Mukjizat dan Alasan ke-Umii-an Rasulullah

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ (1) هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (2) وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (3) ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (4

 

Rasulullah "Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, yang Maha Suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Jumuah : 1-4).

 

Semua makhluk yang ada di dunia ini membaca tasbih kepada Allah Swt. Mereka mensucikan Allah dari perkara yang tidak pantas bagi-Nya. Pambacaan tasbih dari makhluk tadi, adakalanya yang diketahui manusia, dan ada yang hanya diketahui oleh Allah. Semuanya yang membaca tasbih tadi mempunyai manfaat, baik yang sudah diketahui atau yang belum diketahui manusia.

 

Kadang ada sesuatu kalau dilihat secara zahirnya itu merupakan perkara yang jelek. Akan tetapi, pada hakikatnya dia mempunyai manfaat. Misalnya, pencuri dan penipu. Dari keduanya ini akan menimbulkan suatu manfaat. Yaitu, mengharuskan adanya polisi untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam suatu negara.

 

Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis atau buta huruf. Ummi dalam istilah Jawa bisa dikatakan "aduh embok." Namun, di balik ke-ummi-an Rasulullah Saw ini mengandung suatu mukjizat dan manfaat yang agung.Yaitu, Al-Quran bukanlah buatan Nabi Muhammad Saw. Di samping itu, meskipun Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang ummi, tetapi beliau dapat melihat Lauhul Mahfudz. Suatu anugrah yang tidak dimiliki selain Nabi Muhammad Saw. Maka dari itu, kita tidak boleh menghina ke-ummi-an Rasulullah Saw tadi.

 

Makkah yang merupakan kota kelahiran Rasulullah Saw itu juga disebut ummi. Hal ini disebabkan kota Makkah mulai zaman dahulu sampai sekarang selalu digunakan sebagai Ibu Kota umat Islam. Keistimewaan Makkah sebagai Ummil Qura itu berbeda dengan ibu kota yang lainnya. Contoh kecilnya adalah kerajaan Majapahit, tatkala kerajaannya sudah hancur, ibu kotanya juga ikut hancur.

 

Meskipun Nabi Muhammad Saw merupakan nabi yang ummi, namun beliau itu adalah keturunan orang-orang yang mulia, keturunan bangsawan. Dalam istilah pewayangan orang yang bangsawan disebut keturunan bangsa Arya. Beliau adalah keturunan Nabi Ibrahim As. Kesukuan Arya Rasulullah Saw hanya diperoleh dari jalur Nabi Ibrahim saja. Sedangkan Sayyidah Hajar, bukanlah keturunan bangsa Arya. Berbeda dengan Nabi Ishaq As. Beliau itu keturunan bangsa Arya dari jalur ayah dan ibunya. Yaitu, Nabi Ibrahim As dan Sayyidah Sarah.

 

Kehadiran Nabi Muhammad Saw itu diharapkan dan ditunggu-tunggu oleh Bani Hasyim, sebuah kabilah yang kaumnya cuma sedikit yang bisa membaca dan menulis. Berbeda dengan Bani Abdi Syam, yang merupakan rival dari Bani Hasyim. Mereka sudah maju dalam dunia membaca dan menulis.

 

Tatkala Bani Abdi Syam belum banyak yang masuk Islam, penulisan wahyu Allah dilakukan sahabat hanya dengan ala kadarnya. Namun, tatkla Bani Abdi Syam banyak yang masuk Islam, penulisan Al-Quran metodenya bertambah maju. Sebab, ada salah satu keturunan Bani Abdi Syam yang ikut menjadi katib Rasulullah Saw untuk menulis wahyu. Yaitu, Muawwiyah bin Abi Sofyan.

 

Bani Abdi Syam, memanglah kabilah yang maju dalam dunia pendidikannya. Khadijah saja berguru kepada kabilah Abdi Syam. Beliau berguru kepada Waraqah bin Naufal. Dari gurunya ini, Khadijah menjadi sosok perempuan yang alimah. Beliau mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang telah ditunggu-tunggu oleh semua manusia.

 

Sarang, 21 Mei 2012

Catatan : Artikel ini disarikan dari pengajian Syaikhina Maimoen Zubair pada saat Ngaji Ahadan pada 13 Mei 2012 dengan kajian surat Jumu'ah ayat 1-4.

Read More >>

Sifat Orang – Orang Yahudi

KH. MAIMOEN ZUBAIR مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ. قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِن زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاء لِلَّهِ مِن دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَداً بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ * قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

 

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar". Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Jumu’ah :5-8).

 

Allah menurunkan kitab Taurat kepada orang Yahudi. Mereka membaca kitab tersebut dan mengerti apa yang ada di dalamnya. Namun, mereka tidak mau menjalankan apa yang ada dalam kitab tersebut. Seperti menjalankan sesuatu yang ada kaitannya dengan akan datangnya Nabi Akhir Zaman. Mereka mendustakan Nabi Muhammad Saw padahal ciri-ciri untuk Nabi Akhir Zaman ini sudah jelas ada dalam kitab Taurat yang mereka baca.

Ciri-ciri Nabi Akhir Zaman yaitu dia dilahirkan di kota Makkah. Hijrah ke kota Madinah yang kemudian kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Syam meliputi Damaskus, Yordonia dan Palestina.

 

Karena keingkaran kaum Yahudi terhadap Rasulullah Saw padahal bukti kerasulan sudah jelas, hal ini membuat mereka diibaratkan seperti binatang Himar yang membawa kitab. Dalam hal ini Allah menghinakan mereka dengan sebuah perumpamaan Himar. Himar adalah binatang yang sangat bodoh sekali bila dibandingkan dengan binatang yang lainnya seperti kuda dan onta.

 

Sebelum Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah, orang-orang Yahudi dari belahan dunia berbondong-bondong datang ke kota Madinah untuk menyambut datangnya Nabi Akhir Zaman. Dengan datangnya kaum Yahudi ini, membuat kota Madinah menjadi maju dalam segi perekonomian. Karena sebelumnya, penduduk Madinah adalah kaum yang miskin seperti halnya Bani Najjar yang masih ada hubungan kerabat dengan Nabi Muhammad Saw.

 

Datangnya kaum Yahudi ada juga dampak negatifnya. Dengan datangnya bangsa Yahudi ini membuat kesengsaraan bagi penduduk asli Madinah sebab mereka terjajah perekonomiannya. Itulah kaum Yahudi, kedatangannya membawa dua dampak, positif dan negative. Positif dalam membawa kemajuan perekonomian dan negative dalam membawa kesensaraan.

 

Dampak positif yang dibawa kaum Yahudi untuk penduduk Madinah selain dalam segi memajukan perekonomian penduduk Madinah, mereka juga dapat mendamaikan perselisihan yang terjadi antara suku Aus dan Khajraz. Kedua kelompok ini sering sekali bertikai sebelum datangnya bangsa Yahudi ke Madinah.

 

Ironisnya, dari semua kebaikan bangsa Yahudi, tatkala Nabi Muhammad Saw sudah tiba di Madinah, mereka mengingkari kebenaran Rasulullah Saw dan risalah yang dibawanya kecuali hanya segelintir orang dari mereka. Hal ini disebabkan karena kedengkian yang ada dalam hatinya karena kebanyakan orang-orang yang masuk Islam adalah orang-orang desa. Seperti Abu Bakar, Abu Dzar al-Ghifari. Di samping itu mereka juga merasa kecewa karena mereka tidak dijadikan pemimpin bagi kaum muslimin.

 

Contoh kaum Yahudi yang masuk Islam adalah Abdullah bin Salim dan Sofyah, istri Rasulullah Saw. Adapun Ka’ab bin Akhbar, meskipun dia itu mengetahui kalau Nabi Muhammad Saw adalah Nabi Akhir Zaman sesuai dengan Taurat, namun dia tidak mau masuk Islam terlebih dahulu. Dia menunggu ciri-ciri terakhir dari Nabi Muhammad Saw ini. Ciri-ciri tersebut yaitu jatuhnya negeri Syam di tangan kaum muslimin yang terjadi pada masa Umar bin Khattab. Ketika kota Syam sudah jatuh ke tangan umat Islam, maka Ka’ab baru masuk Islam. Inilah ciri-ciri yang ada dalam kitab Taurat yang menyebutkan bahwa kerajaan Islam akan menjulang ke negeri Syam.

 

مولده بمكة، وهجرته بالمدينة، وسلطانه بالشام

 

“Lahirnya di kota Makkah, hijrahnya di kota Madinah dan kekuasaannya menjulang sampai ke daerah Syam.”

 

Negeri Syam maju juga akibat dari jasanya orang Yahudi yang bertempat tinggal di sana. Mereka telah diusir oleh khalifah Umar bin Khattab dari Madinah. Pengusiran selalu saja terjadi untuk kaum Yahudi dampak negatif yang dibawanya. Kaum Yahudi memanglah bangsa yang kuat. Meskipun sering diusir dari tempat yang satu ke tempat yang lain, kaum Yahudi dapat membangun kekuatannya lagi. Ibarat kekuatan kaum Yahudi, jika ada orang Arab yang jumlahnya dua juta melawan orang Yahudi yang berjumlah empat ribu, maka bangsa Arab akan kalang kabut. Seperti tikus ketika melihat kucing. Akan tetapi, Yahudi itu kaumnya sulit untuk bertambah. Ketika hendak bertambah terjadilah pengurangan. Kenyataan ini terjadi saat mereka berada di Jerman. Tatkala bangsa Yahudi jumlahnya banyak, mereka dibantai habis-habisan oleh Hitler di saat ada Perang Dunia.

 

Orang Yahudi itu takut akan kematian. Mereka menyangka dialah kekasih Allah. Akan tetapi, jika ajal akan tiba, mereka tidak mempersiapkan bekalnya. Mereka tidak menginginkan kematian. Mereka ingin umurnya dipanjangkan oleh Allah sehingga bisa hidup lama dalam menikmati dunia. Mereka juga ingin rizki yang luas. Padahal siat-sifat kekasih Allah ketika ajal sudah mendekati, mereka mengharap bertemu dengan Allah lewat kematian tadi. Orang mukmin yang semacam ini akan dihibur oleh Allah dengan datangnya Malaikat yang akan menghiburnya dalam detik-detik kematian. Malaikat tersebut memberi kabar gembira dari Allah Yang Maha Kuasa.

 

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

 

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS : Fushshilat : 30).

