Islam Tak Pernah Mengajarkan Anarkis

DR. KH. Abdul Ghofur Maimoen Zubair. Lc. M.Si


Forum Kajian Nahdliyin (FKN) Rembang, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu (20/3), di pendopo kabupaten. Panitia sepertinya sengaja membidik kejadian anarkis yang terjadi beberapa waktu lalu dan maraknya teror bom beberapa hari terakhir. Menetapkan tema kegiatan dengan tajuk “Meneladani Sifat-sifat Rasulullah, Hindari Radikalsime dan Anarkisme”.

Tampil sebagai pembicara DR H Abdul Ghofur Maimoen putra kyai kharismatik asal Kecamatan Sarang KH Maimoen Zubair. Dalam kesempatan tersebut, alumni Universitas Al Ashar Mesir itu memaparkan pemikiran ‘Terorisme Akar Permasalahan Dan Solusi”.

Menurut Gus Ghofur, demikian sapaan akrabnya, hingga kini dunia internasional belum menemukan definisi tepat atas istilah terorisme. Belum bisa dipastikan konsep mengartikan tindak terorisme karena saling bertubrukan dari pemahaman politik, sosial, ekonomi dan ideologi. “Hanya saja sepertinya muncul kesepahaman satu tindak kekerasan dianggap sebagai bentuk terorisme yaitu tindak kekerasan disertai ancaman yang dialamatkan kepada publik, pemerintahan atau negara, dimana pelaku mewakili simbol kelompok, dengan tujuan politis,” katanya.

Gus Ghofur mengungkapkan, faktor dan akar permasalahan yang mendorong seseorang melakukan tindak teroris atau bergabung dengan kelompok teroris, sangatlah bervariatif, meliputi faktor psikologis, ekonomi, sosial, politik, religi dan ideologi. Namun untuk mengetahui terorisme dengan lebih baik, diperlukan pendekatan multikasual. “Di antaranya melalui pendekatan politik, organisasional, psikologis dan ideologis/teologis,” paparnya.

Lebih lanjut Gus Ghofur menyampaikan, salah satu aspek penting memahami terorisme adalah dengan menyelami bagaimana para pelaku teror membenarkan tindakan amoral mereka. Untuk mengerjakan hal bengis aksi terorisme, dibutuhkan dorongan kuat yang mampu melnghilangkan simpul psikologis pelakunya, sehingga tak lagi memiliki rasa simpati terhadap para korban. Teori kognitif yang dijejalkan dalam pola pikir para pelaksana teror sangat tertanam kuat sehingga mental mereka bahwa yang mereka lakukan spenuhnya merupakan tindakan benar.

“Oleh karena itu tak heran, melalui proses kognisi itu para teroris tidak menganggap dirinya sebagai pelaku teror. Tetapi sebaliknya, mereka memposisikan diri sebagai tentara kebenaran yang memperjuangkan kebebasan, martir atau pejuang yang sahih untuk mencapai tujuan mulia,” cetusnya.

Gus Ghofur menambahkan, mengingat terorisme merupakan permasalahan yang kompleks dan multi dimensi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menanggulanginya. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat seharusnya memberi kesempatan luas serta mendorong dengan sungguh-sungguh kepada bentuk keagamaan yang moderat, namun masih dalam koridor ke-Bhineka Tunggal Ika-an.

“Materi pembelajaran agama di sekolah harus menanamkan pemahaman menghormati semua bentuk perbedaan. Menanamkan sikap toleran dan pluralistik, perbedaan dalam beragama, pemikiran, sikap dan budaya adalah natural,” imbuhnya.

Tak kalah penting yaitu menumbuhkan budaya demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga setiap inisatif yang disulkan dan diperjuangkan melalui instrumen demokrasi. Pemerintah sendiri harus menegakkan dan mengamalkan demokrasi dengan konsekuen, tanpa harus meninggalkan hak-hak golongan minoritas.

“Dengan prinsip toleransi dan pluralisme, tak ada alasan untuk men-dehumanisasi kelompok lain hanya karena perbedaan agama, etnik, pemikiran dan sikap poitik. Kita harus menjadikan dialog dan silaturahmi nasional sebagai agenda bangsa. Karena salah satu faktor utama lahirnya terorisme adalah rasa keterasingan satu kelompok tertentu dan tidak terakomodirnya kepentingan mereka,” pungkasnya.

4 comments:

Anonymous said...

lalu kenapa malahan justrul agama islam banyak berbuat anarkis,, yaa seperti jihad itu,, malahan agama lain tidak seperti itu. dan juga agama lain itu tetap 1, tidak terbagi2 seperti agama islam

Anonymous said...

Kata siapa islam anarkis kalau diberita mungkin ia tapi apa kalian hanya melihat berita2 saja toh yang membuat berita juga bukan orang2 islam jadi mereka sengaja memojokkan islam, kata siapa agama lain tetap satu agama kristen menjadi beberapa golongan bahkan kitab mereka juga menjadi banyak injil mereka selalu berubah-ubah.

kalau yang comment orang islam mereka pasti tau kalau islam tidak mengajurkan untuk berbuat anarkis.

et tamamy cah demak said...

islam itu agama rohmatan lilaalamin,yang selalu membawa kebaikan ,ketentraman bg semua terlebih bg pemeluknya,jd islam bukan agama teroris/anarkis

bisri said...

Makanya belajar terus jgnsok pintar ya..sok benar sok paling tahu islam dsb...jgn suka memaksakan kehendak pd orang lain termasuk klg sendiri belajar dan terus belajar ya..

Post a Comment