Menyembuhkan Luka Hati

(العجب كل العجب ممن يهرب مما لاانفكاك له عنه و يطلب ما لا بقاء له معه (فإنها لا تعمى الأبصار و لكن تعمى القلوب التى في الصدور

KH WAFI MZ “Keajaiban yang sungguh mengherankan ialah seseorang yang berlari dari sesuatu yang tidak mungkin lepas darinya. Dan (kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal bersama dirinya. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)

1. Penjelasan

Allah SWT adalah Dzat yang tak akan lepas/terpisah dari seorang manusia semenjak pertama kali ada hingga ia sampai ke dalam syurga atau malah kekal di dalam neraka. Baik ia kafir, fasik ataupun mukmin. Baik ia hidup di belahan bumi bagian barat maupun timur. Dalam semua keadaan, Allah SWT pasti selalu bersamanya. Sama saja apakah ia hidup di dunia fana ini ataupun menjalani kehidupan di akhirat kelak.

Namun kebersamaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan seorang manusia tidak terbatasi oleh posisi atau tempat tertentu dan tentunya tidak boleh di bayangkan dengan penggambaran-penggambaran yang menunjukkan keserupaan Allah SWT dengan makhluk. Maknaaa kebersamaan Allah SWT adalah bersama dengan ilmu, perlindungan dan pengaturan.

Allah SWT adalah satu-satunya Khaliq sedangkan selain Allah adalah makhluk. Apabila manusia hidup dengan dikelilingi berbagai macam makhluk, maka hal itu hanyalah sementara dan pasti segera meninggalkan atau ditinggalkannya. Mungkin ia akan mati lebih dahulu sehingga harus meninggalkannya dan mungkin juga makhluk yang melingkupinya musnah/pergi hingga ia berada jauh dari makhluk tersebut atau bahkan hilang sama sekali.

Tabiat manusia biasanya akan menyukai rumah yang telah ia bangun, perkakas-perkakas yang ia jadikan hiasan, anak dan istri, harta benda yang telah ia usahakan, pangkat yang ia miliki atau ketenaran yang ia nikmati dan sebagainya. Ia hanya melihat sebab dan media secara lahiriah tanpa menyadari adanya Dzat yang menjadikan sebab-sebab tersebut.

Ia memandang hujan yang turun dari langit kemudian berterima kasih kepada langit serta menceritakan agungnya kasih sayang langit. Saat melihat bumi yang menghijau oleh pepohonan atau mata air yang melimpah, maka hal itu hanya menggerakkan perasaannya untuk bersyukur kepada alam.

Mayoritas manusia beranggapan akan menjalani kehidupan yang panjang di dunia fana ini. Mereka mengumpulkan harta kekayaan dan menumpuk-numpuknya. Selalu mencari tambahan tanpa pernah puas karena terlanjur tergila-gila kepadanya. Mereka menjalin persahabatan dan koneksi-koneksi dengan mengatasnamakan sebagai perintah-perintah ketuhanan lalu berusaha mengabadikannya, namun sebenarnya alasan mereka hanyalah karena nafsu syahwat dan kenikmatan-kenikmatan yang ingin mereka rasakan selama-lamanya.

Akan tetapi, apakah hukum-hukum alam akan mengijinkan keabadian bayangan-bayangan mereka? Ataukah alam akan membiarkan ia hidup abadi bersama kesenangan-kesenangan yang mereka inginkan?

Sebenarnya Allah SWT telah menjadikan alam ini berbicara dan bahkan semua perkara yang ada di dunia ini berkata-kata melontarkan jawaban pada pertanyaan di atas. Hal itu bisa kita saksikan ketika Allah SWT menciptakan kebiasaan-kebiasaan alami yang tetap dan tidak berubah-ubah. Fase-fase wujud kehidupan segala sesuatu pasti tersusun dari permulaan yang lemah, semakin bertambah kekuatannya sedikit demi sedikit hingga mencapai puncaknya kemudian kembali lemah, layu, pudar dan akan hilang sama sekali.

Ini merupakan hukum alam yang selalu melekat kepada segala sesuatu di alam semesta, mulai dari manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, bunga-bunga yang bermekaran, hingga bintang-bintang dan bahkan bumi yang kita pijak setiap hari. Contoh yang sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sebatang pohon. Bermula dari sebiji benih yang merekah, berubah menjadi tumbuhan kecil lalu berkembang secara bertahap hingga mencapai puncaknya. Kemudian dengan segera akan mengalami fase-fase semakin lemah hingga layu dan akhirnya mati.

Kisah yang sama akan kita jumpai dalam perkembangan hidup bunga-bunga yang tumbuh pada musim tertentu, tumbuh dan berkembang kemudian layu dan hilang. Begitu juga matahari yang mengeluarkan sinar lemah di pagi hari lalu semakin terang hingga mencapai puncaknya pada siang hari. Kemudian kekuatan sinarnya akan semakin lemah hingga persis sebagaimana keadaannya di waktu terbit lalu akhirnya hilang dari pandangan.

Semua fenomena ala mini memberitahukan kepada kita tentang akhir yang akan menimpa segala sesuatu, yaitu musnah dan sirna. Tak lain agar kita tidak tertipu dan terperdaya oleh kekuatan dan kejayaan yang berada di depan kedua mata dengan iming-iming kebahagiaan yang tersimpan di balik semuanya.

2. Dalil

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al Hadid: 20)

Pemandangan yang semula tampak indah di depan mata lalu akhirnya layu, lemah kemudian hilang seperti dalam ayat di atas akan selalu berlaku dalam setiap kesenangan dan kemewahan duniawi yang kerap kali membutakan manusia. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Akal dan logika normal akan berkata, “Eratkanlah hubungan dan ikatanmu dengan Dzat yang menciptakan semua makhluk, yang memiliki kehendak dan kuasa serta mengatur dan menjaga semesta raya. Pergunakanlah apa yang kau butuhkan di dunia ini sebagai pinjaman yang wajib di kembalikan dan ingatlah bahwa apa yang kau lihat ini hanyalah substansi yang pasti akan segera hancur dan sirna.

Dengan begitu engkau akan melihat dan menerima perkara-perkara yang ada di dunia ini secara lahir, namun hatimu hanya berhubungan dan berpegangan kepada Dzat yang menciptakannya. Jika masanya selesai dan waktu perpisahan tiba, maka engkau akan tetap bersama Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna. Saat sebuah media yang ada dalam kekuasaanmu sirna, engkau tak akan bingung mencari sebab lain sebagai pegangan yang nantinya pun berakhir dengan kisah yang sama. Seperti seseorang yang berdiri di atas gumpalan salju, saat matahari memanasi bumi, salju akan melelh dan musnah. Akhirnya ia berpijak kepada bumi tanpa menyadari bahwa keadaan bumi akhirnya juga persis seperti salju. Dengan berpegang erat kepada Dzat yang menciptakan sebab, maka hilangnya perkara-perkara yang ada di hadapanmu tak akan berpengaruh apa-apa bagimu. Menjauhnya perantara tak akan berimbas buruk kepada kehidupanmu.

Setelah itu, saat episode kematian harus engkau jalani, maka takkan ada rasa sedih atau putus asa atas perpisahanmu dengan dunia. Hal itu karena engkau tahu bahwa dunia ini hanyalah perantara yang mengantarkanmu menuju kehidupan yang lebih mulia. Kematian juga tidak pernah memisahkanmu dengan teman yang selalu bersamamu dan menjadi satu-satunya pegangan dalam hidupmu. Maut yang mendatangimu tidaklah memutuskan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa. Yaitu hubungan yang telah engkau jalin selama hidup di dunia fana.

Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memberi pengaruh, maka ia pastinya akan mengalami kehidupan alam barzakh yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di bumi. Kalau ia mengalami perubahan dan pergerakan di dunia dengan tetap selalu bersama Allah Yang Maha Pencipta, maka ketika ia sendirian terkubur dalam perut bumi pastinya juga bersama dengan Allah SWT. Bahkan ia akan lebih senang karena ia telah terpisah dari materi-materi dunia yang membingungkan dan menyesatkan.

Saat hari kiamat tiba dan nyawa-nyawa dikembalikan ke dalam jasadnya masing-masing, lalu semua manusia digiring ke hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia semakin bertambah gembira dan merasa bahagia. Bagaimana tidak? Ia telah menjalani tahap demi tahap kehidupan selama ini tanpa pernah terlepas dari Allah SWT. Sedangkan hari ini adalah waktunya untuk menghadap Allah SWT. Pasti ia akan merasa lebih bahagia dan hubungannya ikatannya akan semakin erat terjalin bersama Allah SWT.

3. Misteri keajaiban

Dengan demikian, layak sekali kalau sekarang ini kita bersama Ibnu ‘Athaillah terheran-heran dan terkagum-kagum kepada orang-orang yang berlari ingin meninggalkan Tuhan yang tak mungkin kekal bersamanya. Hal ini terjadi karena mereka hanya melihat dan mempergunakan media dan perantara secara lahiriah, berpegangan serta mengandalkan kemewahan yang mereka nikmati, namun mereka lupa dan lalai kepada Tuhan yang menganugerahkan segala kenikmatan tersebut. Bahkan mungkin juga mereka mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Pencipta.

Kekaguman ini sangat wajar karena sebenarnya akal dan mata batin orang tersebut telah mengetahui bahwa media yang mereka nikmati dan mereka pergunakan adalah sesuatu yang pasti sirna dan tak akan abadi. Logika mereka juga mengerti bahwa dalam sebab-sebab lahiriah itu telah melekat tabiat rusak dan musnah.

Yang lebih mengherankan, setiap hari ia melihat sirnanya kenikmatan-kenikmatan duniawi itu dan ia juga menyaksikan hilang atau menjauhnya kesenangan meninggalkan orang-orang yang bergantung kepada materi-materi tersebut. Semua itu benar-benar meninggalkan mereka atau sebaliknya malah mereka sendiri yang meninggalkan segalanya. Hanya satu yang tak pernah lepas dari mereka, yaitu Tuhan yang selalu menyertai sepanjang hidup yang mereka jalani. Dengan kenyataan seperti ini, ternyata ia masih mengandalkan dunia yang ada di depan mata dan bahkan berlari menjauhi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Selain fakta dan kenyataan yang sangat jelas tersebut, ia sebenarnya sangat sering mendengar nasehat serta peringatan-peringatan tentang keburukan dan bahaya dunia. Anehnya ia masih saja berpijak kepada sebongkah salju tanpa peduli apakah ia nantinya akan terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, ketika salju tersebut akhirnya leleh dan mencair.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.”(QS. An Nur: 39)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al Kahfi: 46)

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maksudnya, hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.”(QS. Al Qashash: 60)

4. Koneksi yang serasi

Menjalin hubungan dengan Allah SWT bukanlah berarti meninggalkan materi-meteri dunia secara total. Hal itu karena dunia ini diciptakan oleh Allah SWT sebagai anugerah yang disediakan untuk manusia seluruhnya. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak rela apabila manusia berpaling sama sekali meninggalkan dunia.

Seorang muslim hanyalah dituntut agar ia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang memberikan anugerah dan pemberian. Dengan begitu ia tidak akan mencari rizqi selain dari Allah SWT. Ia harus tahu hanya Allah –lah yang menciptakan semua sebab yang timbul di dunia ini. Akhirnya ia tidak akan menyangka bahwa sebab-sebab lahiriah itu mempunyai pengaruh-pengaruh yang harus di perhitungkan. Ia harus sadar bahwa dunia yang tampak elok dan sedap di pandang serta enak untuk dinikmati, itu pasti akan segera pergi atau bahkan sirna sama sekali. Tak ada teman, sahabat, keluarga ataupun kekasih yang setia bersamanya selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan keyakinan seperti ini, maka ia tidak akan pernah condong kepada dunia. Segenap jiwanya hanya tertertuju kepada Allah SWT, satu-satunya Dzat yang menjadi pelipur lara hatinya, tempat berlindung serta sumber kebahagiaannya. Itulah keadaan seorang mu’min sejati.