Malaikat tadi memberi kabar akan adanya surga yang sudah dijanjikan oleh Allah bagi hamba-Nya yang beriman. Merekalah kekasih Allah yang mencari negeri akhirat dibandingkan dengan negeri dunia. Sehingga, tidak mengherankan karena mencari negeri akhirat ada wali Allah yang menjauh dari keramaian manusia seperti yang telah terjadi pada Imam As-Syadzili. Beliau adalah salah satu ulama ahli Tarekat yang makamnya pernah diziarahi oleh Syaikhina Maimoen Zubair.

Sarang, 26 Desember 2012.

Catatan : Artikel ini disarikan dari pengajian tafsir Syaikhina Maimoen Zubair dengan materi surat al-Jumu’ah ayat 5-8.

Read More >>

Pengajian Ihya’ Ulumuddin Menurut KH. Maimoen Zubair

ihyaulumudin Di beberapa pesantren, khataman pengajian Ihya’ dimeriahkan dengan berbagai acara, seperti pengajian umum, tahlil dan sebagainya. Mengomentari fenomena ini Mbah Moen berpandangan bahwa khataman Ihya’ kalau dimeriahkan, biasanya tidak sampai lima kali Kiainya sudah meninggal. Beliau menyebut beberapa contoh diantaranya, Kyai Ihsan Jampes Kediri, Kyai Jazuli Jember, Kyai pesantren Mayang Ponorogo, dan seorang kyai dari Palembang yang diceritakan panjang lebar.

 

Ketika saya tanyakan, mengapa demikian, Beliau menjawab, “yo ngono iku”. Setelah jeda beberapa saat Beliau melanjutkan, “Ihya’ iku zuhud”. Saya mengartikan dawuh beliau bahwa karena Ihya’ bersifat zuhud, maka ia tidak cocok dengan hiruk-pikuk kemeriahan yang diadakan dalam rangka memungkasi pengajian Ihya’ tersebut.

 

Oleh karena itu Mbah Moen berpantang memeriahkan khataman Ihya’. Pernah suatu kali para santri berencana, bahkan sudah mengumpulkan dana, untuk memeriahkan khataman Ihya’. Ketika mengetahui hal tersebut beliau melarangnya. Dan alhamdulillah sejak pertama kali mengampu pengajian Ihya’ di tahun enam puluhan hingga kini, Beliau sudah lebih dari lima kali khataman Ihya’. Semoga Allah memanjangkan dan memberkati umur Beliau.

 

Menurut Mbah Moen, beberapa kyai terdahulu juga mengambil sikap kehati-hatian serupa. Mbah Dlowi Lasem, misalnya, kalau ngaji Ihya’ tidak pernah dikhatamkan. Demikian pula Mbah Ber. Mbah Moen sendiri selalu mengkhatamkan Ihya’, tetapi disertai dengan dua langkah antisipasi: Pertama, tidak memeriahkan khtaman; kedua, membuat jeda antara akhir pengajian dengan awal pengajian berikutnya.

 

Meski demikian Mbah Moen merasa bahwa cara yang ditempuhnya masih ada yang kurang tepat. Beliau menuturkan, setiap kali beliau sampai pada kitab dzikr al-maut ada santri yang meninggal.

 

Disamping keunikan di atas, Mbah Moen juga menuturkan, “moco Ihya’ iso nyebabno tentrem lan rame”. Saya menangkap pengertian “rame” di sini adalah “rame santrine”.

 

Tentang “tentrem” ini saya teringat dengan dawuh Beliau ketika pengajian di Dasin Tambakboyo Tuban, “Nduwe duit ora bungah, ora nduwe duit ora susah”. Ini sikap hidup yang bisa mendatangkan ketentraman, tetapi tidak mudah diresapkan. Bisa jadi dengan mengaji Ihya’ seseorang secara perlahan bisa meresapkan sikap hidup semacam itu yang pada gilirannya bisa mendatangkan ketentraman.

 

Dan tentang “rame santrine”, saya melihatnya sebagai berkah yang dialami Mbah Moen. Umumnya pesantren besar didirikan oleh pengasuh generasi pertama. Setelah diwariskan ke pengasuh generasi kedua atau ketiga barulah pesantren tersebut mengalami peningkatan jumlah santri yang pesat. Tetapi pesantren Al-Anwar yang didirikan Mbah Moen memiliki fenomena yang berbeda. Mbah Moen adalah perintis berdirinya Pesantren Al-Anwar, dan di tangan beliau pula peningkatan jumlah santri mengalami perkembangan pesat. Hingga kini trend pertumbuhan jumlah santri masih berada pada grafik naik. Semoga Allah memanjangkan dan memberkati usia Beliau.

Read More >>

KH. Maimoen Zubair dan Nahdlotul Ulama’

nahdlotul ulama' NU Organisasi Nahdlatul Ulama itu tidak bisa dipisahkan dengan oganisasi Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan. Peran Nahdlatul Wathan ini sangat vital sekali. Hal ini terbukti ketika di Negeri Haramain terjadi pergantian kekuasaan dari Daulah Asyraf (tahun 1924-an) yang kemudian diganti dengan Raja Abdul Aziz. Oraganisasi Nahdlatul Wathan ini mengirimkan delegasi kepada Sultan Abdul Aziz ke Makkah. Delegasi yang dikirim oleh Nahdlatul Wathan ini dinamakan dengan Komite Hijaz. Dari nama Komite Hijaz ini, kemudian menjadi Muktamar yang diselenggarakan pada pada tanggal 31 Januari 1926 yang menghasilkan organisasi yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama dengan Rais Akbarnya KH. Hasyim Asyari dan KH. Faqih Mas Kumambang sebagai wakilnya. Ulama-ulama yang ada di barisan Nahdlatul Ulama itu mempunyai peran besar untuk membangun bangsa dan negaranya dengan ilmu yang bersumber dari Al-Quran.

 

Allah telah menurunkan Al-Quran yang diibaratkan seperti air yang dapat menghasilkan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Adanya bermacam-macam ilmu pengetahuan ini disebabkan karena adanya seorang ulama yang diumpamakan seperti gunung-gunung yang warnanya ada yang Merah dan Putih. Kedua warna ini persis dengan warna bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allah berfirman;

 

الَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفاً أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ * وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ

 

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). (QS. Al-Faatir : 27-28)

 

Warna Merah melambangkan nasionalisme bangsa Indonesia yang penuh dengan keberanian, sedangkan putih melambangkan keikhlasan dalam berjuang. Dari kedua warna ini, jiwa bangsa Indonesia itu harus diwarnai dengan nasionalisme dan keikhlasan.

 

Nikmat agung tersebut itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Nikmat Allah yang agung yang diperuntukan bagi bangsa Indonesia adalah nikmat yang berupa kemerdekaan. Merdeka yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

Angka-angka yang menandai kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah angka-angka keberuntungan. Angka 17 menunjukan jumlahnya rekaat shalat wajib yang dikerjakan oleh umat Islam dalam sehari semalam. Angka 17 terdiri dari 1+7. Jika kedua angka ini ditambahkan maka jumlahnya akan menjadi 8 (bulan delapan adalah bulan Agustus). Hal ini sesuai dengan jumlah surga yang disediakan Allah bagi hamba-Nya yang mau mengerjakan shalat.

 

Adapun angka 45 diakhir dari 1945 itu merupakan angka yang sempurna. Sebab, 4+5=9. Angka Sembilan ini persis dengan jumlah bintang yang digunakan sebagai lambangnya organisasi Nahdlatul Ulama.

 

Selain rahasia di atas, jika lafal Nahdlatul Ulama dihitung dengan memakai standar Abajadun, maka jumlahnya adalah 17. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa antara NU dengan perjuangan bangsa Indonesia itu ada keterkaitan.

 

Untuk makna dadung (tali yang melingkar) yang ada pada lambang Nahdlatul Ulama, itu menunjukan arti hubungan antara manusia dengan tuhannya.

 

Di dalam memperjuangkan NU, Syaikhina Maimoen Zubair juga mempunyai loyalitas yang tinggi meskipun pada tahun 2002 beliau telah keluar dari organisasi tersebut. Namun, pada tahun 2010 beliau kembali lagi untuk bergabung memperjuangkan Nahdlatul Ulama dengan jabatan sebagai Dewan Muhtasyar.

 

Catatan:

Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair pada acara Muskerwil PWNU di PP Al-Anwar tahun 2013.

 

NB: Ketika Mbah Hasyim hendak pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah Nahdlatul Ulama, beliau sering mampir di kediaman kakek dan buyutnya Syaikhina Maimoen Zubair (Kiai Ahmad bin Syuaib dan Kiai Syuiab bin Abdurrozak). Begitu juga dengan Mbah Wahab Hasbullah yang sering mampir di Sarang untuk berkunjung di kediaman Kiai Zubair bin Dahlan.

 

Dari keakraban hubungan leluhur Syaikhina Maimoen Zubair dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini, maka tidak mengherankan jika NU-nya Syaikhina Maimoen itu dikatakan sejak beliau belum dilahirkan. Sebab, sebelum beliau lahir, ada tiga tokoh NU, Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Syansuri telah berkenan meludahi air (nyuwuk red) yang diambil oleh Kiai Ahmad yang nantinya akan diminumkan kepada Ibunya Syaikhina Maimoen saat mengandung dirinya supaya mendapatkan keberkahan dari ketiga ulama tersebut. (KH. Abdullah Ubab Maimoen)

Read More >>

Keseimbangan Beribadan dan Bekerja

يَا أَيُّهاا لَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (10) وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (11

beribadah dan bekerja "Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan salat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhatbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik pemberi rezki."(QS. Al-Jumuah : 9-11).

 

Hari Jumat merupakan hari besarnya umat Islam. Di hari itu, Allah mewajibkan hamba-Nya yang beriman untuk menjalankan ibadah salat Jumat. Mereka dianjurkan untuk bergegas menuju masjid untuk menjalankan ritual ibadah Jumat. Akan tetapi, janganlah tergesa-gesa. Kerjakanlah ibadah Jumat dengan tenang dengan mengaharap rida Allah Swt. Semakin jauh jarak seseorang dalam menempuh perjalanan menuju masjid, maka semakin besar pula pahala yang akan didapatkan dalam memperoleh keutamaan Jumat. Hal ini sesuai dengan usaha yang ia kerjakan. Biasanya orang yang datang menuju masjid itu disesuaikan dengan keadaannya.

