Doa adalah intisari ibadah

Bismillah Alhamdu lillah was shalatu wassalamu alaaa rasulillah
Wa ba'du.
Sesungguhnya berdoa adalah ibadah yang paling utama, karena dalam doa terkandung ma'na khusyu', tunduk, merendahkan diri kembali dan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rahasia itu terkandung daam sebuah hadits :

الدعاء مخ العبادة
Doa adalah intisari ibadah.

A. Bertasbih Adalah :Mensucikan dzat Allah Yang Maha Agung dari segala bentuk kekurangan dan persekutuan. Maha suci Allah dengan segala kesempurnaan-Nya.

Tidak sedikit hadits yang menjelaskan keutamaan bertasbih. Sebagian haits menjelaskan hikmah-hikmah dzikir dan bertasbih yang dita'loqkan kepada jumlah-jumlah tertentu. Semisal ,33, 34, 100,200, dan sebagainya. Hanya Allah yang Maha Tahu rahasia dibalik angka-angka itu dan sebagian hamba-hamba yang telah diberi tahu oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Sebagaimana yang kewarid dalam hadits-hadits sahih :

1- barang siapa membaca سبحان الله وبحمده dipagi dan sore hari sebanyak seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang membawa amalan yang lebih afdol, kecuali orang yang membaca seperti apa yang dibacanya atau lebih dari pada
itu.

2-Barang siapa dipagi hari membaca subhanallahi Al-'adzim wa bihamdihi seratus kali dan disorehari seratus kali,maka diampunilah dosa-dosanya walau sebanyak buih dilautan (saking banyaknya).

3-Taasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh empat kali setiap setelah shalat fardhu.

4- Barang siapa membaca "laa Ilaha illallah, wahdahu laa syarika lahu, lahu Al-mulku wa lahu Al-hamdu wa huwa 'alaa kulli syaiin qadiir" dua ratus kali dalam sehari maka tidak seorangpun yang mampu mendahului dan tidak satupun orang yang mampu menyusul setelahnya kecuali orang yang mengamalkan amalan yang lebih baik darinya.

5-Barang siapa membaca seratus ayat maka ia tergolong orang-orang yang merendahkan diri kepada Allah azza wa jalla.


Oleh karena itu Abu hurairah, sebagian sahabat dan tabi'in menghitung dzikir dan doa mereka dengan biji kurma ataupun kerikil diluar shalat. Dengan harapan mendapat fadilah dan pahala yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan. Bahkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melihat sebagian sahabatnya menghitung tasbih mereka dengan hitungan biji-biji kurma dan Nabipun tidak menegurnya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dalam bab Nikah ,dari abi nadhir beliau berkata :" seorang Syekh dari Thafawa berkisah kepadaku" : Aku bertamu kepada Abu Huraira diMadinah, "Aku tidak melihat seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam yang lebih semangat dan lebih memperhatikan tamu dari pada beliau. Pada suatu hari ketika aku didekatnya, dan beliau diatas tempat tidurnya dengan membawa kantong berisikan kerikil atau biji kurma yang menghitam, sedangkan beliau menggunakannya untuk bertasbih. ketika kerikil/ biji kurma didalam kantong itu habis beliau meletakkan kantongnya diatas kerikil/biji kurma. Kemudian aku kumpulkan kerikil/biji kurma itu, lalu aku masukkan kedalam kantong, kemudian aku haturkan kepada beliau.

Ibnu Majah, Abu dawud, At-tirmidzi, An- nasai dan Imam Hakim dalam Mustadraknya meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bertasbih menggunakan tangan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam yang Mulia. Al-'Azizi dalam As-siraj Al-munir Syarah Al-jaami' Al-shaghir menjelaskan " artinya menghitung Dzikir/ Tasbih dengan menggunakan Jari-jari, agar jari-jari itu bersaksi untuknya . Karena jari-jari itu nanti akan berkata pada saat dimintak pertanggung jawaban(dihari penghitungan amal).

Dari kisah dalam riwayat Abi dawud dan riwayat-riwayat yang lain, bisa ditarik kesimpulan bahwa :

Boleh menghitung dzikir atau tasbih dengan menggunakan alat selain guratan-guratan jari. Baik berupa kerikil, biji kurma dan sebagainya. Dengan menggunakan tasbih yang dirangkai seperti kalung, ataupun dikumpulkan didalam kantong hukumnya sama saja karena semua itu adalah perantara untuk memudahkan kita dalam menentukan jumlah-jumlah dzikir yang diinginkan. Adapun batas pemisah dalam tasbih 33 x 3 itu hanya sekedar pemisah antara hitungan 33 pertama kepada 33 berikutnya sesuai dengan riwayat dzikir setelah shalat 33,33 dan 34. wallahu a'lam.

B. Beberapa faidah Tasbih
1- Mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu wata'ala baik dalam keadaan berdiri,berjalan, berbaring dan sebagainya.
2-Sebagai sarana untuk melanggengkan kita dalam berdzikir. Sudah merupakan bukti nyata, dengan memegang Tasbih hati kita menjadi bergerak untuk selalu berdzikir dan mensucikan nama Allah Subhanahu wa Ta'ala.
3-Dengan menggunakan Tasbih kita mengikuti golongan orang-orang yang selalu mengingat kepada Allah Swt , sebagai mana dalam kutub al-asanid dijelaskan mengenai keberadaan ijazah munawalah Tasbih dari guru ke guru hingga al-imam Hasan Al-bashri at-tabi'i.
4-Tasbih juga merupakan alat penyelamat dunia dan akhirat. Dengan banyak berdzikir kita akan terselamatkan dari afat dunia dan adzab akhirat yang pedih. Wallahu a'lam bisshawab.