Secara lahir ia menggunakan berbagai sarana dunia, namun hatinya hanya meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan semua itu. Hatinya selalu ingat dan terhubung kepada Allah yang menganugerahkan segala macam nikmat. Saat perasaan takut menghampiri, tak ada tempat pengaduan dan tempat berlindung selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jiwanya senantiasa diliputi ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.

5. Kisah teladan

Seorang lelaki shalih harus meninggalkan desanya karena suatu tuntutan urusan keagamaan. Ia memutuskan sebuah desa baru sebagai tempat tinggalnya. Suatu saat, seorang imam masjid yang menjadi tempat biasa shalat sang lelaki tersebut berkenalan dengannya. Si imam masjid bertanya mengenai sumber perekonomian sang lelaki hingga kemudian ia menjawab dengan tenang bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah melupakannya.

Setelah beberapa hari berlalu, syaikh imam masjid kembali menanyakan keadaan sang lelaki shalih dan ingin tahu lebih jelas tentang sumber penghidupannya. Lelaki itupun meyakinkan kembali bahwa Allah SWT selalu memberikan anugerah kepadanya dan ia sama sekali tidak merasakan kesulitan dalam hal rizqi.

Jawaban tersebut ternyata belum memuaskan sang imam masjid, sehingga dalam pertemuan yang ketiga ia bertanya lagi kepada si lelaki shalih, “Dari mana sesungguhnya engkau mendapatkan penghidupan?”, si lelaki menjawab, “Sebenarnya di desa ini ada seorang Yahudi yang mengenal dan mengerti kondisiku. Ia kemudian mengirimkan sebagian hartanya kepadaku, hingga cukup untuk memnuhi kebutuhanku sehari-hari”.

Syaikh imam masjid berkata, “baiklah kalau begitu, sungguh baru sekarang kegelisahanku yang selama ini menyelimutiku, hilang dan sirna”. Lelaki shalih tersebut kemudian menimpali, “Wahai orang yang ada di depanku, sunggu aku bersumpah untuk melakukan qadha’ atas shalat-shalat yang aku dirikan di belakangmu. (kiasan bahwa pada saat itu, sang imam berada dalam keadaan yang kurang sempurna imannya). Berkali-kali aku telah meyakinkanmu, sesungguhnya Allah SWT telah menjamin rizqiku dan tak akan melupakanku, tapi mengapa hal itu belum bisa menenangkanmu. Namun sebaliknya, saat aku memberitahukan kepadamu bahwa yang membantu permasalahan rizqiku adalah seorang Yahudi, engkau baru percaya akan adanya jaminan dan tanggungan Allah SWT.

Seperti itulah keadaan sebagian besar kaum muslim dewasa ini. Mereka mengagungkan dan membangga-banggakan materi serta bentuk-bentuk lahiriah, hingga melalaikan siapa yang menciptakan semua itu. Akhirnya mereka hidup dalam imajinasi dan khayalan, tanpa mengerti substansi sebenarnya. Mereka terperangkap oleh fatamorgana yang tiada berwujud nyata, sehingga lupa kepada Dzat yang memiliki eksistensi paling nyata memenuhi semesta raya. Mereka berbicara mengenai kasih sayang langit, namun tak menyadari Dzat yang menciptakan dan sangat mengasihinya. Mereka tak memperhitungkan tangan yang penuh belas kasih, menyuapkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut mereka, namun malah membangga-banggakan sendok yang menuangkan makanan, mengisi sudut-sudut mulut mereka.

6. Di balik misteri

Ibnu ‘Athaillah mengakhiri hikmah ini dengan sebuah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS. Al Hajj: 46)

Read More >>

Dasar Penciptaan Manusia Adalah Untuk Beribadah

jin__manusia_diciptakan_untuk_ “Orang yang banyak membaca tapi tak pernah menulis, itu adalah orang yang sakit. Seperti orang yang banyak makan, tapi tak buang air besar.” Habiburrahman al-Shirazy.

Jika kita mau menengok sejarah bangsa Indonesia dan umat-umat terdahulu yang kaya akan budaya dan peradaban, niscaya kita akan mengetahui betapa besarnya perhatian mereka terhadap perkembangan hasanah intelektual. Kita bisa mengetahui semua itu lewat peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti, artefak dan karya tulis. Mereka sadar betul akan pentingnya suatu karya untuk generasi yang akan datang. Sebab dari sebuah karya tadi dapat diketahui bahwa di zaman itu ada suatu kemajuan atau kemerosotan. Sendainya tidak ada tulisan, baik yang tertera di dalam prasasti atau sebuah buku kuno yang dikarang para pujangga atau para empu, niscaya kita akan hidup dalam kebingungan. Kalau mengandalkan tutur kata dan cerita rakyat yang diwarisi secara turun temurun, bisa dikawatirkan akan adanya perubahan yang tidak sesuai dengan kejadian yang asli. Hal ini disebabkan ingatan manusia itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Imam Malik Ra berkata,”Ilmu itu bagaikan binatang buruan yang liar, dan tulisan adalah sebagai pengendalinya. Maka kendalikanlah binatang buruan tadi dengan kendali yang kuat dan kokoh.”

Ilmu yang sedikit jika kita mau menulisnya, maka dia akan menjadi banyak, sebab dibaca oleh generasi setelahnya. Dan ilmu yang banyak apabila tidak ditulis maka akan hilang bersama pemiliknya. Ahmad Thohari di dalam buku antologi cerpen pesantren “ludah Surga” pernah mengutip sebuah pepatah,”Ilmu yang berhenti itu malah menjadi penyakit.” Jadi, jangan jadikan ilmumu menjadi sebuah penyakit sebab tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Dalam menulis tidak membutuhkan banyak persyaratan. Menulis itu yang dibutuhkan adalah keinginan yang kuat dan ketekunan. Biarpun status kita adalah orang yang rendah di mata manusia, tapi kalau kita mempunyai kemauan dan ketekunan untuk menulis dan berkarya, insyaallah kita akan menjadi seorang penulis. Imam al-Ghazali mengatakan, “Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka jadilah seorang penulis.”

Seorang penulis itu tidak merasa terhalangi untuk menuangkan tulisannya dengan sedikitnya fasilitas yang kurang memadai. Mereka tetap semangat dengan keadaan yang ada. Kalau kita mau menengok sejarah di awal Islam. Menulis pernah dikerjakan dengan memakai pelapah kurma, yaitu masa penulisan wahyu Allah atau al-Quran. Dan juga, ada yang memakai tulang, seperti imam As-Syafi’i. Sampai-sampai tendanya penuh dengan tulang, sebab banyaknya ilmu yang ia tulis dari para ulama. Sehingga dari banyaknya tulisan yang ditinggalkan oleh Imam As-Syafi’i menjadikan beliau ada sampai sekarang. Dalam arti, banyak kaum muslimin yang mengikuti madzhabnya. Sebab sebenarnya imam madzhab itu banyak. Tapi, karena tidak adanya karya yang ditinggalkan, maka yang diakui oleh para ulama hanya ada empat, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Hal ini disebabkan keempat imam tersebut meninggalkan karya tulis yang dilestarikan oleh pengikutnya masing-masing sampai zaman sekarang.

Orang yang sudah mempunyai keinginan atau bakat untuk menulis, tidak ada alasan untuk merasa terhalangi oleh sesuatu untuk menghasilkan karya tulis. Musibah dan ujian, jika bisa bersikap sahabat dengannya, niscaya dia akan menjadi sahabat kita juga. Dia akan menjadikan tulisan kita lebih terkesan karena penuh dengan perjuangan. Ahmad bin Hanbal yang pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan sebab itu ia dapat menguasai qiraah sab'ah. Malik bin ar-Raib salah seorang penderita penyakit yang mematikan, namun dengan penyakit itu ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah yang tidak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali. Dan Buya Hamka yang pernah dikurung dibalik jeruji, justru ia dapat menyesaikan sebuah karyanya yang agung, yaitu tafsir al-Azhar.

Orang yang meninggalkan sebuah karya tulis meskipun jasadnya sudah terkubur di balik tanah selama bertahun-tahun, namun dia seolah-olah masih hidup dalam keabadian. Namanya terukir di tinta emas sepanjang masa. Dan orang yang tidak mau menulis apabila sudah mati, maka namanya hilang dengan jalannya masa, meskipun dia orang yang pandai. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wallahu a’lam.

 

Read More >>

Arti Sebuah Karya Tulis Dr. Said Romadlon Al Buthy

write-by-science-news-dot-org

Dr. Sa’id Romdlon al-Buthy berkata, “Saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa yang membuat saya tetap menulis dan menulis? Kalau untuk kemashuran, saya telah  mendapatkan lebih dari pada yang saya harapkan. Kalau untuk kesejahteraan dan kekayaan, Allah telah menganugerahi saya lebih dari pada yang saya butuhkan. Dan kalau ingin dihormati orang, saya sudah memperoleh lebih dari pada yang layak saya terima. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa keinginan yang saya sebut tadi sia-sia dan hampa kecuali seuntai doa yang dihadiahkan kepada saya dari seorang muslim yang tidak saya kenal.”

"Menulis," sebuah konsep yang mudah dituturkan dengan lisan. Namun, terkadang sulit diimplementasikan. Tapi, terkadang juga mudah bagi mereka yang sudah membiasakan diri dan tertembaga dalam hati sanubari. Sebab dalam dunia menulis, modal awal yang dibutuhkan adalah sering membiasakan menulis. Entah dalam kontek apa, yang penting menulis. Dalam dunia menulis juga tidak terlalu membutuhkan intelektual yang tinggi. Tapi, cukup intelektual yang sederhana. Banyak sekali orang yang ilmunya tinggi, tetapi dia lemah dalam menuangkan ke dalam tekstual, karena tidak biasa menulis. Dan banyak orang yang akalnya sedang-sedang saja, tetapi dia lihai berimajinasi dalam dunia menulis.

Mengapa harus menulis? Karena dengan menulis dapat menjadikan sesuatu yang asalnya tiada menjadi ada. Dan dengan menulis pula dapat memberi kabar bagi selain kita tentang apa yang kita ketahui. Manfaatnya, kejadian yang seharusnya dikerjakan karena adanya suatu manfaat bisa di kerjakan oleh orang lain. Dan kejadian yang seharusnya ditinggalkan, karena adanya suatu madharot atau bencana bisa ditinggalkan orang lain. Sehingga bencana yang sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang, karena sudah adanya warning dari seorang penulis.

Coba bayangkan seandainya tidak ada tulisan, yang tentunya akan membuat diri kita hidup dalam dunia yang tidak menentu. Hal tersebut terjadi karena kekurangan ilmu dan wawasan yang luas. Sebab kalau kita mengandalkan tutur kata yang ditransmisikan oleh seorang guru kepada seorang murid, akal kita tidak akan mampu menyimpan semuanya ke dalam memori. Zaman kita bukan lagi zaman sahabat yang hidup di masa Rasulullah SAW, yang selalu mendapat sinar keagungan dari beliau. Setiap apa yang sahabat dengar dari ilmu yang telah dituturkan oleh Rasulullah SAW bisa terekam di memori mereka dengan baik.