 

Di dalam ritual Jumatan itu ada dua ibadah. Pertama berupa salat dan yang kedua berupa khutbah. Mulanya khutbah Jumat itu dikerjakan setelah mengerjakan salat Jumat. Akan tetapi, kemudian dipindah sebelum salat Jumat. Khutbah Jumat ini sebagai gantinya salat Jumat. Makanya ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa khutbah Jumat ini harus menggunakan bahasa Arab karena salat itu menggunakan bahasa Arab. Selain itu, khutbah Jumat ini hendaknya berisi ilmu agama bukan ilmu umum.

 

Khutbah Jumat itu juga bisa disebut dengan zikir karena mengandung banyak zikir. Terlebih ilmu yang terkandung di dalamnya. Karena ilmu itu sendiri merupakan zikir. Allah berfirman;

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (43

 

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl : 43).

 

Salat juga bisa disebut dengan zikir. Bahkan salat adalah pokok dari pada zikir. Tidak seperti sebagian orang yang mengatakan bahwa untuk sampai kepada Allah harus melalui suatu Tarekat yang di dalamnya banyak bacaan zikir. Allah berfirman;

 

{ أَقِمِ الصلاة لِذِكْرِي } [ طه : 14 ]

 

"Dirikanlah salat untuk mengingat aku." (QS. Thaha : 14)

 

Tatkala salat Jumat sudah usai dikerjakan, seseorang boleh langsung bergegas menuju pekerjaannya lagi. Mereka tidak usah membaca wirid. Hal yang semacam ini bahkan bisa menjadi wajib bagi mereka yang membutuhkan, seperti para pekerja pabrik yang jadwalnya sudah diatur oleh majikannya. Jika mereka berzikir dikawatirkan akan ketinggalan dalam pekerjaannya. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai uzur. Akan tetapi, bagi yang tidak mempunyai uzur hendaknya mereka membaca zikir sebagaimana yang diajarkan oleh syariat Islam. Dan kalau bisa, mereka juga mengerjakan salat Qobliyah dan Ba’diyah.

 

Bekerja mencari rizki Allah yang beretebaran di muka bumi ini adalah suatu kuwajiban yang harus dijalankan bagi manusia. Islam menyuruh umatnya untuk mencari rizki Allah dan tidak boleh berpangku tangan dan duduk-duduk manis mengaharapkan rizki datang sendiri.

 

Seseorang harus mempunyai kesibukan yang ada manfaatnya. Jangan sampai menganggur. Sebab, pengangguran itu hanya akan menjadikan kerusakan. Kerusakan juga ditimbulkan oleh orang yang tidak mempunyai cita-cita yang luhur. Kedua permasalahan ini jika dibiarkan akan merusak tatanan negara yang sudah terbangun rapi.

 

Islam yang datang ke suatu daerah atau negara itu membawa suatu kemakmuran. Namun, Islam yang datang di negara Indonesia ini terutama pulau Jawa itu aneh. Kemakmuaran umat Islam belum dicapai sepenuhnya. Masih banyak orang yang tirakatan. Tirakat ini disebabkan karena penyebar agama Islam di Jawa juga tirakatan. Mereka bertirakat sebab harus mengahadapi orang Hindu-Budha yang ahli tirakat dan mempunyai ilmu yang sakti mandraguna. Dari keadaan ini, mengahruskan Wali Songo dan penyebar agama Islam di Jawa harus bertirakat. Seperti tirakatnya Nabi Musa As selama 40 hari.

 

Islam datang menyuruh umatnya untuk berzikir dan bekerja. Berzikir bertalian dengan masalah akhirat dan bekerja berhubungan dengan masalah dunia.

Jika ingin maju dalam masalah dunia, maka hendaknya dunia tadi dihiasi dengan hiburan dan permainan seperti peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. Peristiwa itu terjadi ketika Rasulullah Saw sedang membacakan khutbah Jumat di masjid Madinah. Pada saat itu, ada rombongan datang dengan membawa dagangannya yang diiringi dengan lahwunnya. Sehingga, para sahabat Nabi Muhammad Saw banyak yang keluar dari masjid untuk ikut mengerumuni rombongan dagang tadi. Semuanya keluar kecuali dua belas sahabat yang masih setia mendengarkan khutbah yang dibacakan oleh Rasulullah Saw.

 

Rayuan dunia memanglah seperti itu. Terkadang saking sulitnya mencari dunia, ada sebagian orang yang siang-malam waktunya hanya untuk bekerja mencari dunia. Padahal mereka masih saja kekurangan dalam urusan dunia. Berbeda dengan wali-wali Allah yang selalu berzikir mengingat Allah. Justru dunia telah mendatangi mereka. Secara Hakikat dunia itulah yang harus mendatangi kita, namun secara Syariat kita yang harus mencari dunia tersebut.

 

Rizki yang mendatangi kekasih-kekasih Allah yang didatangkan dari surga itu tidak membuat orang mengeluarkan kentut dan buang hajat. Hal ini berbeda dengan rizki yang diambil dari dunia. Rizki dari surga seperti yang telah diberikan Allah kepada Maryam binti Imran, Imam as-Syadzili dan Imam al-Ghazali.

 

Rizki Allah selalu ditebarkan di muka bumi ini. Semua makhluk mendapat rizki yang telah dijanjikan Allah. Hal ini tidak menafikan ikhtiyar manusia dalam mencari rizki. Terlebih orang yang bertaqwa yang rizkinya telah dicukupi Allah. Hewan saja mendapatakn rizki dari Allah, apalagi manusia tentunya lebih dari itu. Allah Swt berfirman;

 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

 

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya." (QS. Huud : 6).

 

Umat Islam harus mengulurkan tangannya untuk membantu rizki saudaranya yang masih kekurangan. Hal ini sejalan dengan apa yang telah diperintahkan Rasulullah Saw yang menyuruh sahabatnya yang kecukupan untuk membantu sahabatnya yang masih dalam kekurangan.

 

Sarang, 30 Desember 2012

Catatan : Artikel ini disarikan dari pengajian tafsir Syaikhina Maimoen Zubair pada 27 Mei 2012 dengan kajian Tafsir surat Al-Jumuah ayat 9-11.

Read More >>

Para Kyai Pulau Jawa dan KH. Hasyim Asy’ari Menurut Mbah Mun

KH MAIMOEN ZUBAIR Dahulu kala, sebelum kiai-kiai nusantara mengembangkan agama Islam di tempat kelahirannya, mereka terlebih dahulu menuntut ilmu sebagai bekalnya. Kebanyakan dari mereka adalah menuntut ilmu di tanah suci Makkah. Kiai-kiai alumni Makkah ini kebanyakan mempunyai pengaruh tersendiri. Seperti Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai Asnawi Kudus, Kiai Baidlowi Lasem.

 

Kiai-kiai Jawa ketika di Haramain belajar kepada ulama-ulama setempat. Baik yang masih keturunan Rasulullah Saw ataupun bukan, seperti Sayyid Alawi, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Mahfud at-Turmusi, Syaikh Imam Nawawi al-Bantani dan sederetan ulama lain yang mengajar di Masjidil Haram.

 

Kiai Hasyim Asy'ari merupakan salah satu Kiai yang mondoknya lama sekali. Saking lamanya menuntut ilmu, ada sebagian orang yang mengatakan beliau pernah membeli Amat (Budak Perempuan). Beliau masih senang tirakatan belajar dan mengaji hingga umurnya sampai tua, sudah layaknya menikah. Dari berkah lamanya Kiai Hasyim mondok ini, banyak orang yang belajar kepadanya. Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar, seperti Kiai Ahmad bin Syuaib, Kiai Maksum Lasem dan kiai-kiai lain yang tersebar di mana-mana.

 

Selain Kiai Hasyim yang ahli tirakatan, leluhur Syaikhina Maimoen juga ahli tirakatan. Mereka kebanyakan menikah setelah umurnya empat puluh tahun. Seperti pernikahan Mbah Syamsyiyah dan Mbah Muhdlor, Mbah Ghazali bin Lanah dan Kiai Syuaib. Untuk itu, diharapkan bagi santri agar jangan tergesa-gesa ingin cepat boyong dari mondoknya.

 

Adapun masalah Syaikhina Maimoen, ketika mondok di Makkah beliau hanya sebentar. Di sana beliau belajar kepada Sayyid Alawi, Sayyid Amin al-Kutbi dan ulama Haramain lainnya. dari Sayyid Amin ini, Syaikhina Maimoen pernah diajak keponakannya untuk melihat Kiswah Ka'bah, sebab keponakan Sayyid Amin ini adalah Direktur Bagian Urusan Kiswah Ka'bah.

 

Syaikhina Maimoen Zubair juga belajar kepada Syaikh Abdullah bin Nuh. Beliau adalah ulama asal negeri Malaysia yang mengajar di Makkah. Dari Syaikh Abdullah bin Nuh ini, Syaikhina belajar bagaimana membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Beliau mengajarkan kepada Syaikhina Maimoen agar ketika membaca Al-Quran itu ketika waqof (tanda berhenti baca) harus sesuai dengan jumlah kalimatnya (stuktur kalimatnya). Bukan hanya sekedar waqof yang seperti sudah ditandakan di dalam Al-Quran yang sudah dicetak.

 

Selama di Makkah, banyak kitab yang dipelajari Syaikhina Maimoen dari ulama Makkah. Namun, yang khatam cuma ada tiga. Yaitu, kita Usul Fikih karya Imam Haramain, kitab Baiquniyyah dan kitab karya Syaikh Zam-Zami.

 

Belajar ilmu agama adalah suatu perkara yang sangat penting. Mengaji yang baik hendaknya tidak ada daftarnya. Hanya semata-mata karena Allah. Setiap santri yang belajar, mereka mengelilingi kiainya yang telah mengajarkan ilmu. Mereka mendengarkan dan menyimak apa yang telah disampaikan oleh kiainya tadi. Jika ada yang datang terlambat, maka dia akan diberi kelonggaran tempat duduk agar bisa mendengarkan ilmu sebagaimana orang yang datang terlebih dahulu.

Jika hal yang diajarkan Rasulullah Saw ini diamalkan sebagaimana mestinya, maka Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang mempunyai ilmu. Allah berfirman;

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ 11

 

"Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Mujaadilah : 8).