C.Niatan ketika bertasbih
Niat adalah menyengaja sesuatu pekerjaan bersertaan dengan melakukannya. Niat, menyengaja, bertujuan memiliki arti yang sama. Segala amal perbuatan tergantung dari niatnya, dan orang yang melakukan perbuatan, ia akan mendapatkan sesuai dengan tujuan dan niat dari hatinya. Dan barang siapa berbuat ataupun beramal dengan tujuan mendapat ridha Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat ridha Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa melakukan amal kebaikan hanya karena mendapatkan duniawi maka ia hanya akan mendapatkan duniawinya saja.

Dalam hadits innama Al-a'malu bi al-niyyaat. lafadz al-niyyat berbentuk jama' muannats saalim. Dari sini bisa ditarik kesimpulan "jika kita melakukan satu kebaikan namun dengan sepuluh niatan maka kita akan mendapatkan sepuluh niatan itu walaupun dalam satu kebaikan".contoh :dalam satu permasalahan, menuntut ilmu adalah satu kebaikan yang didalamnya kita bisa memasukkan beberapa niatan 1-melaksanakan perinta Allah dan mencari Ridha-Nya 2-Mengikuti sunnah dan perintah Rasul 3-memahami Agama 4-Menjaga Akidah 5-Menghilangkan kebodohan 6-Menjaga dan melestarikan Ajaran Allah 7-Mengamalkan setelah mengetahui dst… maka dengan satu kebaikan berupa menuntut ilmu dan dengan beberapa niatan yang positif kitapun akan mendapatkan sesuai dengan beberapa niatan tersebut.

Keberadaan manusia dimuka bumi hanya untuk berbakti sesuai dengan perintah Tuhan yang telah menciptakan mereka. Hal ini sesuai dengan firman Alah dalam
QS 51:56 :


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"


Dan bukan merupaka ketulusan dalam pengabdian jika seorang hamba tidak ikhlas dalam mentaati perintah Tuhan-nya. QS 98:5 :

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nyadalam (menjalankan) agama dengan lurus".

Dalam hadits mursal disebutkan : "barang siapa memakai wangi-wangian karena Allah maka dihari kiyamat dia akan datang sedangkan baunya lebih harum dari pada minyak misik ".

Betapa pentingnya kemurnian niat dalam kehidupan kita.Al-imam al-Ghozali dalam ihya'nya menjelaskan dalam hal pembenahan niat. seseorang ketika mengajar, berdagang , makan mengatakan "aku berniat mengajar karena Allah atau aku makan karena Allah " dan menyangka hal itu adalah niatnya ooh jauh sekali. Hal itu merupakan perkataan hati , lisan atau hanya bersitan dalam hati. Niat bukan hanya sekedar itu. Sedangkan niat adalah halyang dapat membangkitkan hati ,mengarahkan dan kecondongan hati yang dzahir sebagai pendorong dalam melakukan pekerjaan.
Oleh karena itu untuk melakukan amal kebaikan, agar kita mencapai keikhlasan dalam niat dan tujuan, kita membutuhkan keimanan dan keyakinan yang kuat kepada Syariat yang diajarkan oleh Allah melalui Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam.

Keikhlasan dalam beribadah adalah sebuah keharusan.walaupun keikhlasan itu memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri sesuai dengan kedalaman batin pelakunya. Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam (QS 18:110) :

"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya ".

Betapa pentingnya keikhlasan Imam Al-nasai dalam kitab haditsnya menyebutkan :

"Pertolongan Allah 'Azza wa jalla kepada ummat ini dikarenakan orang-orang lemah, doa dan keikhlasan mereka ".

Keikhlasan yang tertinggi adalah ketika seorang hamba melakukan segala sesuatu hanya karena Allah subhanahu wata'ala. Hanya karena-Nya kita semua ada dan diadakan , hanya dari-Nya segala sesuatu yang kita rasakan Laa Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah.

Ketika bertakbir (Allahu akbar ) : kita agungkan Dzat Allah Subhanahu wata'ala.
Ketika bertahmid (Alhamdulillah) : kita puji Allah, segala puji bagi Allah.
Ketika bertasbih (subhanallah) : kita sucikan Dzat Allah dari segala kekurangan, karena Dialah Dzat yang maha Sempurna.
Ketika bertahlil (laa Ilaha ilaa Allah) : kita Esakan Allah. Hanya Dialah Tuhan penguasa seluruh jagat raya, surga dan neraka.
Ketika ber hauqala ( Laa haula walaa quwwata illaa billah ): kita hayati dan kita salami bahwa tak ada kekuatan ibadah dan menjauh dari dosa kecuali hanya dari Allah.
Ketika bershalawat :Allahumma shalli wa sallim 'alaa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kita mintakkan rahmat, kasih saying dan keselamatan atas Rasul yang telah mengajarkan kitaakan kebenaran dan mengenalkan kita kepada Sang Pencipta.
Dan seterusnya yang pada intinya segala Taqarrub kita pendekatan kita amal kita kebaikan kita hanya karena Allah, mencari Ridha Allah semata. Wallahu A'lam bisshawab.( Allah Maha Mengetahui akan Kebenaran).

0 comments:

Post a Comment