Meskipun para sahabat hafalannya sangat kuat, mereka tidak bisa melepaskan diri dari apa yang namanya menulis. Mereka menulis yang namanya wahyu. Penulisan dikerjakan dengan alat seadanya, seperti pelapah kurma yang terpencar-pencar di tangan para sahabat. Kemudian tulisan wahyu ini disempurnakan pada masa Khalifah Usman Bin Affan. Maka terbentuklah mushaf Ustmani yang dikepalai oleh Zaid Bin Tsabit.

Dari khalifah Ustman bin Affan, kemudian karya tulis bersafari menuju zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah bani Umayyah yang masih ada kerabat dengan Umar bin Khattab. Pada masa ini, dunia menulis terus berjalan seiring dengan waktu. Hingga suatu saat khalifah Umar bin Abdul Aziz memberi rekomendasi kepada imam az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihhab az-Zuhri) untuk menulis dan membukukan hadis nabawi. Hal ini dikarenakan beliau kawatir akan hilangnya hadis nabi tersebut bersama dengan periwayatannya ke alam kubur.

Yang paling menonjol dalam dunia penulisan Islam yang menghasilkan karya agung, yang patut diabadikan dengan tinta emas dengan ditaburi minyak kasturi di kanan kiri adalah penulisan yang pernah diraih pada masa kejayaan daulah bani Abbasiyyah (Bagdad) dan kerajaan bani Umayyah (Spanyol). Kedua kerajaan besar inilah mengeluarkan output-output yang menyinari dunia lewat ilmu pengetahuan yang di tuangkan dalam sebuah karya tulis. Bukan hanya ruang lingkup agama, melainkan mencakup segala aspek ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Seperti Ibnu Sina (ahli kedokteran), Abu Bakar ar-Rozi (penemu penyakit cacar), Ibnu Nafs (ahli biologi), Imam al- Ghazali (ahli filsafat), Ahmad bin Muhammad (penemu angka nol), Umar Khayyan (ahli kimia) Ibnu Malik (ahli sastra Arab) dan lain-lain. Kalau orang Yunani punya Plato, kita umat Islam punya Imam al-Ghazali. Kalau orang Barat punya Karl Mark, kita punya Ibnu Sina yang mampu mempunyai sebuah karangan al-Qonnun fittib lebih lengkap dari karya Karl Mark dalam masalah ilmu kedokteran, Sehingga Ibnu Sina lebih layak untuk diberi gelar bapak ilmu kedokteran bila dibandingkan dengan yang lainnya. Banyak sekali orang Barat yang menjadikan kitab Ibnu Sina sebagai rujukan dalam ilmu kedokteran.

Mengapa kami perlu memaparkan masa golden histori of Islamic? Hal itu semata-mata kami ingin umat Islam di zaman sekarang bisa bercermin dari kejayaan masa silam. Sehingga kita bisa tergugah dan bangkit dengan semangat dalam dunia tulis menulis. Memang benar bagi kita sekarang sangatlah sulit meniru prestasi yang dipredikatkan pada golden histori of Islamic. Namun, paling tidak kita bisa mengaca dan meniru secercah dari apa yang mereka raih.

Perlu kita sadari, di zaman globalisasi ini, orang yang tidak mempunyai skill akan diasingkan dalam percaturan hidup dan tidak bisa lulus dari seleksi alam. Banyak dari mereka menjadi tersia-sia. Lebih-lebih para intelektual muslim yang tidak mempunyai skill kerja. Dan tidak pula mempunyai ijazah yang tinggi. Dia hanya punya ilmu yang luas. Maka solusi yang tepat bagi mereka adalah menulis. Tuangkan intelektual anda. Jangan sampai ada karya yang ada kaitannya dengan Islam ditulis oleh orang yang non muslim. Tahukah anda tentang kamus Arab Munjid? Ternyata pengarangnya bukan umat Islam. Tetapi pendeta Nasrani yang bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i . Padahal kamus tersebut telah tersebar dibelahan dunia dan banyak dikomsumsi oleh umat muslim.

Imam al-Ghazali berkata, ''Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama` besar, maka jadilah seorang penulis.'' Marilah kita meniru jejak ulama'-ulama' terdahulu yang selalu rajin menulis sebuah karya. Karya-karya mereka bisa kita nikmati sampai sekarang ketika kita membaca buku milik pribadi atau milik perpustakaan.

Read More >>

Berkarya Menuju Keabadian

menlis “Orang yang banyak membaca tapi tak pernah menulis, itu adalah orang yang sakit. Seperti orang yang banyak makan, tapi tak buang air besar.” Habiburrahman al-Shirazy.

Jika kita mau menengok sejarah bangsa Indonesia dan umat-umat terdahulu yang kaya akan budaya dan peradaban, niscaya kita akan mengetahui betapa besarnya perhatian mereka terhadap perkembangan hasanah intelektual. Kita bisa mengetahui semua itu lewat peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti, artefak dan karya tulis. Mereka sadar betul akan pentingnya suatu karya untuk generasi yang akan datang. Sebab dari sebuah karya tadi dapat diketahui bahwa di zaman itu ada suatu kemajuan atau kemerosotan. Sendainya tidak ada tulisan, baik yang tertera di dalam prasasti atau sebuah buku kuno yang dikarang para pujangga atau para empu, niscaya kita akan hidup dalam kebingungan. Kalau mengandalkan tutur kata dan cerita rakyat yang diwarisi secara turun temurun, bisa dikawatirkan akan adanya perubahan yang tidak sesuai dengan kejadian yang asli. Hal ini disebabkan ingatan manusia itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Imam Malik Ra berkata,”Ilmu itu bagaikan binatang buruan yang liar, dan tulisan adalah sebagai pengendalinya. Maka kendalikanlah binatang buruan tadi dengan kendali yang kuat dan kokoh.”

Ilmu yang sedikit jika kita mau menulisnya, maka dia akan menjadi banyak, sebab dibaca oleh generasi setelahnya. Dan ilmu yang banyak apabila tidak ditulis maka akan hilang bersama pemiliknya. Ahmad Thohari di dalam buku antologi cerpen pesantren “ludah Surga” pernah mengutip sebuah pepatah,”Ilmu yang berhenti itu malah menjadi penyakit.” Jadi, jangan jadikan ilmumu menjadi sebuah penyakit sebab tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Dalam menulis tidak membutuhkan banyak persyaratan. Menulis itu yang dibutuhkan adalah keinginan yang kuat dan ketekunan. Biarpun status kita adalah orang yang rendah di mata manusia, tapi kalau kita mempunyai kemauan dan ketekunan untuk menulis dan berkarya, insyaallah kita akan menjadi seorang penulis. Imam al-Ghazali mengatakan, “Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka jadilah seorang penulis.”

Seorang penulis itu tidak merasa terhalangi untuk menuangkan tulisannya dengan sedikitnya fasilitas yang kurang memadai. Mereka tetap semangat dengan keadaan yang ada. Kalau kita mau menengok sejarah di awal Islam. Menulis pernah dikerjakan dengan memakai pelapah kurma, yaitu masa penulisan wahyu Allah atau al-Quran. Dan juga, ada yang memakai tulang, seperti imam As-Syafi’i. Sampai-sampai tendanya penuh dengan tulang, sebab banyaknya ilmu yang ia tulis dari para ulama. Sehingga dari banyaknya tulisan yang ditinggalkan oleh Imam As-Syafi’i menjadikan beliau ada sampai sekarang. Dalam arti, banyak kaum muslimin yang mengikuti madzhabnya. Sebab sebenarnya imam madzhab itu banyak. Tapi, karena tidak adanya karya yang ditinggalkan, maka yang diakui oleh para ulama hanya ada empat, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Hal ini disebabkan keempat imam tersebut meninggalkan karya tulis yang dilestarikan oleh pengikutnya masing-masing sampai zaman sekarang.

Orang yang sudah mempunyai keinginan atau bakat untuk menulis, tidak ada alasan untuk merasa terhalangi oleh sesuatu untuk menghasilkan karya tulis. Musibah dan ujian, jika bisa bersikap sahabat dengannya, niscaya dia akan menjadi sahabat kita juga. Dia akan menjadikan tulisan kita lebih terkesan karena penuh dengan perjuangan. Ahmad bin Hanbal yang pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan sebab itu ia dapat menguasai qiraah sab'ah. Malik bin ar-Raib salah seorang penderita penyakit yang mematikan, namun dengan penyakit itu ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah yang tidak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali. Dan Buya Hamka yang pernah dikurung dibalik jeruji, justru ia dapat menyesaikan sebuah karyanya yang agung, yaitu tafsir al-Azhar.

Orang yang meninggalkan sebuah karya tulis meskipun jasadnya sudah terkubur di balik tanah selama bertahun-tahun, namun dia seolah-olah masih hidup dalam keabadian. Namanya terukir di tinta emas sepanjang masa. Dan orang yang tidak mau menulis apabila sudah mati, maka namanya hilang dengan jalannya masa, meskipun dia orang yang pandai. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wallahu a’lam.

Read More >>

Pentingnya Mencari Ilmu

keutamaan_ilmu2 “Orang yang banyak membaca tapi tak pernah menulis, itu adalah orang yang sakit. Seperti orang yang banyak makan, tapi tak buang air besar.” Habiburrahman al-Shirazy.

Jika kita mau menengok sejarah bangsa Indonesia dan umat-umat terdahulu yang kaya akan budaya dan peradaban, niscaya kita akan mengetahui betapa besarnya perhatian mereka terhadap perkembangan hasanah intelektual. Kita bisa mengetahui semua itu lewat peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti, artefak dan karya tulis. Mereka sadar betul akan pentingnya suatu karya untuk generasi yang akan datang. Sebab dari sebuah karya tadi dapat diketahui bahwa di zaman itu ada suatu kemajuan atau kemerosotan. Sendainya tidak ada tulisan, baik yang tertera di dalam prasasti atau sebuah buku kuno yang dikarang para pujangga atau para empu, niscaya kita akan hidup dalam kebingungan. Kalau mengandalkan tutur kata dan cerita rakyat yang diwarisi secara turun temurun, bisa dikawatirkan akan adanya perubahan yang tidak sesuai dengan kejadian yang asli. Hal ini disebabkan ingatan manusia itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Imam Malik Ra berkata,”Ilmu itu bagaikan binatang buruan yang liar, dan tulisan adalah sebagai pengendalinya. Maka kendalikanlah binatang buruan tadi dengan kendali yang kuat dan kokoh.”

Ilmu yang sedikit jika kita mau menulisnya, maka dia akan menjadi banyak, sebab dibaca oleh generasi setelahnya. Dan ilmu yang banyak apabila tidak ditulis maka akan hilang bersama pemiliknya. Ahmad Thohari di dalam buku antologi cerpen pesantren “ludah Surga” pernah mengutip sebuah pepatah,”Ilmu yang berhenti itu malah menjadi penyakit.” Jadi, jangan jadikan ilmumu menjadi sebuah penyakit sebab tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Dalam menulis tidak membutuhkan banyak persyaratan. Menulis itu yang dibutuhkan adalah keinginan yang kuat dan ketekunan. Biarpun status kita adalah orang yang rendah di mata manusia, tapi kalau kita mempunyai kemauan dan ketekunan untuk menulis dan berkarya, insyaallah kita akan menjadi seorang penulis. Imam al-Ghazali mengatakan, “Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka jadilah seorang penulis.”