 

Akan tetapi, untuk merealisasikan mengaji sebagaimana tradisi ulama-ulama salaf terdahulu, kita membutuhkan usaha dan kerja keras yang maksimal. Sekarang, sedikit sekali orang yang mau mengaji. Tradisi belajar sudah diganti dengan praktik akademisi yang tentunya harus mendaftar siswanya yang mau belajar. Apabila kita tidak bisa meninggalkan tradisi akademisi, maka jangan pula meninggalkan tradisi mengaji secara total entah bagaimana caranya.

 

Sarang, 5 Januari 2013.

Catatan : Artikel ini disarikan dari ceramah Syaikhina Maimoen Zubair ketika ada acara HIMMA (Himpunan Mutakharrijin Mutakharrijat Al-Anwar) tahun 2009

Read More >>

KH. Maimoen Zubair Matahari Terbit di Perbatasan

KH. MAIMOEN ZUBAIR Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928. Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu'aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.

 

Mbah Moen, begitu orang biasa memanggilnya, adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

 

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.

 

Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

 

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shorof, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam Ilmu Syara' yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahanda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa'id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.

 

Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, Beliau sudah hafal diluar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi'I, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

 

Pada tahun kemerdekaan, Beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, dibawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, Beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi.

 

Di pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

 

Tanpa kenal batas, Beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu'aib.

 

Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain Sayyid 'Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Al-Imam Hasan Al-Masysyath, Sayyid Amin Al-Quthbi, Syaikh Yasin bin Isa Al- Fadani dan masih banyak lagi.

 

Dua tahun lebih Beliau menetap di Makkah Al- Mukarromah. Sekembalinya dari Tanah suci, Beliau masih melanjutkan semangatnya untuk "ngangsu kaweruh" yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, Belaiau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama' besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidlowi (mertua beliau), serta KH. Ma'shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma'shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Sayikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abul Fadhol, Senori.

 

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman Beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

 

Keharuman nama dan kebesaran Beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil "jadi orang" karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren Beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang Belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa Beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari Beliau.

 

Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi Beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akhirat. Amin

 

Karangmagu sarang Rembang Perbatasan Jateng - Jatim
Read More >>

Kebahagiaan Dibalik Cobaan dan Musibah

ورود الفاقات أعياد المريدين السالك

gus wafi2 “Datangnya musibah dan cobaan adalah hari raya yang indah bagi orang-orang yang sedang menempuh jalan menuju kepada Allah swt (السالك /المريد).”

1. Kelemahan manusia

الفاقة atau biasa diartikan sebagai puncak kelemahan dan kefakiran dan kekurangan adalah sebuah sifat yang tidak bisa lepas dari manusia dalam segala keadaan. Hanya saja datangnya musibah dan cobaan yang menimpa seseorang manusia, akan mengingatkannya kembali setelah beberapa saat meninggalkan sifat asal ini.

Artinya, kadang-kadang seseorang melupakan sifat lemah dan kurang yang melekat kepadanya ketika sedang diliputi nikmat dan jauh dari musibah. Ia menyangka bahwa dirinya adalah orang yang kuat, padahal sebenarnya lemah. Ia mengira dirinya kaya meskipun hakikatnya miskin. Tak lain karena yang dinamakan kuat adalah orang yang memiliki kekuatan serta mampu mempertahankannya sesuai apa yang ia inginkan, bukannya orang yang hanya mampu menggunakan kekuatan, namun tidak bisa mempertahankannya. Begitu juga yang dinamakan kaya adalah orang yang memikiki dan menguasai kekayaan.

Bukanlah dikatakan kaya seseorang yang membutuhkan harta yang banyak, agar ia menjadi tidak butuh kepada orang lain.

Dan jika kita mau berkata jujur, di dunia ini tidak ada manusia yang memiliki kekuatan kemudian mempertahankan sesuai kehendaknya. Sama halnya, tak ada seorang pun yang benar-benar memiliki kekayaannya, hingga ia sama sekali tidak membutuhkan orang lain.

Pada dasarnya, hakikat manusia seluruhnya adalah orang-orang yang fakir. Selalu membutuhkan kepada Dzat yang memberikan makanan agar mereka tidak kelaparan, yang menganugerahkan kekuatan serta menghadiahkan kekayaan kepada mereka sehingga mereka menjadi kaya dan tidak butuh kepada orang lain. Tak lain Dzat tersebut adalah Allah Yang Maha Sempurna.

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Q.S. Quraisy: 3-4)

Apabila Allah swt menganugerahkan kekayaan dan kekuatan atau memberikan makanan dan rasa aman kepada seseorang manusia, maka hal itu tidaklah serta merta menjadikannya lepas dari sifat lemah dan kurang, yang melekat pada dirinya. Karena kelemahan adalah sifat asli yang selalu melingkupi kehidupan manusia. Adapun kekuatan, kekayaan ataupun kemakmuran, semua itu hanyalah perkara-perkara yang datang dan pergi silih berganti, sesuai dengan ketetapan Allah swt dan selalu menyimpan hikmah-hikmah tertentu.

Kata pepatah, “Manusia adalah tempatnya salah dan lupa (الإنسان محل الخطاء والنسيان )”. Dan memang benar, kebiasaan manusia saat berada dalam limpahan rahmat dan nikmat-Nya, ia menjadi lupa diri dan sifat aslinya yaitu, kelemahan dan kehinaan. Ia baru teringat lagi sifat asalnya ketika sedang dirundung musibah dan kemalangan.

Berarti yang di kehendaki dengan kata الفاقات oleh Ibnu ‘Athaillah dalam hikmah ini adalah musibah-musibah dan cobaan-cobaan semisal sakit, kemiskinan dan ketakutan yang melanda seseorang, dimana ia telah merasakan sehat, kaya, ketentraman, dan lain sebagainya. Bukan seperti penjelasan di awal bab ini, yang mengatakan bahwa الفاقة ialah puncak kelemahan, kefakiran dan kekurangan.

2. Rahasia di balik musibah

Seorang hamba yang sedang berusaha menempuh jalan pendekatan diri kepada Allah swt, akan melihat rahasia di balik musibahdan bencana yang menimpanya. Cobaan yang ia terima akan menjadi alarm yang membangunkan tidurnya sehingga ia sadar dan ingat kembali akan jati dirinya yaitu kelemahan dan kekurangan. Ia menganggap bahwa musibah tersebut adalah snugerah yang sangat agung melebihi nikmat kesehatan atau kekayaan, dan lain-lainnya.

Karena itu, ia akan merasa gembira dan bahagia menyambut datangnya berbagai macam musibah dan bencana. Hari-hari yang ia lalui bersama musibah, akan ia anggap sebagai hari raya yang penuh dengan kebahagiaan, karena datangnya pertolongan dan kasih sayang Allah swt kepadanya. Ia menjadi sadar, ternyata Allah ‘Azza wa Jalla tidak membiarkan dirinya tersesat dalam khayalan-khayalan yang membingungkan, yaitu fenomena kekuatan, kekayaan serta kemakmuran dan kekuasaan. Akhirnya ia teringat kembali kepada sifat asli kehambaannya, jati diri yang selalu melekat dan tak akan pernah lepas darinya, yaitu sifat lemah dan butuh kepada pertolongan dan anugerah Allah swt.

Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang menjadi dalil tentang kebenaran hakikat ini. Saya pribadi juga pernah merasakan pengalaman seperti ini. Singkat saja, di Damaskus aku pernah mengenal seorang lelaki yang cukup terhormat dan ia juga menempati jabatan terkemuka. Setelah beberapa saat ia menikmati kemakmuran hingga mencapai titik puncaknya, Allah swt memberikan cobaan kepadanya berupa sakit yang menyebabkan kelumpuhan separuh badannya.

Tak terduga, ternyata dalam sakit yang menimpa tubuhnya, ia menemukan sebuah keadaan yang sangat mengagumkan. Ia merasa begitu dekat kepada Allah swt sehingga timbul kegembiraan dan kebahagiaan yang tak pernah ia temui dan sama sekali belum pernah ia nikmati. Sebelumnya, ia tek pernah membayangkan anugerah dan keindahan semacam ini.

Suatu hari, aku bersama orang tuaku menyempatkan diri untuk menjenguk laki-laki yang sedang sakit tersebut. Setelah dirasa cukup, orang tuaku berpamitan kepadanya dan tak lupa mendoakan agar ia segera sembuh dari sakit yang menderitanya. Mengejutkan sekali karena laki-laki tersebut kemudian berkata, “Wahai temanku, aku mempersaksikan ucapanku kedapamu jikalau kesembuhanku akan meyebabkan hilangnya sebuah anugerah Allah swt yang sangat agung, maka aku sungguh tidak membutuhkan kesembuhan seperti itu”

Dengan cukup terkesan orang tuaku membalas ucapannya, “Bukan seperti itu yang kuinginkan, maksudku adalah aku meminta kepada Allah swt agar melimpahkan kesembuhan dari sakit yang menimpamu, namun dengan tetap membiarkan anugerah agung (kebahagiaan [الحال] yang ia rasakan ketika sakit) tersebut berada dalam dirimu.

Dari kisah tersebut, kita bisa menemukan kebenaran hikmah Ibnu ‘Athaillah ini. Lihat saja, lelaki yang sakit tersebut ternyata malah merasakan sebuah kebahagiaan yang melebihi nikmat kesehatan. Tak lain karena sakit yang ia derita merupakan perantara yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt ke dalam hati.

3. Hari raya selamanya

Orang-orang yang sedang berusaha keras menempuh jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, akan menyambut datangnya musibah dan bencana dengan gembira laksana hari raya yang penuh dengan kebahagiaan dan kesenangan. Lalu apakah orang-orang arif rabbani tidak merasakan kebahagiaan seperti ini ketika terkena musibah?

Orang-orang arif dan rabbani adalah hamba-hamba Allah SWT yang telah memiliki jiwa yang teguh dan stabil keadaanya. Tak ada perbedaan yang ia ia rasakan baik dalam masa indah ataupun masa-masa yang buruk. Artinya nikmat apapun yang ia terima tidak akan menyebabkan jiwanya lupa dan lalai dari Allah SWT. Sehingga jika ia dilanda oleh suatu musibah, maka hal itu tidaklah menjadi alarm pengingat baginya. Bagaimana mungkin cobaan itu jadi pengingat kalau ia tidak pernah lupa ataupun lalai.

