubair pengasuh PP. Al-Anwar Rembang ini berbicara pada acara Dauroh Ilmiah Hai’ah as-Shofwah di PP. Ihya’ussunnah, Rejoso, Pasuruan, Jatim, 23-25 Desember 2011.

KH. Najih Maimoen menyayangkan, tantangan dan hambatan justru bukan hanya datang dari musuh-musuh Islam, Zionis-Barat, tapi juga datang dari kaum muslimin sendiri. “Sungguh fenomena yang sangat menyedihkan umat Islam dihadapkan dengan berbagai pemurtadan, dengan berbagai macam konspirasi jahat Zionis Internasional dalam upaya perang pemikiran (ghozwul fikri) dalam rangka mendangkalkan aqidah untuk menjauhkan umat Islam dari Allah dan Rasul-Nya,” lanjutnya.

Pengasuh PP. Al-Anwar Rembang ini juga menyoroti fenomena liberalisme dan sekularisme yang melibatkan orang-orang Muslim yang bekerja dan menjadi antek Zionis-Barat; yang dijuluki sebagai intelektual muslim, tokoh masyarakat, bahkan kiai. “na'udzubillah min dzalik,” kata KH. Najih Maimoen prihatin.
Secara detail KH. Najih Maimoen menguraikan bahwa sekulerisme sebagai akar liberalisme masuk secara paksa ke Indonesia melalui proses penjajahan, khususnya oleh pemerintah Hindia Belanda. Prinsip negara sekuler telah termaktub dalam Undang-Undang Dasar Belanda tahun 1855 ayat 119 yang menyatakan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama, artinya tidak memihak salah satu agama atau mencampuri urusan agama.
“Prinsip sekuler dapat ditelusuri pula dari rekomendasi Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial untuk melakukan Islam Politik, yaitu kebijakan pemerintah kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, KH. Najih Maimoen menengarai bahwa berbagai bentuk pemikiran liberal sangat potensial untuk dapat tumbuh subur di Indonesia, baik liberalisme di bidang politik, ekonomi, atau pun agama.

Ditegaskan oleh beliau, dalam bidang ekonomi, liberalisme ini mewujud dalam bentuk sistem kapitalisme (economic liberalism), yaitu sebuah organisasi ekonomi yang bercirikan adanya kepemilikan pribadi (private ownership), perekonomian pasar (market economy), persaingan (competition), dan motif mencari untung (profit). 
Dalam bidang politik, liberalisme ini nampak dalam sistem demokrasi liberal yang meniscayakan pemisahan agama dari negara sebagai titik tolak pandangannya dan selalu mengagungkan kebebasan individu. 
“Dalam bidang agama, liberalisme mewujud dalam modernisme, yaitu pandangan bahwa ajaran agama harus ditundukkan di bawah nilai-nilai peradaban Barat,” jelasnya.

KH. Najih Maimoen menghimbau agar hal-hal seperti ini perlu mendapat perhatian yang sangat serius dari kalangan Muslim. Sebab, dampaknya akan dapat dilihat pada sekitar 10-20 tahun mendatang. Kita akan melihat, bagaimana akhir pertarungan pemikiran ini pada masa-masa itu. Apa yang akan terjadi? Dan apakah upaya dekonstruksi bangunan Islam ini akan berhasil? “Para ulama wajib bentengi umat dari liberalisasi dan sekularisasi,” tandasnya.
Read More >>