Seorang penulis itu tidak merasa terhalangi untuk menuangkan tulisannya dengan sedikitnya fasilitas yang kurang memadai. Mereka tetap semangat dengan keadaan yang ada. Kalau kita mau menengok sejarah di awal Islam. Menulis pernah dikerjakan dengan memakai pelapah kurma, yaitu masa penulisan wahyu Allah atau al-Quran. Dan juga, ada yang memakai tulang, seperti imam As-Syafi’i. Sampai-sampai tendanya penuh dengan tulang, sebab banyaknya ilmu yang ia tulis dari para ulama. Sehingga dari banyaknya tulisan yang ditinggalkan oleh Imam As-Syafi’i menjadikan beliau ada sampai sekarang. Dalam arti, banyak kaum muslimin yang mengikuti madzhabnya. Sebab sebenarnya imam madzhab itu banyak. Tapi, karena tidak adanya karya yang ditinggalkan, maka yang diakui oleh para ulama hanya ada empat, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Hal ini disebabkan keempat imam tersebut meninggalkan karya tulis yang dilestarikan oleh pengikutnya masing-masing sampai zaman sekarang.

Orang yang sudah mempunyai keinginan atau bakat untuk menulis, tidak ada alasan untuk merasa terhalangi oleh sesuatu untuk menghasilkan karya tulis. Musibah dan ujian, jika bisa bersikap sahabat dengannya, niscaya dia akan menjadi sahabat kita juga. Dia akan menjadikan tulisan kita lebih terkesan karena penuh dengan perjuangan. Ahmad bin Hanbal yang pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan sebab itu ia dapat menguasai qiraah sab'ah. Malik bin ar-Raib salah seorang penderita penyakit yang mematikan, namun dengan penyakit itu ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah yang tidak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali. Dan Buya Hamka yang pernah dikurung dibalik jeruji, justru ia dapat menyesaikan sebuah karyanya yang agung, yaitu tafsir al-Azhar.

Orang yang meninggalkan sebuah karya tulis meskipun jasadnya sudah terkubur di balik tanah selama bertahun-tahun, namun dia seolah-olah masih hidup dalam keabadian. Namanya terukir di tinta emas sepanjang masa. Dan orang yang tidak mau menulis apabila sudah mati, maka namanya hilang dengan jalannya masa, meskipun dia orang yang pandai. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wallahu a’lam.

 

PP Al Anwar Tag :, ,
Read More >>

Peradaban Arab Dalam Al Qur'an

al-quran-2 Dalam studi-studi al quran, (sesuai pengamatan subyektif saya) kita sering terjebak dalam lingkaran episteme-episteme Ilahiyyat. Misalkan, ketika kita memulai studi ini, kita langsung dihadapkan pada devinisi al-Quran yang "entah kenapa" sering mengajak penelaahnya untuk melangkah pada dimensi Ilahiyyat ini. Saya, sebagai contoh, sejak kecil sudah dikasih pelajaran Tafsir (setidak-tidaknya Jalalain), tapi "entah kenapa" saya tidak begitu terusik untuk menanyakan, misalnya, pada ardhiyyah budaya bagaimanakah al-Quran itu diturunkan? (dua baris kata dalam tanda petik bisa kita diskusikan bersama).

Memang dimensi Ilahiyyat ini adalah suatu keniscayaan, namun persoalannya jadi lain ketika akibatnya, dimensi kemanusiaan al-Quran terlupakan, atau setidak-tidaknya amat ketinggalan. Ini lain tentunya dengan metodologi yang dibangun oleh para orientalis untuk studi-studi al-Quran, di mana dimensi kemanusiaan dalam studi-studi mereka seringkali mendapatkan porsi yang cukup. Karen Armstrong misalnya, ketika menyinggung soal i'jazul Quran, ia tidak dipusingkan dengan nilai sastra-nya yang begitu tinggi, juga tidak oleh berapa jumlah kalimatnya yang berlawanan, ia hanya mencukupkan bahwa al-Quran dalam beberapa abad, sejak diturunkannya hingga sekarang tetap mampu menjadi sumber inspirasi kaum Muslimin.

Ironisnya, kesadaran akan orisinilitas metodologi ini justru dimotori oleh mereka yang sering kita sebut sebagai sekuler dalam arti yang negatif. Kenapa ironis? Karena hal demikian ini akhirnya memposisikan kita (Islamiyyun) hanya sebagai mudafi' (re-aktif) dan bukan muhajim (pro-aktif). Makanya, dalam literasi Universitas kebanggaan kita, kita benar-benar di"kenyangkan" dengan sub judul "difa' 'an al shubuhat", tapi sangat jarang kita dikenalkan dengan objek studi itu sendiri secara komprehensif.

***

Disebutkan dalam Surat 12:02, 20:113, 39:28, 41:03, 42:07 dan 43:03, "Quraanan 'arobiyyaa", dua baris kata yang belum banyak tersentuh dengan baik secara analitis. Dua kalimat ini bukan saja berarti al Quran yang berbahasa Arab, tapi lebih dari itu, ia juga berarti al Quran yang dalam setiap penggunaan kalimatnya menyimpan tata-cara kehidupan bangsa Arab.

Kalau hendak membuat gambaran yang mudah, bisa dimisalkan demikian: al-bait, dalam artinya yang umum, adalah sebuah bangunan sedemikian rupa hingga layak untuk dijadikan sebagai tempat tinggal. Tapi coba kalimat tsb kita ucapkan didepan orang Mesir dan orang Indonesia, maka nanti yang akan terbayang oleh orang Mesir adalah sebuah bangunan yang membumbung tinggi. Sementara yang terbayang dalam benak orang Indonesia adalah sebuah bangunan yang ada gentengnya .. halamannya .. dst. Barangkali memang benar bahwa setiap kalimat pasti menyimpan nilai-nilai kebudayaan, yang luas dan sempitnya tergantung esensi kalimat itu sendiri dalam kebudayaan yang bersangkutan.

Demikian ini, jika ditelaah lebih lanjut, akan memunculkan beberapa tada'iyyat (asosiasi). Pertama: al Quran harus difahami sesuai dengan budaya arab waktu itu. Kedua: karenanya, penelusuran terhadap fase Makky dan fase Madani dalam setiap pemahaman al Quran teramat urgen. Dan ketiga, menelaah kembali hubungan antara al waqi' dan an nazil, atau antara wahyu Tuhan dan -- apa yang dalam bahasa undang-undang modern diistilahkan-- al a'mal attahdhiriyyah lil qonun.

***

Pertama: al-Qur an harus difahami sesuai dengan budaya Arab waktu itu.

Telah diterangkan dalam al-Quran, bahwa al quran diwahyukan oleh nabi dengan bahasa yang jelas, yang mampu di fahami oleh kaumnya. Firman Allah dalam 12:01: "Alif, laam, raa . Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur'an) yang nyata", dan dalam?  16:103: sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa 'Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Kalau kedua ayat tersebut kita dukung dengan ayat 4 (empat) surat Ibrahim: "Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan?  terang kepada mereka", maka barangkali kita bisa sepakat bahwa standar kebenaran yang kita pakai dalam memahami al Quran adalah standar kebenaran waktu diturunkanya al Quran.

Selain alasan ini, ada alasan lain yang sangat penting, kenapa kita harus memakai standar 'ashrul wahyi'. Pertama: kalau kita memakai standar era pasca-wahyu, maka ini berarti membiarkan kaum muslimin era-wahyu dalam kesalahannya memahami al Quran. Kedua: Kefahaman-kefahaman era wahyu yang lebih dekat kepada tauqify tidak pernah menjadi mutlak (absolut), karena dimungkinkan salah.

Untuk menjelaskan keterangan dimuka, akan saya kemukakan dua contoh. Pertama menyangkut al-ro'du dan al-barqu yang telah disinggung Bpk. Quraisy minggu lalu. Kalau memang benar, bahwa al-ro'du dan al-barqu adalah suara dan percikan api dari cemetinya malaikat, adakah malaikat itu difahami oleh kaum Muslimin ashrul wahyi sebagai hukum alam? Kalau tidak, dan kemudian difahami oleh Mohammad Abduh sebagai hukum alam, apakah ini tidak berarti membiarkan mereka dalam kesalahannya.

Kedua: "iqro" dalam surat al-'alaq, apakah ia dari kata "qara a" yang mempunyai arti mengumpulkan (jama'a) atau dari "qara a" yang mempunyai arti mengulang-ulang (raddada).?  Dalam hal ini, Nasr hamid cenderung mengikuti kemungkinan yang kedua, yakni hanya sekedar mengulang-ulang tanpa harus ada teks-nya. Menurutnya, ini sesuai dengan budaya Arab waktu itu yang tidak mengenal baca tulis. Selain ini, dalihnya, ada ayat yang mendukung pendapat ini: "inna 'alaynaa jam'ahuu wa qur anah-u, faidzaa qara naahu-u fattabi' quraanah-u", dimana kalimat "qur anah-u" di athofkan pada kalimat "jam'ah-u", padahal athof dalam gramatika Arab berimplikasi "mughoyarah" (perbedaan arti antara ma'tuf dan ma'tuf 'alaih). Apalagi jika kita menengok bagian kedua ayat tersebut (faidzaa qara nahuu fattabi' qur anah-u) yang jelas mendukung pengartian demikian ini. Kedua: Penelusuran Fase Makky dan Madany teramat urgen dalam memahami al-Quran.

W. Robertson Smith ketika menyoal agama-agama samawi menyatakan, bahwa agama-agama samawi ini harus memeperhitungkan serta menyikapi dengan cermat setiap kepercayaan dan tradisi agama-agama sebelumnya, baik menerima atau menolaknya. Karena bagaimanapun agama-agama tsb. tidak mungkin dibangun di atas landasan yang hampa image keagamaan, seakan-akan memulai hal yang baru.

Lebih lanjut ia menegaskan, setiap konstruksi akidah yang baru, tidak akan mendapatkan pengikut kecuali dengan cara mengetuk fitrah serta perasaan-perasaan agamis. Dan untuk mencapai ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan cara mempertimbangkan tipe-tipe keagamaan tradisional yang ada.?  Maka, kata Robertson, untuk memahami setiap konstruksi keagamaan agama samawi dengan sebaik baiknya, serta menelusuri perjalanan sejarahnya, kita harus memahami terlebih dahulu agama-agama tradisional sebelumnya.

Mengacu pada premis-premis diatas, berarti dalam memahami kandungan al-Quran serta perjalanan sejarahnya, kita harus memahami watak sosial Arab, terutama Arab Makkah dan Madinah dan juga perjalanan sejarah Islam pada dua tempat tsb.

Memang, untuk memahaminya dengan baik, diperlukan penelitian yang intens. Dan ini tentu membutuhkan waktu serta keuletan yang super.

Ketiga: Menelaah Kembali Antara al waqi' dan An nazil.

Ada dua pembahasan yang?  nampak paradoks ketika meneliti hubungan antara wahyu dan al waqi' yang menjadi ardhiyyah diturunkannya. Pertama: apakah yang diambil sebagai pertimbangan, umumullafdzi atau khususus sabab. Kedua: Keharusan mempertimbangkan al A'mal attahdhiriyyah (asbabun nuzul) dalam setiap keputusan-keputusan wahyu.

Menurut penelitian Azzurqoni, ulama' sepakat untuk mempertimbangkan umumul lafdzi dalam arti yang "luas". Karena, menurutnya, pendapat yang hanya mempertimbangkan khususus sabab dalam arti yang sempit sangat?  irasional. Ini berarti pemusatan pandangan terdadap wahyu. Sementara kalau kita menilik pada bagian yang kedua justru kita dituntut untuk selalu menatap kebawah dalam setiap keputusan wahyu.