Memang sudah menjadi sifat dasar bagi orang-orang yang termasuk dalam kategori hamba arif, bahwa ia selalu bersama Allah SWT disetiap waktu dalam setiap keadaan. Segala sesuatu yang datang kepadanya akn selalu ia sambut dengan gembira dan bahagiahingga hatinya senantiasa diliputi perasaan ridla kepada Allah SWT.

Ketika sedang memperoleh kenikmatan, ia akan menggunakan dengan sebaik-baiknya dengan tetap meyakini bahwa apa yang ia terima adalah anugerah agung dari Allah SWT. Ia tidak akan pernah cemas ataupun gelisah karena bencana atau musibah yang menimpanya. Sebaliknya ia akan menyambut musibah itu dengan tangan terbuka karena ia sadar bahwa itu semua itu adalah ketetapan Allah SWT. Tak hanya sekedar sabar, ia bahkan menerima cobaan itu dengan penuh keridloan serta yakin jika hal itu adalah yang terbaik untuknya.

Dengan keadaan seperti itu, tentunya seorang arif tak akan terdorong untuk menyambut musibah yang melandanya melebihi sambutan yang ia lakukan saat menerima nikmat. Penyebabnya tak lain karena ia selalu menjadi sorang tamu dihadapannya Allah SWT. Apa yang disuguhkan oleh Allah kepadanya akan selalu ia yakini sebagai hidangan penghormatan, baik musibah ataupun nikmat, semua itu ia yakini sebagai anugerah agung dari Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Hamba yang arif akan selalu merasa butuh kepada Allah ‘Azza wa Jalla baik di masa susah ataupun gembira. Kenyamanan dan kekayaan yang ia rasakan tidak akan menjadikannya mabuk kepayang dan terlena dari Allah swt.

Kejadian semacam ini sering kita jumpai dari kehidupan para sahabat dan ulama’ salaf yang telah mencapai kedudukan arif dan rabbani. Misalnya saja keberadaan Sayyidina Umar ibn Khaththab r.a setelah berhasil menaklukan negeri Kisro sehingga memperoleh harta rampasan perang yang sangat banyak dan melimpah ruah. Atau kehidupan Abdullah ibn Mubarak r.a yang menjadi teladan bagi pengusaha sukses yang kaya raya, dan lain-lain. Kekayaan dan kenyamanan yang mereka nikmati sama sekali tidak menghalangi untuk menyadari kelemahan yang menjadi jatidiri mereka. Mereka tidak membutuhkan musibah atau bencana untuk mengingatkan hakikat kemanusiaan yang selalu melekat pada diri mereka.

4. Kesimpulan

Meski sebenarnya manusia selalu diliputi sifat kelemahan dan kekurangan, namun terkadang hakikat ini terlupakan oleh seorang السالك المريد, yaitu orang yang sedang berusaha menempuh jalan untuk mendekat kepada Allah SWT. Biasanya keadaan ini terjadi saat ia sedang merasakan kenyamanan hidup dengan disertai kemewahan dan kekayaan yang berlimpah-limpah.

Ia baru teringat kembali jati diri kelemahannya saat tertimpa suatu musibah atau bencana. Karena itu ia akan menyambut musibah tersebut dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Ia bahkan bersyukur karena Allah SWT masih memperhatikannya dan tidak membiarkan dirinya larut dalam fenomena kesempurnaan yang menyebabkan lalai dari hakikat kehimaam yang melekat pada dirinya.

Lain halnya dengan keadaan hamba-hamba arif dan rabbani yang selalu ingat akan jatidiri kelemahannya. Dalam suka maupun duka, kaya atau miskin, mereka selalu yakin dengan sebenar-benarnya bahwa manusia adalah makhluk yang butuh kepada Allah dalam segala keadaan.

Nikmat yang mereka terima ataupun musibah yang melanda, semuanya mereka sambut dengan tangan terbuka tanpa perbedaan sedikit pun. Mereka menganggap semua itu adalah anugerah dari Allah SWT yang telah diputuskan dan pasti akan mereka rasakan. Semua hari yang mereka lalui adalah hari raya yang harus dijalani dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Read More >>

Menyembuhkan Luka Hati

(العجب كل العجب ممن يهرب مما لاانفكاك له عنه و يطلب ما لا بقاء له معه (فإنها لا تعمى الأبصار و لكن تعمى القلوب التى في الصدور

KH WAFI MZ “Keajaiban yang sungguh mengherankan ialah seseorang yang berlari dari sesuatu yang tidak mungkin lepas darinya. Dan (kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal bersama dirinya. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)

1. Penjelasan

Allah SWT adalah Dzat yang tak akan lepas/terpisah dari seorang manusia semenjak pertama kali ada hingga ia sampai ke dalam syurga atau malah kekal di dalam neraka. Baik ia kafir, fasik ataupun mukmin. Baik ia hidup di belahan bumi bagian barat maupun timur. Dalam semua keadaan, Allah SWT pasti selalu bersamanya. Sama saja apakah ia hidup di dunia fana ini ataupun menjalani kehidupan di akhirat kelak.

Namun kebersamaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan seorang manusia tidak terbatasi oleh posisi atau tempat tertentu dan tentunya tidak boleh di bayangkan dengan penggambaran-penggambaran yang menunjukkan keserupaan Allah SWT dengan makhluk. Maknaaa kebersamaan Allah SWT adalah bersama dengan ilmu, perlindungan dan pengaturan.

Allah SWT adalah satu-satunya Khaliq sedangkan selain Allah adalah makhluk. Apabila manusia hidup dengan dikelilingi berbagai macam makhluk, maka hal itu hanyalah sementara dan pasti segera meninggalkan atau ditinggalkannya. Mungkin ia akan mati lebih dahulu sehingga harus meninggalkannya dan mungkin juga makhluk yang melingkupinya musnah/pergi hingga ia berada jauh dari makhluk tersebut atau bahkan hilang sama sekali.

Tabiat manusia biasanya akan menyukai rumah yang telah ia bangun, perkakas-perkakas yang ia jadikan hiasan, anak dan istri, harta benda yang telah ia usahakan, pangkat yang ia miliki atau ketenaran yang ia nikmati dan sebagainya. Ia hanya melihat sebab dan media secara lahiriah tanpa menyadari adanya Dzat yang menjadikan sebab-sebab tersebut.

Ia memandang hujan yang turun dari langit kemudian berterima kasih kepada langit serta menceritakan agungnya kasih sayang langit. Saat melihat bumi yang menghijau oleh pepohonan atau mata air yang melimpah, maka hal itu hanya menggerakkan perasaannya untuk bersyukur kepada alam.

Mayoritas manusia beranggapan akan menjalani kehidupan yang panjang di dunia fana ini. Mereka mengumpulkan harta kekayaan dan menumpuk-numpuknya. Selalu mencari tambahan tanpa pernah puas karena terlanjur tergila-gila kepadanya. Mereka menjalin persahabatan dan koneksi-koneksi dengan mengatasnamakan sebagai perintah-perintah ketuhanan lalu berusaha mengabadikannya, namun sebenarnya alasan mereka hanyalah karena nafsu syahwat dan kenikmatan-kenikmatan yang ingin mereka rasakan selama-lamanya.

Akan tetapi, apakah hukum-hukum alam akan mengijinkan keabadian bayangan-bayangan mereka? Ataukah alam akan membiarkan ia hidup abadi bersama kesenangan-kesenangan yang mereka inginkan?

Sebenarnya Allah SWT telah menjadikan alam ini berbicara dan bahkan semua perkara yang ada di dunia ini berkata-kata melontarkan jawaban pada pertanyaan di atas. Hal itu bisa kita saksikan ketika Allah SWT menciptakan kebiasaan-kebiasaan alami yang tetap dan tidak berubah-ubah. Fase-fase wujud kehidupan segala sesuatu pasti tersusun dari permulaan yang lemah, semakin bertambah kekuatannya sedikit demi sedikit hingga mencapai puncaknya kemudian kembali lemah, layu, pudar dan akan hilang sama sekali.

Ini merupakan hukum alam yang selalu melekat kepada segala sesuatu di alam semesta, mulai dari manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, bunga-bunga yang bermekaran, hingga bintang-bintang dan bahkan bumi yang kita pijak setiap hari. Contoh yang sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sebatang pohon. Bermula dari sebiji benih yang merekah, berubah menjadi tumbuhan kecil lalu berkembang secara bertahap hingga mencapai puncaknya. Kemudian dengan segera akan mengalami fase-fase semakin lemah hingga layu dan akhirnya mati.

Kisah yang sama akan kita jumpai dalam perkembangan hidup bunga-bunga yang tumbuh pada musim tertentu, tumbuh dan berkembang kemudian layu dan hilang. Begitu juga matahari yang mengeluarkan sinar lemah di pagi hari lalu semakin terang hingga mencapai puncaknya pada siang hari. Kemudian kekuatan sinarnya akan semakin lemah hingga persis sebagaimana keadaannya di waktu terbit lalu akhirnya hilang dari pandangan.

Semua fenomena ala mini memberitahukan kepada kita tentang akhir yang akan menimpa segala sesuatu, yaitu musnah dan sirna. Tak lain agar kita tidak tertipu dan terperdaya oleh kekuatan dan kejayaan yang berada di depan kedua mata dengan iming-iming kebahagiaan yang tersimpan di balik semuanya.

2. Dalil

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS. Al Hadid: 20)

Pemandangan yang semula tampak indah di depan mata lalu akhirnya layu, lemah kemudian hilang seperti dalam ayat di atas akan selalu berlaku dalam setiap kesenangan dan kemewahan duniawi yang kerap kali membutakan manusia. Lalu bagaimana kita menyikapinya?

Akal dan logika normal akan berkata, “Eratkanlah hubungan dan ikatanmu dengan Dzat yang menciptakan semua makhluk, yang memiliki kehendak dan kuasa serta mengatur dan menjaga semesta raya. Pergunakanlah apa yang kau butuhkan di dunia ini sebagai pinjaman yang wajib di kembalikan dan ingatlah bahwa apa yang kau lihat ini hanyalah substansi yang pasti akan segera hancur dan sirna.