Menurut hemat saya, dua cara pandang ini dapat kita satukan dalam satu kesatuan yang sangat positif: cara pandang pertama mengenai tabiat hukum yang sering kita katakan kaku: 'hitam atau putih'. Sementara cara pandang kedua adalah merupakan filsafat hukum yang bisa menjadikannya lentur.

Read More >>

Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyyah, Nabi Dzilly

Sekilas Ahmadiyah

Ahmadiyah adalah aliran yang menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Akbarnya. Ghulam lahir di Punjab,ahmadiyah India, pada tahun 1835, dan mengaku diri mendapatkan wahyu sebagai nabi pada tahun 1876, saat usianya 41 tahun. Ahmadiyah sendiri didirikan tahun 1889, tiga belas tahun kemudian. Ini menyangkut karir pewahyuan.

Pada awal-awal pewahyuan, ia masih ragu. Bahkan ia tidak berani menamakan diri sebagai nabi, hanyamuhaddats, atau orang yang diajak bicara oleh Allah SWT. Ia juga tidak berani mengaku diri sebagai Al-Masih. Atau ketika dia mengaku diri nabi, ia menganggap itu sebagai nabi majazan wa isti’aratan, atau nabi dalam arti metaforis.

Dan tampaknya pada tahun 1889, ia telah mantap dengan wahyunya, dan karena itu ia lalu mendirikan Jemaat Ahmadiyah, walau sebetulnya kemantapan yang tegas baru terjadi pada kira-kira tahun 1901, dua tahun setelah berdirinya Jemaat Ahamdiyah.

Problem Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

Tampak sekali bahwa Mirza Ghulam Ahmad hidup dalam lingkungan sufistik yang kental, sehingga ia tidak merasa asing dengan pertemuan langsung antara manusia dengan Tuhannya. Akan tetapi seperti sufi-sufi lainnya, ia beranggapan bahwa karir kenabian telah berakhir. Pertemuan antara manusia dengan Allah hanya bisa melalui “ilham�. Dalam wahyu-wahyu pertamanya, walaupun sudah ada penyebutan “ya nabiy�, atau bahkan “ya rasuul�, dia lebih memilih untuk memahami wahyunya itu dalam bentuknya yang metaforis.

Akan tetapi seiring dengan karir pewahyuannya yang semakin meningkat secara kualitatif maupun kuantitaif, dia mulai mengubah pandangannya: keistimewaan berdialog dengan Allah yang ia peroleh bukan semata ilham kewalian, akan tetapi adalah wahyu kenabian.

Dalam Al-Khazain Arruhaniyah, dia menegaskan: Almuhaddats, atau seseoarang yang diajak bicara Allah, adalah nabi juga dalam salah satu artinya. Walaupun tidak mencapai kenabian yang sempurna, ia tetaplah seorang nabi parsial, karena ia mendapatkan kehormatan berdialog dengan Tuhan, dan mendapat kesempatan penampakan hal-hal yang gaib.?

Atas dasar inilah, akidah Ahmadiyah dibangun. Sebuah akidah, yang menurut pengikutnya, merupakan revolusi atas konsep pewahyuan lama.

Sampai di sini, akidah Ahmadiyah tidak memiliki problem krusial. Dalam sebuah hadits ditegaskan, pertemuan dengan Tuhan adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang tidak sempurna, seperti riwayat Anas RA dari Rasulullah SAW: “Kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada nabi dan rasul setelah diriku.� Kata Anas: “Ucapan Baginda Rasul ini terasa berat bagi kami.� Lalu Nabi mengatakan: “Akan tetapi “al-mubasysyiraat.� Kami menanyakan: “Apa itu almubasysyiraat?� Kata Rasul: “Mimpi-mimpi baik seorang muslim, itu adalah bagian dari kenabian�.

Jika pengakuan Mirza Ghulam Ahmad benar, maka itu adalah bagian dari kenabian, atau kenabian yang tidak sempurna. Menurut pengakuan Mirza, ia memang benar-benar berdialog dengan Allah SWT, dan hal itu ia peroleh melalui perantara “Nur Muhammady�. Dan dari Nur Muhammady ini, kemudian lahir istilah “naby dzilly�, atau nabi dibawah bayangan Nur Muhammady. Nur Muhammady sendiri adalah konsep sufy yang dikenalkan oleh Al-hallaj dan Ibn �Araby, dan dipercaya luas di kalangan sufy. Ibn �Araby juga mengaku hal yang sama, ia dalam mi’rajnya, mendapatkan wahyu, melalui perjalanan spiritualnya di bawah naungan Nur Muhammady.

Problem MGA (Mirza Ghulam Ahmad) menjadi serius, ketika pengakuannya ia sertai dengan “tahaddy�, atau tantangan. Kenabian dan kerasulan adalah konsep internal dan eksternal sekaligus, sementara konsep kewalian, atau yang diistilahkan oleh MGA dengan kenabian parsial, atau kenabian dzilly, adalah internal belaka. Dalam pandangan para Sufy, kewalian yang sempurna adalah bagii mereka yang mampu menyimpan rahasia ketuhanan. Al-Hallaj, ketika sadar dari “jadzabnya�, benar-benar menyesal karena telah mengumbar “rahasia ketuhanan�.

Maksud dari eksternal adalah bahwa kenabian harus dideklarasikan dan menuntut pengakuan khalayak. Dan untuk itu, kenabian membutuhkan dua hal. Pertama tahaddy, atau tantangan atas sebuah mukjizat. Kedua seorang Nabi harus ma’sum saat menyuarakan wahyu. Tanpa kedua hal ini, kenabian menjadi tak bermakna. Dan kenabian seperti ini implikasinya sangat berat. Sangat tepat sekali Baginda Rasul mengakhirinya saja.

Karena jika tantangan sudah diumumkan, dan kemaksuman telah menyertainya, maka apa yang ia suarakan adalah kebenaran belaka. Persis disinilah keruwetan kenabian itu. Permasalahannya bukan lagi kebenaran kandungan wahyu itu sendiri, tapi juga menyangkut persoalan pembawanya, yakni nabi itu sendiri. Umat nabi bukan lagi harus percaya kepada kebenaran kandungan wahyu, tapi juga harus percaya kenabian pembawanya.

Dalam pandangan umat Islam secara umum, tidak ada lagi konsep kemaksuman setelah Nabi Muhammad, seberapapun tinggi derajat seseorang, dan sehebat apapun ia mampu berdialog dengan Tuhan. Biarpun pengakuan MGA benar, tetaplah dia tidak maksum -dan karena itu boleh dikritisi-, dan tidak ada konskwensi apapun dengan tidak mempercainya. Ibn Taymiyah, yang sangat kritis terhadapa Ibn �Araby, tidak kurang sedikitpun ketakwaaannya, apalagi keIslamannya, biarpun yang benar misalnya Ibn �Araby. Kenabian parsial setelah Nabi Muhammad adalah internal.

MGA dengan memposisikan diri sebagai nabi dengan tahaddynya, ia telah menjadi “diktator� kebenaran. Kandungan wahyunya menjadi kebenaran mutlak, dan tidak boleh dikritik. Penafsirannya terhadap penyaliban Nabi Isa misalnya, mejadi satu-satunya penafsiran yang benar. Bahkan implikasinya lebih luas lagi, mereka yang di luar Ahmady, karena tidak percaya kenabian MGA, adalah kafir, yang tidak sah menjadi imam salat bagi Ahmady. Mereka yang jelas-jelas tidak iman kepada kenabian MGA jika mati tidak boleh disalati jenazahnya.

Di sinilah perbedaan antara sufisme Ahlussunnah wal Jamaah dari sufisme yang dikembangkan oleh MGA. Jelas sekali, MGA telah menyimpang dari paham-paham sufistik Ahlussunnah Wal-Jamaah, walau untuk mengatakan dia telah keluar sama sekali dari Islam kurang tepat. Dia tetap Muslim, tetapi konsep ke-Islamannya menjadi radikal, tidak jauh beda dari para fundamentalis-fundamentalis lainnya, yang ingin menguasai kebenaran penafsiran Islam.

Dia memang telah mengkafirkan kelompok non-Ahmady, termasuk para sufy Ahlussunnah wal Jamaah, tapi tidak seyogjanya kita ikut membalas sikap itu. “Walaa yajrimannakum syanaanu qawnin �alaa anlaa ta’diluu, I’diluu huwa aqrabu littaqwa.�

Masuknya Ahmadiyah ke Indonesia

Tidak tahu persis, kapan awal mula Ahmadiyah masuk ke Indonesia. Akan tetapi ia mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1924 ketika dua pendakwah Ahmadiyah Lahore datang ke Jogja. Pada kesempatan ini mereka berdua diundang oleh Minhadjurrahman Djojosoegito, sekretaris Muhammadiyah, dalam Muktamar Muhammadiyah ke-13. Di kemudian hari, ia ketahuan telah masuk dalam Ahmadiyah Lahore, lalu dikeluarkan dari Muhammadiyah. Pada tahun 1930, ia mendirikan secara resmi Gerakan Islam Ahmadiyah (GIA), dan duduk sebagai pucuk pimpinan.

Ahmadiyah Lahore sendiri lahir setelah kematian khalifah Al-Masih yang pertama, Almulawi Nuruddin, pada 13 Maret 1914. Menurut kelompok ini, MGA tidak membutuhkan khalifah perorangan. Cukup Anjuman -lembaga yang didirikan oleh MGA mula-mula untuk mengawasi keuangan dan maqbarah Bahishti di Qadiyan yang diperuntukkan bagi para pejuang Ahmdiyah- sebagai estafet penerus kepemimpinan dakwah.

Ketika Khalifah kedua, Basyiruddin Mahmud Ahmad, terpilih, mereka, dipimpin oleh Mulawi Muhammad Aly, tidak setuju. Lalu mereka keluar dari Qadiyian, pindah ke Lahore, dan mendirikan Anjuman tandingan. Sejak saat itulah kedua kelompok ini terputus, dan masing-masing saling mengklaim paling benar. Bahkan ortodoksi Qadiyan lazim menyebut Lahore sebagai kelompok sempalan yang sesat.

Ada sejumlah revisi versi Lahore terhadap tradisi keimanan Qadiyan. Selain doktrin khilafah yang menjadi pemicu perpecahan, adalah doktrin kenabian MGA. Bagi Lahore, kenabian telah berakhir, walau pewahyuan itu sendiri tidak pernah berhenti. Menurut mereka, jika kenabian masih ada, Sayidina Ali tentulah sudah menjadi nabi. Karena dalam sebuah hadits, kedudukan Sayidina Ali sama dengan kedudukan Nabi Harun bagi Nabi Musa. Akan tetapi kenabian telah berakhir, dan Sayidina Ali tidak pernah menyandang kenabian.

Dari konsep kenabian yang hampir mirip dengan konsep Ahlusunnah ini, pewahyuan MGA ditarik lagi ke dalam konsep yang semi internal. Mereka yang tidak percaya terhadap wahyu MGA tidak kafir. Mereka sah menjadi imam bagi non-Ahmadi. Jenazahnya juga harus disalati. Selama tidak mengkafirkan Ahmadi, maka mereka adalah sesaudara.

Kehadiran mereka di Jogja walau menimbulkan riak, akan tetapi tidak sampai kepada gelombang yang besar. Buku-buku terbitan Ahmadiyah Lahore bahkan banyak dinikmati oleh mendiang Bung Karno, dan HOS Tjokroaminoto, karena kerasionalannya. Juga sejumlah mahasiswanya bergabung dengan HMI.

Adapun Ahmadiyah Qadiyan, kehadirannya ke Indonesia murni misi messiah, sebagai penerus Imam Mahdi MGA. Adalah Maulana Rahmat Ali orang pertama yang datang ke Indonesia melalui Aceh pada tahun 1925. Ia datang ke Sumatra atas rekomendasi tiga pelajar Thawalib di Qadiyan. Tiga pelajar ini awa;mua merencanakan melanjutkan studi ke Mesir, akan tetapi guru-gurunya di Thawalib, Padang, menyarankannya untuk pergi ke India. Di India mereka mula-mula mengenal Ahmadiyah Lahore, yang kemudian mengantarkannya kepada ortodoksi Ahmadiyah di Qadian.

Ketiga pelajar inilah sejatinya yang melapangkan jalan bagi masuknya Ahmadiyah dengan agak mulus ke Indonesia. Mereka banyak berkorespondensi kepada keluarganya tentang datangnya Imam Mahdi, dan mengharap agak masyarakat di sana kelak menyambut dengan hangat utusan Imam Mahdi. Dan benar, ketika Maulana Rahmat Ali dating ke Tapaktuan, Aceh, ia disambut hangat oleh masyarakat.

Ia mulai berdakwah di Aceh, lalu meluaskan dakwahnya ke Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan daerah sekitar. Dan pada tahun 1931 ia pergi ke Jakarta.

Kehadiran Ahmadiyah di Indonesia bukan tanpa resistensi. Pada tahun 1926 Haji Rasul mendebat Ahmad Baiq, pendakwah Ahmadiyah Lahore. Dan pada tahun 1929 Muktamar Muhammadiyah resmi melarang Ahmadiyah diajarkan di lingkukan Muhammadiyah. Bahkan Muhammadiyah telah resmi mengkafirkan mereka yang percaya adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Di Padang, perdebatan-perdebatan Ahmadiyah-Sunny marak sejak menit-menit awal pendakwahan Ahmadiyah. Dan ketika Rahmat Ali datang ke Jakarta, Ahmad Hassan, pimpinan PERSIS, rajin mendebat Ahmadiyah, hingga terjadi dialog, atau debat terbuka, dengan menyedot banyak pengunjung.

Persoalan Ahmadiyah kemudian menjadi terlupakan karena Indonesia secara umum disibukkan oleh perang kemerdekaan, perang revolusi, dan pemberontakan PKI. Ahmadiyah benar-benar terlupakan, dan baru muncul kembali pada tahun 1980-an ketika Indonesia relative tenang. Saat itu, entah siapa yang kembali mengangkat isu Ahmadiyah, hingga MUI mengeluarkan fatwa sesatnya Ahmadiyah yang terkenal itu.

Sikap NU Terhadap Ahmadiyah

Ada fakta menarik bahwa pendiri Ahmadiyah di Indonesia adalah Djojosoegito yang secara biologis memiliki hubungan darah dengan Kyia Hasyim Asy'ari, pendiri NU. Tetapi ini hanyalah kebetulan belaka yang tidak memiliki arti penting secara ideologis. Kebetulan Kiyai Hasyim adalah seorang raden, keturunan Hamengkubuwono II. Djojosoegito juga raden dari keturunan yang sama.

Bukan hanya NU dan Ahmadiyah saja, yang pendirinya memiliki garis keturunan yang sama. Semua organisasi keislaman di Indonesia kalau ditilik dari para pendiri utamanya, tidak keluar dari garis keturunan Solo-Jogja. Dan semua dari lingkungan keraton.

Justru hubungan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dengan Hasyim Asyari, pendiri NU, memiliki kedekatan ideologis. Keduanya sama-sama belajar di Mekkah. Keduanya murid Al-Khatib Al-Minangkabawy, seorang ulama bumi pertiwi yang berkarir di Saudi, hingga menjadi imam Masjidil Haram madzhab Syafi’iy. Khathib Minangkabaw adalah seorang tradisionalis, tapi sekaligus pengagum Muhammad Abduh, pembaharu paling berpengaruh saat itu. Ahmad Dahlan tampaknya lebih meresapi titisan Muhammad Abduh dalam diri Al-Khatib, sementara Hasyim Asyari lebih meresapi tradisinya. Tapi jelas keduanya memiliki guru yang sama, dan ini berpengaruh kepada sikap tolerans keduanya.

Di kalangan Nahdliyin sendiri terjadi pro dan kontra dalam mensikapi Ahmadiyah. Tetapi semua itu tidak ada kaitannya dengan kesamaan garis keturunan secara biologis maupun ideologis. Pro dan kontra lebih disebabkan karena keberagaman isi di balik kepala . Sejak tahun 1984, Gus Dur memimpin NU dan berlangsung selama tiga periode, masa kepemimpinan yang cukup lama. Sejak saat itu, Gus Dur rajin menggarap para pelajar progresif NU, atau bahkan liberal. Sekarang ini, anak didik Gus Dur sudah merasuk kemana-mana. Bahkan pemimpin sejumlah pesantrenmambu-mambu Gusdurian.

Tapi secara resmi PBNU dan juga PWNU Jatim, basis utama NU, menganggap sesat Ahmadiyah. Yang perlu diketahui juga, dalam bahtul masail PBNU terakhir, yang menyesatkan Ahmadiyah, pimpinan sidangnya adalah Kiyai Ma’ruf Amin, Dr. Said Aqiel Sijar, dan Pak Masdar Masudi. Kiyai Makruf mewakili kelompok kiyai faqih yang lurus, yang sering juga menjadi juru bicara MUI. Sementara Said Aqil dan Masdar adalah dua kiyai yang sebetulnya lebih dekat kepada Gus Dur. Toh keputusannya tetap menganggap Ahmadiyah sesat, dan menyerahkan sepenuhnya permasalahan ini kepada pemerintah.

Ini artinya, dalam tubuh NU hampir terjadi kesepakatan soal ketidakcocokan diametral antara faham NU dengan Ahmadiyah. Tapi permasalahan utama adalah soal cara menyikapi Ahmadiyah dalam kehidupan berbangsa. Di sinilah kelompok Gus Durian bersikap tegas: tegakkan Pancasila. Kalau Gus Dur sendiri jangan ditanya soal akidah, karena akidanya susah ditebak. He he .. Jangankan di luar NU, di tubuh NU sendiri banyak yang dibuat bingung oleh sikap-sikapnya.

Dilingkungan NU Mesir sendiri, terjadi perdebatan yang panjang soal ini, dalam dua kali Bahtsul Masail. Dan keputusan terakhir, tetap menganggap Ahmadiyah menyimpang dari faham Ahlussunnah wal Jamaah yang diikuti oleh Nahdliyin, dan Muslim Indonesia secara luas. Tapi ketika pada pembahasan apakah mereka sampai keluar dari Islam, di sini tidak ada kata sepakat. Mungkin memang harus demikian. Biarkan macem-macem isinya.

SKB Tiga Menteri, Sebuah Keputusan Strategis

Secara pribadi saya tidak berani melarang seseorang menafsirkan agama sesuai keyakinan masing-masing. Tapi memang tak perlulah menyebarkannya kepada orang yang berbeda keyakinan secara frontal, seperti Qadiyan dan Islam Indonesia secara umum. Saya ingin membandingkan misalnya Syiah di Saudi Arabiya dan Sunni di Iran. Populasi Syiah di Arab Saudi mencapai 20 persen, sesuai laporan The Arabic Network for Human Right. Akan tetapi terjadi diskriminasi cukup besar atas hak-hak beribadah, dan hak-hak sipil mereka. Begitu pula sebaliknya Sunni di Iran. Menurut laporan Irania Sunni Leage, populasi mereka di Iran mencapa sepertiga penduduk secara keseluruhan, atau sekitar 15 sampai 20 juta. Namun begitu, di Taheran, ibu kota Iran, satu masjid pun mereka tak punya. Padahal gereja Kristen, Sinagog Yahudi, rumah ibadah Majusi dan Hindupun boleh berdiri.

Jadi harus ada kesadaran pada masing-masing, bahwa keyakinan yang dianut, ternyata bagi orang lain bisa menyakitkan. Klaim Jemaat Ahmadiyah yang mengkafirkan non-Ahmadi bagi banyak kalangan tentu menyakitkan. Posisi pemerintah yang melarang pengajaran Ahmadiyah ke non-Ahmadi saya kira bisa dibenarkan.

Harus diketahu, SKB tiga menteri secara definitif menunjuk kepada Jemaat Islam Ahmadiyah (JIA) atau Ahmadiyah Qadian, yang berpusat di Parung, Bogor, bukan Gerakan Islam Ahmadiyah (GIA) atau Ahmadiyah Lahore, yang berpusat di Jogja.

Cukuplah dilarang penyebarannya. Saya melihat, bahwa aliran-aliran yang dilarang, justru akan semakin militan, karena tidak mempunyai kesempatan untuk berbenah, dan sibuk memuja diri. Yang diperlukan adalah kritik terus menerus kepada Ahmadiyah Qadian, agar membuka pintu kebenaran bagi yang lain. Sikapnya yang tidak mau mensalati jenazah non-Ahmadi misalnya, adalah bentuk doktrin yang tak perlu diteruskan. Di sini, Ahmadiyah Lahore sudah bergerak ke sana. Beri kesempatan kepada masing-masing sekte, untuk melakukan kritik dan dikritik.

Kembali kepada umat. Jangan terlalu sibuk dengan rebutan politik. Instropeksi, dan berbenah diri. Saya melihat para pemimpin kita sibuk pada wilayah politik, tapi umat kurang diperhatikan. Ketika umat kita tiba-tiba direbut orang lain, kita menyalahkan yang lain.

Read More >>

Spanyol Yang Islami

spanyol Kemajuan Islam di Eropa tak terpisahkan dengan Andalusia. Bahkan pada suatu era, sinar islam yang membanggakan muncul dari ufuk barat Eropa ini. Lewat istana Alhamra dan masjid Córdoba, dunia masih bisa mengenang jejak kemegahannya.

Orang kini mengenang Andalusia sebagai Spanyol, Negara berpenduduk mayoritas katolik. Ada sejarah pahit di sana seputar pergantian penguasa yang berujung pada upaya pemura dan umat Islam besar-besaran. Namun umat islam Spanyol berupaya untuk bangkit kembali sejak terpuruk di abad ke-15.

RETAK DARI DALAM.

Sejarah Andalusia dalam peta perkembangan islam berawal dari permintaan Julian kepada Musa bin Nusair. Julian adalah gubernur Ceuta dari Andalusia dan Musa adalah raja muda dari Afrika. Julian meminta bantuan kepada Musa untuk menyelamatkan negerinya yang dilanda kekacauan hebat.

Musapun memerintahkan panglimanya yang pemberani, Thariq bin Ziyad untuk mengunjungi Andalusia. Pada tahun 711M, Tariq dengan 12000 pasukannya mendarat di Gibraltar. Ternyata sekelompok prajuritnya berubah pikiran untuk kembali ke Afrika. Diceritakan Thariq membakar semua kapal sampai menjadi abu lalu menantang meraka,"Yang maju akan mendapat kemenangan atau mati sahid, tetapi yang lari menjadi mangsa ikan hiu di laut tengah yang ganas."

Akhirnya pada tanggal 19 Juli 711 M, Tariq bersama-sama pasukannya berhasil mengalahkan pasukan Kristen di muara sungai Barbate. Kemudian, Thariq membagi pasukannya ke dalam empat wilayah penting yaitu : Toledo, Coordoba, Malaga, Grenada. Inilah benih kekuasaan Islam di Spanyol yang berlangsung selama ratusan tahun .