Dengan begitu engkau akan melihat dan menerima perkara-perkara yang ada di dunia ini secara lahir, namun hatimu hanya berhubungan dan berpegangan kepada Dzat yang menciptakannya. Jika masanya selesai dan waktu perpisahan tiba, maka engkau akan tetap bersama Dzat Yang Maha Pencipta dan Maha Sempurna. Saat sebuah media yang ada dalam kekuasaanmu sirna, engkau tak akan bingung mencari sebab lain sebagai pegangan yang nantinya pun berakhir dengan kisah yang sama. Seperti seseorang yang berdiri di atas gumpalan salju, saat matahari memanasi bumi, salju akan melelh dan musnah. Akhirnya ia berpijak kepada bumi tanpa menyadari bahwa keadaan bumi akhirnya juga persis seperti salju. Dengan berpegang erat kepada Dzat yang menciptakan sebab, maka hilangnya perkara-perkara yang ada di hadapanmu tak akan berpengaruh apa-apa bagimu. Menjauhnya perantara tak akan berimbas buruk kepada kehidupanmu.

Setelah itu, saat episode kematian harus engkau jalani, maka takkan ada rasa sedih atau putus asa atas perpisahanmu dengan dunia. Hal itu karena engkau tahu bahwa dunia ini hanyalah perantara yang mengantarkanmu menuju kehidupan yang lebih mulia. Kematian juga tidak pernah memisahkanmu dengan teman yang selalu bersamamu dan menjadi satu-satunya pegangan dalam hidupmu. Maut yang mendatangimu tidaklah memutuskan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa. Yaitu hubungan yang telah engkau jalin selama hidup di dunia fana.

Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memberi pengaruh, maka ia pastinya akan mengalami kehidupan alam barzakh yang tidak jauh berbeda dengan kehidupannya di bumi. Kalau ia mengalami perubahan dan pergerakan di dunia dengan tetap selalu bersama Allah Yang Maha Pencipta, maka ketika ia sendirian terkubur dalam perut bumi pastinya juga bersama dengan Allah SWT. Bahkan ia akan lebih senang karena ia telah terpisah dari materi-materi dunia yang membingungkan dan menyesatkan.

Saat hari kiamat tiba dan nyawa-nyawa dikembalikan ke dalam jasadnya masing-masing, lalu semua manusia digiring ke hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia semakin bertambah gembira dan merasa bahagia. Bagaimana tidak? Ia telah menjalani tahap demi tahap kehidupan selama ini tanpa pernah terlepas dari Allah SWT. Sedangkan hari ini adalah waktunya untuk menghadap Allah SWT. Pasti ia akan merasa lebih bahagia dan hubungannya ikatannya akan semakin erat terjalin bersama Allah SWT.

3. Misteri keajaiban

Dengan demikian, layak sekali kalau sekarang ini kita bersama Ibnu ‘Athaillah terheran-heran dan terkagum-kagum kepada orang-orang yang berlari ingin meninggalkan Tuhan yang tak mungkin kekal bersamanya. Hal ini terjadi karena mereka hanya melihat dan mempergunakan media dan perantara secara lahiriah, berpegangan serta mengandalkan kemewahan yang mereka nikmati, namun mereka lupa dan lalai kepada Tuhan yang menganugerahkan segala kenikmatan tersebut. Bahkan mungkin juga mereka mengingkari adanya Tuhan Yang Maha Pencipta.

Kekaguman ini sangat wajar karena sebenarnya akal dan mata batin orang tersebut telah mengetahui bahwa media yang mereka nikmati dan mereka pergunakan adalah sesuatu yang pasti sirna dan tak akan abadi. Logika mereka juga mengerti bahwa dalam sebab-sebab lahiriah itu telah melekat tabiat rusak dan musnah.

Yang lebih mengherankan, setiap hari ia melihat sirnanya kenikmatan-kenikmatan duniawi itu dan ia juga menyaksikan hilang atau menjauhnya kesenangan meninggalkan orang-orang yang bergantung kepada materi-materi tersebut. Semua itu benar-benar meninggalkan mereka atau sebaliknya malah mereka sendiri yang meninggalkan segalanya. Hanya satu yang tak pernah lepas dari mereka, yaitu Tuhan yang selalu menyertai sepanjang hidup yang mereka jalani. Dengan kenyataan seperti ini, ternyata ia masih mengandalkan dunia yang ada di depan mata dan bahkan berlari menjauhi Allah, Tuhan seru sekalian alam.

Selain fakta dan kenyataan yang sangat jelas tersebut, ia sebenarnya sangat sering mendengar nasehat serta peringatan-peringatan tentang keburukan dan bahaya dunia. Anehnya ia masih saja berpijak kepada sebongkah salju tanpa peduli apakah ia nantinya akan terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam, ketika salju tersebut akhirnya leleh dan mencair.

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Orang-orang kafir, karena amal-amal mereka tidak didasarkan atas iman, tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan Balasan atas amalan mereka itu.”(QS. An Nur: 39)

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al Kahfi: 46)

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Maksudnya, hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.”(QS. Al Qashash: 60)

4. Koneksi yang serasi

Menjalin hubungan dengan Allah SWT bukanlah berarti meninggalkan materi-meteri dunia secara total. Hal itu karena dunia ini diciptakan oleh Allah SWT sebagai anugerah yang disediakan untuk manusia seluruhnya. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak rela apabila manusia berpaling sama sekali meninggalkan dunia.

Seorang muslim hanyalah dituntut agar ia yakin dengan sebenar-benarnya bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang memberikan anugerah dan pemberian. Dengan begitu ia tidak akan mencari rizqi selain dari Allah SWT. Ia harus tahu hanya Allah –lah yang menciptakan semua sebab yang timbul di dunia ini. Akhirnya ia tidak akan menyangka bahwa sebab-sebab lahiriah itu mempunyai pengaruh-pengaruh yang harus di perhitungkan. Ia harus sadar bahwa dunia yang tampak elok dan sedap di pandang serta enak untuk dinikmati, itu pasti akan segera pergi atau bahkan sirna sama sekali. Tak ada teman, sahabat, keluarga ataupun kekasih yang setia bersamanya selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Dengan keyakinan seperti ini, maka ia tidak akan pernah condong kepada dunia. Segenap jiwanya hanya tertertuju kepada Allah SWT, satu-satunya Dzat yang menjadi pelipur lara hatinya, tempat berlindung serta sumber kebahagiaannya. Itulah keadaan seorang mu’min sejati.

Secara lahir ia menggunakan berbagai sarana dunia, namun hatinya hanya meyakini bahwa Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan semua itu. Hatinya selalu ingat dan terhubung kepada Allah yang menganugerahkan segala macam nikmat. Saat perasaan takut menghampiri, tak ada tempat pengaduan dan tempat berlindung selain Allah ‘Azza wa Jalla. Jiwanya senantiasa diliputi ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.

5. Kisah teladan

Seorang lelaki shalih harus meninggalkan desanya karena suatu tuntutan urusan keagamaan. Ia memutuskan sebuah desa baru sebagai tempat tinggalnya. Suatu saat, seorang imam masjid yang menjadi tempat biasa shalat sang lelaki tersebut berkenalan dengannya. Si imam masjid bertanya mengenai sumber perekonomian sang lelaki hingga kemudian ia menjawab dengan tenang bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah melupakannya.

Setelah beberapa hari berlalu, syaikh imam masjid kembali menanyakan keadaan sang lelaki shalih dan ingin tahu lebih jelas tentang sumber penghidupannya. Lelaki itupun meyakinkan kembali bahwa Allah SWT selalu memberikan anugerah kepadanya dan ia sama sekali tidak merasakan kesulitan dalam hal rizqi.

Jawaban tersebut ternyata belum memuaskan sang imam masjid, sehingga dalam pertemuan yang ketiga ia bertanya lagi kepada si lelaki shalih, “Dari mana sesungguhnya engkau mendapatkan penghidupan?”, si lelaki menjawab, “Sebenarnya di desa ini ada seorang Yahudi yang mengenal dan mengerti kondisiku. Ia kemudian mengirimkan sebagian hartanya kepadaku, hingga cukup untuk memnuhi kebutuhanku sehari-hari”.

Syaikh imam masjid berkata, “baiklah kalau begitu, sungguh baru sekarang kegelisahanku yang selama ini menyelimutiku, hilang dan sirna”. Lelaki shalih tersebut kemudian menimpali, “Wahai orang yang ada di depanku, sunggu aku bersumpah untuk melakukan qadha’ atas shalat-shalat yang aku dirikan di belakangmu. (kiasan bahwa pada saat itu, sang imam berada dalam keadaan yang kurang sempurna imannya). Berkali-kali aku telah meyakinkanmu, sesungguhnya Allah SWT telah menjamin rizqiku dan tak akan melupakanku, tapi mengapa hal itu belum bisa menenangkanmu. Namun sebaliknya, saat aku memberitahukan kepadamu bahwa yang membantu permasalahan rizqiku adalah seorang Yahudi, engkau baru percaya akan adanya jaminan dan tanggungan Allah SWT.

Seperti itulah keadaan sebagian besar kaum muslim dewasa ini. Mereka mengagungkan dan membangga-banggakan materi serta bentuk-bentuk lahiriah, hingga melalaikan siapa yang menciptakan semua itu. Akhirnya mereka hidup dalam imajinasi dan khayalan, tanpa mengerti substansi sebenarnya. Mereka terperangkap oleh fatamorgana yang tiada berwujud nyata, sehingga lupa kepada Dzat yang memiliki eksistensi paling nyata memenuhi semesta raya. Mereka berbicara mengenai kasih sayang langit, namun tak menyadari Dzat yang menciptakan dan sangat mengasihinya. Mereka tak memperhitungkan tangan yang penuh belas kasih, menyuapkan sendok yang berisi makanan ke dalam mulut mereka, namun malah membangga-banggakan sendok yang menuangkan makanan, mengisi sudut-sudut mulut mereka.

6. Di balik misteri

Ibnu ‘Athaillah mengakhiri hikmah ini dengan sebuah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS. Al Hajj: 46)

Read More >>

Dasar Penciptaan Manusia Adalah Untuk Beribadah

jin__manusia_diciptakan_untuk_ “Orang yang banyak membaca tapi tak pernah menulis, itu adalah orang yang sakit. Seperti orang yang banyak makan, tapi tak buang air besar.” Habiburrahman al-Shirazy.

Jika kita mau menengok sejarah bangsa Indonesia dan umat-umat terdahulu yang kaya akan budaya dan peradaban, niscaya kita akan mengetahui betapa besarnya perhatian mereka terhadap perkembangan hasanah intelektual. Kita bisa mengetahui semua itu lewat peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti, artefak dan karya tulis. Mereka sadar betul akan pentingnya suatu karya untuk generasi yang akan datang. Sebab dari sebuah karya tadi dapat diketahui bahwa di zaman itu ada suatu kemajuan atau kemerosotan. Sendainya tidak ada tulisan, baik yang tertera di dalam prasasti atau sebuah buku kuno yang dikarang para pujangga atau para empu, niscaya kita akan hidup dalam kebingungan. Kalau mengandalkan tutur kata dan cerita rakyat yang diwarisi secara turun temurun, bisa dikawatirkan akan adanya perubahan yang tidak sesuai dengan kejadian yang asli. Hal ini disebabkan ingatan manusia itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Imam Malik Ra berkata,”Ilmu itu bagaikan binatang buruan yang liar, dan tulisan adalah sebagai pengendalinya. Maka kendalikanlah binatang buruan tadi dengan kendali yang kuat dan kokoh.”

Ilmu yang sedikit jika kita mau menulisnya, maka dia akan menjadi banyak, sebab dibaca oleh generasi setelahnya. Dan ilmu yang banyak apabila tidak ditulis maka akan hilang bersama pemiliknya. Ahmad Thohari di dalam buku antologi cerpen pesantren “ludah Surga” pernah mengutip sebuah pepatah,”Ilmu yang berhenti itu malah menjadi penyakit.” Jadi, jangan jadikan ilmumu menjadi sebuah penyakit sebab tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Dalam menulis tidak membutuhkan banyak persyaratan. Menulis itu yang dibutuhkan adalah keinginan yang kuat dan ketekunan. Biarpun status kita adalah orang yang rendah di mata manusia, tapi kalau kita mempunyai kemauan dan ketekunan untuk menulis dan berkarya, insyaallah kita akan menjadi seorang penulis. Imam al-Ghazali mengatakan, “Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka jadilah seorang penulis.”

Seorang penulis itu tidak merasa terhalangi untuk menuangkan tulisannya dengan sedikitnya fasilitas yang kurang memadai. Mereka tetap semangat dengan keadaan yang ada. Kalau kita mau menengok sejarah di awal Islam. Menulis pernah dikerjakan dengan memakai pelapah kurma, yaitu masa penulisan wahyu Allah atau al-Quran. Dan juga, ada yang memakai tulang, seperti imam As-Syafi’i. Sampai-sampai tendanya penuh dengan tulang, sebab banyaknya ilmu yang ia tulis dari para ulama. Sehingga dari banyaknya tulisan yang ditinggalkan oleh Imam As-Syafi’i menjadikan beliau ada sampai sekarang. Dalam arti, banyak kaum muslimin yang mengikuti madzhabnya. Sebab sebenarnya imam madzhab itu banyak. Tapi, karena tidak adanya karya yang ditinggalkan, maka yang diakui oleh para ulama hanya ada empat, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Hal ini disebabkan keempat imam tersebut meninggalkan karya tulis yang dilestarikan oleh pengikutnya masing-masing sampai zaman sekarang.

Orang yang sudah mempunyai keinginan atau bakat untuk menulis, tidak ada alasan untuk merasa terhalangi oleh sesuatu untuk menghasilkan karya tulis. Musibah dan ujian, jika bisa bersikap sahabat dengannya, niscaya dia akan menjadi sahabat kita juga. Dia akan menjadikan tulisan kita lebih terkesan karena penuh dengan perjuangan. Ahmad bin Hanbal yang pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan sebab itu ia dapat menguasai qiraah sab'ah. Malik bin ar-Raib salah seorang penderita penyakit yang mematikan, namun dengan penyakit itu ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah yang tidak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali. Dan Buya Hamka yang pernah dikurung dibalik jeruji, justru ia dapat menyesaikan sebuah karyanya yang agung, yaitu tafsir al-Azhar.

Orang yang meninggalkan sebuah karya tulis meskipun jasadnya sudah terkubur di balik tanah selama bertahun-tahun, namun dia seolah-olah masih hidup dalam keabadian. Namanya terukir di tinta emas sepanjang masa. Dan orang yang tidak mau menulis apabila sudah mati, maka namanya hilang dengan jalannya masa, meskipun dia orang yang pandai. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wallahu a’lam.

 

Read More >>

Arti Sebuah Karya Tulis Dr. Said Romadlon Al Buthy

write-by-science-news-dot-org

Dr. Sa’id Romdlon al-Buthy berkata, “Saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa yang membuat saya tetap menulis dan menulis? Kalau untuk kemashuran, saya telah  mendapatkan lebih dari pada yang saya harapkan. Kalau untuk kesejahteraan dan kekayaan, Allah telah menganugerahi saya lebih dari pada yang saya butuhkan. Dan kalau ingin dihormati orang, saya sudah memperoleh lebih dari pada yang layak saya terima. Pada akhirnya, saya menyadari bahwa keinginan yang saya sebut tadi sia-sia dan hampa kecuali seuntai doa yang dihadiahkan kepada saya dari seorang muslim yang tidak saya kenal.”

"Menulis," sebuah konsep yang mudah dituturkan dengan lisan. Namun, terkadang sulit diimplementasikan. Tapi, terkadang juga mudah bagi mereka yang sudah membiasakan diri dan tertembaga dalam hati sanubari. Sebab dalam dunia menulis, modal awal yang dibutuhkan adalah sering membiasakan menulis. Entah dalam kontek apa, yang penting menulis. Dalam dunia menulis juga tidak terlalu membutuhkan intelektual yang tinggi. Tapi, cukup intelektual yang sederhana. Banyak sekali orang yang ilmunya tinggi, tetapi dia lemah dalam menuangkan ke dalam tekstual, karena tidak biasa menulis. Dan banyak orang yang akalnya sedang-sedang saja, tetapi dia lihai berimajinasi dalam dunia menulis.

Mengapa harus menulis? Karena dengan menulis dapat menjadikan sesuatu yang asalnya tiada menjadi ada. Dan dengan menulis pula dapat memberi kabar bagi selain kita tentang apa yang kita ketahui. Manfaatnya, kejadian yang seharusnya dikerjakan karena adanya suatu manfaat bisa di kerjakan oleh orang lain. Dan kejadian yang seharusnya ditinggalkan, karena adanya suatu madharot atau bencana bisa ditinggalkan orang lain. Sehingga bencana yang sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang, karena sudah adanya warning dari seorang penulis.

Coba bayangkan seandainya tidak ada tulisan, yang tentunya akan membuat diri kita hidup dalam dunia yang tidak menentu. Hal tersebut terjadi karena kekurangan ilmu dan wawasan yang luas. Sebab kalau kita mengandalkan tutur kata yang ditransmisikan oleh seorang guru kepada seorang murid, akal kita tidak akan mampu menyimpan semuanya ke dalam memori. Zaman kita bukan lagi zaman sahabat yang hidup di masa Rasulullah SAW, yang selalu mendapat sinar keagungan dari beliau. Setiap apa yang sahabat dengar dari ilmu yang telah dituturkan oleh Rasulullah SAW bisa terekam di memori mereka dengan baik.

Meskipun para sahabat hafalannya sangat kuat, mereka tidak bisa melepaskan diri dari apa yang namanya menulis. Mereka menulis yang namanya wahyu. Penulisan dikerjakan dengan alat seadanya, seperti pelapah kurma yang terpencar-pencar di tangan para sahabat. Kemudian tulisan wahyu ini disempurnakan pada masa Khalifah Usman Bin Affan. Maka terbentuklah mushaf Ustmani yang dikepalai oleh Zaid Bin Tsabit.

Dari khalifah Ustman bin Affan, kemudian karya tulis bersafari menuju zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, khalifah bani Umayyah yang masih ada kerabat dengan Umar bin Khattab. Pada masa ini, dunia menulis terus berjalan seiring dengan waktu. Hingga suatu saat khalifah Umar bin Abdul Aziz memberi rekomendasi kepada imam az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihhab az-Zuhri) untuk menulis dan membukukan hadis nabawi. Hal ini dikarenakan beliau kawatir akan hilangnya hadis nabi tersebut bersama dengan periwayatannya ke alam kubur.

Yang paling menonjol dalam dunia penulisan Islam yang menghasilkan karya agung, yang patut diabadikan dengan tinta emas dengan ditaburi minyak kasturi di kanan kiri adalah penulisan yang pernah diraih pada masa kejayaan daulah bani Abbasiyyah (Bagdad) dan kerajaan bani Umayyah (Spanyol). Kedua kerajaan besar inilah mengeluarkan output-output yang menyinari dunia lewat ilmu pengetahuan yang di tuangkan dalam sebuah karya tulis. Bukan hanya ruang lingkup agama, melainkan mencakup segala aspek ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu. Seperti Ibnu Sina (ahli kedokteran), Abu Bakar ar-Rozi (penemu penyakit cacar), Ibnu Nafs (ahli biologi), Imam al- Ghazali (ahli filsafat), Ahmad bin Muhammad (penemu angka nol), Umar Khayyan (ahli kimia) Ibnu Malik (ahli sastra Arab) dan lain-lain. Kalau orang Yunani punya Plato, kita umat Islam punya Imam al-Ghazali. Kalau orang Barat punya Karl Mark, kita punya Ibnu Sina yang mampu mempunyai sebuah karangan al-Qonnun fittib lebih lengkap dari karya Karl Mark dalam masalah ilmu kedokteran, Sehingga Ibnu Sina lebih layak untuk diberi gelar bapak ilmu kedokteran bila dibandingkan dengan yang lainnya. Banyak sekali orang Barat yang menjadikan kitab Ibnu Sina sebagai rujukan dalam ilmu kedokteran.

Mengapa kami perlu memaparkan masa golden histori of Islamic? Hal itu semata-mata kami ingin umat Islam di zaman sekarang bisa bercermin dari kejayaan masa silam. Sehingga kita bisa tergugah dan bangkit dengan semangat dalam dunia tulis menulis. Memang benar bagi kita sekarang sangatlah sulit meniru prestasi yang dipredikatkan pada golden histori of Islamic. Namun, paling tidak kita bisa mengaca dan meniru secercah dari apa yang mereka raih.

Perlu kita sadari, di zaman globalisasi ini, orang yang tidak mempunyai skill akan diasingkan dalam percaturan hidup dan tidak bisa lulus dari seleksi alam. Banyak dari mereka menjadi tersia-sia. Lebih-lebih para intelektual muslim yang tidak mempunyai skill kerja. Dan tidak pula mempunyai ijazah yang tinggi. Dia hanya punya ilmu yang luas. Maka solusi yang tepat bagi mereka adalah menulis. Tuangkan intelektual anda. Jangan sampai ada karya yang ada kaitannya dengan Islam ditulis oleh orang yang non muslim. Tahukah anda tentang kamus Arab Munjid? Ternyata pengarangnya bukan umat Islam. Tetapi pendeta Nasrani yang bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i . Padahal kamus tersebut telah tersebar dibelahan dunia dan banyak dikomsumsi oleh umat muslim.