Raja muda Musa bin Nusair berkuasa di Toledo pada tahun 711M-756M dengan pengawasan Bani Umayyah di Damaskus. Daerah-daerah lain pun dipimpin oleh penguasa muslim. Kemudian disusul berdirinya Mulukulth Thawaif mengalami keretakan dari dalam yang di sebabkan hal-hal sepele. Misalnya perebutan wanita, harta dan upeti serta saling menjatuhkan. Andalusia pun goyah Kendati demikian tak terlalu mudah bagi penguasa lain untuk menjatuhkannya .

Pada pertengahan 1491 M, Raja Ferdinan V mulai mengepung Granada. Selama tujuh bulan, mereka menekan Granada hingga akhirnya raja terakhir banti akhmar Abu 'Abdillah menyerah. Berakhirlah kejayaan Andalusia.

Pengalihan kekuasaan adalah biasa dalam perjalanan sejarah, namun yang membesitkan kepahitan adalah peristiwa pemurtadan akbar.

Raja Ferdinand V menetapkan peraturan: penduduk di perbolehkan tinggal di Andalusia dengan syarat memeluk agama katolik. Menolak berati wajib meninggalkan tanah air mereka ternyata separo umat Islam terpaksa menukar Imannya dengan izin menetap di tanah airnya sendiri karena tidak mampu bermigrasi.

PESONA SI MERAH

Istana Alhambra adalah jejak kejayaan islam yang masih bisa dinikmati hingga hari ini. Alhambra berasal dari bahasa Arab, hamra' bentuk jamak dari kata akhmar yang berarti" merah". Dinamakan demikian karena pusat keindahan Andalusia ini didominasi warna merah, ubin batu bata, dinding, perabot dan detail bangunan berwarna merah. Istana ini berfungsi sebagai benteng kota Granada. Ada pula yang berpendapat bahwa Alhambra mengambil salah seorang pendirinya yaitu sultan Muhammad bin Al-Akhmar dari bani Akhmar atau bangsa Moor. Ia adalah keturunan Said bin ubaidah seorang sahabat rosululloh SAW yang berasal dari suku Khozroj di Madinah.

Istana ini berdiri kokoh di bukit La Sabica. Dinding bagian luar dan dalamnya dihiasi kaligrafi yang sulit di cari tandingannya. Dari penataannya terlihat keunikannya peradaban Umat Islam tempo dulu. Misalnya pembagian ruangan berdasarkan fungsi yang di beri nama secara khusus.

Misalnya Hausyus sibb (Taman singa) yang di kelilingi 128 tiang marmer. Ditengahnya terdapat kolam air mancur yang dihiasi 12 patung singa melingkar. Di bagian dalam terdapat ruangan-ruangan indah, Baitul hukkini (ruang pengadilan) seluas 1m x 15 m; Baitul Siraj berbentuk bujur sangkar dengan luas 6,25 m x6,25 m yang di penuhi hiasan-hiasan kaligarafi Arab; Hausy ar-Raihan yang memiliki al-Birkah atau kolam di tengahnya; Baitul ukhtain (Ruangan dua saudara perempuen ) yaitu ruang khusus untuk dua saudara perempuan Sultan Al Akhmar. Selain Istana Alhambra, di Spanyol juga terdapat jejak Islam lainnya yaitu masjid Kordoba yang didirikan oleh Sultan Abu Yusuf Al Muwahhid pada tahun 785 m. Masjid ini makin megah sejak diperbesar tahun 848 dan 961. Sayang sekali pada 1187 penguasa memutuskan untuk mengalih fungsikannya menjadi katedral santa maria de la sede hingga sekarang.

Yang sangat menyedihkan, perpustakaan–perpustakaan Islam ikut dibakar dan dihancurkan. Karya tulis yang sampai kepada kita hanyalah bagian terkecil dari karya-karya pemikir islam di zamannya hingga sekarang sulit dicari tandingannya.

GUDANG ILMUAN

Berkat kedatangan Islam di Adalusia, baik ilmu pengetahuan, kebudayaan, maupun arsitektur gagah berkibar. Di negeri ini lahir tokoh-tokoh berpengaruh yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

Di antaranya adalah cendikiawan Ibnu Thufail (1107-1185) di lahirkan di Asya, Granada. Ia pernah menjabat sebagai menteri bidang politik dan gubernur Sabtah dan Tonjah di Maghribi. Ibnu Thufail adalah guru ilmu filsafat Ibnu Rusyd (averroes) ia menguasai ilmu hukum, pendidikan dan kedokteran. Thufail pernah diangkat sebagai dokter pribadi seorang amirul muwahhidin (raja).

Salah seorang cendikiawan Islam terbesar juga lahir di Andalusia. Dialah Ibnu Rusyd (1126-1198) yang berasal dari Cordoba. Lidah barat menyebutnya Averroes ia seorang ahli hukum, ahli hisab (aritmatika), kedokteran dan ahli filsafat terbesar dalam sejarah Islam beliau dilantik sebagai hakim di Sevilla pada tahun 1169 dan di Cordoba tahun 1171 dan juga diangkat sebagai dokter kepercayaan istana tahun 1182. Karya terbesar yang ditulis olehnya kitab kuliyah fi at-thibb (encyclopydia of medicine) yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan inggris. Karya ini menjadi buku wajib di universita-universitas eropa. Akibat pemikiran kritisnya ia pernah diasingkan ke lucena dan sebagian karyanya dimusnahkan. Doktrin averroeisme mampu mempengaruhi yahudi dan Kristen, baik barat maupun timur. Maka boleh dikatakan bahwa eropa sesunguhnya berhutang kepada Ibnu Rusyd.

Ibnu Arabi (1164-1240) dikenal juga sebagai ibnu suroqoh, Ash-Shaikhul Akbar atau doctor maksimus dilahirkan di Murcia (sebelah tenggara spanyol). Karya-karyanya luar biasa konon beliau menulis lebih dari 500 judul buku saat ini sekiatr 150 karyanya masih bisa diselamatkan dan disimpan di perpustakaan nasional Mesir.

BERGAUNG KEMBALI

Tanggal 10 juli 2003 itu menjadi hari bersejarah bagi muslim di spanyol. Setelah kurang lebih 500 tahun terendam waktu, adzan kembali bergaung indah di cordova. Pasalnya pada hari itu salah satu masjid direstukan. Disusul pembukaan selubung kain merah penutup prasasti batu. Sheikh Sultan bin Muhammad Al Qosimi dari Uni Emirat arab (UEA). Umat islam spanyol menyambut peristiwa itu dengan ucapan Allohu Akbar.

Kabar gembira lainnya juga terdengar sejak awal tahun 2005 lalu berdasarkan ketetapan departemen agama Negara spanyol, sekolah-sekolah di spanyol secara resmi diperbolehkan memberikan pelajaran Islam bagi para siswanya yang muslim. Rencana pengajaran agama Islam bagi siswa-siswi muslim ini sebenarnya sudah ada sejak satu decade lalu, tapi belum bisa diimplementasikan karena berbagai kendala.

Perkembangan ini, tidak lepas dari peran dari Joserodrigues zapatero menduduki tampuk kepemimpinan di spanyol, komunitas muslim di negeri itu mulai mendapat perhatian dari pemerintah Zapatero yang berasal dari kelompok sosialis sejak berkuasa sudah mencabut sejumlah hak-hak istimewa gereja katholik yang diberikan pada saat partai rakyat di spanyol berkuasa.

Salah satu langkah konkritnya adalah memberikan izin pengajaran agama islam di sekolah-sekolah umum di kota-kota besar di spanyol yang jumlah komunitasnya cukup banyak. Misalnya kota Barcelona, Madrid dan Andalusia (from RELIGI magazine)

Read More >>

Video - video KH. Maimoen Zubair

Berikut ini adalah video-video KH Maimoen Zbair Karang Mangu sarang rembang

Pengasuh pondok Pesantren al anwar

 

Pengajian kh Maimoen zubair

 

KH Maimoen Zubair

 

Mauidloh

 

Mbah Mun

 

Mbah Mun Di Kudus

 

Ceramah Mbah Mun

 

Mauidloh KH Maimoen Zubair

 

Romo KH Maimoen Zubair
Read More >>

Kiai Dahlan Sarang Rembang

Beliau dilahirkan di desa Gondan Sarang tahun 1287 H. Ketika usia beranjak dewasa, beliau menuntut ilmu di Sarang, yaitu dengan belajar ilmu syariat Islam kapada ulama-ulama di Sarang, sehingga beliau mengetahui dasar-dasar agama Islam.

Setelah mengeyam ilmu di Sarang, beliau melakukan pengembaraan lagi untuk menambah wawasan tentang syariat agama Islam. Kota yang dituju beliau adalah kota Blora, tepatnya di pesantren Ngadipura yang diasuh oleh K. Hamzah. Di pesantren ini, beliau menetap beberapa tahun untuk belajar dan berkhidmah kepada K. Hamzah.

Dari pesantren K. Hamzah, beliau melanjutkan pembaraan lagi untuk menambah wawasannya menuju kota Semarang untuk belajar di suatu pesantren yang diasuh oleh K. Shaleh.

Dari pengembaraan beliau yang begitu panjang, akhirnya beliau kembali ke tempat kelahiran lagi, Sarang. Namun, di Sarang beliau tidak berhenti mencari ilmu. Tetapi tetap belajar, mendengarkan korekan ilmu dari ulama-ulma setempat, lebih-lebih kepada K. Umar bin Harun dan K. Murtadha.

K. Dahlan adalah sosok yang terkenal sebagai orang yang mempunyai pengetahuan agama yang dapat dijadikan pegangan, sehingga beliau menjadi sosok yang terkemuka. Beliau mencurahkan hidupnya untuk kemanfaatan dan hal yang benar. Beliau membidangi fan-fan ilmu. Di antara fan-fan yang beliau baca adalah Khulashah Ibnu Malik, Tasriiful Izzi, Minhajul Qowiim, Fatahal Mu’in dan lain-lain.

K. Dahlan membangun bahtera rumah tangga dengan meminang Putri K. Syu’aib, Ibu Nyai. Hasanah. Dari pernikahan ini, beliau dianugrahi Allah swt beberapa anak. Di antaranya yaitu :

  1. K. Zubair Dahlan
  2. Ibu Nyai. Aisyah (istri K. Husain)
  3. Ibu Nyai. Fatimah (istri K. Munawar)

Pada tahun 1325 H, beliau pergi ke tanah haramain untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah di makan baginda Nabi Muhammad saw. Beliau wafat tahun 1343 H dengan umur 56. Semoga Allah swt menempatkan beliau di tempat yang mulia disisi-Nya. Amiin.

catatan: artikel dikutip dari buku Syaikhuna wa Usratuhu

 

Read More >>

Pondok Pesantren Al Anwar Karangmangu Sarang Rembang

Gerbang Pesantren Pondok pesantren Al Anwar merupakan pondok murni yang dirintis oleh Syaikhina KH. Maimoen Zubair, bukan merupakan pondok peninggalan atau warisan. Sepulangnya beliau dari study di Makkah Al Mukarromah, banyak santri yang berdomisili di pesantren Sarang yang berkeinginan untuk belajar kepadanya. Maka, pada tahun 1967 dibangunlah sebuah musholla sederhana yang terletak di muka ndalem beliau sebagai tempat untuk para santri yang mengaji. Di sinilah awal mula cikal bakal PP. Al Anwar.

Melihat besarnya animo dari para santri yang berkeinginan nyantri dan khidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair, maka dengan bangunan seadanya, musholla tersebut dijadikan sebagai pondok. Bangunan sederhana tersebut mereka gunakan untuk menginap sekaligus untuk lebih fokus dalam mengaji dan khidmat kepada Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Oleh mereka sendiri, pondok yang diasuh putra KH. Zubair ini diberi nama POHAMA yang merupakan kependekan dari Pondok Haji Maimoen. Kemudian selang beberapa tahun, untuk mengenang Abah beliau, KH. Zubair Dahlan yang sebelum menunaikan ibadah haji bernama KH. Anwar, POHAMA dirubah namanya menjadi Pondok Al-Anwar.

Perkembangan jumlah santri PP. Al Anwar cukup pesat, sehingga menuntut adanya pembangunan di bidang fisik. Pada tahun 1971, musholla direnovasi dengan menambahkan bangunan di atasnya yang kemudian di sebut dengan Khos Darussalam (DS), juga dibangun sebuah kantor yang berada di sebelah Selatan ndalem Syaikhina KH. Maimoen Zubair. Seiring dengan bertambahnya santri, maka pembangunan secara fisik pun terus dilakukan. Tercatat pada tahun 1973, telah dibangun Khos Darunna'im (DN), tahun 1975 Khos Nurul Huda (NH), tahun 1980 Khos Al Firdaus, dan masih banyak lagi pembangunan fisik yang lain. Termasuk dibangunnya Gedung Serba Guna (GSG) PP. Al Anwar berlantai lima pada tahun 2004 yang diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Bapak DR. H. Hamzah Haz. Juga, pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid PP. Al Anwar yang setelah selesai pengerjaannya digunakan sebagai tempat pertemuan (Multaqo) alumni Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki Makkah Al-Mukarromah. Hingga saat ini pembangunan secara fisik terus berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan. Pada tahun 2012, telah selesai pembangunan khos baru dengan nama Darus Sunan Al-Arba’ah (DSA).

Seiring dengan perkembangan PP. Al-Anwar, berawal dari sebidang tanah yang dimiliki Syaikhina KH. Maimoen Zubair dan hasil pembelian tanah milik tetangga, juga termotivasi akan kondisi masyarakat sekitar pada saat itu yang belum rutin mengerjakan shalat 5 waktu serta minimnya kemampuan mereka dalam membaca Al-Qur'an, maka pada tahun 1977, Syaikhina KH. Maimoen Zubair bersama istri beliau, Nyai Hj. Masthi'ah, merintis berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-Anwar dengan membangun Musholla di belakang rumah yang semula berdindingkan anyaman bambo (gedhek).

 
Lambat laun masyarakat menunjukan perubahan, mereka mulai suka pergi ke musholla untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan di sana, mulai dari shalat jama'ah hingga Diba'iyyah yang dilakukan setiap malam Jum'ah dan juga banyak anak-anak mereka yang mulai menetap di Musholla. Hingga sekarang (Tahun 2009 red), PP. Putri Al Anwar mengalami perkembangan yang pesat dengan + 500 santri yang menetap dan dengan fasilitas 29 kamar, perpustakaan, 6 auditorium dan masih banyak lagi fasilitas yang lainnya. Perkembangan pesantren yang diasuh tokoh ulama' yang sangat antipati terhadap penggunaan istilah Kitab salaf dengan nama kitab kuning (karena dinilai merupakan suatu penghinaan terhadap kitab salaf) ini sangat signifikan. Grafik menunjukkan pada tahun 2009, jumlah santri Al Anwar mencapai lebih dari 2000 santri, yang tersebar dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, baik Jawa maupun luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, Lampung bahkan sampai Papua. Juga, mereka terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari SD, MI, SLTP, SLTA sampai Sarjana.

Pada tahun 1995, KH. M. Najih Maimoen, putra Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang juga alumni dari pesantren Abuya Sayyid Muhammad Alawy Makkah Al-Mukarromah merintis dibangunnya khos Darusshohihain (DH) di bawah pengawasan Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al-Maliky. Juga, didirikan Khos yang khusus sebagai wadah bagi santri-santri putri yang berkeinginan untuk menghafal Al-Qur'an pada tahun 1996 di bawah asuhan Ibu Nyai Hj. Mutamimah Najih Maimoen yang notabene adalah seorang yang Hamilatul Qur'an.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Pesantren Al-Anwar adalah sistem salafiyah, di mana para santri diwajibkan mengikuti pengajian masyayikh atau ustadz, baik dengan pendekatan sistem bandongan (collective learning process) maupun sorogan (individual learning process). Juga, diharuskan bagi santri untuk mengikuti pendidikan Muhadloroh (MHD) atau Madrasah Ghozaliyyah Syafi'iyyah (MGS) sampai tingkat Aliyah dan melanjutkan pada Ma'had Aly yang mana sebelum resmi menjadi Ma'had Aly disebut dengan istilah PPTM (Program Pasca Tamatan Madrasah) dengan jenjang pendidikannya sampai dua tahun.

Kegiatan lain yang harus diikuti santri adalah Mudzakaroh, meliputi mudzakaroh Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Syarah Mahally dll. Mudzakaroh merupakan suatu bentuk pembahasan secara spesifik pada suatu kitab yang dijadikan bahan kajian yang kemudian diimplementasikan pada permasalahan-permasalahan yang ada. Dan juga masih banyak lagi kegiatan yang lain.

Perkembangan PP. Al Anwar terbagi menjadi tiga model. Pertama, PP. Al Anwar I yang dikhususkan bagi santri yang ingin mendalami ilmu-ilmu agama secara murni. Kedua, PP. Al Anwar II sebagai wadah bagi santri-santri yang ingin mempelajari sains dan teknologi tanpa meninggalkan pesantren sebagai wahana untuk mendalami ilmu agama. Ketiga, PP. Al Anwar III sebagai wadah mencetak sarjana-sarjana yang islami. Letaknya pun terpisah, PP. Al-Anwar I terletak di desa Karangmangu, Sarang, Rembang. Sedangkan PP. Al Anwar II dan PP. Al Anwar III ini terletak di Dusun Gondanrojo, Kalipang, Sarang, Rembang. Letaknya kurang lebih 3 km dari desa Karangmangu ke arah barat.

Menanggapi tuntutan zaman yang sangat menuntut kesiapan dalam segala aspek, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang yang notabenenya sebagai suatu lembaga Non Formal yang secara tegas mempertahankan nilai-nilai Salaf kini juga bersiap-siap menelurkan generasi yang juga dapat dibanggakan dalam bidang formal dengan tetap menjadikan pelajaran Salaf sebagai pondasi pembentukan akhlaq, dengan mendirikan suatu badan lembaga pendidikan formal di bawah naungan LP Ma'arif NU tingkat SD, SLTP danSLTA dengannama MI, MTs dan MA. AL-ANWAR.

Tujuan yang mendasar dari didirikannya MI, MTs dan MA Al Anwar tersebut tidak hanya untuk mempelajari ilmu-ilmu umum saja, tapi juga dikemas rapi dengan memasukkan pelajaran salaf guna memberikan bekal para muridnya untuk memperoleh keseimbangan antara IMTAQ dan IPTEK, sehingga pada akhirnya tujuan akhir kebahagiaan dunia akhirat dapat dicapai.

Pada 15 September 2003, awal sejarah diresmikannya sebuah lembaga formal yang didirikan oleh Syaikhina Maimoen Zubair yang bertujuan untuk dijadikan suatu tempat memperdalam ilmu-ilmu yang berbasis kompetensi sesuai rujukan dari pemerintah yang dalam hal ini dari Departemen Agama (sekerang Kementerian Agama) dan juga mempelajari ilmu-ilmu salaf yang menginduk dari Ponpes Al Anwar Sarang.

Tahun 2006, MTs Al Anwar telah meluluskan sekitar 121 siswa. Untuk saat ini MTs Al Anwar memiliki siswa 346 siswa dari kelas VII sampai dengan kelas IX. Sampai saat ini MTs Al Anwar terus berusaha untuk berbenah diri untuk selalu mensukseskan apa yang dikehendaki Syaikhina dengan selalu pro aktif dalam segala aspek demi tercapainya tujuan tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, pada 21 September 2006 Ponpes AL Anwar juga telah membuka lembaga pendidikan setingkat SLTA dengan nama Madrasah Aliyah Al Anwar yang sampai saat ini masih berjalan pada tahun ketiga, dengan jumlah siswa 243 siswa terbagi menjadi enam kelas, yaitu kelas putra 132 siswa dan 111 siswi. Dan pada tahun 2007 juga telah dibuka lembaga pendidikan setingkat SD dengan nama Madrasah Ibtida'iyah Al Anwar yang sampai saat ini telah berjalan pada tahun kedua dengan jumlah siswa 30 siswa siswi.

Namun meskipun demikian, konsep Salaf yang diusung oleh Program pendidikan berbasis formal ini sangat kental dan memang menjadi satu harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Hal inilah yang membuat Al-Anwar berbeda dengan lembaga pendidikan formal lainnya, yang memang menjadi agenda utama dari didirikannya MI, MTs dan MA Al Anwar serta Sekolah Tinggi Agama Islam Al Anwar (STAI Al-Anwar)

Infrastuktur dan segala hal yang dibutuhkan untuk menunjang hal tersebut diatas kini terus diupayakan oleh pihak Ponpes Al Anwar, baik dalam bentuk bangunan fisik maupun non fisik. Alhamdulillah, bertepatan dengan harlah PP Al Anwar ke-42 telah selesai dirampungkan dan sekaligus diresmikan pembangungan PP Al Anwar 2 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia DR. Ir. Muhammad Nuh DEA yang meliputi 1lokal gedung berlantai 2 untuk pemondokan santri putra dengan kapasitas tampung 300 santri dan satu kediaman KH Abdullah Ubab MZ (putra pertama Syaikhina KH. Maimoen Zubair yang sekaligus menjadi pengasuh PP AL Anwar 2) dan 1 lokal Gedung untuk fasilitas pemondokan santri putri dengan kapasitas tampung 300 santri yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk menunjang proses belajar mengajar secara formal dan menjadi tempat menimba ilmu salaf sebagai fondasi dan bekal para santri. Pengadaan asrama bertujuan untuk menitiktekankan pada efektifitas pendalaman ilmu-ilmu salaf, karena nantinya juga akan diasuh oleh para ustadz di bawah naungan para masyayikh pondok pesantren Al-Anwar Sarang. Diharapkan para santri pada akhirnya betul-betul dapat terkondisikan dan selalu dalam pengawasan, dengan tujuan nantinya para siswa ini mampu terbiasa hidup disiplin, terampil, dan selalu menjadikan akhlaqul karimah sebagai nafas dalam kehidupannya.

Fasilitas yang ada di Al-Anwar III juga tidak kalah pentingnya. Mulai dari sarana prasana tempat kuliah hingga tempat pemondokan santri telah tersedia dengan bangunannya begitu megah. Bangunan di Al-Anwar III ini disebut dengan RUSUNAWA (Rumah Susun Al-Anwar) yang telah diresmikan oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si dan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz pada tahun 2012. Untuk ruang laboratorium Al-Anwar III telah diresmikan oleh DR. Ir. Muhammad Nuh DEA pada tahun 2013. Pesantren Al-Anwar III ini dikhususkan bagi mereka yang ingin melanjutnya pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Pesantren Al-Anwar III ini diasuh oleh Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar As-Syarief Mesir.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren Al Anwar tidaklah merubah karakter salafiyyah yang dimiliki tapi masih gentol untuk mempertahankannya, juga tidak menutup mata terhadap tuntutan zaman yang sarat dengan kemajuan dalam segala bidang utamanya dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan lainnya, namun dalam kaitan tersebut Pondok Pesantren Al-Anwar tetap menjadikan pelajaran-pelajaran salaf sebagai pondasi sehingga merupakan menu wajib yang harus ada dalam semua tingkat pendidikan yang ada.

 

Read More >>