Imam al-Ghazali berkata, ''Kalau engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama` besar, maka jadilah seorang penulis.'' Marilah kita meniru jejak ulama'-ulama' terdahulu yang selalu rajin menulis sebuah karya. Karya-karya mereka bisa kita nikmati sampai sekarang ketika kita membaca buku milik pribadi atau milik perpustakaan.

Read More >>

Berkarya Menuju Keabadian

menlis “Orang yang banyak membaca tapi tak pernah menulis, itu adalah orang yang sakit. Seperti orang yang banyak makan, tapi tak buang air besar.” Habiburrahman al-Shirazy.

Jika kita mau menengok sejarah bangsa Indonesia dan umat-umat terdahulu yang kaya akan budaya dan peradaban, niscaya kita akan mengetahui betapa besarnya perhatian mereka terhadap perkembangan hasanah intelektual. Kita bisa mengetahui semua itu lewat peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti, artefak dan karya tulis. Mereka sadar betul akan pentingnya suatu karya untuk generasi yang akan datang. Sebab dari sebuah karya tadi dapat diketahui bahwa di zaman itu ada suatu kemajuan atau kemerosotan. Sendainya tidak ada tulisan, baik yang tertera di dalam prasasti atau sebuah buku kuno yang dikarang para pujangga atau para empu, niscaya kita akan hidup dalam kebingungan. Kalau mengandalkan tutur kata dan cerita rakyat yang diwarisi secara turun temurun, bisa dikawatirkan akan adanya perubahan yang tidak sesuai dengan kejadian yang asli. Hal ini disebabkan ingatan manusia itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Imam Malik Ra berkata,”Ilmu itu bagaikan binatang buruan yang liar, dan tulisan adalah sebagai pengendalinya. Maka kendalikanlah binatang buruan tadi dengan kendali yang kuat dan kokoh.”

Ilmu yang sedikit jika kita mau menulisnya, maka dia akan menjadi banyak, sebab dibaca oleh generasi setelahnya. Dan ilmu yang banyak apabila tidak ditulis maka akan hilang bersama pemiliknya. Ahmad Thohari di dalam buku antologi cerpen pesantren “ludah Surga” pernah mengutip sebuah pepatah,”Ilmu yang berhenti itu malah menjadi penyakit.” Jadi, jangan jadikan ilmumu menjadi sebuah penyakit sebab tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Dalam menulis tidak membutuhkan banyak persyaratan. Menulis itu yang dibutuhkan adalah keinginan yang kuat dan ketekunan. Biarpun status kita adalah orang yang rendah di mata manusia, tapi kalau kita mempunyai kemauan dan ketekunan untuk menulis dan berkarya, insyaallah kita akan menjadi seorang penulis. Imam al-Ghazali mengatakan, “Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka jadilah seorang penulis.”

Seorang penulis itu tidak merasa terhalangi untuk menuangkan tulisannya dengan sedikitnya fasilitas yang kurang memadai. Mereka tetap semangat dengan keadaan yang ada. Kalau kita mau menengok sejarah di awal Islam. Menulis pernah dikerjakan dengan memakai pelapah kurma, yaitu masa penulisan wahyu Allah atau al-Quran. Dan juga, ada yang memakai tulang, seperti imam As-Syafi’i. Sampai-sampai tendanya penuh dengan tulang, sebab banyaknya ilmu yang ia tulis dari para ulama. Sehingga dari banyaknya tulisan yang ditinggalkan oleh Imam As-Syafi’i menjadikan beliau ada sampai sekarang. Dalam arti, banyak kaum muslimin yang mengikuti madzhabnya. Sebab sebenarnya imam madzhab itu banyak. Tapi, karena tidak adanya karya yang ditinggalkan, maka yang diakui oleh para ulama hanya ada empat, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Hal ini disebabkan keempat imam tersebut meninggalkan karya tulis yang dilestarikan oleh pengikutnya masing-masing sampai zaman sekarang.

Orang yang sudah mempunyai keinginan atau bakat untuk menulis, tidak ada alasan untuk merasa terhalangi oleh sesuatu untuk menghasilkan karya tulis. Musibah dan ujian, jika bisa bersikap sahabat dengannya, niscaya dia akan menjadi sahabat kita juga. Dia akan menjadikan tulisan kita lebih terkesan karena penuh dengan perjuangan. Ahmad bin Hanbal yang pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan sebab itu ia dapat menguasai qiraah sab'ah. Malik bin ar-Raib salah seorang penderita penyakit yang mematikan, namun dengan penyakit itu ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah yang tidak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali. Dan Buya Hamka yang pernah dikurung dibalik jeruji, justru ia dapat menyesaikan sebuah karyanya yang agung, yaitu tafsir al-Azhar.

Orang yang meninggalkan sebuah karya tulis meskipun jasadnya sudah terkubur di balik tanah selama bertahun-tahun, namun dia seolah-olah masih hidup dalam keabadian. Namanya terukir di tinta emas sepanjang masa. Dan orang yang tidak mau menulis apabila sudah mati, maka namanya hilang dengan jalannya masa, meskipun dia orang yang pandai. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wallahu a’lam.

Read More >>

Pentingnya Mencari Ilmu

keutamaan_ilmu2 “Orang yang banyak membaca tapi tak pernah menulis, itu adalah orang yang sakit. Seperti orang yang banyak makan, tapi tak buang air besar.” Habiburrahman al-Shirazy.

Jika kita mau menengok sejarah bangsa Indonesia dan umat-umat terdahulu yang kaya akan budaya dan peradaban, niscaya kita akan mengetahui betapa besarnya perhatian mereka terhadap perkembangan hasanah intelektual. Kita bisa mengetahui semua itu lewat peninggalan-peninggalan yang berupa prasasti, artefak dan karya tulis. Mereka sadar betul akan pentingnya suatu karya untuk generasi yang akan datang. Sebab dari sebuah karya tadi dapat diketahui bahwa di zaman itu ada suatu kemajuan atau kemerosotan. Sendainya tidak ada tulisan, baik yang tertera di dalam prasasti atau sebuah buku kuno yang dikarang para pujangga atau para empu, niscaya kita akan hidup dalam kebingungan. Kalau mengandalkan tutur kata dan cerita rakyat yang diwarisi secara turun temurun, bisa dikawatirkan akan adanya perubahan yang tidak sesuai dengan kejadian yang asli. Hal ini disebabkan ingatan manusia itu ada yang kuat dan ada yang lemah. Imam Malik Ra berkata,”Ilmu itu bagaikan binatang buruan yang liar, dan tulisan adalah sebagai pengendalinya. Maka kendalikanlah binatang buruan tadi dengan kendali yang kuat dan kokoh.”

Ilmu yang sedikit jika kita mau menulisnya, maka dia akan menjadi banyak, sebab dibaca oleh generasi setelahnya. Dan ilmu yang banyak apabila tidak ditulis maka akan hilang bersama pemiliknya. Ahmad Thohari di dalam buku antologi cerpen pesantren “ludah Surga” pernah mengutip sebuah pepatah,”Ilmu yang berhenti itu malah menjadi penyakit.” Jadi, jangan jadikan ilmumu menjadi sebuah penyakit sebab tidak dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

Dalam menulis tidak membutuhkan banyak persyaratan. Menulis itu yang dibutuhkan adalah keinginan yang kuat dan ketekunan. Biarpun status kita adalah orang yang rendah di mata manusia, tapi kalau kita mempunyai kemauan dan ketekunan untuk menulis dan berkarya, insyaallah kita akan menjadi seorang penulis. Imam al-Ghazali mengatakan, “Jika engkau bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar. Maka jadilah seorang penulis.”

Seorang penulis itu tidak merasa terhalangi untuk menuangkan tulisannya dengan sedikitnya fasilitas yang kurang memadai. Mereka tetap semangat dengan keadaan yang ada. Kalau kita mau menengok sejarah di awal Islam. Menulis pernah dikerjakan dengan memakai pelapah kurma, yaitu masa penulisan wahyu Allah atau al-Quran. Dan juga, ada yang memakai tulang, seperti imam As-Syafi’i. Sampai-sampai tendanya penuh dengan tulang, sebab banyaknya ilmu yang ia tulis dari para ulama. Sehingga dari banyaknya tulisan yang ditinggalkan oleh Imam As-Syafi’i menjadikan beliau ada sampai sekarang. Dalam arti, banyak kaum muslimin yang mengikuti madzhabnya. Sebab sebenarnya imam madzhab itu banyak. Tapi, karena tidak adanya karya yang ditinggalkan, maka yang diakui oleh para ulama hanya ada empat, yaitu imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Hal ini disebabkan keempat imam tersebut meninggalkan karya tulis yang dilestarikan oleh pengikutnya masing-masing sampai zaman sekarang.

Orang yang sudah mempunyai keinginan atau bakat untuk menulis, tidak ada alasan untuk merasa terhalangi oleh sesuatu untuk menghasilkan karya tulis. Musibah dan ujian, jika bisa bersikap sahabat dengannya, niscaya dia akan menjadi sahabat kita juga. Dia akan menjadikan tulisan kita lebih terkesan karena penuh dengan perjuangan. Ahmad bin Hanbal yang pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah dipenjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadist. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan sebab itu ia dapat menguasai qiraah sab'ah. Malik bin ar-Raib salah seorang penderita penyakit yang mematikan, namun dengan penyakit itu ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah yang tidak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali. Dan Buya Hamka yang pernah dikurung dibalik jeruji, justru ia dapat menyesaikan sebuah karyanya yang agung, yaitu tafsir al-Azhar.

Orang yang meninggalkan sebuah karya tulis meskipun jasadnya sudah terkubur di balik tanah selama bertahun-tahun, namun dia seolah-olah masih hidup dalam keabadian. Namanya terukir di tinta emas sepanjang masa. Dan orang yang tidak mau menulis apabila sudah mati, maka namanya hilang dengan jalannya masa, meskipun dia orang yang pandai. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Wallahu a’lam.

 

PP Al Anwar Tag :, ,
Read More >>